
"Kenapa kamu begitu terkejut mendengar nama itu? Kamu pasti tidak menyangka bahwa sainganmu adalah wanita yang sangat berkelas seperti Bella."
"Apa!? Saingan? Prama, apa maksudmu berkata seperti itu?"
"Sudahlah Nich. Aku sarankan kamu jauhi saja Rei. Dan cari laki-laki yang lebih pantas untuk kamu cintai, karena levelmu sangat jauh dibawah Bella."
Tiba-tiba telinga Nicha menjadi panas dan darahnya mendidih, mendengar ucapan Prama. Seketika sebuah tamparan melayang ke wajah tampan Prama.
PLAK!
"Jaga ucapanmu Pram. Aku memang wanita miskin. Tapi bukan berarti kamu bisa merendahkanku seperti itu. Aku juga mempunyai harga diri!"
"Kamu! Kamu berani menamparku!?"
"Ya. Kenapa? Kamu pikir wanita seperti aku akan takut dengan laki-laki brengsek sepertimu? Kalian orang-orang hina! Menyebut diri kalian berkelas. Tapi sebenarnya kalian hanyalah sampah. Sampah yang tidak berguna, kalau bukan karena dukungan dari orang tua kalian. Kalian berkelas hanya karena terlahir dikeluarga kaya. Tapi, hati dan moral kalian buruk!"
"Sampah!? Kamu bilang, aku sampah? Dengar! Jika aku sampah, maka akan ku pastikan, kamu tidak bisa bekerja direstoranku lagi. Dan mulai besok, carilah pekerjaan lain yang lebih pantas untukmu. Oh, atau mintalah bantuan kepada Reinhard untuk mempekerjakanmu diperusahaannya. Semoga kamu beruntung... Aku pergi."
Prama bergegas keluar dari rumah Nicha. Sedangkan Nicha, masih terpaku setelah mendengar ucapan Prama.
Apa!? Jadi restoran Sara adalah restoran miliknya? Berarti aku sudah menampar wajah bosku sendiri? Aaarghh, Nichaaa! Kau membuat kesalahan besaaar!
Nicha berteriak sambil menjambak rambutnya. Ia benar-benar menyesal telah menampar Prama.
...***...
Dikediaman Reinhard.
Tampak, Rei sedang duduk disofa sambil membaca sebuah buku. Tiba-tiba, terdengar suara dari seseorang yang ia kenal.
"Aku pulang!" Renata berjalan masuk kedalam rumah.
"Cepat sekali kamu pulang... Ren." Ucapan Rei terhenti sejenak, ketika ia melihat sosok wanita yang ikut masuk bersama Renata.
"Ya Kak. Hari ini, hanya ada 1 mata kuliah saja. Oya, aku juga mengajak Nicha. Kami akan mengerjakan tugas bersama..."
Panjang lebar Renata menjelaskan kepada Rei. Namun, Rei tidak menghiraukan ucapan adiknya. Ia seperti terhipnotis oleh kehadiran Nicha.
"Kak! Kakak!" teriak Renata.
"Eh, iya Ren. Ada apa?" Rei menjadi gugup.
"Kakak tidak mendengarkanku tadi? Dan kenapa kakak melihat Nicha sampai seperti itu?"
"Oh, tidak. Tentu saja, kakak mendengarkanmu. Baiklah, kerjakanlah tugasmu bersama Nicha disini ya," ucap Rei sambil menunjuk tempat dimana ia duduk.
"Kenapa harus disini. Aku akan mengerjakan tugas kuliahku dikamarku saja... Ayo Nicha! Kita kekamarku."
Renata menarik tangan Nicha hendak mengajak kekamarnya. Namun, Rei segera menghentikan langkah kaki adiknya.
"Tunggu Ren. Kenapa harus dikamarmu. Disini lebih enak. Lihatlah, pencahayaan ruang tengah ini sangat bagus. Cocok untuk mengerjakan tugas kuliahmu. Kalau dikamarmu, cahayanya kurang bagus. Tidak baik untuk mata kalian. Nanti mata kalian akan cepat lelah, jika belajar diruangan yang kurang pencahayaannya. Benarkan?"
Rei mencari alasan agar Renata mau belajar diruang tengah bersama Nicha. Sehingga, ia bisa terus menatap wajah Nicha.
"Hemm... Benar juga sih. Kamu mau belajar disini saja Nich?" tanya Renata kepada Nicha.
__ADS_1
"Aku terserah padamu saja Ren."
"Ya sudah. Kita belajar disini saja. Sebentar, aku ambil minuman dulu didapur ya..."
Lalu, Renata bergegas kedapur. Sedangkan Nicha, masih terdiam sambil berdiri.
"Kenapa masih berdiri disitu. Ayo duduk, kamu tidak perlu sungkan disini Nich. Anggap saja, rumahmu sendiri," ucap Rei.
"I-iya Kak. Terima kasih." Nicha menjadi gugup.
"Mmm... Semalam, kenapa kamu tidak mengangkat teleponku Nich?"
"A-apa?" Nicha terkaget. Ia tidak menyangka Rei akan bertanya hal itu kepadanya.
"Semalam, aku meneleponmu. Karena, aku sudah menunggumu didepan restoran, tapi kamu tidak juga muncul. Aku takut, terjadi sesuatu denganmu."
"Ooh. Semalam, aku mungkin sudah tidur. Karena setibanya dirumah, aku sangat kelelahan dan mengantuk. Memangnya ada apa kamu meneleponku?"
Maaf Rei, aku terpaksa membohongimu. Batin Nicha.
"O begitu. Tidak apa-apa, aku hanya..."
Baru saja, Rei akan melanjutkan ucapannya. Tapi tiba-tiba, Renata datang dengan membawa beberapa minuman.
"Nah, ini minumannya sudah datang. Ayo diminum dulu Nich. Setelah itu, baru kita mengerjakan tugas."
Kemudian Nicha dan Renata meminum segelas jus. Lalu mereka mulai mengerjakan tugas kuliah mereka. Sementara Rei, tak henti-hentinya memandangi Nicha.
Dia memang cantik dan manis. Batin Rei.
"Selamat pagi!"
Seketika Rei, Renata dan Nicha menoleh kearah suara itu berasal. Dan terlihat, Bella telah berdiri dengan melemparkan senyuman manisnya.
"Bella!" pekik Rei.
"Pagi Kak Bella!" jawab Renata.
"Hai Ren. Kamu sedang dirumah hari ini?" ucap Bella sambil duduk disamping Rei.
"Iya Kak. Aku baru saja, selesai kuliah."
"Oh begitu rupanya... Hai Rei. Oh, kamu sedang baca buku apa?"
Lalu Bella melihat kearah sampul buku yang sedang dipegang oleh Rei.
"Wah, kamu suka baca novel ini juga? Aku juga suka."
"Sebenarnya, membaca novel bukanlah hobiku. Aku hanya membacanya untuk mengisi waktu luang saja."
"Oh, begitu..." ucap Bella sambil bergelayutan dilengan Rei.
"Eh, Bel. Kenapa kamu seperti ini. Tolong lepaskan pelukanmu. Apa kamu tidak malu dilihat oleh mereka."
Rei mengarahkan pandangan matanya kepada Renata dan Nicha, yang sedari tadi memerhatikan mereka.
__ADS_1
"Humm, kenapa harus malu. Kamu adalah calon suamiku kan? Jadi tidak apa-apa, kalau aku bermesraan dengan calon suamiku sendiri," ucap Bella manja.
Renata dan Nicha yang mendengar hal itu, menjadi tidak enak dan risih.
"Hemm, sebaiknya aku dan Nicha mengerjakan tugas kami dikamar saja. Silahkan lanjutkan kemesraan kalian ya. Kami permisi..."
Renata dan Nicha segera mengemasi barang-barang mereka dan berjalan menuju kamar Renata. Sedangkan Rei hanya bisa terdiam karena malu. Berbeda dengan Bella, yang tersenyum kegirangan, setelah kepergian Renata.
"Renata sangat pengertian sekali ya Rei?" ujar Bella. Lalu Rei hanya membalas tersenyum getir.
Didalam kamar Renata.
"Huh! Apa mereka tidak bisa menahan diri?" ujar Renata.
"Nich. Kamu melihatnya kan tadi?"
"I-iya Ren. Memangnya kenapa? Aku pikir itu hal yang wajar," ucap Nicha dengan lugunya.
"Apa!? Wajar?"
"I-iya Ren. Tapi, bukankah itu hal yang wajar dilakukan oleh sepasang kekasih?"
Mendengar hal itu. Lalu Renata menatap curiga kearah Nicha.
"Ke-kenapa kamu menatapku seperti itu?" Nicha menjadi gugup.
"Apakah kamu sering melakukan hal itu dengan seorang laki-laki?"
"A-apa maksudmu Ren? Laki-laki siapa?"
"Jujurlah padaku Nich. Apakah kamu sudah mempunyai pacar?"
"Kamu ini bicara apa? Memangnya, selama ini kamu melihatku berpacaran?"
"Ya mungkin saja. Kamu diam-diam berpacaran tanpa sepengetahuanku."
"Hhh... Waktuku terlalu berharga untuk hanya sekedar pacaran Ren."
"Hei! Jangan bicara seperti itu. Atau kau akan kehilangan masa mudamu sebelum kau menikmatinya."
"Hahahaha!" Nicha tertawa mendengar celotehan Renata.
"Hei, kenapa kamu tertawa. Aku serius..."
Lalu Nicha menyentil dahi Renata.
TIK!
"Nicha! Kenapa kamu menyentil dahiku," ucap Renata sambil mengusap dahinya.
"Kamu ini... Kenapa menasehatiku seperti itu. Seperti nenekku saja."
"Apa kamu bilang? Seperti nenekmu? Beraninya kau menyamakan aku dengan nenekmu. Sini kamu! Hei, jangan lari! Nicha!"
Lalu Nicha berlari menghindar dari Renata. Jadilah mereka berkejar-kejaran didalam kamar itu.
__ADS_1