
Tok tok tok
"Masuk" Verrel mengalihkan pandangannya saat Rion membuka pintu.
"Ada apa?" Tanpa basa basi Verrel bertanya pada Rion yang baru saja duduk di atas sofa depan meja kerjanya.
"Kenapa Bapak Verrel yang terhormat belum juga berangkat menuju Riau? Apa Bapak tidak tahu semakin cepat suatu masalah diselesaikan itu semakin baik" Rion menatap Verrel yang terdiam.
"Kemudian apa Bapak Verrel juga sudah mengatakan tentang keberangkatannya ke Riau pada Bu Cantika?" Verrel menghembuskan nafasnya kemudian berdiri dan duduk disamping Rion merilekskan sejenak pikiran yang sedang berkecamuk di dalam otaknya.
"Gue udah bilang sama Cantika" Rion terdiam menunggu ucapan Verrel selanjutnya.
"Dan dia harus! siap gak siap ikut kemanapun Gue pergi!"
Rion menggeleng berucap lirih "Egois" meskipun sudah memiliki usia yang cukup matang tidak membuat Verrel berfikir dengan bijak. Apapun yang dia inginkan harus dipenuhi dan Rion sangat menyayangkan itu.
Seharusnya dengan pengalaman hidup yang Verrel alami sedikit bisa mengubah tentang jalan pikirannya, tetapi semua berbanding terbalik.
__ADS_1
Verrel mengambil ponselnya yang sejak tadi berada di atas meja, membuka aplikasi si pesan hijau.
Ting
Suara notifikasi terdengar masuk melalui ponsel Cantika yang sedang bekerja di rumah sakit.
Cantika mengambil dan melihat ponselnya yang sedang tergeletak di atas meja kerja.
"Gimana sudah kamu serahkan surat pengunduran diri kamu?" Ketikan pesan Verrel pada Cantika.
"Liat!- Cantika memperlihatkan chat Verrel pada teman dekatnya yang sedang istirahat dan bertugas dihari yang sama.
Wajah serta tutur kata Cantika yang membuat siapapun jatuh hati. Cantika Ayundari seorang wanita berhijab yang lemah lembut.
"Tapi kenapa laki lo nyuruh berhenti dari rumah sakit" Nindi sang sahabat masih belum bisa menerima keputusan yang diambil.
Cantika menarik nafasnya panjang "Kami Insya Alloh mau tinggal sementara di Riau" Nindi membesarkan bola netranya.
__ADS_1
"Serius? tapi kenapa?" Nindi menatap Cantika menunggu jawaban, sangat disayangkan jika rumah sakit Daerah Surabaya ini harus kehilangan bidan yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.
Bidan yang selalu ada saat dibutuhkan bahkan saat teman temannya yang lain berhalangan hadir, Cantika dengan suka rela menawarkan diri untuk membantu, meskipun itu sudah larut malam, ketika ada pasien darurat melahirkan Cantika usahakan untuk datang.
"Karna ada masalah dengan cabang perusahaan Mas Verrel di sana, kayaknya masalahnya lumayan berat deh. Sampe aku harus ikut juga" Cantika termenung beberapa saat.
"Kenapa? kok melamun" Nindi melihat perubahan wajah Cantika yang terlihat murung dan lesu. Nindi berusaha mengerti tentang kondisi Cantika dan tidak banyak bertanya lagi.
"Aku capek!"
"Capek" Cantika mengangguk mendengar kata penegasan dari Nindi. "Cape kenapa?" Yang Nindi tahu kehidupan Cantika sangat lah nyaman dan enak semua fasilitas supir, pembantu dan yang lainnya Verrel berikan bahkan untuk urusan dapur, rumah dan printilan printilan lainnya semua Verrel yang handle.
Cantika menarik nafasnya "Kamu tahu Nin! sudah beberapa bulan ini Mas Verrel gila gilaan menghajarku di tempat tidur. Terus dulu juga dia gak pernah nuntut aku buat punya anak kecuali Ibu Mertuaku"
"Dan baru kemarin kemarin nih saat aku mau bagi bagi makanan dia baru bahas perihal anak, ya emang sih dia gak bilang langsung hanya berupa kiasan yang Gue tahu pasti menjurus ke situ"
"Yang Gue heran kenapa baru sekarang dia nuntut aku buat punya anak, kenapa gak dari dulu? dia emang gak bilang secara langsung sih tapi tingkah lakunya itu loh yang mengurung gue gak kenal waktu sudah membuktikan itu semua"
__ADS_1
Nindi tertawa sangat kencang "Ya Ampunnn, serius loh?"