
Dikediaman Reinhard.
Didalam kamarnya, tampak Reinhard sedang berbaring diatas kasurnya dengan menatap langit-langit kamar.
Ternyata, kamu adalah kekasih Great. Kamu pasti sangat bahagia menjadi kekasih dari seorang pengusaha muda seperti Great. Tapi, kenapa hatiku masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Walaupun, aku sudah dijodohkan oleh wanita lain. Tapi kenapa aku masih selalu ingin bersamamu, Nich. Dan aku selalu merasa nyaman ketika berada didekatmu. Apa kamu benar-benar telah melupakan kejadian itu? Apa aku sama sekali tidak ada dalam memori dan hatimu? Batin Reinhard.
Tapi tiba-tiba, seperti ada yang mengganjal dalam benak Rei.
Tunggu, apakah benar mereka mempunyai hubungan? Kalau memang benar, lalu kenapa Nicha masih harus bekerja untuk menutupi biaya hidupnya dan kenapa, dia harus bekerja di restoran milik kekasihnya? Itu hal yang aneh. Atau, Great sengaja membohongiku tentang hubungan mereka? Tapi kenapa?
Seketika, wajah Reinhard menjadi gelisah. Ia merasa harus mencari tahu jawaban dari semua pertanyaannya.
...***...
Keesokan harinya.
Nicha telah bangun dari tidurnya. Tiba-tiba, ia teringat kepada Great yang tertidur disofa. Langsung saja, ia keluar dari kamarnya. Tapi, betapa terkejutnya ia, ketika mendapati Great tidak berada diatas sofa. Lalu, ia mencari ke berbagai penjuru rumahnya. Tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Great.
Kemana orang itu? Apa dia sudah pergi? Tapi kenapa pagi-pagi sekali? Batin Nicha.
Tak berapa lama, ponsel Nicha berdering. Nicha langsung meraih ponselnya. Dan mendapati nomor yang tak dia kenal sedang melakukan panggilan.
Nomor siapa ini? Ujar Nicha.
Sejurus kemudian, ia mengangkat telepon tersebut.
("Halo!"
("Selamat pagi gadis bodoh."
Nicha tersentak mendengar suara dari ponselnya. Tapi dengan cepat, ia segera mengetahui, suara siapa itu.
Dasar pria brengsek! Gumam Nicha pelan.
("Hei! Kenapa kamu terdiam. Apa kamu sedang membayangkan wajahku yang tampan?"
("Cih! Lebih baik aku membayangkan wajah seekor monyet daripada harus membayangkan wajahmu. Dasar orang gila."
("Apa!? Beraninya kamu berkata begitu. Hei! Kamu lupa. Dengan siapa kamu bicara? Atau kamu sudah bosan bekerja direstoranku? Hah!"
Nicha langsung terperanjat. Ia benar-benar lupa, bahwa pria yang sedang meneleponnya saat ini, adalah bosnya sendiri. Segera ia meremas mulutnya yang selalu lepas kontrol ketika berbicara dengan Great.
Argh! Kamu bodoh Nicha. Kenapa kamu berbicara seperti itu. Habislah aku, kalau dia benar-benar marah dan langsung memecatku! Pikir Nicha.
Lalu, segera Nicha meralat ucapannya.
("Eh, maaf-maaf Tuan. Tadi aku hanya asal bicara. Maaf ya."
("Kamu selalu seperti itu. Kamu pikir, aku tipe orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, hanya dengan minta maaf?"
("Aku mohon jangan marah Tuan. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan melakukan apa saja, untuk mendapatkan maaf darimu."
__ADS_1
Nicha melembutkan suaranya, agar Great mau memaafkannya. Ia sangat ketakutan, Great marah dan akan benar-benar memecatnya.
("Baiklah, kalau kamu memaksa. Aku akan memaafkanmu, jika kamu memenuhi syarat dariku."
("Apa itu Tuan? Apapun yang Tuan inginkan, akan aku lakukan."
("Aku akan memikirkannya dulu, syarat apa yang benar-benar cocok untukmu."
Apa? Jangan sampai dia memikirkan syarat yang sulit untuk aku penuhi. Bisa mati aku, jika dia memberikan syarat yang aneh-aneh kepadaku. Batin Nicha.
("Baiklah Tuan. Tapi aku mohon, jangan berikan aku syarat yang sulit ya. Hehehe."
("Tenang saja. Syarat ini akan sangat mudah kamu lakukan, karena kamu pun akan menyukainya."
Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan? Batin Nicha.
("Halo, Nicha. Kamu masih hidup kan?"
("Hah!? I-iya Tuan. Tentu saja aku masih hidup. Apa anda menginginkanku agar cepat mati? Huh!"
("Hahaha. Baiklah, bersiap-siaplah untuk memenuhi syarat dariku nanti malam ya."
Kemudian, Great menutup teleponnya. Nicha hanya terdiam. Ia membayangkan, apa yang akan terjadi nanti malam. Dan seketika, tubuhnya bergidik ketakutan.
Tidak mungkin. Tidak mungkin itu terjadi. Hei Nicha! Apa yang sedang kamu pikirkan? Itu sangat konyol. Lagipula, memangnya Great tertarik kepadamu? Ayolah Nicha! Berpikirlah lebih realistis.
Nicha berbicara pada dirinya sendiri.
Oh, aku tahu. Pasti dia akan menyuruhku untuk memasak makanan untuknya, seperti waktu itu. Aha! Kamu sangat cerdas Nicha. Sesuatu apa yang mudah dan paling aku sukai kecuali memasak. Yes! Aku tidak perlu khawatir lagi untuk nanti malam. Hahaha
...***...
Dikediaman Reinhard.
Reinhard beserta keluarganya, tampak sedang makan pagi bersama.
"Kau tidak ke kantor hari ini Rei?" tanya Papa Mark.
"Mungkin agak siang Pa. Aku hanya akan mengecek laporan keuangan dan menandatangani beberapa dokumen."
"Oh, begitu. Jika kau ada waktu luang, pergilah bersama Bella untuk mengajaknya jalan-jalan. Kalian harus sesering mungkin menghabiskan waktu bersama. Agar pernikahan kalian segera terlaksana."
"Baik Pa. Nanti aku akan menelepon Bella untuk mengajaknya jalan-jalan."
Papa Mark mengangguk.
"Oya Ren. Jam berapa kamu kuliah?" tanya Rei kepada adiknya.
"Aku tidak ada kuliah hari ini Kak. Kenapa?"
"Oh begitu. Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya."
__ADS_1
Selesai sarapan, Renata segera menuju kekamarnya. Dan diikuti pula oleh Rei.
Setibanya dikamar, Renata segera membuka pintu kamarnya. Namun ia terkejut mendengar suara seseorang yang ia kenal.
"Boleh aku masuk?"
"Eh, kakak... Mengagetkanku saja."
Lalu mereka berdua memasuki kamar.
"Ada apa kakak ke kamarku? Tidak biasanya," ucap Renata sambil duduk disofa kamarnya.
"Mmmm... Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tapi kamu harus jawab dengan jujur. Oke?"
"Ih. Kakak kenapa sih. Sangat mencurigakan!"
"Katakan dulu bahwa kamu akan menjawab pertanyaanku dengan jujur."
"Oke, oke. Aku akan jawab dengan jujur. Memangnya apa yang ingin kakak tanyakan padaku?"
"Apakah kamu tahu bahwa Nicha mempunyai kekasih?"
"Apa!?" Renata sangat terkejut mendengar pertanyaan Rei.
"Kenapa kamu kaget begitu? Bukankah kamu sahabat Nicha. Apa kamu tidak tahu hal itu?"
Renata terdiam. Wajahnya berubah muram, seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.
"Setahu aku. Nicha tidak mau berpacaran. Karena ia tidak mau membuang waktunya hanya untuk berpacaran. Dalam hidupnya, hanya ada bekerja dan belajar agar ia menjadi manusia yang sukses dan bisa membahagiakan ibu dan adiknya."
"Benarkah?"
Renata mengangguk cepat.
"Tapi kenapa malam itu, Tuan Great mengatakan padaku kalau mereka berdua berpacaran?"
"Apa!? Tu-Tuan Great?"
Rei mengangguk yakin.
"Maksud kakak. Great Warinton putra mahkota dari keluarga Warinton?"
"Iya."
Renata menoleh kearah lain dengan wajah penuh kebingungan.
"Tidak mungkin. Mungkin kakak salah dengar."
"Mana mungkin aku salah dengar Ren. Great mengatakan sendiri didepan wajahku. Dan Nicha pun berada disampingnya."
"Lalu, apa yang dikatakan Nicha?"
__ADS_1
"Dia hanya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa."
Renata menjadi bertambah bingung. Ia merasa harus segera menanyakan hal tersebut kepada Nicha besok.