Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Kebahagiaan Yang Belum Lengkap


__ADS_3

"Sering banget Gue bilang sama Ibu, bagaimana kalo masalah belum punya anak itu dari Gue bukan Sabilla atau Cantika? tetapi tetap saja Ibu tidak mau mengerti"


Dengan sangat hati hati Rion berkata "Apa Elo masih ada perasaan sama Sabilla?" Rion memutar kursinya untuk melihat Verrel yang masih berdiri di depan jendela kaca besar sebuah perusahaan ternama.


Verrel pun terdiam.


 


Di tempat berbeda Bu Ratna sedang bersiap siap untuk membuka rumah makan yang sudah lama Ia geluti. Rumah makan yang bersebelahan dengan rumah yang Bu Ratna, Sabilla, dan Pak Wahyu Bapak Sabilla serta kelima anak Sabilla tempati.


"Pak bangunin Sabilla dong, kebiasaan kalo habis Subuhan tidur lagi"


"Iya Bu" Pak Wahyu beranjak dari kursinya.


Tok tok tok


"Nak bangun udah siang! kamu kerja tidak? Sabilla"


Tok tok tok


Hening, setiap membangunkan Sabilla Pak Wahyu harus menunggu lama.


"Kakek bangunin Bunda ya?" Ucap Andrian yang melihat Kakeknya berada di depan kamar pintu Sabilla.


"Iya, kebiasaan nih Bunda kamu selalu bangun siang, selalu mepet kalo apa apa"


Andrian tertawa mendengar ucapan kakek Wahyu.

__ADS_1


"Itukan anak kakek, haha" Pak Wahyu menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Andrian.


Tok tok tok


"Salsabilla bangun udah siang! Bapak dobrak nih pintunya!"


"Sabillaaa"


"Iya Pak! Billa bangun" Teriak suara dari dalam kamar.


"Cepet bangun Bapak mau bantuin Ibu"


Ceklek


Suara pintupun terdengar dibuka oleh Sabilla.


"Nih Billa bangun" Sabilla keluar dengan wajah kusutnya. Melewati Pak Wahyu yang masih berdiri di depan pintu kamar Sabilla.


Sabilla menuju sofa panjang di ruang tengah kemudian duduk, "Billa bangun, sudah siang! jangan tidur lagi" Ucap Bu Ratna yang baru saja masuk ke dalam rumah saat melihat Sabilla hendak menjatuhkan tubuhnya ke sofa.


"Iih Ibu, ini kan masih jam 6" Ucap Sabilla parau.


Plak


"Aaw" Bu Ratna memukul bahu Sabilla.


"Bangun buatin sarapan buat anak anak, Andrian sudah bangun! dia sempet bantuin Ibu tadi!" Ucap Bu Ratna sambil berlalu.

__ADS_1


"Billaaa bangun!" Teriak Bu Ratna dari arah dapur saat Sabilla hendak menjatuhkan tubunya lagi.


Sabilla pun terduduk sambil memejamkan netranya.


"Bundaaa" Ehab datang tiba tiba duduk di sebelah kanan Sabilla sambil menggoyang goyangkan tubuh Sabilla yang tertidur sambil duduk "Bundaaa"


"Bunda, Bunda" Iqbalpun datang turut pula membangunkan Sabilla sambil berdiri di sebelah kiri Sabila, kemudian datanglah Umaiza.


"Bundaaaa" Yang berdiri di hadapan Sabilla.


"Bunda"


"Bunda"


"Bunda" Ucap mereka serempak memanggil Sabilla yang belum juga terbangun.


"Bundaaaaaaa" Teriak anak anak Sabilla serempak.


"Aaaaa" Sabilla terbangun mengejutkan ketiga anaknya dari pura pura tidur kemudian menarik Umaiza, menggelitik tubuh Umaiza.


"Aaaaa... Bundaa geliiii haha" Sabilla pun melepas Umaiza dan mengejar Ehab serta Iqbal yang sedari tadi hanya melihat Umaiza yang menjerit kegelian karna Sabilla yang terus menggelitik tanpa henti.


Iqbal dan Ehabpun berlari menuju kamar yang selama ini mereka tempati kamar ke empat anak laki laki Sabilla, sementara untuk Umaiza dia menempati kamarnya sendiri.


"Aaaa Kakekkkk" Teriak Iqbal dari dalam kamar saat tertangkap oleh Sabilla.


Umaiza, dan Andrian yang sejak tadi di luarpun ikut masuk ke dalam kamar kemudian menyerang Sabilla secara bersamaan.

__ADS_1


"Aaaa ammpuunnn, curang ya kalian berlima sementara Bunda sendiri" Sabilla tertawa karna mendapatkan serangan keroyokan dari kelima anaknya.


"Haha" Suara tawa merekapun menggema terdengar sampai keluar kamar tidur. Sementara Orang tua Sabillapun hanya menggelengkan kepalanya pelan karna sudah terbiasa dengan tingkah jahil Sabilla yang terkadang datang.


__ADS_2