Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Bab 78 Mengaku Presdir To di Hadapan Presdir To Yang asli


__ADS_3

Si gendut begitu sombong, tidak tahu kesombongan orang itu berasal dari lemak di badannya atau karena dia memang kaya.


Tetapi saat ini alif tidak ingin berdebat dengannya, paling penting adalah menyelamatkan orang terlebih dahulu.


alif meminta nomor rekening kepada Carmel, dia ingin mengirimkan uang sebesar 40 juta Rupiah sebagai bantuan.


Sebelum selesai transfer, si gendut berusaha merampas ponsel alif.


“Brengsek, aku yang duluan menyukai wanita ini. Siapa dirimu? Kamu berani menentang aku?”


Benar-benar mengesalkan, alif hanya ingin menyelamatkan orang, tetapi si gendut ini malah mencari keuntungan dalam kesempitan.


Sewaktu alif menghindar supaya ponsel tidak dirampas oleh si gendut, saat itu dia sekalian mencekik leher orang itu.


Si gendut merasakan seperti ada rantai besi yang melilit lehernya, menyebabkan dia sulit untuk bernapas.


Raut wajah si gendut menjadi begitu pucat, mata memerah, tangannya masih berusaha bergerak seperti ingin meninju seseorang, tetapi dia tidak bisa menjangkau alif.


Sebelah tangan alif masih bisa menekan ponsel dan menyelesaikan masalah pengiriman uang.


Carmel memasukkan kartu identitas dan surat kerja ke dalam kantong celana alif , dia juga memberi jaminan akan segera melunasi uang tersebut.


Seharusnya Carmel sudah boleh pergi dari sana. Tidak tahu apakah dia hanya melakukan penipuan atau karena memang ingin menyelamatkan orang, Carmel tidak seharusnya masih berada di sana.


Tetapi Carmel tidak beranjak, dia menunjuk si gendut dan berkata kepada Alif : “Lepaskan saja dia, jangan karena si gendut ini dan menyebabkan kamu terlibat dalam masalah, benar-benar tidak layak...”


alif tersenyum sambil menganggukkan kepala setelah mendengar nasehat Carmel , dia menyuruh Carmel untuk segera pergi dan melakukan hal yang lebih penting.


“Kamu tenang saja, aku bisa mengontrol diri, kamu pergi saja dari sini!”


Setelah Carmel pergi, alif sekali lagi memperhatikan si gendut.


Saat ini, si gendut benar-benar sudah kehabisan tenaga dan tangannya sudah berhenti bergerak.


Sepertinya sudah hampir kehilangan napas, akhirnya alif melepaskan tangan.


Setelah melepaskan tangan, si gendut langsung berlutut di hadapan alif dan mencoba menstabilkan napas.


Si gendut langsung memegang leher yang masih sakit, dia melihat alif dengan tatapan benci.


“Benar-benar ingin cari masalah. Kamu berani mencekik leher aku, apakah kamu tahu siapa aku?”


alif menghidupkan sebatang rokok dan jongkok di hadapan si gendut: “Tidak tahu, coba kamu ceritakan!”

__ADS_1


Si gendut berkata dengan emosi: “Aku adalah Presdir Perusahaan Bakti, aku adalah Presdir To.”


Alif terbengong seketika. Awalnya dia mengira, mungkin si gendut ini akan memperkenalkan dirinya sebagai anak kepala polisi, pemimpin dari sebuah perusahaan atau anak orang kaya. Tetapi tidak terpikir, si gendut cukup beruntung, karena bisa ketemu Presdir Perusahaan Bakti dengan cara seperti ini!


Alif menepuk mukanya yang tembam dan berkata: “Astaga, ternyata adalah Presdir To!”


Si gendut merasa bangga: “Bagaimana, apakah sudah tahu identitas aku?”


Di saat itu, raut wajah Alif mendadak berubah menjadi dingin.


“Oh kebetulan, masih ada utang sebanyak 120 miliar Rupiah yang belum terselesaikan di bagian konstruksi. Hari ini aku sekalian membuat perhitungan!”


Setelah itu, alif memegang kerah baju si gendut dan juga mengambil sebuah batu yang tepat berada di samping.


Dari gayanya, alif akan menggunakan batu tersebut untuk memecahkan kepala si gendut.


Si gendut langsung merasa ketakutan dan berkata: “Jangan jangan jangan.... Aku mohon jangan...”


Si gendut hanya ingin menggertak orang ini dengan memakai nama Presdir Perusahaan Bakti, tidak terpikir masalah malah menjadi begini.


Apakah orang ini mempunyai dendam dengan Perusahaan Bakti? Kenapa setelah mendengar nama perusahaan itu, dia langsung emosi dan ingin membunuh? sepertinya dendam antara dirinya dan perusahaan tersebut begitu dalam.


Si gendut langsung menjelaskan: “Aku bukan Presdir To, mohon jangan membunuh aku. Kalau tidak percaya kamu bisa melihat kartu identitas, aku benar-benar bukan Presdir To. Belakangan ini aku hanya mendengar bahwa Presdir To sangat hebat, bahkan Johan saja merasa takut dengannya, aku hanya ingin memakai namanya untuk...”


Perkataan dia membuat alif ingin tertawa.


Tidak terpikir, dirinya begitu terkenal. Bahkan namanya juga bisa digunakan untuk menggertak orang lain, dasar!


Benar benar lucu, dia malah berani menggunakan nama presdir To di depan presdir To itu sendiri. Ini adalah lelucon yang konyol


alif melepaskan kerah baju dan menendang bokong si gendut: “Cepat pergi dari sini, kalau tidak...”


Sewaktu masih berniat menggertak si gendut, dari jauh tiba-tiba terdengar suara: “Presdir To, Presdir To!”


Ada yang memanggil dirinya.alif melihat ke arah orang itu dan melihat wajah Julia yang merasa kaget.


“Presdir to, kenapa kamu berada di sini?”


Julia berlari menghampiri alif dan berkata dengan perasaan senang. Tidak terpikir mereka masih mempunyai jodoh karena bisa bertemu di tempat seperti ini.


Si gendut langsung terbengong ketika mendengar perkataan Julia.


“Kamu.. kamu adalah Presdir Perusahaan Bakti? Kamu adalah Presdir To?”

__ADS_1


Alif tertawa dan tidak lagi peduli dengan si gendut, dia mulai berbicara dengan Julia.


Si gendut sadar ketika mendengar pembicaraan antara alif dan Julia. Ternyata orang yang ingin memecahkan kepalanya adalah Presdir to dari Perusahaan Bakti. Dia yang sebagai peniru malah bertingkah sombong di hadapan orang aslinya.


Teringat hal ini, si gendut merasa canggung dan menyesal.


Selagi alif tidak fokus dengan dirinya, lebih bagus kabur sekarang juga.


Jika si gendut masih tetap di sana, maka dia akan benar-benar merasa malu.


Sewaktu kabur dan keluar dari rumah sakit, si gendut langsung merencanakan sesuatu dan wajahnya terlihat ada senyuman jahat.


“Bangsat, aku adalah orang yang pernah bertemu Presdir To, aku harus menyebarkan kejadian ini...”


Saat ini, alif dan Julia masih membahas masalah rumah sakit.


“Oh ya, ada satu hal, temanku sedang menunggu uang ini. Karena ponsel ku tidak ada baterai, makanya aku pulang untuk membantunya menjemput uang ini.”


Sewaktu Julia ingin beranjak, dia melihat Carmel berlari ke arah mereka.


“Julia, kamu sudah datang. Untung saja ada orang yang berbaik hati dan membantu aku. Dia... Oh, ternyata kamu masih di sini!”


Carmel berlari menghampiri alif. Julia yang berkeringat langsung melihat Carmel dan alif dengan bingung.


Setelah Carmel menjelaskan semua kejadian, akhirnya Julia mengerti.


Sewaktu meninggalkan parkiran, Carmel menelepon dan ingin meminjam uang kepada Julia. Tetapi karena ponsel tidak ada baterai dan tidak bisa mengirim uang, maka Julia langsung menjemput uang tersebut dan mengantar ke rumah sakit.


Hanya saja tidak terpikir, alif juga berada di sini dan dialah yang telah membantu Carmel .


Setelah mengerti semuanya, Julia semakin bangga dengan sosok alif ini .


Julia sengaja bertanya: “Apakah kamu tidak takut Carmel adalah seorang penipu?”


Alif tertawa dan berkata: “Jika dia menipu aku, maka hanya bisa menganggap diriku adalah orang bodoh. Kalau dia tidak melakukan penipuan, maka aku telah membantunya menyelamatkan satu nyawa. Dalam memilih antara menjadi orang bodoh atau menyelamatkan orang, aku percaya semua orang akan memilih untuk menjadi orang bodoh, dan tidak ingin memberi bantuan untuk menyelamatkan nyawa orang lain.”


Perkataan ini benar adanya. Sewaktu Carmel meminta bantuan di pinggir jalan, tidak ada yang berbelas kasih dan mengulurkan tangan untuk membantu.


Hanya Alif yang langsung mengirim uang sebesar 40 juta tanpa merasa ragu.


Carmel merasa terharu dengan bantuan alif ini , dia terus memuji alif adalah orang baik sehingga membuat dirinya merasa tidak enak hati.


Julia yang berdiri di samping semakin terpesona dengan alif.

__ADS_1


Ganteng pisan , jujur, baik hati lagi . Kalau alif bisa menjadi pacarku hmmm betapa bahagianya aku ...


__ADS_2