
Dikediaman Nicha.
"Iya Bu. Nicha baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir. Jaga kesehatan Ibu dan Han disana ya."
Terlihat Nicha sedang berbicara ditelepon dengan ibunya. Setelah beberapa menit, Nicha mengakhiri pembicaraannya ditelepon. Sejenak, ia termenung menatap nanar kearah depan.
Semangat Nicha. Kamu pasti bisa. Kamu harus kuat. Ini hanya sementara. Fighting!
Nicha menyemangati dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk bahunya. Sebenarnya ia sangat ingin menyusul ibu dan adiknya di desa. Tapi ia juga harus menyelesaikan kuliahnya yang sudah masuk semester akhir.
Kemudian ia bersiap untuk berangkat kuliah. Segera ia meraih tasnya dan bergegas keluar rumah dan mengunci pintu.
Didalam bus umum.
Dalam perjalanan ke kampusnya, Nicha mengamati seorang laki-laki yang bergelagat sangat aneh. Dan tak butuh waktu lama, kecurigaan Nicha terjawab. Laki-laki tersebut berhasil mencopet sebuah tas seorang ibu paruh baya.
Sontak Nicha segera berlari mengejar pencopet itu. Lalu turun dari bus dan Nicha terus berlari sambil berteriak.
"Pencuri! Pencurii!"
Semua orang memerhatikan Nicha gadis imut yang sangat berani mengejar pencuri. Dan setelah beberapa menit ia berusaha mengejar pencuri itu, akhirnya ia mendapatkannya. Lalu perkelahianpun terjadi antara Nicha dan sang pencuri. Beruntung, Nicha sangat jago bela diri. Alhasil tas wanita tadi dapat ia selamatkan.
"Itu Pak! Dia berusaha mencuri tas saya. Tangkap pencuri itu Pak!" Wanita tersebut datang menghampiri Nicha bersama polisi.
"Ini Bu, tasnya..." Nicha menyerahkan tas tersebut kepada pemiliknya.
"Terima kasih. Kamu hebat sekali, bisa melawan pencuri itu."
"Biasa saja Bu. Kepada sesama memang harus saling tolong menolong..." Kemudian Nicha hendak pergi.
"Eh, tunggu-tunggu... Ini, untuk ucapan terima kasih saya." Wanita itu memberikan beberapa uang kepada Nicha.
"Tidak perlu Bu. Saya ikhlas."
"Tidak apa-apa. Tolong terima. Karena saya akan merasa berhutang budi kepada kamu jika kamu menolaknya."
Sebenarnya Nicha merasa berat untuk menerima uang tersebut, karena ia memang ikhlas melakukannya. Tapi karena tidak tega melihat ibu tersebut memohon kepadanya. Akhirnya, ia pun menerima uang tersebut
Sementara diseberang jalan. Ada sebuah mobil sedan hitam dan pengemudi didalamnya, yang sedari tadi memerhatikan Nicha.
...***...
Di Kantin Universitas Rangsit.
"Hai Nich!" sapa seorang gadis muda.
"Hai Ren!"
"Setelah kuliah kedua selesai, kita kerumahku yuk!"
"Mungkin tidak bisa Ren. Aku ada panggilan kerja sore ini..."
"Jadi, kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Renata sambil menyeruput minumannya.
"Iya. Aku akan bekerja disebuah restoran sebagai pekerja paruh waktu."
"Nich. Kamu sangat hebat. Yang sabar ya temanku. Kamu pasti bisa. Dan katakan saja, jika kamu butuh bantuanku. Aku akan selalu ada untukmu..." Renata menatap Nicha dalam sambil menggenggam tangan Nicha.
"Hahaha. Kamu terlalu puitis Ren. Ayolah, tidak perlu berlebihan. Aku sudah mendapatkan pekerjaan, jadi semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir." Nicha merangkul bahu Renata sambil tersenyum.
__ADS_1
Kuliah kedua pun telah selesai. Nicha dan Renata berencana pulang bersama.
"Jadi kamu akan bekerja di Sara restoran?" tanya Renata.
Nicha hanya mengangguk.
"Wow. Itu kan restoran mewah. Biar aku antar kamu ya. Kebetulan, lokasinya kan berdekatan dengan rumahku."
"Terima kasih Ren. Tapi aku pikir tidak perlu..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Renata telah menarik tangan Nicha dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil.
Sejurus kemudian mobil melaju. Setelah hampir 1 jam, mobil tiba dan memasuki garasi sebuah rumah mewah.
"Loh, kok kita kerumah kamu Ren?" tanya Nicha bingung.
"Udah, kamu tenang aja. Yuk masuk!"
"Tapi Ren..." Lagi-lagi Renata menarik paksa tangan Nicha.
Didalam kamar Renata.
Renata terlihat sibuk memilihkan baju miliknya ubtuk dipakaikan ketubuh Nicha. Sampai seluruh baju yang ada dialmarinya ia keluarkan semuanya dan memenuhi kasurnya.
"Nah, pakai yang ini saja. Coba kamu pakai Nich!" Renata menyerahkan sebuah kemeja merah muda dengan rok hitam kepada Nicha.
"Tidak perlu Ren. Aku sudah bawa bajuku sendiri kok..."
"Eh, sudah pakai ini saja. Lagi pula, restoran tempatmu bekerja nanti adalah restoran mewah. Jadi penampilanmu harus terlihat meyakinkan. Aku harus pastikan penampilanmu akan memukau banyak orang. Dan pasti kamu akan langsung diterima. Ayo cepat pakai!
"Hhh, aku hanya bekerja sebagai pelayan restoran Ren. Bukan untuk menjadi sekretaris..." Nicha menghela napas.
Tak berapa lama, lalu Nicha keluar dari dalam kamar mandi dan sudah berganti pakaian.
"Bagaimana?" tanya Nicha kepada Renata.
"Hei Ren. Kamu lihat DVD film kakak tidak?" tanya laki-laki itu.
Sontak Renata dan Nicha langsung terkejut.
"Eh, maaf-maaf. Saya tidak tahu, kalau ada tamu."
"Ih, kakak. Kalau mau masuk kamar adiknya, ketuk pintu dulu dong!" ucap Renata.
"Ya maaf. Oya, kamu lihat DVD kakak tidak?"
"Aku tidak tahu. Coba saja kakak cari sendiri." Renata masih sibuk merias wajah Nicha.
Namun, laki-laki itu masih mematung melihat Nicha. Ia seperti melihat bidadari yang turun dari langit.
"Kakak! Ih, kakak kenapa sih? Malah melamun?"
"Eh, tidak apa-apa. Ya sudah, kakak akan cari ditempat lain." Kemudian laki-laki itu berlalu meninggalkan Nicha dan Renata.
...***...
Di Sara Restoran.
"Nah, kita sudah sampai."
Kemudian Renata dan Nicha keluar dari dalam mobil. Renata menatap dengan kagum kearah Nicha yang berpenampilan sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa menatap aku seperti itu Ren?"
"Oh. Tdak apa-apa. Kamu cantik. Hehe. Ya sudah sana masuk. Semoga berhasil!"
Nicha mengangguk dan berjalan masuk kedalam restoran.
Renata dengan setia menunggu Nicha selesai diwawancara. Dan tak berapa lama, Nicha sudah keluar dari restoran tersebut.
"Bagaimana Nich?" tanya Renata antusias
Nicha menggeleng lemas.
"Yah. Kurang bagus ya. Ya sudah. Tidak apa-apa. Kita bisa cari ditempat lain." Renata menyemangati Nicha yang terlihat sedih.
"Aku tidak bisa mencari ditempat lain lagi Ren. Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Mungkin memang harus disini saja..."
"Maksud kamu apa Nich?" Renata bertambah bingung dengan perilaku temannya itu.
"Aku memang harus bekerja disini Ren. Aku diterima bekerja disini!" seru Nicha sambil melompat kegirangan dengan senyum yang mengembang.
Sontak Renata pun ikut melompat kegirangan mendengar ucapan Nicha. Mereka berpelukan erat sambil tertawa bahagia.
...***...
Disebuah restoran. Keluarga Great sedang mengadakan pertemuan makan malam.
"Wah, Great. Kamu benar-benar tampan. Pantas saja, Papamu selalu membicarakanmu didepan rekan-rekannya. Kamu memang anak laki-laki yang bisa dibanggakan. Beruntung sekali Papamu mempunyai anak laki-laki sepertimu," Puji Paman Direk kepada Great.
"Om terlalu berlebihan..." Great tersenyum simpul mendengar pujian dari Paman Direk.
"Great itu mewarisi apa yang ada pada Papanya. Lihat saja aku. Gagah, tampan, berkharisma. Makanya Chotika sangat tergila-gila kepadaku. Hahaha!" Papa Thagoon membanggakan diri.
Mama Chotika, lalu mencubit paha suaminya. Ia sangat malu karena perilaku suaminya.
"Rani, ayo tuangkan minuman untuk Great!" pinta Ibunya.
Lalu Rani menuangkan minuman ke gelas Great secara perlahan.
"Ranida sangat manis dan cantik ya," puji Mama Chotika.
Lalu semua tersenyum dan mengangguk tanda sependapat dengan Mama Chotika. Begitu pula dengan Ranida, ia tersipu malu mendapat pujian seperti itu.
Akhirnya mereka berbincang sambil menyantap makan malam mereka. Sedangkan Ranida selalu mencuri-curi pandang kearah Great. Berbeda dengan Great, yang hanya santai menikmati makan malamnya tanpa menghiraukan Ranida.
...***...
Figuran Cast.
Renata Sangkapan
Ranida Panhakarn
__ADS_1