
Malam semakin larut. Nicha telah selesai bekerja. Setelah berganti baju dan mengambil tasnya diloker, lalu ia bergegas keluar restoran.
Ketika sudah berada diluar restoran, ia terkejut ketika ada seseorang memanggil namanya.
"Nicha!"
Nicha menoleh kearah asal suara itu. Dan senyum mengembang diwajahnya, kala ia mengetahui siapa orang yang memanggilnya.
"Rei, sedang apa kamu disini?"
"Aku kesini untuk menjemputmu. Ayo masuk!"
Kemudian Rei membukakan pintu mobil untuk Nicha. Dan Nicha segera masuk kedalam mobil, disusul oleh Rei. Sementara dari dalam sebuah mobil, ada sepasang mata yang sedang memerhatikan Rei dan Nicha.
Hebat juga pelayan itu. Bisa berpacaran dengan pria kaya. Ujar seorang laki-laki dari dalam mobil.
...***...
Didalam mobil Rei.
"Dari mana kamu tahu aku bekerja di Sara Restoran?"
"Renata yang memberitahuku."
"Oh, begitu..."
"Oya, ada suatu tempat yang ingin aku tunjukkan kepadamu."
"Suatu tempat? Tapi ini sudah malam Rei."
"Apa kamu sudah mengantuk?"
"Oh. Tentu saja belum. Ini masih terlalu sore untuk tidur. Hehe," Nicha sangat malu dan tiba-tiba terdengar suara dari perut Nicha.
KRIUK, KRIUK!
Nicha menjadi gugup dan malu. Segera ia memegang perutnya untuk menahan suara dari dalam perutnya, berharap Rei tidak mendengarnya.
"Apa kamu lapar?" tanya Rei tiba-tiba.
"Ahaha. Tidak. Itu bukan berasal dari perutku," sangkal Nicha.
KRIUK, KRIUK!
Dan bunyi itupun terdengar lagi.
"Sepertinya kamu benar-benar lapar. Baiklah kita akan mampir ke kedai daging panggang dekat sini. Aku dengar, daging panggang dikedai itu sangat empuk dan gurih."
"Baiklah." Nicha mengangguk malu dan juga senang. Ia memang merasa sangat lapar.
Sesampainya di kedai, Rei dan Nicha langsung memesan daging panggang dan duduk dikursi pelanggan. Tak berapa lama, seorang pelayan membawakan sebuah panggangan besar beserta daging mentah yang telah diberi bumbu. Rei dan Nicha segera memanggang beberapa potong daging. Setelah beberapa menit, Nicha segera mencoba beberapa potong daging yang telah ia panggang.
"Auch! Panas!" Nicha membuka mulutnya lebar sambil mengipas-ngipas dengan kedua tangannya.
"Hati-hati Nich. Seharusnya kamu mendinginkan dulu daging yang baru dipanggang..."
Mendengar ucapan Rei, Nicha menjadi sangat malu.
"Nah, cobalah ini! Daging ini sudah dingin... Ayo buka mulutmu..." Rei memanjangkan tangannya hendak menyuapi Nicha.
"Ah, tidak usah Rei. Biar aku sendiri saja," jawab Nicha gugup.
"Sudahlah, ayo buka mulutmu!"
Akhirnya Nicha membuka mulutnya dan membiarkan Rei menyuapinya.
__ADS_1
"Bagaimana? Enak kan?"
Nicha mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kamu tahu? Makan dari suapan tangan orang lain, lebih enak. Daripada suapan tangan kita sendiri."
Mendengar ucapan Rei. Seketika, Nicha teringat sesuatu.
FLASHBACK ON.
"Humm... Makan dari suapan tangan Ibu, memang lebih enak daripada suapan tanganku sendiri. Bisakah, ibu menyuapiku setiap hari? Bisakah? Bisakah?" Nicha merengek kepada Ibunya seperti anak kecil.
TUK!
Ibu mengetuk kepala Nicha pelan.
"Aduh! Kenapa Ibu memukul kepalaku..." Nicha mengelus-elus kepalanya.
"Kau ini sudah besar. Mengapa makan saja masih ingin disuapi?"
"Huh! Biar saja. Memangnya tidak boleh?"
"Nicha dengar. Kau adalah anak tertua dikeluarga ini. Walaupun, kau terlahir sebagai perempuan. Tapi sebagai seorang kakak, kau harus bisa kuat dan mandiri, agar dapat menjadi contoh untuk adikmu. Kau mengerti?"
"Siap komandan!" Nicha memberikan hormat kepada Ibunya.
Seketika, Ibunya tertawa melihat tingkah anaknya. Lalu mereka berdua berpelukan dengan hangat.
FLASHBACK OFF.
"Kalau begitu, aku juga akan memberikan daging yang sudah dingin ini untukmu... Ini!"
Nicha menaruh sepotong daging dimangkuk nasi Rei. Melihat tingkah Nicha, Rei hanya tersenyum. Lalu menyuap daging yang diberikan Nicha.
...***...
Didalam kamar, terlihat Nicha sedang memandang sebuah bingkai dengan foto keluarga didalamnya.
Bu. Aku bertemu seseorang yang sangat baik disini. Dia sangat lembut dan baik sepertimu. Entah kenapa, aku merasa nyaman ketika berada didekatnya, Bu. Dan hari ini, dia menyuapiku makan. Sama seperti yang Ibu lakukan dulu. Bu, aku merindukanmu dan Han. Aku sangat kesepian disini Bu. Hiks, Hiks.
Nicha tidak bisa membendung air matanya. Seketika cairan bening mengalir deras dipipinya. Sambil terisak, ia memeluk bingkai foto keluarganya. Sampai akhirnya, ia tertidur dengan memeluk bingkai foto tersebut.
...***...
Di Universitas Rangsit.
TIN! TIN!
Suara klakson mobil mengagetkan Nicha yang sedang berjalan memasuki kampus.
"Selamat pagi, Nicha sayang," sapa seseorang dari dalam mobil.
"Hai. Pagi juga Ren," jawab Nicha sambil menengok kedalam mobil.
"Aku parkir mobil dulu ya. Nanti kita bertemu didepan lobby utama."
"Oke."
Kemudian mobil tersebut meninggalkan Nicha.
Didepan lobby utama.
Renata sudah selesai parkir mobilnya. Dan hendak menghampiri Nicha.
"Yuk, masuk!" ajak Renata.
__ADS_1
Nicha mengangguk. Lalu mereka berjalan bersama menuju kelas.
Setelah 2 jam berlalu. Akhirnya, kelas pun selesai.
"Nich, kita ke kantin yuk. Perutku sudah keroncongan nih."
Nicha membalas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sesampainya dikantin. Mereka langsung memesan makanan dan minuman, kemudian mencari tempat duduk yang kosong. Tak berapa lama pesanan mereka pun datang.
"Mmm, Ren. Aku boleh bertanya sesuatu tidak?"
"Ada apa Nich? Kenapa kamu mendadak formal begitu? Seperti orang asing saja. Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Mm, begini... Kalau boleh tahu, kamu cerita apa saja tentang aku kepada kakakmu?"
UHUK! UHUK!
Renata yang sedang meminum jusnya, langsung tersedak mendengar pertanyaan Nicha.
"Eh, maaf-maaf Ren. Kamu menjadi tersedak karena pertanyaanku ya?"
"Haha. Tidak apa-apa Nich. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu bertanya begitu?"
"Sebenarnya, semalam Kak Rei menjemputku di restoran Sara. Aku sangat kaget. Lalu aku bertanya, darimana dia tahu aku bekerja direstoran itu. Dan dia mengatakan, kamu yang memberitahunya..."
"Apa!? Kak Rei menjemputmu?" Renata terkejut sampai matanya terbelalak mendengar pernyataan Nicha.
Nicha hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Jadi, begini Nich... Ketika aku pulang dari mengantarkanmu untuk wawancara di Sara restoran. Kak Rei, menemuiku dan langsung bertanya perihal dirimu. Lalu aku jawab saja, bahwa kamu teman kuliahku dan sedang mencari pekerjaan paruh waktu. Tapi, aku tidak menyangka kalau Kak Rei sampai menjemputmu. Maafkan perilaku kakakku ya Nich. Kamu pasti merasa tidak nyaman ya?"
"Ah, tidak. Bukan begitu Ren. Kakakmu sangat baik terhadapku. Aku malah, menjadi tidak enak kepada kakakmu karena sudah repot menjemputku. Tolong, sampaikan terima kasihku kepada Kak Rei ya."
"Oh, begitu. Baiklah."
"Ya sudah. Ayo kita makan. Nanti makanannya keburu dingin."
Kemudian mereka langsung menyantap makan siang mereka dengan lahap.
...***...
Dikediaman Great.
Terlihat Great sedang menuruni tangga rumahnya.
"Great, hari ini kau tidak ada rencana keluar kan?" tanya Papa Thagoon sambil duduk disofa ruang tengah.
"Sepertinya tidak ada Pa. Memang ada apa?" jawab Great sambil ikut duduk bersama Papanya.
"Baguslah kalau begitu. Karena sebentar lagi, keluarga Rani akan kesini, untuk makan siang."
"Apa!? Kenapa mendadak sekali Pa?"
"Memangnya kenapa? Lagi pula, kau dan Rani akan segera menikah. Jadi, pertemuan keluarga seperti ini akan sering terjadi. Kau tidak perlu gugup begitu..."
Lalu terdengar suara mobil memasuki pelataran rumah Great.
"Nah, sepertinya mereka sudah datang..."
Papa Thagoon langsung bangkit dari sofa dan bergegas menyambut tamu yang datang.
Terlihat keluarga Pak Direk turun dari mobil. Dan langsung disambut oleh Papa Thagoon dan Great.
"Selamat datang Dir..." Papa Thagoon menjabat tangan Pak Direk lalu memeluknya.
__ADS_1
"Mari silahkan masuk!" ajak Papa Thagoon.
Lalu mereka semua masuk kedalam rumah.