
#rumah sakit.
Aisyah didorong diatas brangkar oleh beberapa suster. Ari masih setia disamping Aisyah. Menggenggam tangan kanan Aisyah. Air matanya terus menetes. Ya, Ari menangisi Aisyah. Aisyah masih setengah sadar. Entah mengapa ia masih kuat untuk membuka matanya. Padahal diperutnya sangat banyak mengeluarkan darah.
"Sayang kamu harus kuat sayang. Please jangan tinggalin aku" Entah sudah berapa kali Ari mengucapkan kalimat itu. Ari sangat takut Aisyah akan meninggalkannya. Apalagi melihat keadaan Aisyah yang cukup parah.
"Aku sayang sama kamu ri" ucap Aisyah pelan.
Bahkan hampir tidak terdengar. Namun Ari hanya fokus pada Aisyah sehingga ia mendengar ucapan Aisyah barusan.
"Aku juga sayang kamu syah. Please jangan tinggalin aku. Kamu harus janji. Demi aku, demi Ara. Kamu harus kuat. Jangan tinggalin aku"
Aisyah hanya bisa membalas ucapan Ari dengan tersenyum. Tiba saatnya brangkar Aisyah masuk kedalam ruangan ICU. Ari tidak diperbolehkan masuk.
"Sayang kamu harus kuat!!!" Teriak Ari sebelum pintu ICU tertutup.
Ari terduduk dilantai. Ia menangis. Lalu Ari berteriak. Meluapkan semua kekesalannya. Sarah dan yang lain datang. Ajil menenangkan Ari.
"Lo gk boleh gini ri. Lo harus doain Aisyah agar dia baik baik aja" Ari menangis dalam diam.
Lebih tepatnya tidak bersuara. Ia lelah dengan semua ini. Sampai akhirnya Ara mendekati Ari.
"Papah" Ari mendongak. Memperlihatkan wajah kusutnya. Dengan cepat ari memeluk Ara. Ia harus bersyukur, seenggaknya Ara tidak kenapa-napa.
"Pah, mamah pah" Ara menangis dipelukan Ari.
Entah apa yang dirasakan Ara. Karena seharusnya disaat umur sekecil itu, Ara tidak boleh melihat kejadian seperti tadi. Ara melihat secara langsung mamahnya ditusuk dengan pisau.
Tiba-tiba polisi datang.
"Selamat sore. Bisa saya meminta persaksian sodari Ara?" Ari menoleh menatap polisi itu dengan datar.
"Bisa tidak anda pergi dulu? Anak saya sedang bersedih!!"
"Ri, Lo tenang. Polisi cuma minta persaksian Ara. Karena memang hanya Ara yang melihat kejadiannya" ucap Ajil.
"Ya kan bisa nanti Jil!"
"Ara, sini ikut Tante Sarah dulu" Sarah membawa Ara sedikit menjauh dari Ari. Dan Sarah memberi instruksi pada pak polisi untuk mengikutinya.
Sedangkan Ajil tetap menenangkan Ari. Salah satu pak polisi mensejajarkan tingginya dengan Ara. Usia pak polisi itu cukup terbilang masih muda.
"Ara, boleh pak polisi nanya?" Tanya pak polisi dengan nada lembut.
Sepertinya ia bisa membedakan lawan bicaranya. Karena sekarang pak polisi itu bertanya dengan nada santai, tidak serius seperti berbicara dengan orang dewasa. Ara mengangguk.
__ADS_1
"Ara sama mamah mau ngapain ke gedung tua itu?"
"Mamah ditelpon kak celi. Katanya kak celi dalam bahaya" ucap Ara sambil sesegukan.
"Waktu mamah ketemu kak celi, kak celi malah jahatin mamah" Ara kembali menangis karena mengingat kejadian itu.
"Ma- mamah beldalah" Arat memeluk pak polisi itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Pak polisi itu sedikit tersentuh oleh ucapan Ara. Karena ia diam diam menyeka air matanya. Mungkin ia bisa merasakan apa yang Ara rasakan. Apalagi Ara masih sangat kecil.
[Setelah beberapa menit]
Dokter keluar dari ruang ICU.
"Suami dari ibu Aisyah?" Tanya dokter tersebut.
"Saya dok" Ari bangun dari duduknya.
"Dan sodari Steffi" lanjut dokter itu. Kening Steffi berkerut.
"Iya saya dok"
"Mari ikut saya" dokter itu masuk kembali kedalam ruang ICU dan diikuti oleh Ari Steffi dibelakangnya. Aisyah terbaring lemah diatas brangkar dengan alat pernapasan. Mata sayunya melirik Ari.
"Sayang" Ari menggenggam erat tangan kanan Aisyah.
"Kamu harus kuat sayang" ucap Ari menangis. Tangan Aisyah bergerak mengusap air mata Ari.
"Happy anniversary" Ari tersenyum.
"Iyah. Happy anniversary sayang. Kamu yang terbaik" Ari mengecup kening Aisyah lama. Air matanya jatuh membasahi kening Aisyah. Lalu Ari menjauhkan wajahnya. Aisyah beralih menatap Steffi.
"Steffi" tangan kiri Aisyah memegang tangan Steffi.
m "Stef, maafin aku ya. Selama ini aku selalu nuduh kamu yang enggak enggak. Aku selalu berburuk sangka sama kamu. Tapi sekarang aku udah tau kebenaranya. Sekali lagi maafin aku" Steffi mengelus punggung tangan Aisyah.
"Aku udah maafin kamu dari dulu syah. Yang terpenting sekarang kamu harus kuat. Ari dan Ara sangat membutuhkan kamu" Aisyah menggeleng.
"Aku u- dah gk ku at" Sebenarnya sedari tadi Aisyah berbicara sambil menahan rasa sakitnya. Rasa sakit diperutnya. Aisah kembali meringis.
"Nggak!" Ari menangkup wajah Aisyah.
"Kalo kamu sayang sama aku dan Ara, buktiin! Kamu harus kuat. Kamu gk boleh tinggalin aku. Ingat sayang, kita harus besarin Ara sama sama! Ara sangat membutuhkan kamu. Begitupun dengan aku!" Ucap Ari sambil menangis.
Mata sayu Aisyah mulai melemah. Aisyah kembali tersenyum. Senyumnya sangat manis.
"Ri, pegang ini" aisyah memberikan kertas yang sudah dilipat asal.
__ADS_1
"Baca ini se- setelah aku per- gi" Ari mengambil kertas itu, lalu ia genggam.
Ari menatap aisyah yang sedang menahan rasa sakit. Ari menggeleng, ia tidak akan membiarkan Aisyah pergi. Aisyah tidak boleh pernah pergi. Aisyah harus selalu ada bersamanya.
"Ri-maaf" tangan Aisyah mengusap wajah Ari.
"Aku sa- yang kamu"
Detik itu juga mata Aisyah menutup. Suara mesin pendeteksi jantung berbunyi nyaring menunjukkan garis lurus dilayarnya.
"AISYAH!!" Ari membawa tubuh Aisyah kedalam pelukannya. Ari menangis sejadi-jadinya.
"BANGUN SAYANG BANGUN!" Teriak Ari histeris.
"Sayang hey" Ari menepuk nepuk pipi Aisyah.
"Ini aku ari. Aku udah pulang sayang. Ayo kita rayain anniversary bareng Ara" Air mata Ari jatuh membasahi wajah Aisyah.
"Please bangun sayang. Aku tau kamu gk akan tinggalin aku.. Ayo sayang bangun" Ari kembali mengeratkan pelukannya pada Aisyah. Ia menangis tersedu sedu berharap Aisah membuka matanya kembali.
Steffi tidak kuat melihat semua ini. Ia keluar sambil menangis. Semua orang menatap Steffi penasaran. Uchi, Herlan, Raka, Bayu dan para istrinya juga sudah berada disini. Kawan kawan arsyah juga ada disini.
"Stef, ada apa? Kenapa tadi Ari teriak?" Tanya Azka..
"Kak Aisyah baik baik aja kan?!!" Kini Rafa yang bertanya. Steffi menatap semuanya. Ia menghela nafas berat.
"A- Aisyah" Steffi menangis.
"Aisah udah pergi" Disaat itulah semuanya syok.
Uchi langsung memeluk Herlan. Ia menangis sejadi-jadinya.
Raka mematung. Air matanya menetes. Raka merasa sudah gagal menjadi kakak. Raka tidak ada bersama Aisyah disaat aisyah berada dalam bahaya.
Dan Rafa terduduk dilantai. Ia berteriak. Tangannya terus memukuli kakinya. Kakak perempuannya kini telah tiada.
Sedangkan Bayu menutupi wajahnya. Ia menangis tanpa suara. Dengan Ajeng disampingnya, Ajeng mengusap bahu Bayu agar Bayu tetap tenang.
Ara. Gadis kecil itu sangat terpukul. Ara menangis kencang. Esta memeluk Ara untuk menenangkan gadis itu. Namun ara meronta ronta. Sampai akhirnya pelukan Esta terlepas dan Ara berlari masuk kedalam ruang ICU.
"MAMAH!!!" Teriak Ara sambil berlari.
#apartment.
[ Setelah Aisah dimakamkan, semuanya pulang kerumah masing-masing. Tapi tidak dengan Ari. Ia kembali ke apartemennya.
__ADS_1
***TAMAT***