Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Pekanbaru, Riau


__ADS_3

Takkan ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, di mana orang akan tinggal dan menetap.


Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, Cantika dan Verrel langsung membersihkan tubuh mereka di hotel yang telah dipesan oleh Verrel.


"Mas, mau makan lagi?" tanya Cantika saat melihat Verrel keluar dari kamar mandi, sambil membuka beberapa makanan yang telah mereka beli dan meletakkannya di piring yang disediakan oleh pihak hotel.


Verrel mengerutkan keningnya. "Lagi?" Karena beberapa jam yang lalu mereka baru saja makan makanan yang disediakan oleh pihak hotel.


Verrel masih berdiri tegap sementara Cantika sudah mulai makan lagi makanan yang dibeli oleh Cantika selama perjalanan menuju hotel.


"Lagi, Mas mau makan lagi?" Cantika menatap Verrel sambil mengunyah makanannya.


"Nanti saja sayang," jawab Verrel sambil memakai pakaian santai yang disediakan Cantika di atas tempat tidur mereka.


Malam semakin larut, Verrel sudah terlelap terlebih dahulu, tetapi Cantika masih terjaga menonton video aksi di ponselnya.


Sekitar sepertiga malam telah berakhir, dan cuaca di Pekanbaru semakin dingin, namun tidak bagi Cantika yang masih terjaga sampai pukul 04.00 pagi.

__ADS_1


"Sayang," Verrel meraba tempat tidur yang kosong di sampingnya. Mengucek matanya, lalu melihat sekeliling untuk mencari Cantika.


"Sayanggg," Verrel sedikit berteriak, kemudian terdengar suara knob pintu yang terbuka dan memperlihatkan Cantika yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kenapa kamu gak membangunkan Mas untuk shalat?" ucap Verrel dengan suara parau khas saat bangun tidur.


Cantika yang ditanya hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Kamu belum tidur?" Verrel menatap Cantika dengan wajah yang segar tanpa terlihat wajah bantal sama sekali.


"Mas, mau shalat Subuh bareng gak?"


Verrel mengangguk, kemudian turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dan melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama-sama.


Di tempat yang berbeda, Salsabilla dan Riana sedang mencari surat kerja sama dengan para investor yang mengajak mereka bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja.


"Udah ketemu surat kerja sama dengan perusahaan Alexander?" tanya Sabilla yang masih berdiri di depan lemari yang berisi banyak kertas.

__ADS_1


"Ya ampun, Bill. Kamu simpan di mana tadi?" ucap Riana yang sudah mulai lelah mencari bahkan sampai ruangan mereka sangat berantakan dengan dokumen-dokumen lainnya.


"Ini aku lagi ingat-ingat!" kata Sabilla sambil tangannya terus bergerak untuk mencari.


"Alhamdulillah!" Sabilla berteriak, kemudian tersenyum. "Akhirnya ketemu juga." Sabilla keluar dari ruangan, tidak peduli dengan Riana yang terdiam tidak percaya pada tingkah laku sahabatnya.


Riana menggelengkan kepalanya pelan, tidak menyangka Sabilla yang merengek meminta bantuan darinya sejak sebelum Subuh tadi, sekarang seolah lupa.


Beruntung mereka saling memahami dengan sifat masing-masing, sehingga Riana sudah sangat terbiasa dengan sifat dan tingkah laku Sabilla yang terkadang sangat ajaib.


Setelah menemukan dokumen kerja sama tersebut, Salsabilla langsung pergi ke ruangan atasannya untuk menyerahkan dokumen tersebut.


"Lusa kamu berangkat ke Pekanbaru, karena para investor ingin bertemu di sana saja," ucap sang atasan, menutup kembali dokumen yang Sabilla berikan dengan sangat antusias atas kinerja Sabilla, meskipun sedikit ceroboh.


"Baik, Pak. Lusa sudah libur sekolah. Bolehkah saya bawa anak-anak juga?" tanya Sabilla tanpa canggung pada atasan yang sudah terbiasa dengan berbagai macam permintaan Sabilla yang selalu membawa anak-anak saat hendak keluar kota.


"Ajaklah mereka, mereka juga perlu mengenal negaranya sendiri," ucap sang atasan yang mengetahui bahwa Sabilla lebih sering mengajak quintuplets jalan-jalan keluar negeri karena jarak yang dekat dan akses yang mudah.

__ADS_1


__ADS_2