
"Jadi, sejak saat itulah. Aku merasa, bahwa Kak Great begitu mencintai Kak Nicha. Dan setelah itu, aku mulai mencari tahu tentang Kak Nicha. Setelah aku melihat pribadi Kak Nicha, entah kenapa aku merasa, Kak Nicha adalah sosok wanita yang baik untuk kakakku."
"Tapi, bukankah Ranida juga wanita baik-baik dari keluarga terpandang. Pasti dia memiliki banyak kelebihan dari aku."
"Jujur saja, ya Kak. Aku sedikit kurang menyukai Kak Rani. Memang dia dari keluarga terpandang, tapi perilakunya agak kurang baik. Dia sering pergi ke klub malam dan baru pulang sampai pagi, itupun dalam keadaan mabuk. Dan parahnya lagi, aku pernah memergokinya sedang menghisap sebatang rokok dikamarnya."
"Apa...!? Apa benar seburuk itu?" tanya Nicha syok.
"Iya, Kak. Untuk apa aku berbohong."
"Lalu, bagaimana dengan orang tua kalian?"
"Papa dan Mama tidak mengetahui hal itu, karena mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing."
Nicha hanya bisa terdiam mencerna ucapan Preem dengan akal sehatnya. Tiba-tiba ponsel Preem bergetar, seketika ia menatap layar ponselnya.
What! Kenapa Mama menelepon? Gumam Preem.
"Ada apa, Preem?" tanya Nicha.
"Hmm... Ini Kak, Mamaku menelepon."
"Oh... Ya sudah. Dijawab saja."
"Iya, Kak," ucap Preem seraya berjalan menjauhi Nicha.
"Halo, Ma."
"Preem! Kau dimana? Kenapa sudah sore begini, kau masih belum pulang?"
"Iya, Ma. Sebentar lagi aku pulang. Sekarang aku sedang berada di rumah temanku."
"Sedang apa kau disana? Dan dimana rumah temanmu?"
"Di Nakhon Sawan. Temanku ini sangat cerdas, Ma. Dia selalu mendapatkan predikat terbaik dilaporan penilaian. Makanya aku kesini untuk belajar darinya mengenai tata cara masuk perguruan tinggi dan juga soal-soal ujian masuk nanti."
Preem sengaja merangkai cerita bohong. Berharap Mamanya akan mempercayainya.
"Apa!? Nakhon Sawan? Itu jauh sekali, Preem. Sepertinya, Mama belum pernah mengetahui temanmu yang tinggal di Nakhon Sawan."
"Mmm... Itu karena disini rumah orang tuanya, Ma. Dan saat bersekolah, dia tinggal bersama pamannya di Bangkok. Nah, sekarang dia sedang mengunjungi orang tuanya."
"Astaga, Preem... Ya sudah, kalau begitu Mama ingin bicara dengan temanmu itu."
Aduh, Mama ini membuat repot saja. Batin Preem.
"Hmm, saat ini temanku sedang berada ditoilet, Ma. Sepertinya agak lama. Sudah ya, Ma. Mama tidak perlu khawatir. Lagi pula, aku pergi bersama Kak Roni. Dan nanti jika urusanku telah selesai, aku janji akan segera pulang."
"Baiklah. Mama pegang ucapanmu. Jangan sampai kau salah gunakan kepercayaan Mama ya, Preem."
"Ya, Ma. Aku akan selalu ingat ucapan Mama. Ya sudah, Ma. Aku mau menyelesaikan belajarku lagi ya. Daaah, Mama."
Sepintas, Preem menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Huft... Untung aku bisa mendapatkan alasan yang bagus. Batin Preem sambil mengelus dadanya.
"Bagaimana Preem?"
"Oh, tidak apa-apa, Kak. Tapi sepertinya, aku harus segera pulang, agar Mama tidak curiga."
"Oh, begitu. Ya sudah, ayo aku antar kekamar Han untuk memanggil Roni."
Kemudian, mereka berdua keluar kamar menuju ke kamar Han.
TOK! TOK! TOK!
"Han... Boleh kakak masuk?" tanya Nicha sambil mengetuk pintu kamar Han.
"Ada apa, Kak?" tanya Han seraya membukakan pintu kamarnya.
Nicha menengok kedalam kamar. Didapati Great dan Roni sedang asyik bermain game dengan tangan yang sibuk mengutak ngatik stik game.
"Ckckck... Sepertinya kalian sedang asyik sekali," sindir Nicha.
KRIK... KRIK... KRIK...
Great dan Roni tidak menghiraukan ucapan Nicha yang sudah sangat gemas melihat mereka dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Kak... Kak Great, ada Kak Nicha," bisik Han sambil menggoyang-goyang bahu Great.
"Aaah, tunggu dulu Han. Jangan ganggu aku. Aku hampir akan mengalahkan Roni," tukas Great sambil terus menatap layar tv.
"Biar aku saja..." sahut Preem.
Seketika, Preem berjalan mendekati Great dan Roni, lalu menarik telinga kedua pria tersebut.
"Aduh... Adu-duh!" pekik Great dan Roni bersamaan.
"Preem, kenapa kau menarik telinga kami?" tanya Roni.
"Iya. Kau ini kenapa, Preem?" sahut Great.
"Kamu dan kakak terlalu sibuk bermain, sampai mengacuhkan kami," tandas Preem seraya melirik kearah Nicha.
"Eh... Ada kamu, sayang. Kenapa kamu berdiri saja disitu?" ujar Great dengan wajah takut.
"Aku sudah memanggil kalian tadi. Tapi, kalian tak bergeming dan tetap asyik dengan game kalian."
"Hehehe... Maaf ya, Nich. Tadi aku hampir akan mengalahkan Roni. Jadi, aku terlalu fokus dan tidak menyadari kehadiranmu."
"Baru saja kita menikah, dan kamu sudah bisa mengacuhkanku karena asyik bermain game?" sindir Nicha dengan mata melotot.
"Eh... Bukan begitu, Nich Aku hanya tidak mendengar panggilanmu tadi."
Nicha tidak membalas ucapan Great. Namun, wajahnya masih tampak kesal dengan bibir yang dimajukan.
"Baiklah... Aku berjanji tidak akan pernah mengacuhkanmu lagi. Hum? Maafkan aku ya," ucap Great sambil memelas dihadapan Nicha.
__ADS_1
"Ya, baiklah," jawab Nicha dengan tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kenapa kalian kesini?" tanya Roni.
"Aku kesini ingin mengajakmu kembali ke Bangkok, karena tadi Mamaku menelepon dan mengkhawatirkanku."
"Apa!? Mama meneleponmu? Lalu, apa yang kau katakan pada Mama?" tanya Great panik.
"Aku mengatakan, kalau aku sedang berkunjung kerumah teman karena ingin berdiskusi mengenai ujian masuk universitas."
"Huft... Ternyata kau pintar juga merangkai cerita bohong," sindir Great.
"Hei... Memangnya aku berbohong demi siapa? Hah! Harusnya kakak berterima kasih padaku. Kakak itu sangat beruntung mempunyai adik sepertiku."
"Ya, ya. Aku sangat berterima kasih padamu, wahai adikku sayang."
Mendengar ucapan kakaknya, Preem nampak sumringah.
"Ya sudah. Ayo kita pulang, Kak Ron," ajak Preem.
Kemudian Preem dan Roni berpamitan pada ibu Nat. Dan diantar oleh Great juga Nicha sampai kedepan rumah.
"Sampai jumpa lagi, Kak Nicha. Aku sangat senang, kau bisa menjadi kakak iparku."
"Ya, Preem. Aku juga sangat bahagia mempunyai adik ipar sepertimu."
"Kak Great, jaga Kak Nicha dengan baik. Jangan sampai Kak Great menyakiti Kak Nicha."
"Kau tenang saja, Preem. Aku akan menjaga bidadariku ini dengan baik," seloroh Great seraya memeluk bahu Nicha.
"Ya, aku percaya padamu, Kak. Baiklah, aku pergi dulu ya. Bahagia terus ya, untuk kalian."
"Ya, terima kasih Preem. Hati-hati dijalan ya," ucap Nicha.
Sepintas, Roni dan Preem masuk kedalam mobil dan tak lama mobilpun melaju meninggalkan Nicha dan Great.
"Teerak (Sayang), ayo kita kembali kerumah," ajak Great.
"Kenapa kamu bersikap manis seperti itu? Tidak seperti biasanya," ujar Nicha curiga.
"Eh... Memangnya salah, aku bersikap manis pada istriku sendiri?"
"Ya, tentu tidak. Tapi, aku masih belum terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini."
"Sebentar lagi, pasti kamu akan terbiasa dengan perlakuan romantisku padamu."
"Hoooy, aku hampir jatuh pingsan mendengarnya."
"Sudahlah, ayo kita masuk kerumah. Apa perlu aku menggendongmu?"
"Apa? Ti-tidak tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri," ujar Nicha seraya berjalan cepat meninggalkan Great.
"Hei, Nich! Kenapa kamu meninggalkan suamimu?" seloroh Great sambil tersenyum geli.
__ADS_1