Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Bab 77 Apakah Kamu Manusia


__ADS_3

Sewaktu Alif berjalan ke arah pria yang tergeletak di lantai, tiba-tiba terdengar suara sirene.


Suara sirene semakin mendekat, mobil polisi berhenti di pinggir jalan dan dua polisi bergegas keluar dari mobil.


Setelah polisi tiba, pria yang tergeletak di lantai langsung merintih kesakitan.


“Pak Polisi, kalian harus mendapatkan keadilan untuk aku. Dia bukan hanya menabrak aku, tetapi membalikkan kenyataan dan menuduh aku yang menabrak dia.”


“Coba kalian lihat, kenapa ada orang yang tidak memiliki hati nurani seperti dia, kalian harus bertindak dengan tegas...”


Seorang polisi melihat luka pria tersebut dan polisi lainnya menginterogasi Alif.


Alif menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir, setelah itu dia menunjuk ke arah monitor kamera yang merekam semua kejadian itu.


Polisi melihat ke bagian dalam mobil, Julia juga melihat dengan kepala mata sendiri.


Memang kenyataan dan sangat jelas, Alif waktu itu sudah menghentikan mobil dan orang itu yang menabrak mobil Alif.


Julia sangat emosi dengan hal ini: “Aku telah salah paham dan mengira kamu yang menabrak orang itu, kenapa ada yang tidak tahu malu seperti ini?”


“Masih muda tetapi tidak bermoral, kenapa bisa bertemu dengan orang mengambil kesempatan dalam kesempitan, benar-benar brengsek!”


Pak polisi memang sudah berpengalaman dalam kondisi seperti ini, sewaktu mereka turun dari mobil langsung memborgol tangan pria tersebut.


“Kamu telah sengaja memanipulasi kejadian, melakukan pemerasan juga mengancam pihak yang tidak bersalah. Dengan tiga pasal ini, kami sudah memiliki alasan yang kuat untuk mengambil tindakan atas kejadian ini.”


Polisi yang berdiri di samping mengatakan: “Dia belum minta uang ganti rugi kepada pemilik mobil, tunggu saja setelah dia meminta uang itu barulah menangkapnya.”


Kedua polisi saling berdiskusi dan pria itu terlihat begitu ketakutan.


“Tidak, aku tidak memanipulasi kejadian, sebenarnya aku terjatuh sendiri, semua hanya sebuah kecelakaan...”


Pria itu mencoba membela diri dengan beberapa perkataan, dia segera berdiri dan membersihkan celana, dia terlihat baik-baik saja.


Kedua polisi hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun.


Terhadap orang yang mengambil keuntungan dalam kesempitan, mereka juga tidak bisa terlalu tegas menangani hal ini, lagi pula memang tidak ada peraturan untuk orang seperti ini.


Pihak polisi hanya bisa menggunakan suara sirene untuk menakuti penjahat seperti ini dan sedikit membantu para korban.


Alif dan Julia berterima kasih kepada polisi. Setelah itu, mereka masing-masing mengendarai mobil ke parkiran terdekat.


Pria itu masih berada di salah satu sudut tidak jauh dari sana dan melihat mereka dengan tatapan buas, seperti iblis yang keluar dari neraka.

__ADS_1


Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon: “Kakak Johan, aku hampir berhasil mendapatkannya, tetapi kebetulan ada dua polisi yang menghampiri kami, aku tidak bisa bertindak lebih jauh... Kamu tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.”


Saat berada parkiran, Julia terlihat begitu canggung: “Maaf, sebuah kesalahpahaman, aku mengira kamu telah menabrak orang itu.”


Alif melambaikan tangan dan mengisyaratkan tidak masalah.


Mereka mulai ada pembicaraan. Alif menanyakan bagaimana keadaan Julia belakangan ini.


Julia juga menceritakan bahwa semua berjalan lancar dan tidak ada masalah, semua karena ada alif yang menopang dirinya.


Beberapa lama setelah itu, Alif tiba-tiba bertanya mengenai Siska kepada Julia .


Setelah sekilas penjelasan, Alif kembali bertanya: “Aku merasa dia memang sengaja. Sebagai sesama wanita, menurut kamu kenapa dia bertindak seperti ini?”


Julia terdiam sejenak dan berkata: “Jika aku, mungkin saja aku mendapatkan ancaman makanya bertindak sampai sejauh itu. Karena ingin melindungi kamu, maka membiarkan yang lain salah paham dan menjauhi aku. Bagaimanapun juga, aku tidak akan membiarkan kamu terlibat dan masuk dalam keadaan yang begitu berbahaya. ”


“Selain itu, aku tidak terpikir ada alasan yang lain.”


alif merenung sejenak dan berpikir perkataan Julia memang masuk akal.


Tetapi dia cukup penasaran, siapa yang berani mengancam Siska ? Apa yang membuat dirinya merasa terancam?


Masalah seperti ini, mungkin dia harus bertanya sendiri kepada Siska baru bisa mendapatkan jawaban.


Alif mengucapkan terima kasih kepada Julia dan langsung bergegas ke rumah sakit.


Sewaktu acara penyambutan Presdir, Julia mengira Alif menyukai dirinya!


Tidak terpikir, hari ini Alif malah bertanya tentang wanita lain padanya, hal ini membuat Julia merasa sedih...


Belakangan ini Ibu dari Siska sakit lagi dan Siska harus pergi ke rumah sakit setiap hari. Jika Alif pergi ke sana, pasti bisa bertemu dengan wanita itu.


Sepanjang perjalanan yang begitu jauh, alif akhirnya tiba di rumah sakit.


Sewaktu alif bertanya kepada suster, dia baru mendapat kabar ternyata Ibunya telah dipindahkan ke rumah sakit yang lain.


Hal ini cukup mengejutkan Alif. Ibu dari Siska sudah dipindahkan ke rumah sakit yang lain? Bagaimana dengan biaya pengobatan?


Satu hal yang perlu diketahui. Sejauh ini mereka mendapat biaya pengobatan dari Perusahaan Bakti, jika Ibunya pindah rumah sakit, tidak mungkin pembiayaan juga ikut dialokasikan tanpa memberitahu Alif.


Bukan karena menyayangkan uang tersebut. Tetapi Alif tidak mengerti, dari mana Siska bisa mendapatkan biaya pengobatan Ibunya?


Alif mencoba mencari tahu kenapa Ibu dari Siska dipindahkan. Suster hanya menggelengkan kepala, karena pihak pasien tidak meninggalkan data juga tidak tercatat di rumah sakit ini.

__ADS_1


Hal ini membuat alif semakin penasaran, dia berjalan ke depan dan menelepon Siska .


Tetapi Siska menolak panggilan telepon. Saat panggilan ulang, ponsel Siska sudah tidak aktif.


Sikap ini sudah begitu jelas, Siska sedang menghindari alif dan tidak ingin bertemu dengannya.


alif sangat terpukul dengan masalah ini. Dia ingin pergi ke rumah Siska untuk bertemu dengan dia. Bagaimanapun juga, Siska pasti akan pulang ke rumah.


Sewaktu berjalan ke arah parkiran, langkah alif tiba-tiba terhenti karena mendengar suara meminta tolong.


“Aku meminta tolong kepada kalian bantulah aku. Aku mempunyai kartu identitas dan surat kerja. Kalian bantulah aku, siapa yang bisa berbaik hati dan meminjamkan 40 juta Rupiah


alif langsung memalingkan wajah. Dia melihat seorang wanita dengan kulit yang sangat putih, mungkin berumur 24 atau 25 tahun. Orang itu berdiri di pinggir jalan dan terus menundukkan badan kepada siapa saja yang lewat dari hadapannya, dia terus meminta pinjaman .


Perkataan orang itu terdengar seperti ada anggota keluarga dia yang sedang sakit parah, sekarang harus mendapatkan uang dan segera melakukan operasi. Ada keluarga yang sudah pulang mengambil uang dan akan segera kembali untuk mengembalikan pinjaman. Bagi yang berhati baik dan meminjamkan uang kepadanya, dia akan menambahkan bunga sebesar 4 juta Rupiah atas pinjaman uang tersebut.


alif merasa penasaran dan berjalan mendekati wanita tersebut.


Bukan karena bunga pinjaman uang, alif hanya ingin membantunya dengan tulus.


Ya sudahlah jika ditipu, mungkin dirinya akan dianggap sebagai orang bodoh.


Kalau bukan penipuan, berarti dia sudah menyelamatkan satu nyawa.


alif yang berhati baik mendekati wanita itu, dia mengeluarkan ponsel untuk transfer uang kepada dia.


Saat ini, muncul seorang pria yang sangat gendut paruh baya dan melihat wanita tersebut dengan tatapan mesum.


“Wanita cantik, kita diskusikan satu hal, aku tidak perlu bunga pinjaman uang itu, aku bisa langsung memberikan 40 juta pada kamu, tetapi selama menunggu uang itu dikembalikan, kamu harus menjadi pendamping aku, bagaimana menurut kamu?”


“Selama uang pinjaman belum lunas, kamu harus menjalankan apa yang aku perintahkan...”


Si gendut masih belum berhenti berkata-kata, tetapi wajah wanita yang bernama Carmel mulai memerah.


Dia tentu saja mengerti maksud perkataan si gendut. Oleh karena itu, dia merasa malu dan mulai emosi.


“Dia sedang meminta bantuan dan kamu malah mencari keuntungan. Apakah kamu merasa dirimu adalah manusia?”


Carmel ingin membuka mulut dan menjawab, tetapi alif duluan bersuara.


Perkataan alif membuat dia sangat terharu. Karena perkataan tersebut memang isi hati Carmel.


Sebelum Carmel mengucapkan terima kasih, si gendut sudah merasa tidak senang.

__ADS_1


“Buat apa kamu mencampuri urusan aku? Cepat pergi dari sini!”


“Jika kamu masih berani berbicara, aku akan menyuruh bawahan untuk menghajar kamu dan memasukkan kamu ke dalam rumah sakit!”


__ADS_2