
Setelah hampir 3 jam perjalanan. Akhirnya, mobil Great berhenti didepan sebuah jalan kecil.
"Rumahmu, masuk kedalam jalan kecil itu?" tanya Great sambil memandangi sekeliling jalan.
"Iya. Ayo turun."
Kemudian mereka berdua menyusuri jalan kecil tersebut. Dan sampailah, mereka didepan sebuah rumah nan asri yang terletak dipinggir sungai.
Nicha segera meraih tangan Great dan menggandengnya hendak masuk kedalam rumah.
"Ibu! Aku pulang.," ucap Nicha
Tak lama, keluarlah seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Nicha.
"Nicha! Kamu sudah pulang, Nak," ujar wanita tersebut seraya memeluk erat tubuh Nicha.
"Iya, Bu. Bagaimana keadaan ibu?" tanya Nicha sambil melepaskan pelukannya.
"Ibu baik-baik saja, sayang. Kenapa kau tidak memberitahu ibu terlebih dahulu, kalau kau akan pulang?"
Nicha hanya tersenyum mendengar pertanyaan ibunya.
Mmm... Siapa pria ini, Nich?" tanya wanita tersebut seraya melirik kearah Great.
"Ini, Great, Bu. Dia..."
Seletika, Great memotong ucapan Nicha.
"Sawadhi kab, Khun Meh (Halo, ibu)," sapa Great pada ibu tersebut.
Sepintas, Nicha dan ibunya saling berpandangan.
"Sawadhi kha... (Halo...)" sahut ibu tersebut bingung.
"Great. Namaku Great, Bu," sambung Great.
"Oh ya. Saya ibunya Nicha. Nateerin Thanachart. Panggil saja ibu Nat."
"Baik, Bu."
"Bagaimana kalau kita mengobrol didalam. Nicha, ajak Great masuk ya," ujar ibu Nat.
"Baik, Bu... Great, ayo masuk!" perintah Nicha.
Kemudian mereka masuk kedalam rumah, lalu duduk berdampingan disofa.
"Jadi, bagaimana keadaanmu, Nich? Apa kuliahmu telah selesai?"
"Sudah, Bu. Hanya tinggal menunggu ijazahku keluar."
"Syukurlah. Lalu, apa rencanamu setelah ini?"
"Kemungkinan, aku akan..."
Lagi-lagi Great menyela ucapan Nicha.
"Kami akan segera melangsungkan pernikahan, Bu," sahut Great.
Sontak, kedua mata ibu Nat membulat. Begitu juga dengan Nicha. Ia langsung menepuk paha Great.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" bisik Nicha pada Great.
"Memangnya kenapa? Bukankah, tujuan kita kesini untuk meminta restu dari ibumu?" jawab Great dengan lugunya.
"Iya, tapi tidak secepat itu. Kita bisa bicarakan nanti," gumam Nicha dengan terus melotot kearah Great.
__ADS_1
"Ehem... Sbenarnya ada apa ini? Kenapa kalian berbisik?" tanya ibu Nat bingung.
"Begini, Bu. Kami kesini, ingin meminta restu dari ibu. Karena kami ingin segera menikah," jelas Great.
"A-apa? Menikah?"
Ibu Nat tampak sangat terkejut dengan ucapan Great. Sementara Nicha hanya bisa menunduk terdiam.
"Nicha... Bisa kamu jelaskan pada ibu, apa yang sebenarnya terjadi?"
Lalu dengan perlahan, Nicha menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dan Great kepada ibunya.
"Astaga... Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya pada ibu, Nak?"
"Maafkan Nicha, Bu. Nicha tidak bisa menceritakan hal ini pada ibu, karena Nicha tidak ingin ibu menjadi khawatir."
"Lalu, bagaimana dengan orang tua nak Great? Kenapa tidak berkunjung kesini juga?"
"Ma-maafkan saya, Bu. Kemungkinan, orang tua saya tidak bisa menghadiri pernikahan ini, karena sedang berada diluar negeri. Tapi, adik saya bisa menjadi saksi dipernikahan nanti."
Ada sedikit guratan kekecewaan pada wajah ibu Nat, kala mendengar ucapan Great. Tapi, beliau berusaha untuk menerima alasan Great.
"Baiklah, kalau begitu. Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
"Secepatnya, Bu. Kalau bisa sore ini," seru Great dengan semangat 45.
"Hah!? Eh, maaf nak Great. Bukankah, itu terlalu cepat?"
"Oh, begitu ya," jawab Great lemas.
Nicha hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya itu. Keinginan Great untuk menikahi Nicha memang sudah di ubun-ubun. Karena, memang rasa cintanya telah mencapai puncak dan hampir saja meledak jika tidak segera tersalurkan.
"Begini saja. Lebih baik, sekarang kalian istirahat terlebih dahulu. Karena, perjalanan kesini sangat jauh. Pastinya, kalian lelah bukan? Dan nanti sore, kalian boleh pergi ke Khet (Kantor Administrasi Sipil) untuk berkonsultasi mengenai pernikahan. Bagaimana?"
Kemudian Nicha bergegas menaruh barang-barang dikamar, meninggalkan Great dan ibunya diruang tengah.
"Kalau boleh tahu, siapa nama kedua orang tua, nak Great? Dan dimana nak Great tinggal?" tanya ibu Nat.
"Papa saya bernama Thagoon. Dan Mama saya Chotika. Saya tinggal di Bangkok."
Seketika, raut wajah ibu Nat berubah muram seperti memikirkan sesuatu.
"Ibu, apa ibu baik-baik saja?"
"Hah? Ibu tidak apa-apa. Hanya saja, nama Mamamu mengingatkan ibu dengan teman lama ibu."
"Memangnya, teman ibu bernama Chotika juga?"
"Ya. Chotika Wangsana."
"Cho-chotika Wangsana!?" pekik Great syok.
"Iya. Namanya Chotika Wangsana. Apa nak Great mengenal nama itu?"
"Itu adalah nama asli Mamaku, sebelum memakai marga keluarga Papaku."
"Benarkah? Apa ibu bisa melihat foto Mamamu?" ijar ibu Nat antusias.
Kemudian, Great mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menunjukkan foto Mamanya kepada ibu Nat.
"Ternyata benar. Mamamu adalah teman lama ibu."
Lalu, kedua mata ibu Nat dan Great saling berpandangan.
"Bu, dimana Han?" tanya Nicha membuyarkan suasana.
__ADS_1
"Hah? Oh, itu... Han sedang pergi kerumah temannya untuk urusan sekolah."
"Oh, begitu."
"Oya, pasti kalian sudah lapar kan? Ibu akan memasakkan makan siang untuk kita makan bersama. Tunggu ya, nak Great."
"Biar aku bantu, Bu," sahut Nicha.
Lalu, Nicha dan ibunya bersama-sama menuju dapur.
!Selesai memasak, Nicha dan ibunya serta Great makan siang bersama dimeja makan. Mereka makan dengan khusyu' tanpa ada seorangpun yang berbicara. Dan setelah ketiga piring mereka telah kosong, Nicha berinisiatif membawa piring-piring kotor tersebut ke wastafel untuk dicuci.
"Nak Great, sebaiknya istirahat dulu. Ibu lihat, nak Great tampak lelah. Dan nanti sore, barulah kalian pergi ke Khet untuk menanyakan perihal tata cara pernikahan."
"Baik, Bu."
Kemudian, ibu Nat beranjak dari kursinya dan melangkah menuju kamarnya.
Setelah mencuci semua piring kotor di wastafel, Nicha berjalan menghampiri Great yang masih terduduk di kursi meja makan.
"Kemana ibu, Great?" tanya Nicha.
"Oh... Sepertinya beliau pergi ke kamarnya."
"Hei, kenapa kamu melamun? Apa ada sesuatu yang dipikirkan?"
Mendengar pertanyaan Nicha, langsung saja Great mendapatkan ide untuk menggodanya. Seketika, Great menarik tangan Nicha dan membuat Nicha terjatuh dipangkuannya.
"Apa kamu ingin tahu, apa yang sedang aku pikirkan sekarang?" ujar Great dengan tatapan nakalnya.
"Hah!? Hemm, itu... Tidak jadi. Aku tidak lagi ingin mengetahuinya. Sekarang, aku ingin pergi ke kamarku. Minggirlah!"
Nicha berusaha bangkit dari pangkuan Great. Tapi, tidak semudah itu Great akan melepaskannya.
"Kenapa aku harus minggir. Apa kamu tidak akan mengajak calon suamimu ini, untuk beristirahat bersamamu? Hum?"
"Hish! Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku ingin bangun. Lepaskan aku Great."
Nicha terus memberontak dan tak sengaja tangannya menyentuh bagian bawah perut Great.
"Eh, apa ini?" tanya Nicha dengan polosnya sambil terus meremas sesuatu yang terasa kenyal dan semakin mengeras.
"Auch...! Apa yang sedang kamu lakukan?" pekik Great seraya melepaskan Nicha dari pangkuannya.
"Eh... Ada apa? Kenapa wajahmu memerah?" ujar Nicha keheranan.
"Haish... Dasar gadis bodoh! Apa kamu tidak tahu sesuatu yang sudah kamu pegang tadi?"
"Loh, memangnya apa?" kata Nicha semakin bingung.
"Apa katamu!? Jadi, kamu benar-benar ingin melihatnya. Baiklah, akan aku perlihatkan padamu."
Great segera bangkit dari duduknya dan hendak membuka resleting celananya.
"E-eh, kamu mau apa?"
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk melihat samuraiku, ya kan?" goda Great sambil terus mendekati Nicha.
"Ti-tidak... Bukan itu maksudku. Aku benar-benar tidak tahu, jika sesuatu yang aku pegang tadi adalah samuraimu. Aaaa, aku tidak ingin melihatnya!"
Nicha berlari ketakutan sambil berteriak.
"Hei, jangan kabur kamu, Nich. Kamu harus bertanggung jawab, karena sudah membangunkan ular kobraku."
Dengan wajah yang menyeringai seperti singa yang hendak menangkap mangsanya, Great berlari mengejar Nicha.
__ADS_1