
Setelah sekian tahun berpindah pindah Sabilla memutuskan untuk membeli rumah di Tanjung Pinang dan Batam di mana dikedua tempat tersebut terdapat rumah makan yang selama ini di kelola oleh kedua orang tuanya.
Lelah bermain di Negara tetangga Sabillapun membawa anak anaknya pulang ke rumah mereka yang ada di Batam. Dan kedua orangtua Sabillapun sudah menunggu mereka di sana.
Jarak antara Tanjung Pinang dan Batam memang lumayan lama untuk mereka yang sudah sepuh dan tidak kuat untuk perjalanan jauh.
"Pak gimana kalo anak anak sekolah di Batam aja? Billa kasian kalo harus liat Ibu sama Bapak bolak balik TanPi - Batam". Sabilla duduk di ruang tamu setelah menidurkan anak anak.
"Emang kamu gak masalah nak?" Ucap pak Wahyu yang juga lelah setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam.
Bu Ratna datang membawa nampan berisi minuman teh hangat dan beberapa camilan yang sempat Ia beli di jalan.
__ADS_1
"Ya gak papa sih Yah, Billa juga kan kerjanya di Batam, terus lagi buka join usaha juga sama Riana dan Alhamdulillah sih udah mulai menampakkan hasilnya" Sabilla tersenyum menatap Pak Wahyu yang sudah layu karna lelah dan wajah yang tidak lagi muda.
Bu Ratna ikut duduk bersama Suami dan anaknya "Apa tidak masalah mereka sekolah di Batam? Ibu takut justru keberadaan kami malah mengganggu kerjaan kamu nak!" Bu Ratna menatap wajah Sabilla yang juga lelah.
"Insya Alloh bu Billa gak papa! lagi pula kerjaan Billa gak terlalu kaya dulu harus bolak balik keluar Batam, Alhamdulillah kerjaan Billa sudah mulai enak dari segi gerak tapi dari segi fikiran harus lebih ekstra lagi"
Dulu saat baru pertama kali terjun ke perusahaan impor ekspor Sabilla masih menjadi pekerja lapangan yang tanpa lelah dan mengeluh selalu menuruti perintah atasan, dengan bergulirnya waktu atas kinerja terbaiknya Sabillapun kemudian naik jabatan.
Dua kota besar milik Kepulauan Riau menjadi saksi untuk semua perjuangan kerja keras yang Sabilla lakukan untuk memuliakan orang tua dan anak anaknya.
"Perlu gak Bu pake baby sitter lagi buat quintuplets?" Sabilla selalu meminta pendapat kedua orangtuanya dalam segala hal, karna saat ini hanya mereka yang Sabilla punya.
__ADS_1
"Kalo menurut ibu gak usah nak, lagian sekolahnya jugakan deket, gak kaya TanPi Batam. Iyakan Pak?" Bu Ratna meminta pendapat Pak Wahyu.
"Bapak terserah saja bagaimana baiknya" Pak Wahyu memang tidak terlalu banyak mengeluarkan pendapatnya selama ini. Toh asalkan itu semua baik Pak Wahyu pasti akan mendukungnya.
"Ya sudah deal ya Bapak sama Ibu pindah ke Batam, Insya Alloh nanti besok Billa ngomong sama ketua RT/RW di sini!" Sabilla tersenyum meyakinkan dalam hati semoga pilihannya kali ini benar dan tepat. Tidak ada lagi saling menyalahkan seperti yang Ibu Salsabilla lakukan.
"Bukannya besok kamu harus kerja Nak?" Pak Wahyu menatap Sabilla baru teringat jika besok Sabilla sudah mulai bekerja kembali setelah libur.
"Iya sih pak, tapi nanti Billa usahain kok pagi pagi sebelum Billa berangkat" Sabilla melihat Pak Wahyu yang terdiam seperti sedang berfikir.
"Ndak usah biar Bapak saja yang menemui mereka, toh Bapak sudah sangat dekat dengan orang orang di sini!" Pak Wahyu meyakinkan Sabilla.
__ADS_1
"Oh ya udah Pak, Billa pasrahken semua sama Bapak. Tapi kalo nanti ada kendala Bapak tinggal bilang aja sama Billa ya" Sabilla tersenyum kemudian pamit menuju kamarnya untuk beristirahat meninggalkan kedua orangtuanya yang Sabilla yakin pula akan beristirahat.