Perjodohan SMA

Perjodohan SMA
exstra pasr 4


__ADS_3

11 tahun kemudian.


"*Mamah kemana aja sih, Ara kangen banget tau sama mamah" ucap Ara.


Aisyah duduk dikursi panjang taman dengan Ara yang kini tidur dipangkuannya, lebih tepatnya kepala Ara yang dipangkuan Aisyah.


"Mamah gk kemana mana, mamah selalu ada disekitar Ara" Ara tersenyum. "


Ara senang banget, akhirnya Ara ketemu lagi sama mamah. Ara nggak akan ngebiarinin mamah pergi lagi" Ara memeluk perut Aisyah erat. "


Ara sayang sama mamah"


"Mamah juga sayang sama Ara" Aisyah mengelus surai hitam Aisyah yang sudah panjang.


"Sekarang berapa umur Ara?" Tanya Aisyah.


"Enam belas mah, kenapa emang?" Ara merubah posisi menjadi duduk disamping Aisyah.


"Sekarang Ara nya mamah udah besar" Aisyah mengusap pipi chubby Ara, hal itu membuat Ara tersenyum manis.

__ADS_1


"Iya dong mah, masa Ara kecil terus" ucap Ara sambil tertawa. Aisyah senang melihat Ara tertawa lepas seperti itu.


"Waktu mamah udah habis nak" seketika Ara menghentikan tawanya.


"Maksud mamah?" Tanya Ara heran.


"Mamah pergi dulu. Ingat semua pesan pesan mamah ya" Aisyah mengecup kening Ara, lalu ia bangkit untuk berdiri. Perlahan posisi Aisyah semakin menjauh, tertarik oleh cahaya yang ada dibelakangnya.


"Mamah" Ara bangkit dari duduknya.


"Mamah! Mamah mau kemana?!" Ara berusaha menjangkau Aisyah, namun entah kenapa tidak sampai sampai.


Tiba-tiba ada seorang anak lelaki yang berusia lebih muda dari ara. Kira kira beda tiga tahun. Ia muncul dari belakang aisyah, lalu anak itu menggenggam tangan Aisyah. Aisyah tersenyum pada anak itu. Kening Ara mengerut tidak paham. Siapa anak itu, pikir Ara.


"Mamah baik baik aja kok, ada aku yang jagain" anak itu tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


"Aku juga kangen sama ke papah ya kak"


Sampein salam aku Kini Ara baru sadar, itu adalah adiknya. Ari dulu sempat menceritakan tentang adiknya yang meninggal dikandungan Aisyah.

__ADS_1


Ara membalas senyum adiknya itu sambil menganggukkan kepalanya. Namun senyum Ara kembali pudar, disaat Aisyah dan adiknya kembali menjauh. Ara menangis*.


"*Mamah! Mamah jangan pergi mah!" Ara berlari mengejar mereka, namun tidak bisa. Larinya Ara seolah lari ditempat, tidak sampai sampai.


"Mamah jangan tinggalin Ara! Mamah! Mamah! Jangan pergi mah*!"


"MAMAH!" Teriak Ara bangun dari tidurnya.


Nafas Ara tersengal sengal. Keningnya bercucuran dengan keringat. Tangannya bergerak meraup wajahnya.


"Huhh... Ternyata cuma mimpi" Ara menoleh pada jam beker yang terletak diatas nakas.


Pukul 05:01


Ara memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini adalah hari Senin. Itu tandanya hari dimana Ara akan menghabiskan waktunya disekolah.


Setelah ritualnya selesai, ara memakai kaos biasa dan celana pendek terlebih dahulu. Ara membuka lemari lagi untuk mengambil mukena dan sajadah. Ia akan memakai seragamnya nanti, setelah selesai sholat subuh.


Semakin besar Ara dididik oleh Ari untuk tetap menyempatkan beribadah. Dan Ari berpesan pada Ara untuk selalu mendoakan mamah dan adiknya yang sudah pergi lebih dulu. Setelah selesai ara segera memakai seragam sekolahnya. Ia berlari menuju dapur untuk membuatkan sarapan.

__ADS_1


Tidak sarapan yang ribet ribet, melainkan hanya dua lembar roti tawar yang disatukan dan didalamnya terdapat selai coklat. Ara membuat dua porsi, tentunya satu lagi untuk Ari. Ara sedikit menghias dibagian atas rotinya. Susu coklat ia gunakan untuk membuat wajah tersenyum. Tak lupa ia juga membuat dua gelas susu hangat. Ara terlebih dahulu menyantap rotinya.


Lama tak melihat wujud papahnya, Ara memutuskan untuk mendatangi kamar Ari. Sambil berjalan Ara mengunyah rotinya.


__ADS_2