Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 57


__ADS_3

"Hhhh... Semoga saja, tidak ada yang mengganggu lagi nanti," seloroh Great.


"Mengganggu siapa, Great?" tanya Nicha polos.


"Ya mengganggu urusan kita berdua, sayangku," ucap Great melirik nakal kearah Nicha.


"Memangnya kita akan melakukan apa?" tanya Nicha datar.


"Hah! Kamu ini benar-benar tidak mengerti atau berpura-pura bodoh sih? Ya, kita harus melanjutkan urusan kita yang tertunda kemarin."


"Hei! Kenapa kamu berkata kasar seperti itu pada istrimu sendiri?" ucap Nicha merajuk.


"Hmm, baiklah. Jadi sekarang kamu ingin aku perlakukan dengan lembut. Hum?" Great menyeringai.


"Ya, ten-tentu saja. Asal kamu tahu ya, Tuan muda. Setiap wanita, pasti ingin diperlakukan dengan lembut dan penuh cinta."


"Ya, baiklah. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut. Jadi, ayo kita langsung kekamar."


"Hah! Untuk apa kita kekamar. Bahkan ini masih sangat pagi."


"Bukankah tadi, kamu mengatakan kalau kamu lelah? Makanya, aku mengajakmu ke kamar agar kamu bisa beristirahat."


"Mmm, ituuu... Aku sudah sudah tidak lelah. Sekarang, aku ingin membantu ibu membereskan meja makan," ucap Nicha seraya berjalan cepat meninggalkan Great.


"Hei, Nich. Tunggu suamimu ini, sayang," goda Great sambil menyusul istrinya.


"Sini Bu, aku bantu..." kata Nicha seraya mendekati ibunya.


"Eh, iya Nich."


"Ibu! Ada telepon untuk ibu," seru Han.


"Oh... Ya Han, sebentar...! Ibu tinggal dulu ya, Nich."


Lalu, ibu Nat bergegas menuju ruang tengah.


Melihat istrinya sedang membereskan meja makan sendirian, lalu Great menghampirinya dari arah belakang. Maksud hati ingin membantu istrinya, namun Great terlintas ide untuk menggoda istrinya lagi. Ketika Nicha hendak mengambil sebuah piring kotor, tiba-tiba tangan Great juga meraih piring yang sama. Dan jadilah, mereka saling bertatapan agak lama.


"Great, apa yang kamu lakukan?" pekik Nicha sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Great.


"Aku ingin membantumu membereskan piring. Memangnya tidak boleh?" jawab Great sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Iya, tapi tolong lepaskan tanganku. Bagaimana kamu akan membereskan piring jika terus memegang tanganku seperti ini?"


"Tidak mau. Aku tetap bisa membereskan semua piring dengan satu tangan. Lihatlah!"


Great menggerakan sebelah tangannya untuk membereskan piring-piring kotor tanpa melepaskan tangan Nicha.


"Great..." panggil Nicha lembut.


""Nicha..." balas Great.


"Ssshh... Ayolah Great. Kamu seperti anak kecil saja. Tolong lepaskan tanganku," sungut Nicha sambil mendesah kesal.


"Baiklah, baiklah. Aku akan melepaskan tanganmu. Tapi, dengan 2 syarat."


"Hish! Sebenarnya apa yang kamu inginkan. Hah!"


"Syarat pertama. Kamu harus memanggilku dengan panggilan sayang. Suamiku sayang. Mengerti?"

__ADS_1


"Aku tidak mau. Kenapa aku harus memanggilmu begitu?"


"Karena aku ini sudah sah menjadi suamimu. Dan kamu terus saja memanggilku dengan namaku."


"Ck... Ya, baiklah-baiklah. Lalu apa syarat yang kedua?"


"Kamu harus melakukan syarat yang pertama dulu, baru setelah itu, aku akan memberikan syarat yang kedua."


"Baiklah, suamiku sayang. Nah, sekarang katakan syarat berikutnya."


Great nampak sumringah mendengar panggilan sayang dari istrinya.


"Syarat yang kedua. Cium aku!" ucap Great seraya menunjuk bibirnya.


"Apa!? Tidak mau!" bantah Nicha.


"Ya sudah, kalau tidak mau. Tidak masalah," jawab Great datar.


"Hhhh... Kenapa kamu tidak mengerti juga sih. Aku tidak ingin berciuman ditempat terbuka seperti ini Great. Apa kamu tidak malu?"


"Kalau begitu, kita lakukan dikamar saja," tawar Great.


Tanpa disangka, Nicha menganggukkan kepalanya.


"Tapi sebelum itu. Aku ingin kamu memelukku dulu."


"Ya. Tapi, kita lakukan dikamar ya."


"Tidak! Disini saja."


"Astaga... Kamu ini! Baiklah..."


"Hemm, rasanya begitu hangat," aeloroh Great.


"Benarkah?" tanya Nicha.


Great balas mengangguk.


"Kamu seperti anak kecil yang telah lama mendambakan pelukan seorang ibu, saja."


"Karena kamu berkata seperti itu, aku jadi teringat bahwa memang sudah lama sekali aku tidak merasakan pelukan seorang ibu," ucap Great lirih.


"Hei! Kamu ini sudah besar. Memangnya tidak malu kalau harus dipeluk oleh ibumu. Apalagi kamu adalah seorang putra mahkota keluarga Warinton."


"Walaupun aku seorang laki-laki, tetap saja aku anak dari ibuku dan seorang anak tetap membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya," ucap Great seraya melepaskan pelukan.


"Uuuuh... Cup, cup. Kamu sungguh malang. Baiklah, mulai saat ini, kamu boleh memelukku kapan saja kamu mau. Hum?" ucap Nicha sambil mencubit pipi suaminya.


"Benar boleh?"


Nicha balas mengangguk.


"Tapi kalau denganmu, aku tidak ingin hanya sekedar pelukan. Tapi jugaaa..."


Great menatap nakal kearah dada Nicha.


"A-apa yang kamu lihat?" pekik Nicha seraya menutupi bagian dadanya.


"Itu... Aku juga ingin mencoba obat hisap milikmu. Agar tubuhku semakin kuat."

__ADS_1


"O-obat hisap? Haish! Dasar otak mesum."


"Kalian sedang apa?" tanya ibu Nat mengagetkan Great dan Nicha.


"Eh, ibu... Kami sedang membereskan piring. Hehe," jawab Great.


"Oh, begitu. Baiklah, ibu akan pergi sebentar. Tolong kalian jaga rumah ya."


"Memangnya ibu mau kemana? Lalu, Han dimana?" tanya Nicha.


"Ibu ada urusan sebentar ke rumah Bi Sachi dan Han akan mengantarkan ibu naik motor."


"Oh, begitu."


Great tanpak sumringah mengetahui ibu Nat dan Han akan pergi. Itu berarti, hanya akan ada dirinya dan Nicha saja dirumah.


"Baiklah, ibu pergi dulu ya."


"Ya Bu. Hati-hati," ucap Great dengan tersenyum lebar.


Kemudian Great menatap istrinya nakal dan langsung menggendongnya.


"Ah, Great. Kamu mau bawa aku kemana?"


"Aku ingin menagih janjimu. Jadi sekarang, ayo kita kekamar."


"Tapi, piring-piringnya belum selesai dibereskan."


"Urusan itu, bisa kita lanjutkan nanti. Yang penting sekarang, kamu harus melayani suamimu ini. Karena samuraiku sudah meronta-ronta ingin masuk kesarangnya."


"Tapi, Great..."


Nicha terus menggeliat berharap suaminya akan menurunkannya. Dan benar saja, akhirnya Great menurunkan tubuh istrinya, tepat ditengah-tengah ranjang.


"Great, tidak bisakah kamu bersabar sedikit lagi. Ini masih pagi bukan?"


"Sayang, aku sudah bersabar sejak malam pengantin kita yang telah dirusak oleh kedatangan Preem. Dan sekarang kesabaranku telah habis. Saat ini, waktu yang tepat untuk kita bercinta, selagi tidak ada orang dirumah. Hum?" ucap Great menggebu.


Melihat wajah istrinya yang tampak panik. Lalu, Great membelai kepala istrinya dengan lembut.


"Tenanglah, sayang. Aku akan melakukannya dengan lembut. Aku berjanji."


Dan perlahan, Great mencium pucuk kepala istrinya. Lalu turun ke bagian dahi dan terus turun melewati hidung Nicha. Dan akhirnya berhenti diatas bibir ranum Nicha.


Great mencium bibir istrinya dengan penuh kasih sayang. Lalu memberikan sedikit sensasi gigitan kecil. Dan tak disangka, Nicha menikmatinya dan membalas ******* bibir suaminya.


Uuummmh... Uuummhh...


Nicha mendesah penuh kenikmatan. Disaat itulah, Great mulai membuka kancing baju istrinya satu- persatu. Dan ketika sampai dikancing yang terakhir, Great langsung melepaskan pakaian istrinya. Lalu tampaklah dengan jelas, pemandangan yang selama ini, ia idam-idamkan. Mata Great sampai terbelalak menatap setiap inci tubuh istrinya.


Dan tanpa aba-aba, Great langsung melancarkan aksinya. Great terlihat senang mendengar istrinya mendesah dan menikmati permainannya. Setelah cukup lama ia bermain diatas dada istrinya. Lalu, Great mulai menuju kebawah.


Melihat istrinya yang sudah merasakan kenikmatan yang dahsyat, membuat Great semakin tidak sabar untuk memasukkan samurainya kedalam sarangnya..


Setelah hampir 3 menit, Great berusaha keras menjebol gawang istrinya. Akhirnya, usahanya pun terbayar. Dan, yes! Samurainya pun berhasil merobek pertahanan istrinya. Seketika, lahar hangat memancar dan memenuhi liang milik Nicha.


"Terima kasih, sayang," bisik Great sambil terkulai lemas diatas tubuh Nicha.


Berbeda dengan Great yang merasakan puncak kenikmatannya. Nicha justru menangis. Ia tidak tahu, apakah airmatanya itu adalah airmata kebahagiaan atau kesedihan. Disatu sisi, ia bahagia karena dapat memuaskan suaminya tapi disisi lain, ia sedih karena sudah tidak perawan lagi dan takut jikalau suatu hari nanti, Great akan meninggalkannya dan lebih memilih hidup bersama Ranida yang notabene lebih cantik dan kaya dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2