
#Toko bunga.
"Kamu emang mau beli bunga apasih sar? Kok dari tadi cuma liat liat" ucap Ajil.
"Sabar dong. Aku kan bingung" Ajil merolling eyes.
Masalahnya sudah hampir satu jam mereka berdua berada di toko bunga ini. Tapi Sarah tak kunjung menemui bunga yang pas. Ajil lebih memilih menunggu Sarah diluar toko sambil melihat bunga yang diluar.
Namun matanya melihat Aisyah dan Ara yang baru saja turun dari taksi dan memasuki sebuah gedung. Ajil mengerutkan keningnya.
"Buat apa Aisyah dan Ara masuk ke gedung tua?" Ucap Ajil sendiri. Tiba-tiba Sarah keluar dari toko bunga itu sambil mengerutkan bibirnya.
"Kenapa? Mana bunganya?" Tanya Ajil heran.
"Gk ada yang aku suka. Lagi pula bunga edelweis nya habis. Kita pulang aja, kasian Diki kelamaan dirumah mamah. Takutnya malah nangis"
"Nanti dulu. Tadi aku ngeliat Aisyah sama Ara masuk ke gedung tua itu"
"Masa sih. Kamu gak salah liat?"
"Aku yakin kok itu Aisyah dan Ara"
"Tapi buat apa mereka kesana?" Ajil mengangkat kedua bahunya.
"Mending kamu telfon Ari buat mastiin aja" Sarah mengangguk dan mulai menelfon Ari.
"Hallo"
"Iya hallo. Kenapa? Gw lagi sibuk nih"
"Yailah Lo sombong banget! Gw cuma mau nanya soal Aisyah dan Ara"
"Owh... Kenapa Aisyah sama Ara?"
"Mereka ada dirumah kan?"
"Lah mana gw tau"
"Eh anjing nih anak. Ya terus Lo dimana tolol. Ini kan hari Minggu. Gk mungkin kan elo ngantor"
"Enggak gw gk ngantor. Gw lagi di apartemen. Emang kenapa sih Lo nanyain Aisyah sama Ara?"
"Gw sama Ajil baru aja ngeliat Aisyah sama Ara masuk kedalam gedung tua"
"Hah?! Buat apa Aisyah kesana?"
"Ya mana gw tau. Lo aja suaminya heran, apa lagi gw! Udahlah cepet Lo susul sini kejalan Kartini. Gedungnya disebelah toko bunga"
__ADS_1
"Iya iya gw susul. Gw minta tolong sama Lo buat ikutin Aisyah dulu. Gw takut mereka kenapa-napa"
"Iya gw sama Ajil bakal ikutin Aisyah. Lo cepet kesini jangan pake lama!"
"Iya bawel. Bye" Sarah menyimpan ponselnya kedalam Sling bag.
"Kita ikutin Aisyah kedalam. Ari takut mereka kenapa-napa"
"Yaudah ayo"
#Gedung tua.
"Mah ala takut" Ara bersembunyi dibelakang Aisyah.
"Ade gk perlu takut. Kan ada mamah" Ponsel Aisyah bergetar.
Ternyata itu SMS dari cery.
Ka, aku ada dilantai paling atas.
"Ayo de kita keatas" Aisyah menggenggam tangan mungil Ara dan mulai menaiki anak tangga. Gedung ini cukup tinggi. Kira kira ada delapan lantai. Aisyah dan Ara harus menggunakan tangga. Karena lift dan eskalator disini sudah tidak berfungsi. Baru saja mereka menaiki lantai empat, perut Aisyah terasa sakit. Aisyah memegangi perutnya. Mengusap ngusap perutnya.
'kamu baik baik aja kan nak batin Aisah..
"Mamah kenapa? Mamah perutnya sakit?" Tanya Ara. Aisyah menggeleng,
"Nggak, mamah gapapa. Ade capek gk?"
"Yaudah ayo kita lanjut naik" Walaupun perutnya terasa sakit ia tetap harus menuju lantai delapan. Karena ia harus membantu cery.
Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya mereka sampai dilantai delapan. Aisyah mengatur nafasnya terlebih dahulu. Aisyah mengedarkan pandangannya. Dilantai paling atas ini terlihat sepi. Lebih tepatnya tidak ada orang. Lalu dimana cery?
"Cery, kamu dimana?" Tiba-tiba saja keluar seseorang dari sudut ruangan.
Aisyah kaget melihat sosok itu. Ia memakai jubah hitam dan wajahnya tidak terlihat. Orang tersebut terlihat sama dengan sosok yang meneror Aisyah dulu. Terakhir Aisyah bertemu dengannya disaat dipinggir jalan.
'apa itu Steffi?" batin Aisah.
Tiba-tiba Ara merangkul kaki Aisyah dari belakang. Ia takut melihat sosok berjubah hitam itu.
"Siapa kamu?!" Tanya Aisyah memberanikan diri.
Sosok itu tidak menjawab, tetapi ia mendekat ke arah Aisyah.. Aisyah menelan salivanya. Ia sangat takut saat ini.
"Kamu siapa?! Kamu pasti Steffi kan?!!" Sosok itu menghentikan langkahnya.
Kini jarak Aisyah dengan sosok itu sekitar lima meter. Bibirnya menyeringai. Perlahan tangannya membuka penutup kepalanya. Kini terlihat siapa dia.
__ADS_1
"Cery" ucap Aisyah tidak percaya.
"Ke kenapa kamu pakai jubah seperti itu?"
"Kakak masih bertanya?"
"Gk mungkin kan cer. Gk mungkin selama ini kamu yang neror aku kan?" Cery tersenyum getir.
"Kenapa? Kakak gk percaya?" Cery mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya. Aisah kembali dibuat kaget.
"Cer, buat apa kamu bawa pisau"
"Ini untuk kakak" cery tertawa.
"Cer kamu jangan macem macem ya" Aisyah mulai berjalan mundur.
"Berhenti!" Teriak cery.
"Tetap berdiri disana, atau pisau ini akan melayang ke kakak" Aisyah terpaksa menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya mau kamu apa cer!"
"Mengakhiri kakak"
"Maksud kamu apa!" Cery mendekati aisyah. Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Cer kamu gk mungkin ngebunuh kakak kan" Aisyah melangkah mundur. Tangannya menuntun Ara agar tetap berada dibelakangnya.
"Aku gk main main dengan perkataan aku"
Aisyah tersudut, ia tidak dapat melangkah mundur lagi. Sedangkan Ara kini sudah mulai mengeluarkan air matanya. Ia menangis dibalik Aisyah.
"Cer aku mohon jangan apa apain aku dan Ara" Aisyah menoleh kebelakang. la melihat Ara sedang menangis.
"Ade. Ade sekarang harus pergi"
"Nggak mau mah! Ala gk mau tinggalin mamah!"
"Ade harus denger omongan mamah! Cepet pergi!!" Aisyah sedikit mendorong Ara.
Ara berlari menuju pintu keluar. Tapi ia tidak sepenuhnya pergi. Ia hanya bersembunyi disana sambil memandangi Aisyah. Air mata Ara terus mengalir disaat melihat cery mulai dekat dengan Aisyah.
"Cery jangan cery" Aisyah tak dapat lagi membendung air matanya. Kini cery berada tepat dihadapan Aisyah.
"Kak" cery menatap Aisyah sendu. Tatapannya berubah. Lalu air mata cery keluar begitu saja.
"Kakak adalah orang yang terbaik yang pernah aku temui. Tapi maaf. Aku membalas kebaikan kakak dengan cara seperti ini. Setelah ini aku pasrah jika kakak mau membenci aku. Karena aku memang pantas untuk dibenci" cery menghela nafas berat.
__ADS_1
"Maafin aku kak"
"MAMAH!!!" teriak Ara.