Perjodohan SMA

Perjodohan SMA
110


__ADS_3

ARI POV.


"Apa lagi ya yang harus dibeli" ucap Steffi.


"Udah semua kayaknya"


"Eh ri, kita foto disana dulu yuk. Sekalian duduk. Gw capek"


"Oke. Yuk" Gw dan Steffi berjalan menuju tempat duduk yang dekat kedai es krim.


"Lo mau es krim gk?"


"Mau mau. Beliin dong"


"Iya bawel" Sambil menunggu es krim nya, gw Steffi foto dulu. Gw meminta tolong kepada salah satu si tukang es krim itu untuk memfoto kan nya.


Ariirham



(Tagged @steffizamora)


Like26.383.372.


Ariirham (Komentar di non aktifkan)


Nih es krim nya Stef"


"Thanks ya"


"Iyah"


"Habis ini kita mau kemana?"


"Mungkin ambil kue dulu kali yah. Setelah itu baru deh kita ke apartemen, lanjut dekor"


"Yaudah. Tapi Lo kapan jemput Aisyah nya dodol"


"Ya nanti sore lah. Udah soal itu gampang. Lo gk usah mikirin"


"Iya dah iya"


AISAH POV.


#Taksi.


"Ade ngantuk gk? Kalo ngantuk bobo aja. Nanti mamah bangunin kalo udah sampai rumah"


"Nggak mah, ala nggak ngantuk" Tiba-tiba ponsel gw berbunyi. Kening gw berkerut melihat nama si penelpon. Soalnya baru aja tadi di mall ketemu.


"Hallo cer, ada apa?"


"Ka, bisa ketemu?" "Buat apa cer? Bukannya tadi kita baru aja ketemu"


"Aku mohon ka"


"Tapi aku kasian sama Ara. Dia udah keliatan capek gitu"


"Sebentar aja ka. Ya kak kita ketemu. Aku mohon"


'kok cery maksa banget ya. Sebenarnya ada apa sih'


"Yaudah kita ketemu. Mau ketemu dimana?"


"Di gedung tua jalan Kartini. Gedung nya bersebelahan dengan toko bunga"


"Gedung tua? Kenapa harus ketemu disana. Kan bisa kita ketemu dicaffe"


"Kak aku mohon, please Dateng ke gedung tua. Aku butuh bantuan kakak"


"Hah bantuan? Kamu dalam bahaya cer?!" Tiba-tiba sambungannya terputus.


'apa mungkin cery dalam bahaya. Gw harus tolongin dia'

__ADS_1


"Pak, kita ke gedung tua ya. Di jalan Kartini"


"Baik neng"


"Mah kita mau kemana?" Tanya Ara.


"Mamah mau ketemu kak cery dulu. Katanya kak cery butuh bantuan mamah" Ara mengangguk.


#rumah intan.


"Hallo Rin, kenapa?" Tanya intan.


"Kita jalan yuk. Masa weekend gk kemana mana sih" ucap Karin temen sebangku intan.


"Gk bisa Rin. Gw lagi ada urusan"


"Urusan apaansih. Gk usah sok sibuk deh. Paling juga urusan soal Rafa kan?!"


"Dih jangan suzon napah"


"Ya terus urusan apa? Lo gk mau cerita gitu sama gw. Gw itu temen seperjuangan Lo"


"Gk usah alay deh Rin. Ini soal keluarga, gw belum bisa cerita. Maaf ya"


"Yaudah deh gapapa. Terus gw gimana dong? Gw gabut banget dirumah"


"Mending Lo telfon san. Lo ajakin jalan deh"


"Idih ogah! Udah gw bilang jangan sebut sebut nama dia didepan gw. Gw tuh benci banget sama dia!"


"Heh hati hati loh jangan terlalu benci. Ntar jadi cinta kan berabe" intan tertawa.


"Au ah! Lo mah malah ngeledekin gw. Udah ah bye!" Intan tertawa setelah meledeki Karin. Jujur saja, ia juga ngerasa bosan berada didalam kamar.


Tapi kan intan haru memperhatikan gerak-gerik kakak nya. Ia takut kakaknya akan melakukan perbuatan yang tidak masuk akal. Setelah mengobrol dengan Karin, intan merasa tenggorokannya kering. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil minuman.


Tidak sengaja intan melihat kakaknya sedang mengobrol dengan teman lelakinya di ruang tengah. Intan penasaran. Akhirnya intan tidak jadi menuju dapur, melainkan intan bersembunyi dibelakang lemari.


"Jadi gimana? Udah ada kabar dari dia?" Tanya teman lelaki Yori.


"Yaudah ayo kita langsung susul ke gedung tua itu. Cepet cepet kita musnahkan dia"


"Sabar dong" Yori memasukkan ponselnya kedalam tas.


"Kakak!!" Teriak intan yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.


"Intan" Yori menatap intan kaget.


"Sejak kapan kamu ada disitu?"


"Gk penting" intan berjalan menghampiri Yori dan teman lelaki Yori. Menatap mereka dengan datar.


"Siapa yang bakal kakak bunuh hah?!"


"Ini bukan urusan kamu. Cepat masuk ke kamar"


"Kakak jangan gila ya! Batalin semua rencana bodoh kakak!!"


"Kamu anak kecil diem aja!! Ini urusan kakak!" Yori merampas ponsel intan yang berada digenggamannya. Lalu menarik intan menuju kamar.


"Kakak lepasin aku!! Lepasin kak!!" Ucap intan berusaha melepaskan genggaman Yori.


"Masuk kamu!!" Yori mendorong intan lalu mengunci pintu kamar intan dari luar.


"Sekali kali kamu emang harus kakak kasarin!!"


"Kak jangan ngelakuin hal bodoh kak!! Dengan kakak ngebunuh orang lain, itu membuat kakak dalam bahaya!!"


"Yor, Lo yakin ngunciin Ade Lo sendiri?" Tanya teman lelaki Yori.


"Udahlah biarin aja. Habisnya dia udah terlanjur tau. Udah ayo cepet kita berangkat"


"KAKAK! BUKAIN PINTUNYA!" Teriak intan.

__ADS_1


Intan terduduk, ia lelah berteriak. Intan bingung harus berbuat apa. Bagaimanapun juga ia tidak boleh membiarkan rencana kakaknya terjadi. Apalagi kini ponselnya berada ditangan Yori.


Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia segera membuka laci meja belajarnya. Dan ia tersenyum melihat sesuatu benda yang dapat menyelamatkannya. Itu adalah ponsel. Bukan ponsel bagus. Melainkan ponsel tombol. Tapi seenggaknya masih bisa intan gunakan. Ponsel itu intan siapkan untuk berjaga-jaga bila ada hal darurat seperti ini. Tapi sekarang ia bingung harus menelfon siapa. Jika menelfon Karin, ia tidak hafal nomernya. Ingatannya kembali bekerja. Intan mengingat sebuah nomer seseorang dibalik buku olahraganya. Dengan cepat ia mencarinya.


Rafa


081637383***


Intan segera menghubungi Rafa.


"Hallo Raf"


"Hmm... Kenapa?"


"Gw butuh bantuan Lo Raf"


"Bantuan apa?"


"Kakak gw mau ngebunuh seseorang!" Dan Rafa yang berada di sebrang sana kaget mendengarnya.


"Lo serius? Kakak Lo mau ngebunuh siapa?"


"Gw juga gak tau. Tapi intinya sekarang dia lagi ngejalanin rencananya sama temen cowoknya. Dan gw sekarang dikunciin dikamar. Gw gak bisa ngejar ka Yori"


"Yaudah Lo tenang. Gw kerumah lo sekarang"


"Thanks ya Raf. Hati hati dijalan" Lima menit intan menunggu, akhirnya Rafa dateng. Intan melihat Rafa lewat balkon kamarnya.


"RAFA!!" Intan,melambai lambaikan tangannya. Rafa membuka pintu rumah intan. Namun terkunci.


"Pintu depan Lo dikunci Tan!"


"Terus gimana dong!" Tanpa berpikir panjang, Rafa menaiki balkon kamar intan. Intan sedikit kaget melihat apa yang dilakukan Rafa.


"Hati hati Raf!!" Rafa pun berhasil naik kebalkon kamar intan.


"Terus sekarang gw gimana turunnya?" Tanya intan. Rafa masuk kedalam kamar intan. Ia mengambil selimut dan beberapa kain yang panjang. Lalu menggabungkannya menjadi satu dan mengikatnya di balkon.


"Ayo Lo turun duluan" ucap Rafa.


"Ta-tapi gw takut Raf. Lo gk liat, ini tuh tinggi


"Nggak tenang aja. Ini aman kok. Asalkan Lo pegangan yang kenceng. Yaudah gw turun duluan deh" Rafa mulai menuruni balkon. Intan melihatnya sedikit ngeri.


"Intan!" Seru Rafa yang sudah berada dibawah.


"Cepet turun! Lo pasti bisa!" Intan ragu ragu memegang tali itu. Ia menghela nafas berat.


"Lo pasti bisa Tan. Gk boleh takut" ucapnya menyemangati diri sendiri. Intan mulai turun kebawah hingga kakinya menapak pada tanah.


"Gapapa kan? Tangan Lo gk sakit?" Tanya Rafa. Intan tersenyum manis.


"Gw gapapa kok"


"Oke, Terus kita sekarang kemana? Lo tau kan tempatnya?"


"Aduh gw gak tau Raf" intan menepuk keningnya.


"Gw cuma tau kakak gw bakal ngebunuh orangnya digedung tua"


"Gedung tua kan banyak Tan" Intan mulai kembali berfikir.


"Ah iya!" Intan menjentikkan jarinya.


"Gw pernah share lokasi kan ke elo?" Rafa mengangguk.


"Yaudah sekarang Lo cek lokasi ponsel gw. Soalnya ponsel gw dibawa kakak gw"


"Ah iya ya. Ternyata Lo pinter juga" Intan terkekeh.


"Gimana udah ketemu?"


"Udah nih. Kakak Lo menuju jalan Kartini"

__ADS_1


"Yaudah ayo cepet kita ke sana"


__ADS_2