Perjodohan SMA

Perjodohan SMA
exstra part 2


__ADS_3

>Rumah sakit<


Pukul 16:18


Perlahan gw dan Ara membuka pintu kamar rawat seseorang. Disana ada lelaki tua yang sedang terbaring lemah. Matanya memang terbuka lebar, namun gw yakin dia gk bisa melihat indahnya dunia ini.


"Cery... Itu pasti kamu kan nak. Kamu kemana aja? Kamu baik baik aja kan?"


Dia Bima, ayahnya cery. Sebenarnya gw gk mau berurusan sama dia. Tapi itu semua nasihat dari Aisyah. Gw harus merawat pak bima. Mau tidak mau gw harus lakuin.


"Cer, kamu kok diem aja" Ara menoleh ke gw.


Mungkin dia bertanya kenapa gw ngajak dia kesini.


"Saya bukan cery pak. Saya Ari, kakak kelasnya cery dulu. Bapak masih ingat kan?"


"Owh nak Ari. Iya saya inget. Ada apa?"


Gw bingung harus gimana ngasih tau nya. Karena yang gw tau keadaan pak Bima sudah mulai membaik. Jika gw memberi tau bahwa cery sudah mati, maka apa reaksinya? Gw cuma takut penyakit jantungnya kambuh lagi.


Ya cery sudah mati. Dia dihukum mati karena telah melakukan pembunuhan berencana. Bukan cuma cery, tapi Yori dan atthala juga dihukum mati. Jujur, gw sama sekali nggak keberatan. Ya karena itu memang balasannya bagi orang jahat.


"Pak Bima bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah keadaan saya mulai membaik. Seharusnya kemarin saya sudah diperbolehkan pulang, tapi cery tidak kunjung kembali"


"Sebenarnya gini pak. Saya diminta cery untuk membawa bapak pulang" Pak Bima mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak cery nya langsung yang membawa saya pulang? Memang dia kemana?"


"Pihak kampus memberikan cery beasiswa untuk kuliah di London. Kabarnya sangat mendadak, jadi cery tidak bisa kerumah sakit terlebih dahulu. Pesawatnya sudah terbang siang tadi. Dia meminta tolong kepada saya untuk memberi tau anda sekaligus dia meminta saya untuk merawat anda dirumah saya" Wajah pak Bima terlihat berubah, sepertinya ia kecewa.


"Kenapa cery tidak menemui saya dulu" monolognya.


"Iya pak. Dia meminta maaf kepada anda. Semoga anda memaafkannya. Dan cery juga meminta doa anda, mohon doakan agar dia selalu bahagia disana" Pak Bima tersenyum.


"Saya akan selalu mendoakan dia"


"Pah... Kakek ini siapa?" Tanya ara.


"Ini ayahnya Tante cery"


"Tapi Tante cely-- "


"Wah gadis kecil ini siapa?" Tangan Bima terulur mengelus pipi Ara.


"Dia anak saya pak, namanya Ara"


"Kau sudah menikah?"


"Iya. Saya sudah menikah dengan aisyah empat tahun yang lalu. Dulu saya sempat mengundang anda dan cery, tapi kata cery dia sedang ada urusan yang membuat dia tidak bisa hadir"


"Saya senang mendengar kau dan aisyah sudah menikah. Maaf saya dulu tidak sempat hadir"


"Tidak apa"

__ADS_1


"Berapa usiamu nak?" Tanya Bima pada Ara.


"Dua tahun" Ara menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, walaupun Bima tidak bisa melihatnya.


"Bulan desembel ala ulang tahun. Jadi umul ala nambah jadi tiga!" Ara tersenyum namun tiba-tiba murung lagi.


Gw paham apa yang Ara rasakan. Pasti Ara sedih karena ulang tahunnya yang ke tiga tahun nanti, Aisyah tidak ada disisinya untuk menemani potong kue. Gw mengusap rambut hitam Ara yang mulai panjang, mengisyaratkan agar ia tidak boleh bersedih. Pak Bima tersenyum mendengar sikap Ara yang ceria.


"Lalu, dimana Aisyah?" Tanya pak Bima.


"Aisyah" gw menoleh pada Ara terlebih dahulu.


"Aisyah udah mencapai surga"


"Maksudmu, Aisyah sudah meninggal?"


"Iya"


"Maaf"


"Tidak apa" gw tersenyum.


"Baiklah, sebaiknya anda harus siap siap. Dimana tas anda? Biar saya siapkan semua barang anda"


"Kau sangat baik nak. Coba kau cari tas nya diatas lemari. Kata cery, dia menyimpannya disana"


"Baiklah"

__ADS_1


__ADS_2