
Great masih terpaku melihat kearah televisi. Tapi kemudian, ia merasa ada yang menepuk-nepuk bahunya.
PUK! PUK! PUK!
"Yang sabar ya Kak..." ucap Preem sambil menepuk-nepuk bahu kakaknya.
Great menoleh kearah Preem dengan tatapan aneh.
"Kamu sedang apa?" tanya Great datar.
"Menghibur kakak... Aku lihat, kakak begitu syok melihat berita tentang Kak Bella dan pacarnya."
TUK! Great menjitak kepala Preem pelan.
"Aduh! Kenapa kakak memukul kepalaku?" ucap Preem sambil mengusap kepalanya.
"Pemikiranmu terlalu jauh, untuk anak seusiamu. Lebih baik, kamu urusi saja sekolahmu. Dan jangan lupa kerjakan PRmu."
"Ih, kakak! Aku bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah 18 tahun. Dan sebentar lagi aku akan masuk universitas." ucap Preem sambil cemberut.
"Tapi bagiku. Kamu tetap adik kecilku ya manis..." Great tak menghiraukan adiknya yang merajuk. Dan ia tetap berjalan santai kearah kamarnya. Dan tiba-tiba, langkahnya terhenti, kala seseorang memanggilnya.
"Dari mana saja kau Great?"
Great berbalik dan melihat Mama Chotika sedang menatapnya tajam.
"Eh, Mama. Aku baru saja pulang dari kantor."
"Benarkah? Lalu, kenapa semalam kau tidak pulang? Dimana kau menginap?"
"Oh. Semalam, aku tidur di apartemen. Memangnya kenapa Ma?"
"Kau tidak sedang membohongi Mama kan, Great?" Mama Chotika menatap curiga kearah Great.
"Ten-tentu saja aku berkata jujur Ma. Kenapa Mama, mencurigaiku?" Great terlihat gugup.
"Lalu, kenapa kau harus tidur di apartemen? Apa kau tidak mempunyai rumah?"
"Hhh... Jadi begini Ma. Kemarin, ketika aku selesai mengantarkan Ranida pulang. Tiba-tiba sekretarisku mengabarkan bahwa ada klien perusahan kita yang ingin mengadakan meeting mendadak. Nah, kebetulan lokasi meeting berada tidak jauh dari apartemenku. Jadi, setelah meetingnya selesai, aku pikir akan tidur di apartemen saja, karena malam sudah sangat larut." jelas Great.
Maaf Ma. Great terpaksa membohongi Mama. Batin Great.
"Baiklah. Mama akan mempercayaimu. Apa kau sudah makan?"
"Sudah. Tadi siang aku makan dikantor. Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi. Aku akan istirahat dikamar dulu ya Ma."
Kemudian Mama Chotika mengangguk.
...***...
Di Sara Restoran.
Waktu menunjukkan jam 10 malam. Seperti biasa, Nicha sedang bersiap untuk pulang. Segera ia meraih tasnya dan berjalan menuju keluar restoran. Tapi, ketika ia hendak melangkah keluar restoran. Tiba-tiba, ada seseorang yang menarik tangannya. Nicha tersentak dan terkejut ketika melihat wajah laki-laki yang sedang menariknya.
"Prama! Sedang apa kamu disini?"
"Jangan banyak bicara. Ayo masuk kedalam mobil." Prama memaksa Nicha untuk masuk kedalam mobilnya.
"Kamu ini kenapa sih? Aku tidak mau menurutimu. Dasar gila!"
__ADS_1
Nicha terus memberontak dan berusaha lari dari cengkeraman tangan Prama.
"Apa kamu bilang? Kamu memanggilku apa!?"
"Kamu laki-laki gila! Sudahlah. Minggir, aku mau pulang..."
Prama terlihat sangat marah dengan ucapan Nicha. Langsung saja, ia mengangkat tubuh Nicha dan memasukkan Nicha kedalam mobilnya. Lalu, Prama langsung memborgol salah satu tangan Nicha dan mengaitkan borgol satunya ke setir mobil.
"Hei! Kenapa kamu memborgolku? Lepaskan borgol ini dari tanganku. Dasar brengsek!"
Prama tidak menghiraukan teriakan Nicha. Ia langsung menutup pintu mobilnya dan duduk didepan setir.
Lalu, pandangan Nicha tertuju pada seorang laki-laki yang sedang berdiri disamping mobilnya. Tampak, laki-laki itu sedang menunggu seseorang keluar dari restoran. Tapi, laki-laki tersebut tidak melihat Nicha. Karena Nicha dan Prama keluar dari pintu belakang restoran.
Loh. Itu Rei. Dia pasti sedang menungguku. Gumam Nicha.
"Apa kamu mengenal laki-laki itu?" tanya Prama.
"Bukan urusanmu... Hei, cepat lepaskan borgol ini dari tanganku. Karena sudah ada seseorang yang sedang menungguku."
Lagi-lagi, Prama tidak menghiraukan ucapan Nicha. Dan malah menyalakan mobilnya, lalu meninggalkan restoran.
"Hei! Apa kamu tuli. Lepaskan borgol ini! Kamu mau bawa aku kemana? Kamu memang laki-laki gila, Pram! Heeei... Lepaskan akuu!"
Selama perjalanan, Nicha terus saja berteriak. Tapi tetap saja, Prama tidak menghiraukannya. Sampai akhirnya, mobil berhenti tepat didepan rumah Nicha.
"Kamu ingin pulang kan? Sekarang aku telah mengantarmu pulang... Kenapa diam? Kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku?"
"Dasar laki-laki gila! Kamu benar-benar brengsek! Sejak kedatanganmu dalam hidupku, kamu selalu membawa kesialan untukku. Kenapa kamu harus datang dikehidupanku! Kenapa kamu selalu menganggu hidupku!"
"Apa katamu? Aku membawa kesialan untukmu? Ooh, baiklah. Jadi, aku akan mengambil kembali semua barang-barang yang telah ku berikan padamu. Karena, semua barang-barang itu hanya akan membawa kesialan dalam hidupmu.."
"Eh, bukan itu maksudku. Maaf, tadi aku hanya asal bicara saja. Maaf yaaa..." Nicha langsung melemparkan senyum termanis kepada Prama.
"Hhh, baiklah. Apa sekarang, kita sudah bisa berbicara secara baik-baik?"
"Hem," jawab Nicha singkat.
"Oke. Aku akan bertanya kepadamu. Dan kamu harus jawab jujur."
"Ya, baiklah. Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Siapa laki-laki yang menunggumu di restoran tadi? Apa kamu mengenalnya?"
"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah kakak dari teman kuliahku. Namanya Reinhard."
"Lalu apa hubunganmu dengannya?"
"Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya. Kita berdua hanya berteman."
"Bohong!"
"Ke-kenapa aku harus berbohong? Aku berkata jujur."
"Kalau hanya sebatas teman. Kenapa, dia sering menjemputmu?"
"Memangnya tidak boleh, seorang teman menjemput temannya sepulang bekerja?"
"Apa kamu menyukainya?"
__ADS_1
"Apa!? Tentu saja tidak. Aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Hei, kenapa kamu menginterogasiku seperti ini? Memangnya kejahatan apa yang telah aku lakukan? Kamu berlagak seperti polisi saja."
Kemudian Prama mengeluarkan sebuah kunci dan memasukkan kunci itu kedalam mulut borgol. Seketika borgol itupun terbuka.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Ayo kita bicara didalam rumahmu saja..."
Lalu Prama bergegas keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah Nicha.
"Hei! Kenapa kamu harus masuk kedalam rumahku lagi? Kenapa kita tidak bicara diluar saja!"
Namun, Prama terus saja berjalan masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan Nicha.
Huh! Dasar menyebalkan. Dia berlagak, seperti ini rumahnya sendiri. Gumam Nicha.
Didalam rumah Nicha.
KLIK!
Prama langsung mengunci pintu rumah.
"Kenapa kamu mengunci pintunya?" tanya Nicha ketakutan.
"Agar tidak ada orang yang mengganggu kita," jawab Prama datar.
"Kamu mau apa?" Nicha semakin ketakutan.
"Duduk!" perintah Prama.
Dengan rasa takut, Nicha menuruti perintah Prama. Tapi tiba-tiba, ponsel Nicha berdering tanda panggilan masuk. Seketika, Nicha melihat layar ponselnya dan terdapat nama Reinhard.
Prama seperti mengetahui siapa yang menelepon Nicha. Langsung saja, ia merebut ponsel Nicha dari tangan Nicha.
"Berikan padaku...!"
"Hei! Itu ponselku..." pekik Nicha.
Prama yang kesal mendapati nama Reinhard yang menelepon Nicha, langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
"Kenapa kamu mematikan teleponnya?"
"Mulai sekarang. Jangan pernah menerima telepon dari laki-laki itu lagi. Kamu mengerti!"
"Aku tidak mau menurutimu! Kamu tidak bisa mengaturku untuk menerima telepon dari siapapun! Kembalikan ponselku!"
Nicha kembali merebut ponselnya dari tangan Prama.
"Dengar Nicha! Reinhard bukan laki-laki biasa. Dia adalah pewaris dari perusahaan keluarga Sangkapan yang terkenal kaya raya karena bisnis tambangnya."
Nicha terdiam mendengar penjelasan Prama.
"Dan kamu tahu, Reinhard sudah mempunyai tunangan. Dia adalah seorang wanita yang istimewa."
"Wanita yang istimewa?" tanya Nicha dengan raut wajah penasaran.
"Ya. Wanita yang sangat istimewa. Dia adalah Bella Cassavana Supangkarn. Kamu mengenalnya bukan?"
"Be-Bella!?" Mata Nicha terbelalak mendengar nama yang disebut oleh Prama.
__ADS_1