Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 26


__ADS_3

Di apartemen Great.


"Oh... Kamu masih mengingatnya Ran? Aku saja hampir lupa. Hehehe." Great menjadi gugup, dan keringat dingin mulai membasahi dahi dan punggungnya.


"Tentu saja aku masih mengingatnya. Dan sekarang waktu yang tepat sayang. Karena disini tidak ada siapapun selain kita berdua. Apa kamu tidak mau menikmatinya bersamaku? Aku akan memuaskanmu Great."


Ranida memulai aksinya. Perlahan ia mendekati wajah Great, dengan salah satu tangannya membuka kancing atas bajunya. Sehingga terlihatlah belahan dadanya. Ranida berpikir, Great akan terangsang setelah melihat bentuk dadanya yang padat dan kencang.


Berbeda dengan Great, ia benar-benar semakin ketakutan. Pikirannya seakan buntu. Dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dan disaat yang bersamaan, terdengar suara bel berbunyi.


TING, TONG. TING, TONG.


Great merasa sedikit lega mendengar suara bel tersebut.


"Mmm, tunggu Rani. Sepertinya ada tamu diluar. Aku akan membuka pintu sebentar."


"Sudahlah Great biarkan saja. Bisakah, kita mengesampingkan hal lain dulu. Aku sangat ingin bercinta denganmu sayang..." Ranida sudah tidak bisa menahan hasratnya terhadap Great.


Dan tak lama kemudian, ponsel Great berdering tanda panggilan masuk.


"Tu-tunggu Ran. Aku harus mengangkat teleponku sebentar..."


"Huft. Baiklah." Ranida mendengus kesal.


"Halo Jac. Ya, ada apa? Oh, baiklah. Aku akan segera membuka pintunya," ucap Great seraya menutup teleponnya.


"Rani, aku kedatangan seorang pegawaiku yang ingin menyampaikan dokumen penting. Rapikanlah pakaianmu segera. Karena, dia sudah menunggu didepan pintu."


"Tapi Great, bagaimana denganku?" ucap Ranida manja.


"Maaf Rani, sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat."


Great bergegas membuka pintu apartemennya.


"Oh, maaf Tuan. Saya telah mengganggu waktu anda," ucap Jacob ketika melihat keberadaan Ranida di apartemen Great.


"Tidak apa-apa Jac. Ayo masuk."


"Tidak perlu Tuan. Aku hanya akan menyerahkan dokumen ini..." Jacob menyerahkan sebuah dokumen kepada Great.


"Kenapa terburu-buru? Bukankah kita akan membicarakan tentang konsep restoran Sara untuk departemen store yang baru?" ucap Great kepada Jacob seraya mengedipkan matanya. Jacob yang kebingungan, hanya bisa mengangguk pasrah.


"Bagus. Ayo masuk."


Sedangkan Ranida hanya terdiam sambil memainkan ponselnya.


"Mmm, Rani. Apa kamu akan menunggu disini?" tanya Great.


"Apa?"


"Aku akan membicarakan soal pekerjaan dengan Jac. Mungkin agak lama. Apa kamu tetap akan menunggu disini?"


"Tidak apa-apa Great. Aku akan menunggu disini sampai urusanmu dengan Jac selesai," ucap Ranida sambil tersenyum.


Apa? Kenapa dia masih ingin tetap tinggal? Batin Great.


Sejurus kemudian, Great dan Jacob berjalan menuju ruang kerja Great.


Didalam ruang kerja Great.


"Ada apa Tuan? Sepertinya anda merasa tidak nyaman?"


"Jangan bertanya seperti itu Jac. Bukankah, kau sudah tahu jawabannya."


Jac tersenyum geli melihat tingkah bosnya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita mulai bekerja."


Lalu Great membuka beberapa halaman pada dokumen yang telah diberikan oleh Jacob.


"Jadi, konsep restoran akan dibuat seperti suasana di Jepang dan Cina?


"Iya Tuan. Karena menurut pengamatan saya, mayoritas penghuni residen disekitar lingkungan proyek adalah warga Cina dan Jepang. Apalagi saat ini, makanan Cina dan Jepang sedang digandrungi banyak kalangan dinegara kita."


Great tampak berpikir sejenak.


"Bagaimana dengan Korea? Makanan dari negari ginseng pun tak kalah digandrungi oleh semua kalangan, terlebih kaum muda."


"Hemm, aku pikir juga begitu Tuan."


"Baiklah. Kita akan membuat konsep restoran dengan tema 3 negara. Jepang, Cina dan Korea. Konsep Jepang dan Cina mencakup kalangan keluarga dan konsep Korea kita targetkan untuk kalangan muda."


"Itu ide yang briliant Tuan."


"Dan 1 lagi. Kita bisa menghadirkan live music direstoran Sara. Terutama untuk lagu, Cina, Jepang dan Korea."


"Pemikiran anda sungguh hebat Tuan."


"Baiklah. Setelah ini, kau bisa mengagendakan rapat dengan pihak-pihak terkait untuk membicarakan hal ini."


"Baik Tuan."


...***...


Ranida sedang menunggu Great sambil memainkan ponselnya disofa. Tak lama kemudian, ponsel Ranida bergetar.


"Halo. Ya Ma..."


"Ranida, kau dimana?"


"Aku sedang berada di apartemen Great. Ada apa Ma?"


"Menungguku? Untuk apa?"


"Haish, kau ini... Hari ini, kita akan menghadiri acara resepsi pernikahan rekan bisnis Papamu. Apa kau lupa?"


"Astaga... Aku kan sudah bilang, tidak akan ikut. Jika Mama sama Papa mau pergi, berangkat saja. Aku tidak akan pergi."


"Kau ini! Bagaimana, Mama dan Papa bisa pergi tanpa dirimu?"


"Katakan saja, aku sedang ada urusan, jadi tidak bisa datang."


"Dasar kau ini! Selalu saja bisa mencari alasan. Pokoknya Mama tidak mau tahu, kau harus pulang sekarang. Atau, kau tidak bisa lagi menginjakkan kakimu dirumah untuk selamanya!"


Mama Darika benar-benar keaal dengan kelakuan anaknya.


"Apa!? Maksud Mama, Mama mau mengusirku?"


"Ya, mau bagaimana lagi..."


"Haish... Ya baiklah, aku akan pulang."


"Bagus kalau begitu. Mama akan menunggumu."


Sejurus kemudian, Ranida menutup teleponnya.


Huh! Kenapa aku hatus ikut pergi ke acara itu. Hemm, Great sepertinya masih belum selesai. Sebaiknya aku tidak mengganggunya. Batin Ranida.


Dan tanpa berpamitan, Ranida bergegas keluar dari apartemen Great.


Didalam ruang kerja Great.

__ADS_1


Great tampak melirik jam tangannya.


Apakah dia masih menunggu diruang tengah? Tapi aku juga tidak bisa menahan Jac lebih lama lagi disini.


"Tuan... Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Jac ketika melihat Great yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa Jac," ucap Great seraya tersenyum kepada Jac.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan kembali ke restoran. Permisi Tuan..." Jac membungkukkan badannya seraya melangkah keluar.


Tapi belum sempat Jac membuka pintu, langkahnya segera dihentikan oleh Great.


"Tunggu dulu Jac!"


Jac terkejut dan berbalik menatap Great.


"Ada apa Tuan?" tanya Jac bingung.


Dengan segera Great membuka pintu ruang kerjanya perlahan. Ia hendak mengintip ruang tengah untuk memastikan keberadaan Ranida.


Oh. Dia tidak ada disana... Gumam Great.


"Ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?"


"Oh... Tidak ada Jac. Baiklah, kau boleh pergi sekarang."


"Baik Tuan."


Jac bergegas keluar dari apartemen Great. Sementara Great, berkeliaran disekitar ruangan apartemennya, mencari keberadaan Ranida.


Apa dia sudah pergi? Batin Great.


Tak lama kemudian, ponsel Great bergetar, tanda pesan masuk.


Ranida:


[Maaf Great. Aku harus segera pulang, karena ada urusan penting. Aku tidak sempat berpamitan kepadamu, karena aku takut mengganggu urusanmu dengan Jac.]


Great:


[Oh, begitu. Baiklah, tidak apa-apa Ran.]


Ranida:


[Tapi aku berjanji, dilain kesempatan, aku akan melanjutkan urusan kita yang belum selesai. 🙂]


Apa!? Dia benar-benar tidak pernah menyerah untuk merenggut keperjakaanku. Batin Great.


Great:


[Tidak perlu terburu-buru sayang. Kita nikmati saja saat ini dengan santai. Lagi pula, setelah menikah nanti, kamu akan memilikiku seutuhnya.]


Ranida:


[Tapi aku tidak bisa menunggu sampai kita menikah. Aku sudah tidak sabar untuk bercinta denganmu Great. Kecuali, kamu memajukan pernikahan kita.]


Astaga. Wanita ini benar-benar... Batin Great.


Great:


[Kita lihat saja nanti ya sayang. Semoga pekerjaanku bisa selesai lebih cepat.]


Great memberikan jawaban sekenanya. Karena, dia juga tidak bisa menyakiti perasaan Ranida saat itu. Walaupun, hatinya terus memberontak.


Ranida:

__ADS_1


[Baiklah Great. Aku akan menunggu saat itu.]


__ADS_2