Perjodohan SMA

Perjodohan SMA
105


__ADS_3

#Rumah arsyah.


Tujuh hari berlalu, sikap Ari tetap seperti itu. Pergi pagi sekali dan pulang larut malam. Aisyah sangat kasian pada Ara yang selalu menangis bilang merindukan papahnya. Aisyah bangun dari tidurnya lalu menghampiri Ari yang sedang memakai jas.


"Ri"


"Hmm"


"Bisa gk hari ini kamu gk kerja dulu" Aisyah bertanya dengan lembut.


"Gk bisa. Banyak banget pekerjaan yang numpuk di kantor. Belum lagi jadwal meeting keluar kota" Ari merapikan dasinya.


"Tapi kan hari ini aja ri" Aisyah memasang wajah memelas.


"Bisa ya...


"Gk bisa" jawab Ari tiba tiba datar.


"Tapi ara- "Aku bilang gk bisa ya gk bisa! Kamu denger kan?!" Aisah tersentak kaget mendengar nada bicara Ari yang tinggi.


"Aku berangkat" setelahnya Ari pergi. Aisyah mendongakkan wajahnya. Sebisa mungkin ia tidak boleh menangis.


"Kamu berubah ri" lirih Aisyah.


#Dapur.


"Sarapannya dimakan dong de"


"Nggak! Ala gk mau makan. Ala maunya papah!"


"Papah kan lagi kerja de"

__ADS_1


"Ala mau papah" Ara menangis. Aisyah memindahkan Ara duduk di pangkuannya.


"Ade gk boleh nangis" Aisyah mengusap air mata Ara.


"Yaudah, kita kekantor papah. Tapi Ade harus habisin sarapannya dulu" Senyum Ara berkembang.


"Bener ya mah?" Aisyah mengangguk.


"Yaudah ala abisin salapannya dulu" Ara turun dari pangkuan Aisyah.


'kira kira Ari ada di kantor nggak ya'


#kantor Ari.


"Ayo mamah jalannya cepet" Ara menarik tangan Aisyah.


"Ala mau kasih bunga ini ke papah" Diperjalanan tadi, Ara memaksa Aisyah untuk membeli bunga yang berada dipinggir jalan.


"Iya Ade sabar. Pelan pelan dong jalannya, nanti jatuh"


"Mau bertemu dengan pak Ari?"


"Iya. Ari nya ada kan?"


"Ada Bu. Mau saya antar?" Aisyah menggeleng.


"Terimakasih, saya bisa sendiri. Lebih baik kamu cepat sarapan" Tia melirik sebungkus nasi yang berada ditangannya. Lalu terkekeh.


"Ibu bisa aja. Yaudah saya permisi Bu"


"Ayo mah! Cepet!" Teriak Ara tidak sabar.

__ADS_1


"Iya iya" mereka berdua memasuki lift.


Dan tidak butuh waktu lama, mereka sampai didepan ruang kerja Ari. Aisyah mengintruksi kepada Ara agar Ara tidak berisik. Pasalnya mereka ingin mengagetkan Ari atau bisa disebut suprise. Perlahan Aisyah membuka kenop pintu tersebut. Hingga pintu terbuka lebar.


Aisyah dan Ara kini melihat Ari yang sedang duduk di sofa sambil sarapan, tidak sendiri. Tapi bersama Steffi. Mereka sedang sarapan bersama, sambil tertawa. Entah mengapa Aisyah merasa cemburu. Hampir seminggu Aisyah tidak sedekat itu dengan Ari. Ya karena Ari selalu sibuk! Ari dan Steffi belum menyadari kehadiran Aisyah dan Ara. Mereka masih sibuk dengan dunianya. Sampai akhirnya Ara lah yang berteriak.


"Papah!" Keduanya menoleh. Dengan cepat Ara berlari untuk memeluk Ari. Jangan tanya tangisnya. Ara kan cengeng. Ari dibuat kaget dengan kehadiran Aisyah dan Ara. Sama dengan Steffi, dia terlihat salah tingkah saat ditatap oleh Aisyah.


"Papah ala kangen" mau tidak mau Ari membalas pelukan Ara dan mengusap rambut Ara.


"Papah tau" lalu Ari melepaskan pelukannya.


Dan berjalan menghampiri Aisyah. Ari menarik tangan Aisyah keluar ruangannya, dengan sedikit kasar. Ari menatap Aisah tajam.


"Ngapain kamu dan Ara kesini?!!" Aisyah cukup dibuat bingung oleh Ari.


"Pertanyaan macam apa itu?" Mata Aisyah memanas, pertanda ia akan menangis.


"Aku dan Ara itu keluarga kamu. Memang salah kalo aku dan Ara nemuin kamu?" Sebisa mungkin Aisyah bersikap tenang. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali menangis dihadapan Ari.


"Salah!!" Teriakan Ari cukup mengundang para karyawan lain menoleh ke arah mereka.


"Ini jam kerja syah! Kamu gk bisa gitu ngertiin aku?!" Gugur sudah upaya Aisyah menahan tangisnya.


"Ngertiin kamu? Apa selama ini aku gak pernah ngertiin kamu? Kamu cuek sama aku, aku gapapa. Kamu sibuk sampai pulang larut malam, aku gapapa. Telfon dari aku gak pernah kamu angkat, aku gapapa. Bahkan kamu berduaan dengan Steffi pun aku gapapa!!"


Plak! Rasanya bagai tersambar petir. Hati Aisyah hancur. Suaminya sendiri telah menampar dirinya, terlebih lagi ini tempat umum.


"PAPAH!" Ara berlari menghampiri Ari Aisyah.


"Papah kenapa galak sama mamah!!!" Ara memukul Ari.

__ADS_1


"Papah jahat! Ala malah sama papah!!" Ara pergi sambil menarik tangan Aisyah. Ari mematung, ia tidak menyangka tangannya melakukan itu. Ari mengusap wajahnya kasar.


'maafin aku aisah' batin Ari.


__ADS_2