
Setelah menyelesaikan tawanya Nindipun mulai serius kembali menatap Cantika yang hanya diam sejak dirinya tertawa.
"Oke kita mulai serius sama masalah dirimu ya Bebku haha" Nindi menyelesaikan sisa tawanya. "Kamu serius sama kata katamu itu?" Cantika mengangguk.
"Mungkin Verrel lagi ada masalah kali di perusahaannya!"
"Ya emang lagi ada masalah Nindiku sayang! makanya kami mau pergi dan tinggal di Riau beberapa tahun" Begitulah sahabat sekaligus rekan seperjuangannya yang terkadang suka aneh dalam mencerna informasi.
Tapi Cantika bisa apa? meskipun Nindi seperti itu, tetapi Ia bisa menjadi obat penghibur dan pendengar yang baik. Tidak pernah menyebarluaskan apa yang sudah Cantika katakan. Nindi sangat bisa diandalkan sebagai teman curhat bukan pemberi solusi. Nindi bisa menjaga rapat rapat setiap orang yang bercerita padanya.
Dengan bercerita sedikit pada Nindi sudah bisa membuat perasaan Cantika sedikit tenang, meskipun solusi belum ditemukan.
Belum juga beres bercerita, tiba tiba terdengar bunyi ponsel Cantika. "Assalamualaikum ya Mas"
"Kamu ada di mana" Sahut suara disebrang sana.
"Aku masih di rumah sakit Mas!"
"Sudah kamu serahkan surat pengunduran dirinya?"
Cantika terdiam sejenak, menarik nafasnya pelan "Belum"
"Apah! belum? Mas ada di depan rumah sakit, cepet kamu keluar jemput Mas" Verrel memutuskan sambungan telpon mereka.
Cantika memejamkan netranya sesaat.
"Ada apa?" Nindi melihat Cantika yang terlihat lemah.
__ADS_1
"Mas Verrel ada di depan rumah sakit! minta aku jemput dia" Nindi menggelengkan kepalanya.
"Suamimu manja banget, kenapa dia gak dateng langsung aja kesini? padahal dia tahu tempat kerja bininya" Cantika tertawa mendengar ucapan Nindi yang meledek Verrel.
Setelah berpamitan pada Nindi Cantika pun pergi menghampiri Verrel untuk menyerahkan surat pengunduran diri bersama Suaminya itu.
"Cantika" Fajar berlari menghampiri Cantika yang sedang berjalan beriringan dengan Verrel setelah selesai memberikan surat pengunduran diri.
Cantika dan Verrelpun menghentikan langkahnya karna mendengar panggilan dari arah belakang.
"Ada apa Fajar?" Cantika bertanya setelah Fajar benar benar ada di depan Cantika.
"Kamu beneran mengundurkan diri dari rumah sakit?" Cantika hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa?" Fajar bertanya seolah tidak peduli jika ada Verrel sang Suami di sampingnya.
"Kenapa, apanya maksud anda? saya rasa Istri saya tidak perlu menjelaskan banyak hal pada anda. Maaf kami permisi dulu" Verrelpun menjawab pertanyaan Fajar yang ditujukan pada Cantika.
Cantika dan Verrel pun pergi meninggalkan Fajar yang masih berdiri melihat kepergian Cantika dengan perasaan nelangsa.
Setelah tiba di depan rumah Cantika pun keluar terlebih dahulu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Sampai malam haripun tidak banyak percakapan yang terjadi antara Verrel dan Cantika.
Sampai akhirnya mereka menaiki tempat tidur untuk beristirahat.
"Kamu kenapa sayang? marah sama aku karna aku misahin kamu sama Fajar?" Verrel mengungkapkan isi hatinya yang sejak tadi tertahan, Verrel kesal melihat perubahan wajah Cantika setelah menyerahkan surat pengunduran diri.
__ADS_1
Terlebih lagi Verrel juga kesal dengan Fajar yang seenaknya bertanya tanpa mengindahkan kehadirannya.
"Mas! udah aku bilang berkali kali aku sama Fajar tuh gak ada apa apa, kami cuma temen!" Cantika mencebik "Lagian ini gak ada hubungannya sama Fajar" Cantika merebahkan tubuhnya membelakangi Verrel karna kesal.
Kesal dengan kejadian hari ini, kesal dengan Verrel yang datang ke rumah sakit padahal Cantika sendiri bisa memberikan surat pengunduran diri itu seorang diri tanpa campur tangan dari Verrel.
Cantika kesal karna belum sempat memberikan ucapan perpisahan pada teman teman seperjuangannya.
"Terus kenapa kamu masih marah, kalo bukan karna Fajar?" Cantika semakin kesal karna Verrel belum juga faham.
Cantika memejamkan netranya, menarik nafas untuk menenangkan dirinya sendiri.
Cantika bangun dan duduk bersila di depan Verrel. Menatap Verrel yang memang tampan tetapi sayang terkadang suka semaunya sendiri.
"Aku kesal karna Mas dateng ke rumah sakit sebelum aku berpamitan, mengucapkan kata maaf dan perpisahan sama semua temen temenku Mas!"
Verrel tertawa dia berfikir Cantika kesal padanya karna sudah memisahkan dirinya dan Fajar, tetapi semua prasangka itu salah. Salah menduga, salah pula mengartikan.
"Oke maafin Mas ya" Verrel pun terbangun, turun dari tempat tidur kemudian mengambil dompet dan mengeluarkan kartu saktinya.
"Kita masih ada waktu sebelum berangkat ke Riau. Bersenang senanglah bersama seluruh teman temenmu esok, lakukan apapun terserah kalian" Verrel tersenyum menyerahkan kartu sakti tersebut pada Cantika.
"Kamu yakin!" Cantika mengulurkan tangannya mengambil Kartu sakti Verrel.
Verrel tersenyum "Mas yakin!"
Cantika menatap netra Verrel "Mas gak takut aku macem macem dan melakukan sesuatu yang tidak Mas sukai?"
__ADS_1
"Mas yakin, Mas percaya kamu tahu mana yang baik dan buruk menurut Syariat" Ucap Verrel sangat yakin.