Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 4


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.


"Ah. I-iya. Aku tidak apa-apa."


Nicha menatap laki-laki itu agak lama. Tapi ia tersadar bahwa ia berada diatas tubuh sang laki-laki. Dan langsung saja, Nicha bangkit berdiri.


Setelah Nicha bangkit, lalu laki-laki itu pun berusaha berdiri juga. Namun, kepalanya terasa agak pusing dan pelipis kanannya mengeluarkan darah.


"Ya ampun! Anda terluka. Coba sini saya lihat..." Nicha berusaha melihat luka dipelipis laki-laki itu.


"Mai pen rai (Tidak apa-apa). Hanya luka kecil."


"Pasti tadi kepala anda terbentur ketika menyelamatkan saya. Tunggu disini sebentar, saya akan membelikan obat untuk anda..."


Nicha segera berlari mencarikan obat untuk laki-laki itu. Setelah mendapatkan obatnya, ia segera kembali untuk menemui laki-laki tersebut.


"Sini! Biar saya bersihkan dulu lukamu..."


Nicha duduk disamping laki-laki itu sambil membersihkan luka laki-laki itu dengan lembut.


"Mmm, apa kamu tidak mengenaliku?" tanya laki-laki itu.


"Apa?" tanya Nicha bingung.


"Apa kamu tidak mengenalku?" tanya laki-laki itu lagi.


Sesaat Nicha berhenti membersihkan luka sang laki-laki. Dan berpikir sejenak untuk mengingat sesuatu. Dan akhirnya ia mengingat wajah laki-laki itu.


"Astaga! Anda adalah kakak Renata bukan?"


"Ya benar. Ingatanmu tajam juga." Laki-laki itu tersenyum.


"Kho thod kha (Maaf), saya tidak terlalu memperhatikan wajah anda. Terima kasih banyak telah menyelamatkan saya."


"Ya sama-sama. Kamu akan berangkat kuliah?"


"Iya... Oya, saya hampir terlambat." Nicha melirik jam tangannya.


"Kho thod (Maaf). Sepertinya saya harus pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih." Nicha langsung menaruh plastik obat diatas kursi halte dan hendak bergegas pergi. Namun, dengan cepat laki-laki itu menahan tangan Nicha.


"Bagaimana jika aku antar?"


Nicha merasa bingung. Tapi ia juga tidak bisa menolak tawaran laki-laki itu, karena ia memang sedang terburu-buru. Dan jadilah, Nicha diantar kuliah oleh laki-laki itu.


Selama perjalanan menuju ke kampusnya. Nicha hanya terdiam dan menjadi gugup. Ini kali pertama, ia naik mobil bersama seorang laki-laki.


"Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?"


"Tanicha. Tapi biasa dipanggil Nicha."


"Oh, Nicha. Aku Reinhard. Panggil saja aku Rei."


"Iya Kak Rei," jawab Nicha tersipu malu.


"Oh ya. Apakah kamu mempunyai musuh?"


"Mmm, sepertinya tidak ada. Selama ini, aku selalu berusaha berbuat baik kepada semua orang. Memang kenapa Kak?"


"Ah, tidak. Aku sedang berpikir, mungkin ada orang yang tidak menyukaimu. Karena aku merasa, kejadian tadi seperti disengaja..."


"Maksud Kakak apa?"


"Maaf Nich. Tapi mungkin ini hanya perasaanku saja. Jadi lain kali, aku harap kamu harus lebih berhati-hati lagi ya."


Nicha terdiam dan mencoba mencerna ucapan Rei. Ia berpikir, apakah benar ada orang yang tidak menyukainya. Kalau iya, tapi siapa? Dan kenapa orang itu membencinya?


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Rei telah tiba dikampus Nicha.


"Khob khun kha P' Rei (Terima kasih Kak Rei). Telah mengantarkanku."


"Mai pen rai (Sama-sama). Tidak perlu sungkan. Oya, bisakah untuk lain kali, kamu memanggilku Rei saja. Humm?"

__ADS_1


Nicha terdiam sesaat lalu mengangguk dan tersenyum.


"Gadis manis..." Rei tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut Nicha.


Sontak saja,. Nicha menjadi gugup. Ia takut ada temannya yang melihat adegan tadi.


"Kak Rei. Eh, maaf Rei. Aku permisi dulu..." Nicha segera berjalan cepat meninggalkan Rei yang masih tersenyum melihat tingkah Nicha.


...***...


Dikediaman Reinhard.


"Cepat sekali kau kembali Rei?" tanya Papa Mark kepada anaknya.


"Iya Pa. Ada dokumen yang tertinggal. Aku akan segera kembali ke kantor setelah mengambil dokumen itu..."


"Jadi kapan kau bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan keluarga Bella?"


Langkah kaki Rei terhenti ketika mendengar pertanyaan Papanya.


"Aku belum tahu Pa. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Cuaca ekstrem yang sering terjadi, membuat area tambang menjadi tidak stabil. Jadi aku harus bolak-balik mengecek kesana."


"Papa mengerti pekerjaanmu sangat penting tapi pertemuan dengan keluarga Bella jauh lebih penting. Papa tidak mau tahu, akhir pekan ini kau harus meluangkan waktumu untuk bertemu dengan keluarga Bella."


"Baik Pa," jawab Rei dengan lemas.


...***...


Dikediaman Nicha.


Nicha baru saja tiba dirumahnya setelah seharian berkuliah. Ia mengambil kunci pintu rumahnya dari dalam pot yang ada didepan pintu.


CEKLEK!


Nicha membuka pintu rumahnya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Dia sudah pergi..."


"Astaga! Apa ini?"


Dapurnya kini, telah dihiasi oleh barang-barang mewah. Seperti lemari es, mesin cuci, oven, dan kompor listrik.


"Si-siapa yang membeli ini semua?"


Lalu ia membuka lemari esnya, dan terlihatlah makanan dan minuman yang sudah tersusun rapi didalam lemari es.


Nicha benar-benar terkejut sekaligus bahagia. Bagaimana tidak? Sebelumnya, didapur hanya ada rak piring dan kompor gas yang biasa menemaninya memasak. Ia juga tidak pernah berbelanja makanan sebagai persediaan. Biasanya, ia hanya berbelanja untuk kebutuhan sehari saja. Makanya ketika malam hari, terkadang ia merasa lapar karena makanan didapur sudah habis. Tapi sekarang, ia tidak perlu merasa kelaparan lagi, karena lemari esnya sudah penuh dengan makanan.


Setelah puas menikmati pemandangan dapurnya. Nicha kembali ke ruang tengah dengan membawa beberapa cemilan dan minuman.


Ia duduk disofa, hendak menonton televisi. Tapi ia merasa ada yang berbeda dengan televisinya.


"Kok, kayaknya ada yang beda ya?" Nicha berpikir sejenak.


"OMG! Tv ku. Kenapa berubah menjadi besar begini?"


Hari itu menjadi shocking day bagi Nicha. Keadaan rumahnya menjadi berubah drastis dengan banyaknya barang-barang mewah yang terpajang indah didalam rumahnya.


"Aku harus cari tahu, siapa yang sudah menaruh barang-barang ini dirumahku. Tapi untuk saat ini, lebih baik aku bersantai dulu, sambil menikmati ini semua. Oh my God. Thanks to blessing me. Nicha, kamu memang wanita yang beruntung. Hummm!"


Nicha tersenyum lebar sambil melahap cemilannya.


...***...


Di Sara Restoran.


Malam ini adalah malam kedua Nicha bekerja di Sara Restoran. Seperti biasa, ia bekerja dengan sangat giat dan bersemangat. Dan tiba-tiba, terdengar suara pelanggan memanggilnya.


"Pelayan!"


Setelah mendengar panggilan itu, Nicha bergegas menghampiri pelanggan tersebut.

__ADS_1


"Anda mau pesan apa Tuan?"


"Saya pesan secangkir cappucino dan sandwich..."


Dengan cekatan, Nicha menulis pesanan pelanggan tersebut. Disaat yang bersamaan, pelanggan tersebut menoleh kearah Nicha. Dan ternyata...


"Loh, kamu!"


"Tuan!"


Kedua orang tersebut saling memandang dengan mata terbelalak.


"Kamu bekerja disini?"


"Iya. Sepertinya, anda sudah lebih baik sekarang. Aku permisi dulu."


Nicha kembali ke belakang untuk memproses pesanan pelanggan tersebut. Sementara, pelanggan tadi terlihat bingung.


Tak berapa lama, Nicha kembali dengan membawa pesanan pelanggan tadi. Tapi tak disangka, ketika Nicha akan menaruh cangkir cappucino diatas meja, tiba-tiba tangan pelanggan itu bergerak sehingga menyenggol cangkir yang masih dipegang oleh Nicha. Alhasil, cangkir tersebut terjatuh dan pecah.


PRANG!


"Auwh!"


"Eh, maaf-maaf. Aku tidak sengaja," ucap pelanggan itu sambil menengok kebawah.


Nicha langsung berusaha membersihkan pecahan cangkir tersebut. Ia sangat ketakutan akan mendapat teguran dari manajernya.


"Ada apa ini!?" Seorang laki-laki paruh baya menghampiri Nicha.


"Maaf Tuan. Saya menjatuhkan sebuah cangkir dan pecah," ucap Nicha sambil menunduk ketakutan.


"Bukan dia yang salah, tapi saya yang telah menyenggol cangkir itu hingga terjatuh," ucap pelanggan tersebut.


"Oh, maaf Tuan." Laki-laki paruh baya itu membungkukkan badannya kepada pelanggan tersebut.


"Sudahlah Jac. Tidak perlu bersikap formal begitu. Biasa saja," bisik pelanggan tersebut kepada laki-laki paruh baya itu.


Setelah mendengar bisikan pelanggan itu. Laki-laki paruh baya tersebut kembali menegakkan badannya.


"Baiklah, aku akan mengganti harga dari cangkir yang pecah ini..." Pelanggan tersebut berusaha mengambil uang dari dompetnya.


"Tidak usah Tuan. Biar aku saja yang mengganti kerugiannya," cegah Nicha.


"Tidak apa-apa. Ini adalah salahku. Kamu tidak perlu mengganti rugi..."


Lalu pelanggan tersebut memberikan beberapa lembar uang kepada laki-laki paruh baya tersebut. Laki-laki paruh baya itu, tampak sungkan menerima uang dari pelanggan tersebut. Tapi pelanggan tersebut, terus memaksa agar uangnya diterima.


"Baiklah Nicha. Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati. Jika terjadi seperti ini lagi, aku tidak akan segan-segan untuk memotong gajimu."


"Baik Manajer. Saya akan lebih berhati-hati lagi."


"Terima kasih Tuan." Nicha membungkukkan badannya kearah pelanggan tersebut. Lalu Nicha, berjalan kebelakang dengan membawa sisa-sisa pecahan cangkir tadi.


"Lain kali, kau tidak perlu bersikap formal seperti tadi Jac. Karena aku tidak suka, jika pegawai disini menjadi sungkan, karena mengetahui jati diriku."


"Baik Tuan. Tapi kenapa anda tidak memberitahuku, jika anda akan kesini?"


"Aku hanya ingin sendiri saat ini."


"Baiklah. Saya permisi dulu."


...***...


Figuran Cast.



Reinhard Sangkapan


__ADS_1



__ADS_2