
>Rumah Ari<
"Ara... " Panggil Uchi dari luar kamar.
"Buka pintunya dek" Sedari tadi Uchi berusaha membujuk cucunya untuk keluar dari kamar, namun nihil.
"Ara" kini Esta yang memanggil.
"Ara gk boleh kayak gini sayang. Kasian mamah disana" Esta menghapus air matanya.
"Ara buka pintunya ya, Ara harus makan. Dari kemarin Ara belum makan. Mamah pasti marah loh kalo tau Ara belum makan. Ara gk mau kan dimarahin mamah?" Ucap Esta bergetar.
Jujur ia juga terpukul atas kepergian Aisyah. Tidak ada jawaban dari Ara. Yang terdengar hanya isakan kecil. Ara sedang terduduk dipinggir ranjang. Tangan mungilnya memegang sebuah bingkai foto. Disana terdapat Ara, Ari, dan aisyah. Foto itu diambil saat ulang tahun Ara tahun lalu. Ari dan aisyah mencium kedua pipi Ara. Senyum manis Ara tercetak jelas disana. Air mata Ara kembali jatuh. Jari jari lentiknya mengusap wajah aisyah.
"Mamah... " Lirih Ara.
"Mamah kemana? Kenapa mamah nggak pulang" ara menghapus air matanya walaupun terus mengalir.
"Ala mau makan disuapin mamah" tangis Ara kian mengencang.
Kemarin, Ara sempat menangis histeris. Disaat pemakaman, Ara meronta-ronta agar jasad Aisyah tidak dimasukan kedalam kubur. Ara bilang mamahnya tidak akan bisa bernafas jika dimasukkan kedalam sana. Ara memaki semua orang yang ada disana.
"Kalian semua jahat! Mamah Ala mau pulang! Cepat gali kembali tanahnya!" Itu yang Ara ucapkan sebelum Ara dibawa paksa oleh Raka agar menjauh dari pemakaman.
>Apartemen<
Setelah membaca surat dari Aisyah, Ari tidak pulang ke rumah. Ia tetap tinggal di apartemennya. Bahkan disaat keluarganya menelfon pun Ari tidak mengangkatnya. Ia mengurung diri disini, ditemani dengan bingkai foto Aisyah. Tidak ada hal penting yang Ari lakukan. Ia hanya memandangi foto itu. Mungkin bagi orang lain itu hal membosankan. Tapi tidak bagi Ari. Ari sangat tidak ingin pulang kerumah. Karena jika ia pulang, ia akan teringat kembali dengan aisyah.. Sampai tiba-tiba bel apartemen Ari berbunyi. Ari sama sekali tidak berniat membukanya. Tapi orang tersebut seperti kerasukan setan. Ia memencet bel dengan sangat brutal, membuat Ari dengan terpaksa membukanya.
"Ada apa sih bang. Ganggu aja" ketus Ari setelah berhadapan dengan tamunya yang tak lain adalah Raka.
"Lo bilang ada apa?" Raka memandang Ari tak percaya.
"Orang orang dari tadi nelfonin Lo! Tapi kenapa gk Lo angkat?!"
"Gk penting. Paling juga nyuruh gw pulang. Udahlah ya bang, Lo seharusnya ngertiin perasaan gw"
"Heh bego! Lo pikir dong, dirumah masih ada perasaan orang yang harus lo ngertiin juga!" Kening Ari mengerut.
__ADS_1
"Ara. Lo gk mikirin perasaan anak Lo itu?! Dia belum makan dari kemarin. Lo harus pulang, bujuk dia biar keluar dari kamarnya. Cuma bapaknya yang bisa ngebujuk dia!" Ari memalingkan wajahnya.
"Gw belum mau pulang" ucap Ari setelah itu menutup pintu apartemennya.
Ari menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia menutup wajahnya frustasi. Ari memiringkan tubuhnya, lalu wajah Ari bertemu dengan surat aisyah. Ia membacanya kembali.
Jangan luapin emosi kamu ke Ara ya, dia masih kecil' Kalimat itu, membuat Ari bangun kembali dari tidurnya. Ia beranjak mengambil jaket dan kunci mobilnya, lalu pergi menuju rumah.
>Rumah Ari<
"Maafin ari mah, pah, semuanya. Tadi Ari belum bisa berpikir jernih"
"Iya gapapa sayang. Mamah paham banget perasaan kamu. Kamu juga harus kuat ya ngejalanin semuanya. Jangan terus berlarut dalam kesedihan" Uchi mengelus Surai hitam Ari. Ari tersenyum lalu mengangguk.
"Iya mah. Insyaallah Ari kuat"
"Yaudah sana kamu bujuk Ara. Noh makanannya didapur, dimeja makan" ucap Herlan. Ari mengangguk dan beranjak menuju kamar Ara.
>Kamar Ara<
Kini Ari sudah didepan pintu kamar anaknya. Nampan yang berisi makanan sudah ada ditangannya. Tok tok tok!
"Ini papah de. Buka pintunya dong" Masih tidak ada jawaban dari Ara.. Ari menghela nafas karena tidak dapat respon dari anaknya.
"Ade..."
"Ade tetep gk mau buka pintu? Ade gk sayang ya sama papah?" Tak lama suara langkah kaki terdengar dari dalam. Lalu pintu tersebut terbuka, memperlihatkan gadis kecil dengan mata sembabnya. Tangan mungilnya masih setia membawa bingkai foto. Ari tersenyum karena pada akhirnya Ara membuka pintunya.
"Papah boleh masuk?" Tanya Ari. Ara mengangguk lalu berjalan lebih dulu. Sebelum itu Ari menaruh nampan terlebih dahulu diatas nakas. Lalu mereka duduk ditepi kasur. Ari tersenyum getir melihat Ara yang kembali memandangi foto tersebut.
"Lihat itu" Ari menunjuk wajah Ara yang ada difoto.
"Ade cantik banget kalo senyum kayak gitu" tangan Ari mengusap rambut Ara.
"Coba deh sekarang Ade senyum, papah mau lihat" Ara menoleh ke Ari. Ia terdiam terlebih dahulu sampai pada akhirnya Ara berhamburan memeluk Ari sambil menangis sesegukan.
"Mamah mana pah... A-ala kangen mamah... Ala mau ma-mah" Mata Ari memanas. Tapi ia menahannya, ia tidak boleh nangis dihadapan Ara. Ari harus menguatkan Ara. Tangan Ari terulur membalas pelukan Ara.
__ADS_1
"Kok princess papah malah nangis sih" Ara melepas pelukannya.
"Papah jahat! Kenapa papah bialinin olang olang masukin mamah kedalam tanah! Kasian mamah pah!" Tangisan Ara memelan.
"Mamah pasti mau pulang pah, ayo kita jemput mamah" ucap Ara memelas.
Ari hanya bisa diam memandangi Ara. Ia tidak tau harus berbuat apa. Sebenarnya ia juga rapuh, ia tidak sanggup menghadapi cobaan yang satu ini. Tangan kekar Ari menggenggam tangan mungil Ara.
"Ade... Belajar ikhlas ya, mamah udah bahagia. disurga" Ara menggelengkan kepalanya.
"Hey dengerin papah dulu" Ari menghapus air mata Ara.
"Papah juga sama seperti Ade, papah sedih. Papah nggak mau kehilangan mamah. Papah sangat menyayangi mamah.. Tapi..." Ari menarik nafas panjang.
"Tuhan jauh lebih sayang sama mamah" runtuh sudah air mata ari. Ia tidak sanggup lagi membendungnya.
"Papah mohon sama Ade, jangan kayak gini. Papah nggak mau Ade sakit. Cukup mamah aja yang pergi ninggalin papah, jangan Ade" Ara mengedipkan matanya beberapa kali. Baru kali ini Ara melihat Ari menangis dihadapannya. Tangan mungil Ara terulur mengusap air mata Ari.
"Papah jangan nangis. Ala janji nggak nakal lagi. Ala mau makan kok" Ari tersenyum. Lalu Ari menangkup wajah Ara.
"Mulai sekarang, kita hadapin sama sama. Ada atau tidak adanya mamah, Ade sama papah harus tetep senyum" Ara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Iya papah" Ari menghapus air matanya dan juga air mata Ara.
"Oke!" Ari mengambil nampan tadi.
"Sekarang Ade harus makan. Ade pasti laper kan?" Ara mengangguk.
"Aaaaa..." Satu suapan masuk ke mulut Ara.
Sesekali Ari mengajak Ara mengobrol tentang kartun Rapunzel agar merasa tidak bosen. Tak butuh waktu lama untuk Ara menghabiskan makanannya. Kini Ari duduk disandaran kasur Ara. Dan Ara duduk dipangkuan Ari. Ari membuka aplikasi kamera.
"Ade lihat deh" Ari mengarahkan layar ponselnya pada Ara.
"Muka Ade jelek banget ih... matanya sisa segaris doang" ledek Ari. Ara memukul dada Ari.
"Papah! Papah reseh!" Ara menyembunyikan wajahnya di dada Ari karena malu. Ari tertawa melihat sikap Ara.
__ADS_1
"Nggak kok papah cuma bercanda. Dimata papah sama mamah princess Ara selalu cantik" Ari mengelus Surai hitam Ara cukup lama.
Sampai beberapa menit berlalu terdengar suara dengkuran halus. Ternyata Ara tertidur. Ari yakin Ara sangat kelelahan karena akhir akhir ini selalu menangis. Perlahan Ari memindahkan Ara tidur dikasur agar terasa nyaman. Ari menarik selimut hingga sebatas dada Ara. Lalu mencium kening Ara cukup lama.