
Dengan pelan max melepaskan pelukannya. "Aku yang akan pergi dari sini, Aku yang akan pergi dari hadapanmu." Ucap max mulai menurunkan kakinya ke lantai, Dirinya yang akan memilih meninggalkan lyra sejenak agar pikiran nya kembali tenang.
"Sakit.... Hiks Hiks Hiks." Entah mengapa perut lyra kembali merasakan sakit saat ini.
Max yang mendengar rintihan lyra, Berjalan kembali ke arah lyra.
"Auuuh...! Sakit Hiks Hiks Hiks." Rintih lyra menahan rasa sakit.
Max yang sudah kembali, Dengan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter.
"Sakit...!"
"Aku sudah telephone dokter, Ia akan segera kemari." Ucap max seraya duduk di pinggir ranjang samping lyra.
Hiks Hiks Hiks...
Dengan pelan max mengusap perut lyra yang tampak sedikit membuncit.
Sikap max yang tampak berlebihan membuat lyra Semakin ketakutan, Tapi rasa sakit yang tidak bisa di tahan membuat lyra meraih tangan kanan max.
"Sakit."
"Sayang, Jangan nakal ya. Kasihan Mommy mu." Ucap max mengusap perut lyra pelan.
Lyra yang merasakan gerakan tangan max pada perut nya hanya bisa diam, Entah mengapa rasa nyeri yang yang menghadang perut nya hilang seketika setelah max mengusap nya.
"Tidurlah..." Titah max yang hanya di balas anggukkan oleh lyra.
Dengan pelan max membantu lyra untuk merebah kan tubuh nya, "Apakah sudah tidak sakit lagi." Tanya max dan di balas gelengan kepala oleh lyra.
Melihat keadaan lyra yang sudah tampak membaik, Membuat max Menelpon dokter kembali untuk menggagalkan panggilan.
lyra yang sudah kembali tertidur, Max pun kembali merebahkan tubuhnya di samping ranjang isri nya.
Pagi hari.
Lyra yang merasakan sinar matahari menembus korden di kamar hotel nya, Membuka matanya pelan.
Melihat pria yang saat ini tengah tidur di sampingnya, Dengan tangan bertumpu di kepala nya. Menandakan bahwa max menjaga dirinya dari semalam.
Entah mengapa perasaan takut pada dirinya hilang begitu saja, Setelah melihat wajah max yang terlihat tenang saat tertidur.
__ADS_1
Dengan pelan lyra menyibak sprei yang menutupi tubuhnya saat ini, Max yang menyadari pergerakan di samping nya ikut membuka matanya.
"Apa terasa sakit." Tanya max memastikan.
Melihat tubuh lyra yang sangat menggoda membuat max seakan akan ingin menerkam nya hidup hidup, Tapi kali ini dirinya hanya bisa menahan hasratnya yang terpendam. Tidak mungkin ia kembali memaksa lyra untuk melayani nya karena akan membuat wanita di samping nya itu kembali ketakutan.
Lyrs yang dari tadi hanya menunduk kan kepala tidak berani menatap max, Kini memberanikan diri mengangkat kepalanya pelan...
Dengan air mata yang sudah berjatuhan, Lyra menatap wajah Max. "Aku mohon pergilah dari hadapan ku." Ucap lyra penuh permohonan, Dengan ke dua tangan yang sudah bertumpu di tubuhnya.
Max yang melihat raut kekecewaan pada wanita di hadapan dirinya mencoba diam,membiarkan wanita di hadapan nya mengeluarkan uneg-uneg di kepala nya terlebih dahulu.
"Aku mohon..." Kini yang ada pada diri lyra hanya rasa takut, Takut Max berbuat macam macam lagi kepada nya dan memaksa dirinya melayani nafsunya kembali.
Dengan pelan max meraih tangan lyra, "Tenanglah lah aku tidak akan menyakiti mu dan aku juga tidak akan meninggalkanmu." Ucap max tulus.
Sudah cukup menurut nya dirinya bermain main wanita, Yang sekarang ia fokuskan adalah membina rumah tangga nya saat ini.
Lyra yang mendengar ucapan tulus yang di lontarkan max, Hanya diam...
Entah harus percaya atau tidak,Akan tetapi Ucapan max Membuat dirinya tampak nyaman di samping pria yang sudah berstatus sebagai suami nya sekarang.
"Selamat pagi Sayang..." Max mulai menurunkan kaki nya ke lantai berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku mandi dulu."
Melihat tubuh max yang sudah berada di kamar mandi, Lyra mulai ikut menurunkan kaki nya ke lantai.
Dret Dret Dret...
Mendengar ponsel max berbunyi, Lyra merasa bingung harus berbuat apa. Dengan terpaksa Lyra melihat siapa yang menghubungi suami nya pagi pagi begini...
"Bela." Lirih Lyra melihat nama yang tertera di layar ponsel max.
"Siapa bela..."
Sudah beberapa kali ponsel max berdering, Namun Lyra hanya bisa diam dengan pikiran nya sendiri.
"Mungkin sekretaris nya atau rekan kerja nya." Dengan pelan Lyra langsung menggeser tombol hijau untuk memulai panggilan.
"Hallo sayang, Kamu sibuk ya! aku telfonin dari semalam baru di angkat sekarang."
__ADS_1
Deg...
"Sayang. Aku nanti mampir ke apartemen mu... Jangan lupa nanti malam..."
Tesss...
Tidak kuat dengan Ucapan manja wanita yang menelphon max saat ini, Lyra pun segera memutuskan sambungan telephone nya dan menaruh kembali ponsel max di samping nakas tempat tidur.
Dengan pelan Lyra mengusap air mata nya dengan punggung tangan nya, Dada nya terasa sesak saat ini Setelah Mendengar suara wanita yang menelphone max tadi.
"Tidak tidak." Lyra pun menggeleng geleng kan kepala nya, Mengingat max mau menikah dengan nya hanya Karena ingin bertanggung jawab atas kelakuan nya membuat Lyra hanya bisa diam.
"Lyra kamu ini siapa, Kamu memiliki hak apa atas diri nya."
*------*
Andrew yang terus menerus menelphon Istri nya, Tetapi tidak di angkat. Memilih menenui glo ke apartemen nya langsung.
Sedari tadi andrew yang terus menerus memencet bel apartemen glo tampak sudah emosi.
"Apa semarah ini dia dengan ku sampai sampai tidak ingin lagi bertemu." Mendengar tidak ada jawaban dari dalam apartemen, Andrew langsung menuju resepsionis untuk menanyakan nya.
"Ada yang bisa saya bantu pak." Tanya petugas resepsionis pada Andrew dengan ramah.
Dengan sopan Andrew langsung mengutarakan tujuan nya kepada petugas resepsionis, Ia bertanya kunci cadangan yang berada di apartemen glo dan Andrew juga menjelaskan bahwa dirinya adalah suami dari wanita yang tinggal di apartemen yang ia tanyakan sekarang.
Petugas resepsionis pun, Meminta teman nya untuk mengantarkan Andrew menuju apartemen glo. Dengan sigap Andrew pun menyetujui pendapat petugas resepsionis.
Di dalam ruangan apartemen glo, Andrew tidak mendapati siapa siapa.
"Maaf pak tidak ada siapa siapa di dalam..."
"Baiklah."Pamit Andrew yang langsung bergegas menuju parkiran, Andrew pun segera masuk ke dalam mobil mencoba menenangkan pikiran nya terlebih dahulu.
"Glo kamu dimana sekarang." Entah mengapa Andrew kembali di selimuti rasa bersalah saat ini, Bayang Bayang Mira kembali bermunculan di kepala nya yang membuat nya semakin emosi mengingat karena dirinya glo pergi meninggalkan nya hingga saat ini.
Andrew pun merogoh ponsel di saku celana Untuk menghubungi jerry. Meminta jerry untuk mencari tahu keberadaan istrinya saat ini.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen...
__ADS_1