
Pukul 14:03
Ara terduduk di halte untuk menunggu angkutan umum lewat. Namun tanpa Seorang ibu-ibu dan anaknya yang sedang mengendarai motor terkapar diaspal.
Detik itu pula ramai para warga dan orang sekitar yang datang membantu. Pengemudi mobil yang telah menabrakpun keluar, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. disangka-sangka kecelakaan lalu lintas terjadi tepat dihadapannya.
Ara memekik kesakitan. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Entah kenapa, tapi setelah melihat darah yang berceceran disana Ara jadi seperti ini. Sekilas bayangan mamahnya terlintas. Bayangan dulu, disaat Aisyah pergi secara tragis.
"Akhh! Sakittt" rintih Ara sambil memegangi kepalanya. Motor ninja berwarna hitam berhenti tepat didekat halte.
"Ra, kepala lo sakit lagi?" Tanya Diki. Ya Diki sahabat dari kecil Ara. Kini mereka satu sekolah juga.
"Ki, kepala gw sakit"
"Yaudah ayo gw Anter pulang"
"Aww... Anter gw kerumah kakek Herlan aja" Karena percuma jika Ara pulang kerumah, Ari belum pulang dari kerjanya. Dirumah sepi, jadi lebih baik ia main dulu kerumah Herlan dan Uchi.
>Rumah Herlan Uchi<
"Makasih ya nak Diki mau nganterin Ara kesini" ucap Uchi.
"Iya nek, gapapa. Kebetulan searah juga"
"Yaudah Ara Anter Diki ke gerbang dulu ya nek" ucap Ara yang diangguki Uchi.
"Sekali lagi thanks ya" Ara dan Diki kini sudah berada di gerbang.
"Sans aja. Ketimbang nganter Lo kesini mah gk keberatan sama sekali. Tapi kalo nganter Lo ke KUA gw keberatan, soalnya belum siap"
"Apaansih Ki, receh!"
"Yaudah gw balik ya" Diki memakai helm full facenya.
"Kalo kangen telfon, kalo gk kangen telfon juga" Ara tertawa.
"Diki ih bucin!"
"Gapapa, yang penting bucinnya sama Lo"
"Udah jangan kebanyakan ngomong, sana pulang"
"Ngusir?"
"Ya kan emang niatnya mau pulang"
"Oke. Assalamualaikum"
"Dasar Diki pea" gumam Ara disaat motor Diki sudah melaju jauh.
Pukul 15:30
"Kek, kalo kita mimpiin orang yang udah meninggal artinya apasih?" Tanya Ara pada bima, ayah dari almarhum cery.
Kini ia tinggal dirumah Herlan. Pasalnya kalo Bima tinggal dirumah Ari, Bima tidak ada yang merawat. Ari pulang kerja selalu malam. Ara sibuk dengan sekolah. Walaupun demikian, ari dan Ara selalu menjenguk Bima disaat ada waktu senggang. Itung-itung sekalian main kerumah Herlan Uchi.
"Emang Ara mimpiin siapa?" Tanya Bima yang kini sedang duduk dikursi roda. Mereka berdua sedang berada dihalaman belakang.
"Mamah" Bima tersenyum sambil meraba kepala Ara, berniat untuk mengelusnya.
"Ara kangen gk sama mamah?" Ara mengangguk cepat.
__ADS_1
"Banget banget banget"
"Ya itu artinya" Ara mengerutkan keningnya.
"Maksud kakek gimana?"
"Kalo Ara lagi kangen banget sama seseorang, pasti bakal kebawa mimpi. Kakek juga gitu, selalu mimpiin Tante cery" Ara mengangguk paham.
"Tapi kek, dimimpi Ara ada adek Ara juga. Dia bilang dia kangen sama papah"
"Nah kalo yang itu kebalik. Nanti kalo papah udah pulang, kamu sampein ya"
"Iyah kek"
"Dan satu lagi"
"Apa?"
"Jangan pernah lupa buat ngajiin mamah setiap malam Jumat"
"Kalo itu pasti dong kek" jawab Ara dengan semangat.
"Ara! Sini nak! Ada papah!" Teriak uchi dari ruang tamu.
"Wah papah pulang cepet. Ayo kek kita keruang tamu" ajak Ara sambil mendorong kursi roda bima.
"Papah!" Ara berlari memeluk Ari.
"Papah tumben pulang cepet?" Tanya Ara sambil melepaskan pelukannya.
"Ohh jadi gk boleh nih papah pulang cepet?"
"Ih gk gitu! Kan Ara nanya" Ara mengerucutkan bibirnya.
"Ya papah kangen lah sama Ara" Ara tersenyum mendengarnya.
"Selain itu, papah juga mau ngajak Ara buat ziarah ke makam mamah"
"Oh iya ya pah, ini kan udah akhir bulan" Ari dan Ara memang menjadwalkan ziarah ke makam Aisyah yaitu sebulan sekali. Mungkin bagi orang lain itu keseringan, tapi tidak bagi Ari dan Ara.
"Papah dan mamah juga ikut ya ri" ucap Herlan.
"Iya boleh. Tapi pak Bima gimana?"
"Saya juga ikut aja, boleh?" Tanya Bima.
"Boleh boleh aja. Tapi keadaan pak Bima gimana?" Tanya Ari yang masih khawatir.
"Saya baik baik aja"
"Yaudah kalo gitu, mamah sama papah siap siap dulu ya ri" Uchi dan Herlan berlalu.
"Pak! Pak Wawan!" Teriak Ari.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" Ucap pak Wawan pengasuh pribadi pak Bima.
"Tolong ajak pak Bima untuk rapih rapih. Kita mau ke pemakaman"
"Baik" pak Wawan berlalu sambil mendorong kursi roda pak Bima. Ari dan Ara kini duduk berdua diruang tamu.
"Pah, masa tadi pas di halte deket sekolah, kepala Ara sakit lagi. Gara gara Ara ngeliat kecelakaan disana. Tiba-tiba kepala Ara nyeri waktu ngeliat darahnya"
__ADS_1
"Kan udah papah sering bilang. Kalo ada darah, jangan Ara liat. Sebisa mungkin Ara ngalihin pandangan"
"Iya pah Ara lupa. Emang kenapa sih?" Ari mengelus surai hitam Ara.
"Ara punya trauma. Kepala Ara bakal terasa sakit kalo ngeliat darah"
"Ohh gitu" Ara mengangguk paham.
"Oh iya pah! Ada salam buat papah"
"Salam? Dari siapa?"
"Dari adek" Ari terdiam mendengarnya.
"Adek Dateng ke mimpi Ara. Dia bilang dia kangen sama papah. Bukan cuma adek kok, mamah juga ada. Mamah makin cantik" ucap Ara sambil membayangkan wajah aisyah waktu dimimpi.
"Iya waalaikumsalam. Papah juga kangen banget sama adek, dan mamah"
>Pemakaman<
Sesampainya mereka dimakam, mereka membersihkan makam Aisyah terlebih dahulu. Mencabuti rumput rumput liar, dan sebagainya. Setelah selesai mereka mulai memanjatkan doa untuk Aisyah.
Tak butuh waktu lama, herlan Uchi dan Bima pergi lebih dulu kemobil, menyisakan Ari dan Ara.
"Pah, ayo kita pulang" ajak ara karena sedari tadi Ari hanya diam saja memandangi makam istrinya.
"Pah... " Ara menyentuh bahu lebar Ari. Ari tersadar dari lamunannya.
"Iya nak, Ara duluan ya kemobil. Sebentar lagi papah nyusul" Ara mengangguk dan berjalan pergi.
Tiba-tiba air mata Ari menetes. Ia tak sanggup lagi membendungnya.
Tangannya terulur mengelus papan putih yang tertancap ditanah. Nama istrinya tertera dipapan itu. Nama yang selalu membuat Ari tersenyum bahagia.
Ari kembali mengingat dimasa masa mereka baru pertama kali bertemu, yaitu disekolah.
Disaat Ari dan Aisyah berpapasan dilorong. Disaat Aisyah tak sengaja menabrak tubuh Ari.
Disaat pertama kali mendengar kabar perjodohan mereka. Disaat Ari nembak Aisyah waktu acara DJ dibandung.
Disaat Aisyah cemburu karena Ari menyimpan foto persahabatannya dengan Steffi. Disaat hari pernikahan itu datang.
Disaat Aisyah ketakutan karena sebuah teror. Disaat Ari tersenyum bahagia mendengar kabar istrinya mengandung.
Disaat Ari kebingungan menanggapi ngidam istrinya. Disaat mereka bahagia melihat putri kecilnya lahir.
Disaat Ari melihat tangis Aisyah pecah waktu kedua orangtuanya meninggal. Disaat hubungan mereka mulai renggang.
Disaat Ari ingin membuat suprise untuk perayaan hari pernikahan.
Disaat itulah Ari menangis sekencang-kencangnya. Melihat istrinya terkapar tak berdaya dengan kondisi perut yang tak sewajarnya.
Ari kembali meraung-raung disaat mendengar kabar Aisyah sudah pergi meninggalkannya untuk selama lamanya.
Ditambah lagi Aisyah pergi dengan janin yang sama sekali tak bersalah. Semua kisah pahit dan manis telah mereka lalui berdua. Ari tersenyum bahagia karena ternyata jodohnya adalah Aisyah.
Walaupun Aisyah sempat meminta Ari untuk bersama Steffi, tapi Ari tidak yakin bisa mengabulkannya. Pasalnya hati Ari masih seutuhnya untuk Aisyah. Ralat, hati Ari selamanya untuk Aisyah. Tidak akan pernah berpaling. Percuma saja jika Ari menikahi Steffi tapi hatinya tetap untuk Aisyah. Itu hanya akan membuat Steffi terluka. Ari mencium papan nisan Aisyah.
"Perjalanan cinta kita tidak berhenti sampai disini. Tunggu aku, disaat waktu yang tepat aku akan menyusulmu. Kita bersama sama lagi di akhirat nanti" Ari bangun dari jongkoknya.
"Assalamualaikum sayang"
__ADS_1
***TAMAT***!