
Kata-kata Alif membuat Patricila menjadi marah dan malu.
Dia berpakaian seperti itu bukan karena Alif, sangat jelas dia itu terlalu sibuk, sampai melupakan hal ini.
Kalau sekarang boleh pergi, dia pasti akan mencari sebuah tempat untuk mengganti bajunya, daripada dia digoda terus oleh Si alif itu.
Namun kalau dia ingin pergi sekarang, nampaknya sudah tidak mungkin lagi, karena Alif sudah menggandeng lengannya, dia sangat menempel padanya, dia tidak bisa melepaskannya sama sekali, dia juga tidak berani terhadapnya, jadi hanya bisa mengikuti Alif to ke dalam hotel itu dengan terpaksa. Setelah itu mereka menyewa ruang privat.
Untung saja Alif menggodanya hanya dengan bahasa di mulut saja, tidak melakukan pergerakan apapun, jadi suasana hati dia lebih baik sedikit.
Awalnya Patricila ingin membuat Alif terus minum dan menjadi mabuk, dengan begitu tugasnya akan lebih mudah diselesaikan, tapi ternyata Alif malah tidak meminumnya.
Dan lagi alasan Alif sangatlah simpel: “Kamu tak akan bisa mengalahkanku dalam hal minum bir ini, aku hanya takut kamu mabuk duluan, besoknya kamu yang akan malu sendiri.”
Alasan seperti ini benar-benar membuat Patricila ingin marah!
Apanya yang besok akan malu, bukankah itu artinya kalau hari ini dia dan Alif minum bersama, Alif akan melakukan sesuatu terhadapnya?
Perkataan ini sangatlah memalukan, tapi dikatakannya dengan sangat elegan, hal ini membuat Patricila tidak tahu harus berbuat apa pada Alif.
Alif seperti preman, tapi kalau berbuat sesuatu sangatlah sadis dan ganas, bagaikan pebisnis tua berpengalaman.
Setelah sayurnya sudah datang, Alif sambil makan sambil mengobrol dengan Patricila, yang diobrolkan malah hanya urusan keluarga biasa saja.
Dia juga bertanya apakah Patricila sudah menikah, apakah sudah punya pacar dan lainnya.
Yang ini masih bagus, ada lagi yang cukup kelewatan, Alif bertanya pertanyaan tidak tahu malu padanya: ”Apakah kamu masih perawan?”
Patricila saat itu sangatlah malu, dia bukannya malu karena dia sudah tidak perawan, ya wajar, dia sudah pernah sekolah di luar negeri.
Dia malu karena Alif bertanya pertanyaan itu dengan sangat terbuka dan langsung, dan juga sedikit meremehkan dia.
Jadi saat Patricila menjawab dengan jujur, dan ingin membuat Alif mati rasa.
“Aku sudah tidak lagi, aku pernah pacaran 2 kali, dan pernah melakukannya dengan mereka berdua, jadi apakah kamu sudah menyerah?”
“Ah, ini bagus sekali, aku hanya takut kamu masih perawan, kalau tidak, saat aku meniduri kamu, aku tidak tahu bagaimana menghadapi keluargamu nantinya.”
Jawaban yang mengagetkan ini, membuat Patricila sangat marah.
Mana ada yang begitu, maksud dia hanya agar Alif melepaskan dirinya, tapi malah akhirnya dia yang menjadi targetnya.
Jadi dia pun menjawab: “Tadi aku hanya membohongimu, sebenarnya aku masih perawan.”
Alif menganggukkan kepala dan lebih suka lagi: “Perawan tua ya, aku sangat suka yang seperti kamu ini, sudah sangat dewasa, dan juga terus mempertahankan keperawananmu.”
Alif dari tadi terus mengatakan kata perawan, hal itu membuat Patricila menjadi sangat malu.
Perawan juga tidak masalah, masalahnya lagi, kata tua itu, kelewatan!
Dia tidak tahu sejak kapan dia tua, dia baru saja berumur 29 tahun!
Tapi ada satu hal yang sudah dimengerti oleh Patricila, beradu mulut dengan Alif, sangatlah tidak mungkin, sepuluh Patricila tidak akan bisa menang melawan satu Alif.
__ADS_1
Jadi dia tidak lagi memikirkan perkataannya, dan berusaha mengganti topiknya: “Masalah Pabrik kimia itu.........”
Baru saja Patricila mengatakan hal ini, Alif langsung melanjutkan kata-katanya.
“Tadi siang aku mendapat telepon dari kakekku, dia sangat senang terhadap perbuatanku, dan terus memujiku.”
“Kamu ini, aku hanya ingin diam-diam berbuat sesuatu saja, tak disangka, kamu malah memberitahukan masalah ini pada mereka, dan membuat mereka memujiku, malah membuatku jadi tidak enak kan!”
Alif itu benar-benar tidak tahu malu, dia benar-benar sangat kesal.
Sialan, mana ada hal yang seperti itu, keluargaku kleuarga kita ini benar-benar dibuat pusing dan berantakan oleh orang sepertimu, kamu masih bilang tidak enak.
Orang ini benar-benar tidak tahu malu ya! Sebenarnya siapa yang tidak enak!
Awalnya dia masih ingin berbicara baik-baik dengan, dan memberikannya ganti rugi sebesar 2 triliun rupiah.
Tapi kalau dilihat sekarang, harusnya sudah tidak mungkin lagi, karena Alif benar-benar tidak serius, dia benar-benar sedang bermain-main dan mengacaukan semuanya.
Jadi Patricila memutuskan untuk berbicara terus terang, dan memberitahukan batasan dari keluarga.
“Sudahlah, aku langsung saja, keluarga kami......... ”
Patricila baru saja ingin berbicara, sumpit Alif tidak tahu bagaimana caranya, tiba-tiba sudah terjatuh di bawah meja, dan Alif langsung memungutnya.
Karena menghormatinya, Patricila hanya menunggunya untuk keluar dan berbicara padanya.
Tapi setelah menunggu selama 5 detik, masih tidak ada pergerakan apapun, hal ini membuatnya menjadi penasaran.
Jadi, di pikirannya langsung merespon, wajahnya pun langsung menjadi merah.
Kedua kakinya ditutup dengan sangat rapat, agar Alif tak bisa melihatnya lagi.
Tak usah melihatnya dia juga sudah dapat menebak, Alif sengaja menjatuhkan sumpitnya ke bawah, dan saat itu pasti mengambil ponselnya untuk memberikan pencahayaan pada roknya. Kalau tidak, roknya juga tidak mungkin akan menjadi bercahaya begitu, Alif juga tidak mungkin tidak berdiri lagi.
Tetapi saat dia ingin merapatkan kakinya, dia tiba-tiba merasakan kakinya sedang menjepit sebuah kepala, kakinya tidak bisa dirapatkan........
Patricila langsung menjadi panik: “Alif to, kamu bajingan, kamu cepatlah keluar, keluar!!!”
Patricila tidak hanya marah, tapi dia juga menggunakan tangannya untuk mendorong kepala itu.
Tapi Alif juga sepertinya nampak kesakitan, dan berkata: “Kamu renggangkan kakimu dong, aku coba jepit kepalamu, dan kamu coba keluar sendiri, apakah bisa!”
Walaupun sangat malu, tapi tak ada cara lain, memang beginilah adanya.
Jadi di saat berikutnya, Patricila pun merenggangkan kedua kakinya.
Tapi saat dia merenggangkan kakinya, Alif bukannya mundur, melainkan malah semakin maju ke depan.
Dan yang semakin menakutkan lagi, dia merasakan gerakan lidah dari Alif.
Patricila langsung mengeluarkan suara teriakan yang sedikit memalukan, dan juga dengan paniknya, ia menggunakan kedua tangannya untuk menahan kepala Alif.
“Jangan begitu, Alif kamu jangan begitu, kamu cepat singkirkan mulutmu itu, Singkirkan, Singkirkan.........”
__ADS_1
Perasaan seperti itu, membuat seluruh badan Patricila menjadi mati rasa, seperti disetrum oleh listrik.
Alif di saat ini juga memberikan permohonan yang sangat simpel.
“Aku bisa melepaskanmu, tapi kamu harus menggunakan kakimu untuk mengeluarkanku, kalau tidak aku takutnya malah akan semakin menginginkanmu, kamu terlalu seksi.”
Patricila tidak tahu apakah ini adalah pujuan atau hinaan, tapi dia tidak ada cara lain, walaupun dia tidak menginginkannya, tapi demi menyelesaikan masalah ini, dia hanya bisa menyetujuinya.
“Baiklah, aku setuju, aku setuju.”
Setelah Patricila setuju, Alif baru mengeluarkan kepalanya.
Tapi sebelum dia mengeluarkan kepalanya, dia memberikan ciuman yang sangat mendalam pada Patricila.
Ciuman itu, membuat Patricila menjadi gila, dari seluruh tubuhnya benar-benar membuat jiwanya menjadi terguncang.
Lalu, Alif benar-benar melakukannya sesuai perkataannya, dia tidak melakukan apapun lagi terhadapnya.
Setelah kembali ke tempat duduknya, Alif menggunakan lidahnya untuk menjilat bibirnya sendiri, dan memainkannya sesaat.
Gerakan bibir ini, benar-benar membuat Patricila menjadi malu.
Tapi dia hanya bisa diam saja, dan dengan marah berjalan ke arah pintu keluar.
Patricila sudah memutuskannya, tidak ada pembicaraan lagi, kalau hancur, hancur saja, paling tidak hanya rugi saja, dia tidak ingin kehilangan tubuhnya dan kehormatannya!
Alif melihat Patricila yang berjalan ke arah pintu keluar itu: “Kamu itu tidak mengikuti perkataanmu sendiri ya?”
Patricila benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, dia tidak percaya Alif bisa berbuat kasar padanya!
Alif bukannya tidak ingin berbuat kasar, dia bukan tidak berani, tapi dia masih ada cara yang lainnya.
Jadi di waktu berikutnya, dia mengeluarkan ponselnya, dan memutar rekamannya.
Patricila tidak dapat melihat videonya, tapi hanya dapat mendengar suara yang keluar dari sana----
“Jangan begitu, Aluf, kamu jangan begitu.........“
________________________
Kasih dukungan ya teman buat youtub : Arif Bo
Jangan lupa SUBCRIBE
----
LIKE
KOMEN
GIFE
VOTE JAGAN SAPAE LUPA ....
__ADS_1