Perjodohan SMA

Perjodohan SMA
exstra part 3


__ADS_3

[3 tahun kemudian]


>Sekolah ara<


Sudah lima bulan Ara masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Ari sengaja mempercepat Ara untuk masuk sekolah agar Ara tidak bosan dirumah. Karena mulai sekarang Ari kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Bagaimana anak anak, sudah menghias suratnya?" Tanya Bu guru.


"Sudah!" Jawab semua murid serempak.


Hari ini adalah hari ibu, Ara dan murid yang lain ditugaskan untuk membuat surat dari kertas origami untuk ibunya masing-masing. Satu persatu namanya dipanggil kedepan untuk membacakan suratnya. Dan tiba saatnya giliran Ara.


"Ayo Ara bacakan suratnya" Ara mengangguk.


"Mamah, hari ini adalah hari ibu. Ara tau mamah udah nggak sama Ara lagi. Tapi Ara yakin pasti mamah denger semua yang Ara ucapin. Mamah, Ara gk bisa kasih apa apa ke mamah, Ara cuma bisa kasih doa ke mamah. Ara selalu mendoakan mamah agar mamah disana selalu bahagia. Hati mamah seperti ibu peri. Ara sayang banget sama mamah. Love you" Satu tetes air mata Ara mengalir. Namun dengan cepat Ara menghapusnya.


"Surat Ara bagus. Mamah Ara pasti denger kok. Ara nggak boleh sedih ya" ucap Bu guru sambil mengelus rambut Ara.


Ari sudah menceritakan masalah kematian Aisyah kepada guru Ara. Ari berpesan untuk menjaga Ara selama disekolah dan jangan membiarkan Ara bersedih karena mengingat mamahnya. Ara mengangguk sambil tersenyum.


"Iyah"


"Yaudah sekarang Ara duduk ya" Tak terasa sekarang sudah waktunya Ara pulang. Ara duduk di bangku taman sekolah untuk menunggu Ari menjemputnya.


"Mamah!" Anak itu berhamburan memeluk mamahnya.


"Laras, gimana tadi sekolahnya nak?"

__ADS_1


"Seru mah, tadi Laras dan temen temen buat surat" anak itu buru buru membuka tasnya dan memperlihatkan sesuatu.


"Ini surat buat mamah" Mamah dari anak tersebut membaca suratnya. Lalu tersenyum senang menatap anaknya.


"Selamat hari ibu. Laras sayang banget sama mamah" Lalu mereka berpelukan.


Ara hanya bisa terdiam menonton kemesraan ibu dan anak tadi. Matanya memanas. Ada rasa iri dihatinya. Ia sangat merindukan sosok mamahnya, yaitu Aisyah.


"Ade" Tiba-tiba Ari datang sambil membawa paper bag. Dengan cepat Ara menetralkan wajahnya. Ara tersenyum kepada Ari.


"Papah, kenapa lama?"


"Maafin papah ya. Tadi dijalan macet" Ara mengangguk.


"owh iya, papah punya sesuatu buat Ara" Ari mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang ia bawa tadi.


"Enak?" Tanya Ari.


Ara mengangguk sambil memperlihatkan deretan giginya. Ari tersenyum senang karena Ara sudah bisa tersenyum lagi. Sebenarnya tadi Ari sudah memperhatikan Ara, Ari melihat wajah murung Ara saat melihat kemesraan ibu dan anak tadi. Ari paham, pasti Ara sangat merindukan Aisyah.


"Papah!"


"Hmm?"


"Hari ini hari ibu" Ara berucap secara hati-hati.


"Ara punya surat! Papah baca ya"

__ADS_1


"Loh kok papah yang baca. Kan ini hari ibu, bukan hari ayah" Wajah Ara berubah murung.


"Mamah kan udah nggak ada" gumam Ara sangat pelan.


"Ara mau kasih surat ini ke mamah?" Ara mengangguk semangat.


"Ara mau!"


"Oke, yuk ikut papah" Ari menggendong Ara menuju mobilnya.


>Pemakaman<


Setelah membacakan suratnya, tangan Ara mengelus papan nisan Aisyah. Sedari tadi Ara berusaha menahan air matanya untuk tidak menetes. Karena Ara sudah berjanji dengan Ari, bahwa Ara tidak boleh lagi bersedih karena kepergian Aisyah. Ara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ari menoleh pada Ara, Ari paham kenapa Ara menutupi wajahnya. Ari membuka tangan Ara agar Ara memperlihatkan wajahnya. Lalu Ari meraih tubuh mungil Ara kedalam pelukannya. Ara menangis kencang, ia tidak sanggup menahan air matanya.


"Pa pah ma- maafin Ara hiks hiks. Ara nggak bi- saya janji bu- buat nggak nangis hiks hiks" Ari semakin mengeratkan pelukannya.


"Nggak papa. Ara nangis aja kalo nggak kuat"


Diam diam air mata Ari juga ikut mengalir. Ari melirik papan nisan Aisyah.


'kamu lihat sayang? Ara lemah tanpa kamu, begitu juga aku. Aku sangat merindukanmu' batin Ari.


Setelah tangisan Ara mulai mereda, Ari melepaskan pelukannya. Ari menghapus sisa air mata Ara.


"Langitnya mulai gelap, kayaknya mau turun hujan. Sebelum pulang, kita berdoa dulu buat mamah" Ara mengangguk lalu kembali berjongkok disamping makam Aisyah. Tangan mungilnya terangkat untuk memohon doa kepada Allah.

__ADS_1


__ADS_2