Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Bab 144 : Kamu hanyalah cucu sampah yang tak berguna!


__ADS_3

Panti asuhan itu juga sudah dibeli oleh Perusahaan Bakti, Emak juga sudah menandatangani surat kontrak itu, tak ada yang perlu diragukan lagi.


Hanya saja karena masalah pindahan ini, bukanlah masalah yang satu atau dua hari bisa selesai, demi menghalangi gangguan dari Johan Purnomo, Alif mengatur orang untuk menjaga di sana.


Hanya saja dia juga tak menyangka, orang yang bertugas melindungi panti asuhan itu, malah ditangkap oleh polisi.


Sampai di sana, dia baru menyadari, orang yang menusuknya dari belakang itu ternyata adalah Si Ruli !


Saat ini, Ruli sudah berada di depan panti asuhan dan duduk di depan sana, dia duduk dengan santai menghadap ke pintu depannya, mengangkat kedua kakinya dengan tinggi.


Sangat jelas, setelah melihat gerakannya juga tahu, kalau dia sedang menunggu orang.


Tapi siapakah yang sedang ditunggunya?


Siapa lagi kalau bukan menunggu Alif To.


Jadi, di saat Alif datang, Ruli langsung berkata pada tiga bodyguard di belakangnya langsung berkata: ”Nanti kalau sudah mulai bergerak, kalian lawanlah Hardi, dan aku yang akan melawan Alifto.


Terhadap Alif, dia sangatlah kesal, apalagi saat mengingat dia berlutut di atas lantai saat itu.


Masalah ini dia tidak berani mengatakannya pada siapapun, tidak hanya bisa kehilangan wajahnya, dia juga khawatir keluarga nya dia bisa memukuli dia sampai mati.


Orang keluarga nya Ruli, mereka hanya ingin wajah, tapi tidak ingin nyawanya, kalau ternyata malah orang itu mencoreng wajah keluarga Eulu, bagaimana bisa memaafkannya.


Jadi masalah ini, sampai sekarang keluarganya tidak mengetahuinya, dia berencana untuk mengurusnya sendiri.


Dia juga percaya, dia sendiri bisa menghabisi Alifto ini dengan kemampuannya sendiri!


Hanya saja, masalah ini kalau dipikir dengan indah, Johan juga tidak akan mati.


Setelah Alif datang ke tempat itu, dia langsung turun mobil, di sampingnya juga ada Hardi .


Setelah dia melihat ada Ruli di sana, Alif langsung tahu letak permasalahannya.


Dia juga malas untuk berbicara banyak omong kosong, jadi dia langsung mengeluarkan berkas fotokopian yang dibawanya dari perusahaan.


“Sebelumnya aku sudah menandatangani kontrak dengan ketua Emak, sekarang tanah ini milik perusahaan bakti.”


“Jadi kemunculan kalian di sini, bisa kita anggap sebagai pelanggaran hukum, sembarangan melintas di properti orang, silakan kalian pergi.”


Terhadap masalah resmi, Alif tidak pernah membawa urusan pribadinya, walaupun dia tahu maksud dari Si Ruli ini, dia juga tetap akan melanjutkan ke jalur hukum.


Dan terhadap berkas fotokopi kontrak yang ada di tangannya, Ruli hanya acuh tak acuh saja.


“Kontrak? Kamu mau menakuti siapa, yang kamu ambil itu adalah kontrak palsu, nanti bisa aku tuntut kamu!”


Sambil berbicara, Ruli menjentikkan jarinya, dan ada orang yang membawakan surat kontraknya ke sana.


Di surat kontrak itu sudah tertulis sangat jelas, tanah ini adalah milik negara, sekarang sudah menjadi milik umum.

__ADS_1


“Benar sekali, tanah ini sebelumnya adalah milik Emak, tapi sekarang dia sudah tiada, dan lagi dia tidak ada pewarisnya. Jadi tanah ini, sesuai dengan peraturan yang ada, telah menjadi tanah tidak bertuan, dan menjadi milik umum.”


“Karena milik negara, bagaimana kamu bisa mengatakan kalau aku telah melanggar hukum. Masih menyuruhku pergi, kamu ada hak apa mengusirku pergi? Hanya presdir dari Perusahaan Bakti saja? Maaf, di mataku itu hanyalah sampah, tak patut untuk diungkit.”


Setelah melihat surat di tangan Ruli, tanah itu malah menjadi milik pemerintah.


Itu tidak mungkin surat kontrak palsu yang dibuatnya, bukannya tidak berani, tapi tidak usah begitu bodohnya melakukan hal itu.


Ini bisa membuktikan, surat perjanjian yang ada di tangannya juga asli.


Tapi surat yang ada di tangan Alif juga asli, masih ada tanda tangan dan cap jari dari Emak , ini tak dapat terelakkan lagi.


Tiba-tiba, Alif mendengar suatu kabar dari Ruli tentang kematian Emak.


Emak sebelumnya juga masih baik-baik saja, tidak ada bencana, tidak ada penyakit, kenapa tiba-tiba bisa meninggal ?!


Saat menyadari hal ini, Alif melihat Ruli dengan tajam: “Kamu galak juga ya, orang tak bersalah juga kamu bunuh.”


Ruli sambil tertawa sambil berkata: “Orang yang bekerja sama bersama Alifto, mananya yang tidak bersalah? Umurnya juga sudah tua, sudah seharusnya pergi.”


Dari perkataan Rululi dapat diketahui bahwa seharusnya dialah yang membunuhnya.


Dia bisa membunuh orang, tapi tidak mengakuinya. Dari perkataan dia, Alif langsung dapat mengetahui maksudnya, tapi tidak bisa menjadikannya sebagai bukti.


Terhadap masalah ini, Alif juga pernah melakukan hal serupa, jadi dia sangat paham soal itu.


Lalu Euli berkata: “Surat perjanjian yang ada di tanganmu adalah yang palsu, yang seharusnya pergi adalah kamu!”


Sekarang Emak juga sudah meninggal, mayatnya juga pasti tidak ada lagi, sidik jari juga tidak dapat dijadikan bukti.


Terhadap barang-barang yang dipakai oleh Emak sebelumnya, pasti sudah dibersihkan oleh Ruli.


Dengan begitu jadinya tak ada bukti lagi, kebenaran dari surat perjanjian itu sudah tidak bisa dipastikan lagi.


Tak dapat memastikan kebenaran dari surat perjanjian itu, hanya dapat dianggap sebagai surat palsu.


Jadi arti dari perbuatan Ruli ini sangatlah jelas, dia ingin mengorek daging di tubuh Alif.


Setelah memahami hal ini, Alif langsung menyimpan berkas fotokopiannya, dan berbalik pergi ke arah mobil.


Melihat kepergiannya, Ruli menjadi bingung.


Sesuai dengan pemahaman Ruli, Alif setelah dirugikan beberapa ratus miliar itu seharusnya sangatlah marah dan mulai menyerangnya.


Dengan begitu, dia mencari 3 orang bodyguard barulah ada gunanya.


Tapi kenyataannya, Alif malah tak berbuat seperti itu, dia berbalik badan dan langsung pergi.


Melihat Alif berjalan ke arah mobil, Ruli langsung bangun dan melemparkan kursi ke arahnya.

__ADS_1


Alif berhasil menghindarinya, dan kursi itu terbang melewati kepalanya.


“Mahluk tak berguna, sudah kuganggu sampai begitu, kamu kentut saja tak berani.”


“Kamu begini masih bisa dibilang sebagai cucu dari Ridwanto menurutku, kamu hanyalah cucu sampah yang tak berguna!”


Terhadap sindiran dari Ruli, Alif hanya tertawa saja, lalu ia membuka pintu mobilnya.


Hari ini, dia datang bertemu Ruli bukan untuk membalas dendam, dia tidak ada dendam terhadap Ruli, tapi Si Ruli ini mempunyai dendam besar terhadapnya.


Jadi masalah serang dan menyerang, dia juga tidak berniat melakukannya, yang hari ini ingin dia lakukan adalah, membalas untuk mengorek daging si Ruli.


Membalas perbuatan orang lain terhadap kita dengan caranya sendiri, adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis. Kalau masalah pukul-memukul, hanyalah pekerjaan sampingan lainnya saja.


Tidak pernah ada orang yang menjadikan pekerjaan sampingan sebagai pekerjaan utamanya, apalagi terhadap 3 bodyguard yang dipanggil oleh Ruli , Alif lebih tidak akan memedulikannya lagi.


Jangan bilang 3, mau itu 30 ataupun 300, dia juga tak akan takut!


Dia tidak sehebat Ruli dalam memukul, dia juga tidak sehebat Hardi dalam berperang, tapi bukan berarti dia adalah seorang yang bodoh.


Dia membawa Hardi ke sana, dan juga membawa pistol ke sana.


Dalam kondisi ini, saat Ruli bersiap untuk menghajar Alif, dia juga sudah menyadarinya.


Karena bodyguardnya memberitahunya, di jidatnya ada tanda laser merah.


Tanda laser merah ini, bukanlah mainan anak biasa, itu digunakan untuk mengeker.


Dan yang bisa digunakan anak buah Alif untuk mengeker pastinya adalah sebuah sniper.


Jadi, Rulu juga menjadi sangat diam, saat pisau ada di lehernya saja dia begitu diam, apalagi saat ada yang mengeker kepalanya itu.


Alif di dalam mobil sudah memberikan tanda untuk memulai penembakan, dan juga mengeluarkan suara ledakan sesaat.


“Saat Alif mengeluarkan suara itu, Ruli menjadi sangat kaget, dan badannya gemetaran.”


Dia tahu bahwa itu bukanlah suara tembakan, tapi dia juga tidak tahu kapan suara tembakan itu akan berbunyi, dia menjadi sangat takut.


Dia takut dengan suara tembakan yang asli, karena dia masih belum menikmati hidupnya dengan cukup, dia takut mati.


Jadi setelah Alif pergi dari sana, tanda laser merah itu juga sudah hilang, dan Ruli pun barulah lega.


“Sialan, sialan, sialan!!!”


Hari ini aku tidak berhasil menghajar Si alif, Ruli sangatlah marah.


Dia sangat marah karena tadi dia banyak omong kosong, dan membuatnya malah terlihat jelek, apa lagi di depan 3 bodyguard itu!


“Alif, masalah hari ini baru saja dimulai, aku pasti akan membuatmu menyesal, dan membuatmu tahu apa akibatnya kalau melawanku!!!”

__ADS_1


__ADS_2