Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Bab 88 : Surat ijin The South Sea Tiger


__ADS_3

Mengenai masalah Siska , Alif meminta Hardi untuk melanjutkan penyelidikan.


Tapi sebulan telah berlalu, dan masih belum ada detail tentangnya.


Dalam waktu satu bulan The South Sea Tiger sudah mendapatkan surat izin mengemudi...


Pagi ini, Alif di rapat petinggi perusahaan, mendengar orang yang sedang ribut.


Mereka sedang bertanya-tanya apakah iklan real estat yang baru itu berjalan dengan efektif.


Ada yang bilang efektif, karena dengan total biaya promosi yang digunakan, dan pada lelangan waktu itu masih terbilang untung.


Beberapa orang mengatakan bahwa itu tidak efektif, dan sama sekali tidak ada artinya, sangat menyia-nyiakan tenaga dan sumber daya karyawan.


Alif To sementara menangguhkan masalah ini tanpa membuat keputusan apapun.


Dua orang yang berdebat di sini, belum menemukan kenyataan yang begitu baik.


Jadi, setelah rapat itu selesai, Alif meminta orang-orang untuk mengambil banyak iklan real estat dan dia yang akan mengurus iklannya sendiri.


Dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore, Alif terus mengirimkan ke alun-alun, stasiun kereta bawah tanah, dan sangat banyak iklan yang di sebar, tetapi kenyataanya yang menelepon tidak banyak, dan ada yang menelepon tetapi hanya menanyakan beberapa patah kata, dan kemudian menutup telepon, dan hal ini sangat tidak berguna.


Kemudian, brosur iklan tersebut menjadi kertas yang tidak berguna, dan dibuang begitu saja.


Alif mengeluarkan ponselnya dan menelepon Gm Cecep.


"Iklan lokal tidak berguna, dan tidak mungkin untuk menarik pelanggan, aku memiliki saran, tetapi tidak tahu ini bagus atau tidak, kamu bisa mendiskusikan kepada petinggi perusahaan, dan memasang semua iklan kantor penjualan kita di setiap bus dan koran".


"Selain itu, kita juga dapat memilih beberapa toko terdekat dan memberikan mereka sebuah tas. Tas tersebut tercetak iklan kita, tidak hanya untuk mereka, dan ada juga untuk iklan penjualan kita..."


Setelah memberikan beberapa saran kepada Gm Cecep, Alif menutup teleponnya.


Karena iklan lokal tidak berguna, tentu saja brosur iklan tidak perlu untuk dilakukan penyebaran.


Jadi Alif meletakkannya di tempat sampah, dan bersiap untuk pergi.


Tapi saat ini, seseorang menepuk pundaknya, "Tidak baik jika kamu bekerja seperti ini?"


Alif menoleh, lalu melihat wajah yang dikenalnya, "Heri ? Hei, lama tidak bertemu!"

__ADS_1


Saat Alif bekerja sebagai penjaga di sebuah Cafe, dan Heri adalah rekan kerja yang ia kenal saat itu selain susan, karna hari masuk setelah susan keluar dari cafe .


Saat bekerja bersama, Heri baik-baik saja, dia sedikit pelit, tetapi tidak ada yang salah dengan itu.


Tanpa diduga, sudah hampir setahun tidak melihatnya, dan ini masih terhitung sangat berjodoh bisa bertemu dengannya.


Setelah keduanya mengobrol beberapa patah kata, Heri bertanya pada alif, "Ada apa, sekarang kamu melakukan pekerjaan membagikan brosur ini?"


Alif tersenyum, tidak tahu apa yang harus dikatakan tentang hal ini, tidak mungkin untuk mengatakan hal ini kepada Heri dari awal hingga akhir, jadi dia mengangguk mengiyakan saja.


Heri menggelengkan kepalanya, "Kamu ini, mengapa kamu tidak ada sedikit kemajuan?"


"Begini saja, kamu panggil saja aku kakak Heri, maka aku akan membantumu".


Saat bekerja di Cafe, Heri berpura-pura menjadi orang hebat, dan orang-orang akan memanggilnya Kak Heri, tak di sangka sampai hari dia masih memiliki sifat ini.


Alif tersenyum dan bertanya, "Kenapa, sekarang kamu memiliki pekerjaan yang bagus?"


Heri menarik-narik bajunya, "Ini baju yang, sangat mahal!"


Kemudian memainkan ponsel di tangannya, "Apple XS, harganya 20 juta rupiah".


"Dari dua hal ini, aku yakin kamu akan memiliki penilaian tersendiri terhadap diriku".


Nyatanya memang benar, lalu Heri berkata: "Aku bekerja di Perusahaan Bakti sekarang, apakah kamu tahu Perusahaan Bakti? Oh, iya, karena kamu pasti tahu, brosur iklan ini adalah perusahaan Bakti kami".


"Aku sekarang menjadi kepala bagian HRD di Perusahaan Bakti. Ini memang tidak terlalu besar, hanya menjadi seorang wakil kepala bagian di perusahaan Bakti saja, dan aku hanya bertanggung jawab dalam merekrut orang".


Kepala bagian yang kecil, tetapi melihat dari ekspresi Heri ini bukanlah hal yang kecil, kalau tidak tidak mungkin dia begitu bangga.


"Ngomong-ngomong, apa kabar, apakah kamu sudah lulus?"


Alif menjawab: "Belum, ada apa?"


Heri tampak menyesal, "Jika kamu lulus, aku akan membuat kamu bekerja di Perusahaan Bakti, dan memberi kamu jabatan di kantor sebagai superintendent, meskipun tidak seperti jabatanku, akan tetapi ini lebih baik daripada kamu menyebarkan brosur iklan di jalan".


Ternyata seperti itu, jadi Alif berkata: "Tetapi aku telah mengambil cuti kuliah, dan sehingga aku dapat bekerja dengan formal kapanpun itu".


Heri tercengang, lalu dia berkata: "Menjadi apa? Superintendent di kantor, menjadi supertintendent tentu saja memiliki persyaratan akademis".

__ADS_1


Pada saat berikutnya, Heri mulai berbicara omong kosong.


Sikapnya sangat jelas, selama Alif belum bekerja, maka dia dapat menetapkan Alif di posisi apapun.


Tapi selama Alif setuju, pasti akan ada berbagai macam alasan yang menghalangi, singkat kata Alif tidak akan diizinkan untuk melakukan sesuai yang dia mau.


Heri dulu tidak seperti ini, tetapi mengapa dia sekarang memiliki sifat yang suka membual?


Alif tidak banyak bicara lagi dengannya, jadi dia mencari alasan untuk meninggalkannya.


Namun, Heri tidak mau melepaskan dan terus membual di depannya tentang betapa berpengaruh dia dalam Perusahaan Bakti dan betapa para pemimpin sangat optimis tentang dirinya dia. Bahkan Presdir perusahaan sendiri pun sampai memujinya sendiri atas kemampuannya.


“Presdir kami mengatakan kepadaku bahwa aku adalah orang yang paling baik di perusahaan, dan juga masih sangat muda dan memiliki kemampuan. Dia sangat senang melihat diriku, dan ingin membuatku memegang posisi tinggi di perusahaan".


Alif tidak tahu kapan dia senang dengan Heri, dan juga tidak tahu kapan dia bertemu dengan Heri ini.


"Oke, Heri, aku tidak bisa mendengarkanmu lagi, aku sungguh masih ada urusan, sampai di sini dulu!"


Untuk seorang pria yang membual tanpa batas, Alif benar-benar tidak memiliki kesan yang baik.


Tapi saat ini, Heri tidak senang.


"Alif to, apa maksudmu, aku sekarang ingin membantumu, dan jika sekarang kamu ingin pergi, ini sama saja kamu menggangapku rendah, kuperingati dirimu, aku belum sampai merendahkanmu, kamu juga bukan barang bagus! "


"Aku dengan sangat senang hati ingin membantumu karena hubungan lama kita, lihat dirimu sekarang ini, sedikitpun tidak kelihatan lebih baik dariku, kamu masih saja seperti sebuah sampah. "


Alif tidak bisa berkata-kata tentang sikap Heri..


Orang seperti ini keluar untuk menginjak orang lain dan untuk mencari kepercayaan dirinya, dan tidak ingin diremehkan orang.


Tapi masyarakat sekarang ini sangat sibuk, selain mencari kehidupan mana yang lebih baik, dan masih ingin berpikir untuk menginjak orang lain.


Jadi Alif berkata kepadanya: "Ada yang harus kulakukan, ayo bicara lain kali saja!"


Hingga saat ini, Alif masih memikirkan hubungannya dengan teman lamanya ini, dan tidak ingin terlalu kaku dengan Heri.


Tapi Heri jelas tidak peduli tentang ini, "Alif to, kamu sangat tidak tahu malu".


"Aku ingin mempromosikanmu, tapi kamu masih tidak menanggapi hal ini, ada apa, kamu menggangap rendah diriku ya?!"

__ADS_1


Alif sedikit kesal, masih saja berkicau di sini.


Dia tidak lagi memedulikan Heri, dan Heri masih terus-terusan ingin menginjak dirinya, dan jika tidak seperti itu, maka tubuhnya merasa tidak nyaman?


__ADS_2