
Prama keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberut. Nicha yang melihat ekspresi wajah Prama, hanya bisa menahan tawanya sambil membawa 2 buah piring berisi nasi goreng.
"Ayo sarapan!" Nicha berjalan menuju meja makan dan menaruh piring tersebut diatas meja.
"Sebenarnya, apa yang kamu makan semalam? Kenapa toiletmu bau sekali?"
"Semalam aku tidak bisa tidur. Biasanya jika aku sedang gelisah atau stres, perutku akan menjadi kembung. Dan ketika buang air besar, gasnya pun keluar. Makanya kamar mandiku menjadi bau."
Nicha berkata lagi dalam hati.
Mudah-mudahan, setelah kejadian ini. Dia menjadi kapok dan tidak lagi berkunjung kerumahku. Batin Nicha sambil tersenyum sendiri.
"Kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya Prama yang sedari tadi memerhatikan Nicha.
"Eh... Tidak, tidak apa-apa."
Dasar wanita aneh. Gumam Prama.
Kemudian mereka berdua sarapan bersama.
"Lalu, kenapa kamu tidak bisa tidur dan merasa gelisah?"
"Tentu saja karena kamu!"
"Apa?" Prama merasa bingung dengan jawaban Nicha.
"Ma-maksudku..." Nicha menjadi gugup.
"Kamu merasa grogi ya karena ada pria tampan yang menginap dirumahmu?" goda Prama.
"Grogi? Kenapa aku harus grogi denganmu!? Grogi itu hanya jika aku mempunyai perasaan kepadamu..." sangkal Nicha seraya menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa menghangat.
"Apa benar kamu tidak mempunyai perasaan kepadaku?" Prama semakin menggoda Nicha.
"Tentu saja tidak. Lagi pula, kamu hanyalah laki-laki asing, tidak sopan yang sudah masuk kerumahku tanpa izin. Mana mungkin aku mempunyai perasaan terhadapmu. Sudahlah, aku sedang terburu-buru untuk pergi kekampus. Kamu juga harus segera pergi dari sini. Aku tidak ingin ada tetangga yang melihatmu dirumahku. Bisa-bisa mereka akan menggerebek rumah ini dan menyangka kita berbuat macam-macam."
"Hhh... Ya, ya baiklah. Kamu ini wanita yang paling cerewet yang pernah ku temui."
Lalu Nicha bergegas menaruh piring kotor kedalam wastafel. Sementara Prama masih asyik menikmati sarapannya.
Setelah beberapa menit, mereka berdua terlihat menuju keluar rumah.
"Kenapa kamu mengendap-ngendap seperti pencuri?" tanya Prama heran melihat tingkah Nicha.
"Ssst, jangan berisik! Sudah sana cepat pergi. Sebelum ada tetangga yang melihat kita berdua."
Dasar wanita aneh. Gumam Prama sambil berjalan meninggalkan Nicha.
...***...
Dikediaman Reinhard.
Tampak, keluarga Reinhard dan keluarga Bella sedang berkumpul bersama.
"Sepertinya, kau sedang sangat sibuk sekarang Bel?" tanya Papa Mark kepada Bella.
"Biasa saja Om. Hanya mengurus beberapa sekolah dan yayasan untuk anak-anak kurang mampu."
"Om dengar, kau terpilih menjadi ketua dewan komite di universitas Rangsit?"
"Iya. Benar Om," jawab Bella sambil tersenyum simpul.
"Apa!? Jadi Kak Bella adalah ketua dewan komite di universitas Rangsit?" tanya Renata kaget.
"Ya Ren. Dia adalah ketua dewan komite dikampusmu," jelas Papa Mark kepada Renata.
"Loh. Renata kuliah di Rangsit?" tanya Bella.
"Iya Kak. Aku mahasiswi universitas Rangsit jurusan hukum semester akhir," jelas Renata bersemangat.
"Wah. Sama dong denganku. Aku juga dulu, kuliah jurusan hukum," timpal Bella.
__ADS_1
"Kakak kuliah di Rangsit juga?"
"Tidak. Aku kuliah di universitas Harvard."
"A-apa!? Di Harvard?"
"Iya," jawab Bella sambil tersenyum kearah Renata.
"Hei Ren. Kau tidak perlu terkejut sampai membuka mulut selebar itu," ledek Papa Mark.
"Ih. Papa apaan sih. Aku hanya tidak percaya bisa bertemu dengan wanita sehebat Kak Bella..." Renata melirik kearah Bella dengan senyum lebar.
"Kamu terlalu berlebihan Ren." Bella tersipu malu mendengar pujian dari Renata.
"Kelihatannya, mereka akan menjadi kakak adik yang akrab ya?" ucap Mama Darika.
"Tentu saja. Sebentar lagi, kita akan menjadi satu keluarga. Sangat bagus kalau keakraban sudah terjalin sejak awal. Benarkan Pa?" timpal Mama Diana.
"Ya. Benar sekali. Jadi kapan kita akan membicarakan lebih detail tentang pernikahan anak-anak kita Rut?" tanya Papa Mark kepada Pak Danurut.
"Santai sajalah dulu Mark. Biarkan mereka berdua melakukan penjajakan satu sama lain. Lagi pula, Reinhard dan Bella masih harus mengenal lebih dalam. Bukankah begitu Rei?"
"Iya Om," jawab Reinhard sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu Rei? Sepertinya cuaca ekstrem membuat area tambang sering longsor..."
"Iya Om. Beberapa hari yang lalu, area tambang menjadi tidak stabil karena cuaca ekstrem. Tapi sekarang sudah kembali normal."
"Oh begitu. Bagus kalau begitu. Mudah-mudahan saja cuaca ekstrem sudah benar-benar berakhir."
Lalu tiba-tiba, ponsel Bella bergetar tanda panggilan masuk. Segera Bella bangkit dari duduknya.
"Kamu mau kemana Bel?" tanya Mama Darika.
"Aku harus mengangkat telepon sebentar Ma. Semuanya, aku permisi dulu..." Kemudian Bella berjalan agak menjauh untuk menerima telepon.
Tak lama, Bella tampak telah mengakhiri pembicaraannya ditelepon. Lalu, ia kembali berkumpul bersama keluarganya.
"Mau kemana?"
"Temanku mengundang untuk ke acara launching produknya sekarang."
"Apa tidak bisa ditunda?"
Melihat ada sesuatu antara istri dan anaknya. Papa Danurut merasa curiga dan bertanya kepada Bella.
"Ada apa Bel?"
"Hemm, ini Pa. Aku mendapat undangan dari temanku, untuk ke acara launching produknya sekarang. Apa boleh aku izin pergi sekarang?"
"Apa begitu mendesak?" tanya Papa Danurut lagi.
Bella hanya terdiam.
"Biar saja Bella menghadiri undangan itu Rut. Ia juga mempunyai kehidupannya sendiri sebagai wanita dewasa. Nah Bella, bagaimana jika Rei yang akan mengantarmu?" ucap Papa Mark.
"Mmm, baiklah jika Rei tidak keberatan Om..." Bella melirik kearah Rei.
"Bagaimana Rei? Apa kamu bisa mengantar Bella?"
"Baiklah Pa. Aku akan mengantarkan Bella."
Lalu Rei bangkit dari duduknya diikuti oleh Bella. Kemudian mereka berdua berpamitan kepada kedua orang tua mereka.
"Hati-hati ya Rei," ucap Mama Diana.
"Ya Ma."
Lalu Rei dan Bella berjalan bersama menuju keluar rumah.
...***...
__ADS_1
Mobil Rei memasuki basement sebuah mall besar di Bangkok. Setelah memarkirkan mobilnya, Rei turun dari mobilnya diikuti oleh Bella. Kemudian, mereka berjalan masuk kedalam lift.
"Kita kelantai berapa?" tanya Rei kepada Bella.
"Lantai 3."
Lalu Rei menekan tombol bertuliskan angka 3.
Sesampainya dilantai 3, Rei dan Bella menuju sebuah toko parfum yang sedang mengadakan launching produk terbarunya. Tampak beberapa wartawan yang sedang meliput acara launching produk ditoko tersebut.
"Kenapa ada wartawan?" tanya Rei heran.
"Karena temanku yang mempunyai produk ini, adalah seorang artis. Nanti, kamu juga akan mengenalnya," ucap Bella sambil tersenyum.
Sesampainya didepan toko. Bella langsung disambut oleh seorang wanita cantik.
"Hai Bel. Akhirnya, kamu datang juga..." Wanita tersebut terlihat senang dengan kedatangan Bella.
"Oh. Kamu datang bersama siapa? Dia tampan sekali..." Wanita itu terkagum melihat wajah Rei.
"Hei! Jangan coba-coba menggoda calon suamiku ya Nat. Atau akan aku patahkan lehermu!" ancam Bella.
"Astaga, ancamanmu sangat menakutkan Bel. Tenanglah, aku tidak akan berani menggoda calon suami sahabat terbaikku."
Lalu kedua wanita itu saling tertawa.
"Permisi Nona Bella..." salah satu wartawan mendekati Bella.
"Oh ya..." Bella menoleh kearah wartawan tersebut.
"Bisakah, kami melakukan wawancara denganmu?"
"Ya. Tentu saja," jawab Bella sambil tersenyum.
Lalu ia berjalan menuju kedepan toko sambil menggandeng tangan Rei.
Wawancara pun dimulai. Bella selalu menjawab semua pertanyaan wartawan sambil melemparkan senyuman ramahnya.
"Dan siapa laki-laki yang berada disampingmu? Apa dia kekasihmu?" tanya salah satu wartawan.
"Iya benar. Laki-laki yang berdiri disampingku ini adalah calon suamiku. Namanya Reinhard Sangkapan," ucap Bella sambil tersenyum melirik Rei.
"Wah, selamat ya Nona Bella. Semoga pernikahan kalian berjalan lancar," ucap seluruh wartawan.
"Terima kasih atas doanya." Bella tersenyum bahagia mendengar doa dari para wartawan.
...***...
Dikediaman Great.
Terlihat, Preem sedang menikmati acara gosip ditelevisi. Tiba-tiba ia terperanga melihat sosok wanita yang sedang diwawancarai oleh wartawan.
"Loh. Itukan Kak Bella. Lalu siapa laki-laki yang berdiri disampingnya?"
Dan tiba-tiba ada suara seorang laki-laki yang mengagetkan Preem.
"Kamu sedang menonton apa Preem? Kelihatannya serius sekali?" tanya Great seraya menghampiri adiknya.
Preem terkaget dan menjadi gugup. Ia tidak mau, kakaknya melihat liputan gosip tentang Bella. Langsung saja, Preem mengambil remot tv dan hendak mengganti channelnya.
"Eh, jangan diganti. Aku ingin melihat berita tentang apa itu?"
"Tidak usah Kak! Beritanya tidak bagus..."
Tapi Great tetap ingin melihat berita tersebut. Lalu ia merebut remot tv dari tangan Preem. Dan mengganti ke channel sebelumnya.
Dan betapa terkejutnya Great. Ketika melihat sosok Bella bersama laki-laki yang berdiri disampingnya.
"Bukankah dia?" Great tampak mengingat-ingat sosok laki-laki yang berada disamping Bella.
Aduh! Akan ada yang patah hati nih. Luka lama terbuka lagi... Gumam Preem.
__ADS_1