
"Maaf... Bapak Andrew istri anda memangili nama anda! Jadi temuilah Sekarang." Imbuh dokter tersebut mempersilahkam Andrew untuk menemui nya, Gisella mama Andrew pun memberikan pelukan pada Andrew untuk memberi kan semangat pada menantu nya, Sementara Andrew yang tidak sabar bertemu dengan istrinya berjalan menuju ruangan Glory.
Kamar Glory
Andrew sudah membuka pintu kamar Istrinya, Mendekat kan tubuhnya ke ranjang istrinya.
"Jangan tinggalin aku... Andrew..." Seketika kata kata itu membuyar kan lamunan Andrew. Dengan mata yang masih tertutup glory berkata.
"Aku nggak akan ninggalin kamu..." Andrew yang masih memegang tangan glory dengan sangat erat. Mata glory seketika meneteskan air mata yang membasahi pipinya. Andrew pun mengusap lembut air mata glory.
"Aku nggak lakuin itu, Kenapa kamu nggak percayalah dengan ku...."
DEG...
Mendengar ricauan glory yang se Olah olah mengatakan hal jujur membuat jiwa Andrew tertegun.
"Aku akan berusaha mencari kebenaran." Imbuh Andrew mencium dahi glory lalu menyuruh Gisella mama glory untuk bergantian menjenguk Andrew.
Luar Kamar Glory.
Dea dan Karin yang berada di luar ruangan Glory merasa tidak di hargai keberadaan oleh keluarga Andrew dan Glory, keluarga Andrew dan Glory serta sahabat dari glory menunggu giliran untuk bertemu dengan glory.
"Sial...! Mengapa juga tadi gue ke sini, Ngerasa di kacangin banget gue..." Ucap Dea dalam hati.
"Karin kamu ikut mama ke toilet nggak." Suara Dea membuat semua orang menatap nya sekilas lalu berpindah ke ruangan Glory.
"Nggak ada harga diri nya sama sekali gue ke sini." Ucap Dea dalam hati dan langsung menarik tangan Karin menuju kamar mandi.
Gisella yang menunggu giliran akhirnya bisa menjenguk anak nya, Setelah Andrew Keluar dari kamar glory sekarang giliran Gisella mamah glory yang menjenguk anak nya.
Andrew berpamitan untuk ke toilet, Semua orang pun mengiyakan nya dengan senyum ramah nya.
*----------*
"Oh jadi kamu yang membuat drama ini... Pandai sekali dirimu mengajar kan anakmu." Andrew yang mendengar Dea bersama anak nya karin di depan perbatasan toilet wanita dan laki-laki menegur nya.
"Mas Andrew? Sejak kapan mas berada di sana." Ucap Dea panik dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Om kita."
"Setelah pulang dari sini silahkan kemasi barangmu nanti." Andrew yang langsung memberi peringatan pada Dea dan langsung meninggal dea dan karin, Dea yang melihat sikap Andrew menghentak kaki nya ke lantai.
"Ndrew tadi kamu salah dengan." Ucap Dea meyakinkan Andrew kembali Tetapi Andrew hanya bersikap acuh kepada Dea dan pergi meninggalkan Dea.
(Flasback on)
Dea yang Berjalan menuju toilet rumah sakit.
"Ma... aku takut sama keluarga Om Andrew."
"Sayang jangan begitu itu nanti bakal calon nenek dan kakek mu jadi kamu jangan takut ya." Ucap Dea meyakinkan Karin.
"Baik mah." Jawab Dea kembali dengan percaya Dirinya.
"Nah gitu dong anak Mama! Percuma dong kemarin kita ngelakuin drama bodoh itu pada nenek Lampir glory... Kalau gak dapat hasil nya. Ya...." Seketika mulut Dea berhenti berkata karena mendengar suara teguran dari seseorang dan ternyata itu adalah Andrew.
(Flasback off)
Andrew yang baru mendengar kebenaran dari mulut Dea sendiri merasa geram pada Dea, Dirinya berjalan cepat menuju kamar glory kembali melihat Gisella yang sudah selesai menjenguk glory, Andrew masuk ke dalam kamar glory.
"Temani istri mu nak, Mama dan papa akan menemani mertua mu." Ucap dewa papa Andrew Kepada Andrew.
Melihat dokter menuju ke Gisella semua sahabat glory serta keluarga Andrew menatap dokter tersebut.
"Maaf bapak Gendra sudah sadar kan diri dan mereka memanggil Nama Gisella, Andrew serta glory." Tanya dokter itu dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan, Dari ekspresi wajah terlihat panik tetapi ia mencoba bersikap tenang.
Gisella mama glory dan Andrew saling menatap, Gisella pun mengangguk kan kepala kepada Andrew untuk memberikan keyakinan. Dengan langkah pelan Andrew berjalan menuju ruangan Gendra papa glory.
Ruangan Gendra:
Melihat suami nya yang tidak berdaya di atas ranjang membuat Gisella meneteskan air mata nya, Gisella mendekat ke ranjang Gendra lalu mencium tangan Gendra.
"Sayang...! Kamu gak boleh sakit... Kamu harus kuat. Glory masih butuh seorang papa." Gisella dengan air matanya yang terus mengalir.
Gendra lalu mencium tangan Gisella setelah itu bergantian menatap Andrew, Melihat glory tidak ada di ruangan tersebut bola mata Gendra mencari cari keberadaan glory.
__ADS_1
"Di mana glory anak papa."
"Glory sakit sayang dan tidak bisa menjenguk, Tetapi kemarin dirinya sudah menjenguk papa." Gisella yang berbohong menjawab pertanyaan Gendra sambil menghapus air mata nya dengan tangan nya.
Dewa pun mengiyakan dan berusaha menjangkau tangan Andrew.
"Andrew... Papa titip glory ya nak jangan buat di sakit hati! Bahagia kan dirinya, Jangan tinggalkan dia." Setelah berpesan kepada Andrew seketika mata Gendra berpindah ke arah Gisella tersenyum lalu memejamkan matanya.
Andrew dan Gisella pun sangat panik terutama Gisella yang tidak henti-hentinya menangis, Andrew berjalan cepat memencet tombol merah untuk Memanggil dokter, Dokter pun datang dan langsung memeriksa Gendra.
"Maaf...! Pak Gendra sudah tiada." Ucapan terakhir dokter Setelah memeriksa Gendra.
Gisella pun tidak terima dengan ke adaan, dirinya menangisi kepergian suami nya, lalu berjalan menggoyang goyang kan tubuh Gendra di atas ranjang.
"pa jangan tinggalkan mama pa Hiks Hiks Hiks." Tangis Gisella bertambah pecah, Andrew yang tidak tega dengan mertua nya berusaha untuk menenangkan nya.
"Sudah ma."
*-------*
Di dalam ruangan tubuh glory seketika drop, Membuat tubuh nya bergetar. Suster yang menjaga glory waktu itu seketika panik dan Segera memanggil dokter.
Dokter pun datang dengan alat bantu di tangan nya, Mengembalikan kondisi glory supaya lebih stabil.
"Seperti sudah kembali normal." Ucap dokter sambil mengusap keringat di dahi nya.
(Skip Skip skip)
Setelah pulang dari pemakaman Gendra, Dewa papa Andrew memilih menemani Andrew di rumah sakit. Sementara Gisella mama glory memilih pulang dengan Jovi mama Andrew, Jovi pun dengan senang hati menemani Gisella di rumah nya Gisella.
Di dalam ruangan Glory seketika air mata Andrew menetes.
"Maaf kan aku sayang... Karena tidak mempercayai mu, Semua tidak akan seperti ini apa bila diriku mempercayai mu." Dengan pelan Andrew mengusap air matanya.
"Aku janji akan Selalu percaya dengan mu... Tapi sadar lah sayang! Ingat kamu boleh memukul ku kamu boleh menendangku." Ricau Andrew menyesali perbuatan nya sambil memukul mukul wajah nya sendiri tidak jelas.
Maaf sampai sini dulu ya ceritanya semoga kali suka, Kalua ada masukkan dari kalian. Kalian boleh komen di bawah. Jangan lupa like nya ya👍
__ADS_1
Semoga kalian suka.