Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Antusias


__ADS_3

Setelah solat Subuh berjama'ah Verrel melihat Cantika tidur dengan pulas. Meskipun tidak biasanya tetapi Verrel memaklumi mengingat Cantika tidak bisa tidur semalam, karna mungkin belum terbiasa dengan tempat baru.


Tidak mau memikirkan banyak hal Verrelpun memilih bekerja dari laptopnya sambil menunggu Cantika terbangun kembali.


Suara deringan ponsel milik Verrelpun berbunyi.


"Assalamualaikum" Verrel memasang bluetooth di telinganya, dan terdiam mendengar semua ucapan orang di seberang sana.


"Kapan kami bertemu?" Verrel bertanya dengan jarinya yang masih menari berselancar di atas laptop.


"Oke kamu atur saja waktunya. Setelah itu hubungi saya lagi dan terimakasih telah mengingatkan saya." Verrelpun memutuskan sambungan telpon dari asisten yang dia percaya di Pekanbaru.


"Halo..."suara sambungan telpon kembali tersambung.


"Gimana, udah ke perusahaan?" tanya Rion tanpa basa basi terlebih dulu.


Verrel membuang nafasnya kasar "Belum, Cantika masih tertidur pagi ini! jadi gue belum melakukan sidak."

__ADS_1


"Oke, hati hati. Jangan gegabah kita harus mendapatkan bukti sebanyak mungkin agar dia tidak bisa lagi mengelak." ucap Rion dari sebrang sana dengan berapi api.


Menyusun rencana untuk menangkap si pencuri yang bersembunyi di dalam perusahaannya sendiri tidaklah mudah, terlebih si pencuri mempunyai jabatan yang strategis sejak Ayah Verrel angkat tangan dari perusahaan yang berada di Riau.


Sembari mengumpulkan bukti, Verrelpun memilih untuk membuka lapangan pekerjaan di Riau untuk mengisi waktu senggangnya yang belum bisa menunjukkan dirinya sebagai anak dari pemilik perusahaan.


Omar yang mendengar perkataan neneknya langsung saja menghampiri Salsabilla yang sedang asik dengan layar menyalanya.


"Bunda benarkah kita akan pergi jalan jalan? ucap Omar saat sudah ada di hadapan Sabilla, Sabilla meletakkan pekerjaan di atas meja dan melihat Omar si bungsu yang selalu memberikannya motivasi.


"Horeee... horee" Omar mengangkat kedua tangannya lalu berjingrak dengan senang.


"Hei hei hei sayanggg" Sabilla menangkap tangan Omar "Senang boleh tapiiii... Omar jangan berlebihan ya" Sabilla tersenyum memberikan pengertian pada anak bungsunya.


"Maaf Bunda, Omar senang sekali karna kita mau liburan" Sabilla menarik tubuh Omar dan didudukkan di atas pahanya, menciumnya dengan gemas sampai berbunyi.


Dibalik semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap anaknya Omar adalah obat saat dirinya putus asa dan percaya bahwa keajaiban itu ada.

__ADS_1


"Apa kakek dan nenek juga ikut Bunda?" Omar menengok memperhatikan wajah Sabilla.


"Emmm Bunda pinginnya sih ikut, tapi tahu sendirikan kakek dan nenek tidak mau ikut. Insya Alloh Bunda bisa karna anak anak Bunda sudah besar" Sabilla masih tersenyum.


"Yah" ucap Omar dengan kecewa, tapi kemudian ceria kembali saat mengingat liburan mereka "Kita mau liburan kemana Bun?"


"Emm..." Sabilla terlihat seperti sedang berfikir "Kemana ya? Omar bisa tebak"


"Singapura, Malaysia, Singapura Zoo, Johor" Omar hampir menyebutkan semua tempat tempat yang pernah mereka datangi.


Sabilla menggelengkan kepalanya "Bukan, jawaban Omar kurang tepat" Omar turun dari pangkuan Sabilla dan memutar tubuhnya menghadap Sabilla.


Sabilla tersenyum "Omar gak biasa nembak?" Omar hanya menggeleng "Kita semua mau pergi ke Pekanbaru! yeayyy" wajah Sabilla terlihat senang, bahagia dan sangat antusias, berbeda dengan Omar yang terdiam seolah bingung dengan tempat yang disebutkan Sabilla.


Melihat Omar yang terdiam Sabilla bertanya "Loh Omar kok gak seneng?" Sabilla menyentuh jari jemari Omar.


"Pekanbaru itu di mana Bunda?" Ucap Omar dengan polos.

__ADS_1


__ADS_2