
"Jadi, pada malam itu..."
Nicha mencoba menceritakan kejadian malam itu kepada Kak May.
FLASHBACK ON.
Dikamar hotel, J.W Marriot.
Tampak Nicha yang sedang berbaring diatas ranjang dan Great berada diatas tubuh Nicha. Sementara kedua mata mereka saling menatap dalam.
"Apa aku boleh meminta sesuatu darimu, Nich?"
"Apa?" tanya Nicha lirih.
Kini, Great berpaling menatap bagian dada Nicha dan sebelah tangannya mulai meraih kancing baju Nicha.
"Nicha, bisakah kamu..." ucapnya lagi.
Nicha semakin ketakutan dengan raut wajah gugup, ia menatap Great tajam.
"Bisakah kamu mengganti bajumu ini. Karena aromanya sangat tidak enak," ucap Great yang langsung bangkit dan menjauhi Nicha.
"Apa!? Memangnya bajuku ini, sangat bau?" tukas Nicha sambil menciumi bagian lengan kemejanya.
"Tentu saja. Apa kamu tidak menciumnya. Aku hampir pingsan, karena aroma tubuhmu yang sangat bau," hina Great sambil menutupi hidungnya.
"Hish! Dasar laki-laki kurang ajar. Tidak tahu sopan santun, terhadap wanita. Menyebalkan!"
Dengan perasaan malu bercampur kesal, akhirnya Nicha masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Huft! Hampir saja...
Great menghela napas sambil mengelus-elus dadanya.
Untung saja aku masih bisa menggunakan akal sehatku. Kalau tidak, aku sudah merenggut keperawanan Nicha tadi. Sabarlah samuraiku. Kau pasti akan bisa menikmati sarangmu. Tapi, ketika aku dan Nicha sudah menjadi pasangan suami istri yang sah. Hum?
Great berbicara sendiri pada dirinya.
FLASHBACK OFF.
"Apa!? Jadi, begitu ceritanya. Hahaha. Ternyata, anak itu masih saja lugu dan polos," ucap Kak May
Tinggallah Nicha yang hanya bisa tertunduk malu.
"Apa yang kalian sedang bicarakan? Kenapa Kak May, tertawa seperti itu?" tanya Great seraya menghampiri mereka berdua.
"Oh... Tidak, tidak apa-apa, Great."
"Hem, baiklah kalau begitu. Oya Nich, cepat bersihkan dirimu. Karena setelah ini, kita akan bersiap untuk berangkat ke Nakhon Sawan."
"Apa!? Untuk apa kita kesana?"
"Kamu ini bagaimana sih? Apa kamu masih belum mengerti juga. Kita akan segera menikah. Apa kamu tidak mau, ibumu menyaksikan pernikahan kita?"
Nicha semakin bingung. Pikirannya bertambah kalut. Ia hanya bisa terdiam dan menuruti perintah Great. Karena ia memang sangat mencintainya dan ingin segera merasakan hubungan yang sah dengan kekasihnya.
...***...
Dikediaman keluarga Warinton.
Matahari mulai meninggi dan memancarkan cahaya terang dipagi hari. Di dalam kamarnya, Ranida mengerjapkan matanya perlahan. Ia berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Seketika, memorinya telah pulih kembali dan teringat akan keberadaan Great.
Dimana dia? Ujar Ranida seraya berkeliling ke penjuru sudut kamarnya.
Shit! Dia berhasil mempermainkan aku lagi.
__ADS_1
Segera ia mengenakan piyama tidurnya, lalu bergegas keluar dari kamarnya.
TAP. TAP. TAP.
Ranida menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Lalu terdengar suara yang menyeru namanya.
"Pagi, sayang."
Ranida langsung menoleh kearah suara tersebut.
"Pagi, Ma," ucap Ranida seraya menghampiri meja makan.
"Ayo sarapan dulu. Oya, dimana Great?" tanya Mama Chotika.
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama, Ma. Ketika aku bangun, Great sudah tidak ada dikamar."
"Apa!? Tapi, sedari tadi, Mama tidak melihat dia keluar."
"Ada apa, Ma?"
"Ini Pa, Ranida sedang cemas mencari Great. Sejak pagi tadi, dia sudah tidak ada dikamar."
"Heuh... Kemana lagi anak itu? Kamu tenang saja, sayang. Kali ini, kita akan segera tahu dimana Great berada."
"Bagaimana caranya, Pa?" tanya Ranida berubah bingung.
"Papa sudah memasang alat pelacak pada mobil Great. Karena Papa khawatir, dia akan kabur lagi seperti malam itu."
"Maksud Papa, Papa mencurigai Great?" tanya Mama Chotika.
"Ya, Ma. Papa yakin ada sesuatu yang Great sembunyikan dari kita. Jujur saja, sejak kejadian malam itu, Papa sudah mulai curiga terhadap Great.
Seketika Ranida dan Mama Chotika saling bertatapan bingung.
...***...
Great dan Nicha sedang dalam perjalanan menuju Nakhon Sawan, tempat ibu dan adik Nicha tinggal.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Great?" tanya Nicha.
"Hhh... Aku sudah memikirkannya berulang kali, Nich. Dan hanya inilah jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan. Dengan cara ini, akan aku tunjukkan keada Papaku, bahwa aku sanggup untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Termasuk dengan masa depanku," jelas Great sambil menatap Nicha yang berada disampingnya.
"Dan bagaimana denganmu? Apa kamu masih belum yakin dengan keputusanku?" tanya Great lagi.
"Entahlah. Aku hanya merasa ini terlalu cepat. Dan bagaimana, jika nanti kondisi kesehatan Papamu memburuk, setelah mengetahui kita sudah menikah?"
"Mengenai hal itu, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, agar beliau diberi kesehatan dan unur panjang. Karena bagaimanapun juga, aku sudah berusaha untuk berbakti kepada Papaku, dengan menuruti keinginannya untuk menikahi Ranida. Dan sekarang, sudah tiba saatnya bagiku, untuk mewujudkan impianku sendiri."
"Saat ini, aku hanya meminta 1 hal padamu, Nich. Tolong dukung aku. Dan selalu berada disisiku. Aku sangat membutuhkan support darimu, Nich. Agar aku bisa menjadi kuat untuk menghadapi ini semua."
Nicha sangat terenyuh mendengar ucapan kekasihnya tersebut. Lalu dengan lembut, ia menggenggam tangan Great yang sedang memegang stir.
"Aku akan selalu mendukungmu. Dan aku janji, akan setia menemanimu, selalu bersamamu hingga kematian yang akan memisahkan kita."
Seketika kedua mata mereka saling bertemu dan saling melempar senyuman satu sama lain.
...***...
Suan Phueng, Ratchaburi.
Papa Thagoon keluar dari dalam mobilnya. Menatap ke sekeliling pekarangan rumah yang sangat luas.
Rumah siapa ini? Kenapa mobil Great berhenti disini? Gumam Papa Thagoon sambil terus melihat layar ponselnya.
Kemudian, beliau mulai berjalan mendekati sebuah rumah yang sangat besar dengan desain klasik berwarna putih. Sepintas, Papa Thagoon telah berada didepan pintu rumah tersebut dan langsung mengetuk pintunya.
__ADS_1
TOK! TOK! TOK!
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dan tampaklah, seorang wanita muda berdiri dihadapan Papa Thagoon.
"Maylada!" pekik Papa Thagoon.
"Tu-tuan besar!" Maylada pun tak kalah terkejut melihat kedatangan Papa Thagoon.
"Si-silahkan masuk, Tuan!" ucap May seraya mempersilahkan Papa Thagoon untuk masuk kedalam rumahnya.
"Tidak perlu, May. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa rumah ini milikmu?"
Maylada kebingungan mendapat pertanyaan yang sulit dari Papa Thagoon.
"Mmm... Bu-bukan, Tuan. Rumah ini milik tian muda Great. Dan aku hanya disuruh untuk merawatnya saja."
"Milik Great? Kenapa aku tidak tahu, kalau dia mempunyai rumah di Suan Phueng?"
"Saya tidak tahu, Tuan.Tapi setahu saya, tuan muda membeli rumah ini dari seorang temannya yang sedang membutuhkan uang."
"I don't care about that. Tapi yang saya ingin tahu, kenapa Great merahasiakan hal ini dariku?"
"Maaf Tuan. Untuk hal itu, saya tidak tahu."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Maksud Tuan siapa?"
"Maksudku Great! Dimana dia sekarang?"
"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Sudah sangat lama, tuan muda tidak berkunjung kesini," ucap Maylada berbohong.
"Apa kau yakin, May?" tanya Papa Thagoon tidak percaya.
"Iya Tuan. Selama ini, hanya saya saja yang berada dirumah ini."
"Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi, jika nanti dia datang kesini. Tolong katakan padanya, jangan pernah berpikir untuk menghindar dariku, karena kemanapun dia pergi, aku pasti akan bisa menemukannya. Oya 1 lagi, katakan padanya bahwa istrinya sangat mencemaskannya. Jadi, segeralah pulang dan jalankan tanggung jawabnya sebagai seorang suami."
"Ba-baik, Tuan. Saya akan menyampaikan semua pesan Tuan kepada tuan muda ketika beliau datang kesini."
"Terima kasih, May. Aku pergi dulu."
"Sama-sama, Tuan."
Kemudian, Papa Thagoon bergegas pergi dan masuk kedalam mobilnya.
Ternyata banyak orang-orang yang melindunginya. Tunggu saja kau Great. Papa pasti akan menemukanmu, walaupun kau bersembunyi dilubang semut sekalipun. Gumam Papa Thagoon.
Kaki Maylada terasa sangat lemas, setelah kepergian Papa Thagoon. Dengan cepat, ia menutup kembali pintu rumahnya.
Huft... Aku serasa ingin pingsan tadi. Untung saja, tuan muda sudah pergi dan memasukkan mobilnya kedalam garasi. Ini benar-benar masalah pelik.
Maylada berdiri bersandar pada pintu sambil mengelus-elus dadanya.
FLASHBACK ON.
"Kau akan langsung berangkat ke Nakhon Sawan, Great?" tanya Kak May.
"Iya, Kak. Aku ingin secepatnya menyelesaikan ini semua. Oya, aku akan berganti mobil. Dan mobilku akan aku tinggal disini. Karena aku khawatir, Papa telah memasang alat pelacak pada mobilku. Jadi, jika nanti beliau datang kesini. Aku mohon padamu, untuk merahasiakan hal ini dari beliau. Bisakah aku mempercayaimu, Kak?"
"Tentu saja, Great. Aku akan menjaga rahasia ini dengan baik. Dan aku akan mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua," ucap Kak May sambil memegang bahu Great.
"Terima kasih, Kak."
FLASHBACK OFF
__ADS_1
...***...