
Di dalam video itu penuh dengan kepanikan dan rasa malu, sepertinya itu adalah rekaman saat Patricila memohon pada Alif.
Saat dia sudah menyadari rekaman itu, dia hampir menjadi gila karena malu.
Alif, kamu ini kenapa tidak ahu malu !!!”
Alif sambil tertawa sambil berkata: “Kalau kamu benar-benar berpegang teguh pada perkataanmu sendiri, hal memalukan ini masih bisa ada?”
“Justru karena aku tahu bahwa kamu bukanlah orang yang bisa memegang omonganmu, maka itu aku sengaja memikirkan cara untuk berjaga-jaga.”
“Kalau bilang aku adalah orang tak tahu malu, maka pemikiran dan logikamu pasti tidak akan lulus SD, kita semuanya bukan orang yang suci.”
Kata-kata itu, membuat Cila menjadi tak bisa berkata apa-apa.
Tak berapa lama, dia sudah tidak memedulikan masalah ini lagi, dia hanya peduli tentang apa yang direkam oleh Alif saat di bawah itu.
Alif jelas sekali orang yang sangat perhatian, karena setelah itu Patricila langsung mendapatkan pesan masuk, dan berisi sebuah video.
Setelah membuka video itu, dia melihat sepasang kaki panjang indah nan menawan terbungkus stoking hitam, dan masih dapat melihat ****** ******** yang seksi itu. Benar-benar sangat seksi dan menawan. Dan yang paling menawan adalah, dalam penerangan lampu itu, ****** ******** menjadi transparan dan ........
Jadi apa yang seharusnya direkam dan tidak seharusnya direkam juga sudah direkam semuanya oleh Alif.
Saat melihat video ini, Patricila sangat marah sampai langsung menghapus video itu.
Setelah itu dia baru menyadari bahwa dia menghapus videonya di ponselnya sendiri itu tak ada gunanya. Yang paling penting adalah di ponsel Alif.
Jadi dia langsung kembali ke samping meja dan memarahi Alif: “Cepat hapus video itu!”
Alif malah dengan langsung memberikan ponselnya kepada Patricila: “Aku sudah mengirimkan ke emailku, kamu silakan hapus saja, masih ada kok.”
Alif benar-benar tak tahu malu, Patricila sampai tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia rasanya ingin menyerah saja.
“Alif, kamu ingin bagaimana, kamu sebenarnya ingin aku berbuat apa?”
Saat melihat wajah cantik Patricila yang sedang dalam kesulitan itu, Alif menjadi kasihan padanya.
“Sudahlah, aku hanya bercanda saja, kamu hapus saja videonya, tak ada lagi videonya di tempat lain!”
Patricila dengan sikap setengah percaya menghapus video itu, lalu melihat ke arah Alif : “Kamu benar-benar tidak ada menyimpannya di tempat lain lagi?”
Alif menunjuk ke arah pintu: “Kamu coba keluar saja, lihat apakah aku akan menahanmu atau tidak?”
__ADS_1
Maksud dari rekaman Alif itu hanya untuk mengancam Patricila.
Sekarang dia mengizinkan Patricila untuk pergi, tentu saja sudah menunjukkan ketulusan hati Alif.
Ketulusan hati ini, walaupun tidak membuat Patricila terharu, tapi pandangan dia terhadap Alif sedikit berubah.
Dan lagi pandangannya itu, membuatnya menjadi lebih tenang, dan dia pun kembali ke tempat duduknya.
Alif melihat Patricila yang ada di seberangnya, dan memukuli pahanya sendiri: “Apakah kamu ingin melakukan janjimu, memberikan kakimu padaku?”
Patricila memelototi Alif: “Enak saja kamu!”
Alif memainkan bibirnya dan tidak berkata apa-apa lagi dan terus mengambil makanan dengan sumpitnya itu.
Saat dia sedang memakan sesuatu, Patricila berbicara terhadapnya: “Orang dari keluargaku sudah melakukan rapat keluarga, hasil rapatnya adalah memberikan kamu ganti rugi sebanyak 1 triliun rupiah , paling banyak hanya segitu saja.”
Setelah menurunkan sumpitnya, dan menelan makanan yang ada di mulutnya, Alif mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
Setelah itu dia menaruh tisunya ke atas meja, dan barulah ia melihat ke arah Patricila.
“Sebenarnya mulai dari malam ini, saat kamu ingin membicarakan hal itu, aku terus menahanmu untuk membicarakan hal itu.”
“Lihat dari bajumu, aku juga sudah tahu kalau keluargamu, keluarga kalian itu tidak menemukan solusi yang baik, kamu terlalu sibuk sampai-sampai lupa mengganti bajumu, jadi aku terus menggodamu.”
“Karena kalau kamu tidak berbicara, aku jadi bisa berduaan denganmu saja, makan bersama, mendengarkan lagu, menonton bioskop. Intinya, aku hanya ingin bersamamu saja, melakukan apapun baik-baik saja, tidak menggodamu juga tak masalah.”
“Tapi akhirnya kamu tetap membicarakan hasil itu, ini artinya kita tak bisa berbicara lagi di sini.”
Setelah berbicara selesai, Alif mengambil gelas minumannya, dan mulai berkumur.
Saat ini Patricila malah menjadi bingung, karena dia saat ini berpikir kembali, setiap kali dia omongan dia selalu diputuskan oleh Alif. Dan setelah Alif memberitahukan alasannya, hati dia menjadi sangat berantakan. Dia merasa tadi itu adalah sebuah ungkapan cinta.
Hanya saja sekarang sudah rusak semuanya, dan bukanlah permasalahan ungkapan cinta lagi.
Alif setelah menaruh gelasnya berkata: “Batas terakhirku sebenarnya hanyalah satu, dari awal sampai akhir juga hanya satu, kalian memberikan pabrik kimia keluargamu itu padaku, itu dihitung sebagai ganti rugi dari penyerangan Rulie padaku, ini harus dilakukan.”
“Ataukah mungkin keluarga kalian merasa sayang terhadap saham pabrik kimia yang seharga 10 triliun rupiah itu, tapi aku menyayangkan nyawa dan mukaku ini.”
“Tentu saja kamu boleh mewakili Keluargamu untuk menolaknya, dan boleh juga memilih untuk melawanku dengan sekuat tenaga, ini adalah masalah yang aku tidak peduli. Tapi aku ada kemampuan untuk membuat pabrik kimia kalian langsung bangkrut, dan juga menjamin bahwa keluargamu akan kalah dari keluarga ku”
“Kamu jangan mengira aku sedang bercanda denganmu, dalam masalah bisnis ini, aku tidak pernah bercanda.”
__ADS_1
Setelah berbicara selesai, Alif langusng mengeluarkan ponsel untuk menelepon kepada Aline.
“Sayang, aku ingin bermain bersama kamu dan adikmu lagi, perasaan yang kudapatkan dari kamu dan adikmu itu luar biasa sekali, buatlah aku puas ya?”
“Sebel deh, kenapa berbicara begitu, bikin malu saja. Kamu sedang di mana?”
“Aku sedang di luar negri, sedang ada urusan pekerjaan.”
“Alif, kamu jelas-jelas sedang di luar negeri, tapi berani telepon pada kita untuk meningkatkan nafsu kita saja.......”
Terdengar jelas, nada bicara Aline menjadi sangat sedih, pasti karena Alif hanya menggoda dia saja, dan tidak dapat memberikannya kepuasannya.
Alif hanya sembarangan mencari alasan saja, dan langsung menutup teleponnya, lalu melihat ke arah Patricila.
“Kamu seharusnya pernah memeriksaku, dan juga seharusnya tahu siapa itu Aline
“Dengan hubunganku dan aline dan adiknya icha, keluarga Aline belum tentu berpihak padaku.”
“Tapi aku percaya apabila keluargaku ingin bekerja sama dengan keluarga mereka, mereka pasti akan sangat senang.”
“Keluarga Aline memang tidak sekuat keluarga kalian, tapi kekuatan keluarga kalian rata-rata berada di dalam tentara, tidak mungkin kalau kalian menggerakkan tentara demi melawan kami?”
“Ada Keluargaku yang menyerang kalian dalam bidang bisnis, dan ada Keluarga Aline yang menyerang kalian dalam bidang pemerintahan, dan aku akan mencari lagi musuh kalian keluargamu di dalam bidang tentara dan menjadikan mereka teman untuk melawan kalian, aku pikir untuk menghabisi keluargamu bukanlah masalah yang sulit.”
Setelah mengeluarkan rokok dan menyalakannya, Alif menaruh tangannya di meja, dan dia mengarah ke arah Patricila dengan tatapan yang sangat serius.
“Patricila, keluarga kalian merasa kalau aku mengambil satu pabrik kimia saja sangat tidak memberikan wajah pada kalian.”
“Tapi sekarang yang aku ingin beritahukan adalah, aku tidak melakukan serangan tiba-tiba dan tidak membuat kalian mati menadadak saja, aku sudah memberikan kalian wajah!!!”
Itu adalah suara yang sangat besar, dan langsung membuat kaget Patricila, dan membuatnya berkeringat dingin.
Sebelumnya dia hanya merasa cara Alif sudah cukup sadis, menggunakan pisau hitam dan melemparkannya ke arah keluargaku.
Tapi sekarang, kelihatannya, Alif tidak memenggal kepala mereka sudah benar-benar memberikan mereka wajah yang besar, dan sudah termasuk berbaik hati pada mereka.
Hanya sebuah pabrik kimia saja, apalah artinya itu.
Patricila yang sudah kaget setengah mati, membuat tenggorokannya kering, dan terus menerus menelan air ludahnya. Dia sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya.
Saat ini, dia juga tidak tahu ingin berkata apa, rasa-rasanya walaupun sudah memberikan pabrik kimia itu padanya, dia juga tetap berhutang budi pada Alif, terhadap hidup matinya keluargaku, mereka benar-benar berhutang budi pada Alif!
__ADS_1
Patricila tidak tahu ingin berbicara apalagi, tapi Alif tahu dia ingin berbicara apa.
“Tentu saja, kalian juga boleh memilih untuk mempertahankan pabrik kimia kalian.”