
Didalam mobil Prama.
Nicha duduk disamping Prama sambil menunduk dan terdiam. Rasa takut dan gugup menjadi satu dalam hatinya. Pikirannya menjadi buntu, setelah bertemu dengan Prama.
"Sampai kapan kamu akan diam seperti ini?"
"A-apa?"
"Sudahlah, kamu hanya membuang-buang waktuku. Silahkan keluar dari mobilku sekarang!" ucap Prama.
"Ma-maafkan aku Pram. Eh, maksudku Tuan."
"Untuk apa kamu meminta maaf?" tanya Prama datar.
"Karena, aku telah berbuat salah kepadamu malam itu..." ucap Nicha pelan sambil tertunduk.
"Jadi, kamu mengakui kesalahanmu?"
Nicha mengangguk.
"Dan aku mohon. Terimalah aku untuk bekerja kembali direstoranmu. Karena aku sangat membutuhkan pekerjaan itu."
"Baiklah, jika kamu memaksa. Aku akan mempertimbangkan permohonan maafmu setelah kamu memenuhi syarat yang aku ajukan."
"Sya-syarat?"
Kemudian Prama menyalakan mobilnya. Seketika mobil melaju meninggalkan restoran. Tak berapa lama, mobil Prama berhenti didepan rumah Nicha.
"Kenapa kita kerumahku?" tanya Nicha heran.
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ayo turun!"
Kemudian, Nicha dan Prama keluar dari dalam mobil. Dan berjalan masuk kedalam rumah.
Didalam rumah Nicha.
Prama langsung meraih tas Nicha dari bahu Nicha.
"E-eh, kamu mau apa?"
"Diamlah!"
Lalu Prama mendorong tubuh Nicha untuk berjalan menuju dapur.
"Sebenarnya, kamu mau apa!?"
"Cepat masakkan makanan untukku! Aku sudah sangat lapar."
"A-apa?"
Nicha benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Prama harus menyuruhnya memasak.
Kalau dia lapar. Kenapa dia tidak makan direstorannya saja tadi? Kenapa harus menyuruhku memasak makanan untuknya? Dasar laki-laki aneh. Batin Nicha.
Setelah beberapa menit. Nicha telah menyelesaikan aksinya didapur. Lalu, ia membawa beberapa piring berisi lauk pauk beserta nasi, dan menaruhnya diatas meja makan.
"Maaf aku hanya bisa memasak ini. Karena, hanya tinggal ini saja yang tersedia dilemari es."
"Tidak apa-apa. Apapun yang kamu masak. Aku pasti akan memakannya. Karena masakanmu sangat enak."
Apa? Kenapa dia mendadak jadi lembut seperti ini? Batin Nicha.
Prama langsung menyantap masakan Nicha dengan lahapnya. Sementara Nicha, hanya terpaku memandangi Prama.
Dia benar-benar lapar ya? Seperti orang yang seminggu tidak makan... Batin Nicha.
"Hei! Kenapa kamu tidak makan?" tanya Prama.
"Eh, I-iya. Aku akan memakannya..."
"Kalau kamu tidak mau. Berikanlah padaku. Aku masih sanggup untuk menghabiskannya," ucap Prama dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Eh, jangan. Kalau kamu memakan semuanya. Berarti malam ini, aku tidak makan," ucap Nicha sambil menjaga makanannya dari Prama.
__ADS_1
Lalu Prama hanya membalas tersenyum.
"Mmm... Dan bagaimana dengan syarat yang akan kamu ajukan?" tanya Nicha sedikit ragu.
"Kamu sudah memenuhinya."
"A-apa?"
"Masak makanan untukku adalah syaratnya," ucap Prama datar.
Seketika Nicha menjadi bingung dan berpikir sejenak. Dan tak lama, senyuman mengembang dibibir indahnya.
"Jadi, kamu sudah memaafkanku?"
"Menurutmu?"
Lagi-lagi Nicha tersenyum.
"Lalu, apa besok aku sudah bisa bekerja direstoranmu lagi?"
"Untuk itu... Aku akan memikirkannya dulu."
"Apa!? Kenapa masih harus dipikirkan lagi? Bukankah, kamu telah memaafkanku?"
"Aku hanya memaafkan kesalahanmu. Bukan berarti, aku sudah menerimamu kembali bekerja direstoranku. Sudahlah, pergi cuci piring sana. Aku telah menghabiskan semua makananku."
Nicha masih tidak mengerti jalan pikiran Prama. Dengan kesal, ia menyusun piring-piring kotor diatas meja makan. Tapi ketika Nicha hendak membawa semua piring kotor tersebut kedapur, tiba-tiba lampu menjadi padam.
"Aaaaa!" Sontak, Nicha berteriak.
"Hei! Kamu ini kenapa?"
"Aku takut gelap."
"Astaga. Aku pikir kamu melihat hantu. Teriakanmu membuat telingaku sakit. Sebentar, aku cari ponselku..."
Prama meraba permukaan meja makan, hendak mencari ponselnya. Setelah menemukan ponselnya, lalu ia segera menyalakan senter ponselnya.
"Nicha!" panggil Prama.
"Aaaaa." Nicha kembali menjerit.
"Hei. Kenapa kamu berteriak lagi? Membuat kaget saja."
"Karena kamu menakutiku," jawab Nicha sambil memajukan bibirnya.
"Apa kamu punya lilin?"
"Mmm, sepertinya ada."
Alih-alih mencari lilin. Nicha malah hanya duduk terdiam.
"Hei. Kenapa kamu masih duduk? Ayo cepat cari lilinnya!"
"Didapur sangat gelap. Bagaimana aku mencarinya."
"O iya, benar juga. Baiklah, ayo aku temani kedapur."
Lama sekali Nicha mencari. Namun, tidak ada satupun lilin yang ia temukan.
"Sebenarnya, kamu taruh dimana lilin itu?"
"Aku tidak yakin. Karena, sudah lama sekali tidak mati listrik. Jadi aku lupa, apakah masih ada lilin dirumahku atau tidak," jawab Nicha lugu.
"Ya ampun. Kamu ini..." ucap Prama sambil menepuk dahinya.
Karena sudah lama mencari dan tidak ditemukan satupun lilin. Akhirnya mereka berdua mengehentikan pencarian lilin itu.
Lalu Prama melihat jam diponselnya.
"Sekarang sudah jam 11 malam. Semua toko pasti sudah tutup. Oya, dimana ponselmu?"
"Untuk apa kamu menanyakan ponselku?"
__ADS_1
"Sudah, berikan saja padaku."
Kemudian Nicha mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dan memberikan kepada Prama.
Prama melihat kelayar ponsel Nicha.
"Astaga! Baterai ponselmu sedikit sekali. Bagaimana bisa menyalakan senter, kalau baterainya hanya tinggal sedikit."
"Maaf, tadi aku lupa men-charge ponselku."
"Hhh. Kamu ini benar-benar..."
"Baiklah, aku akan menginap dirumahmu malam ini. Semoga saja, baterai ponselku bertahan sampai pagi."
Kemudian, Prama hendak tidur disofa, diikuti pula oleh Nicha.
"Kenapa kamu masih mengikutiku? Sudah, tidur sana dikamarmu!"
"Aku takut tidur sendirian dalam gelap."
"Ya ampun... Baiklah. Aku akan menemanimu tidur dikamarmu."
"Apa!? Kamu akan tidur dikamarku?"
"Ya. Mau bagaimana lagi. Memangnya kamu mau tidur disofa bersamaku?"
"Tentu tidak. Lagi pula, sofa ini terlalu kecil untuk menampung 2 orang."
"Nah, itu kamu mengerti..."
Lalu mereka berdua berjalan perlahan menuju kamar Nicha.
"Hei. Kenapa kamu melamun?" tanya Prama sambil melihat Nicha yang masih diam terpaku diatas tempat tidur.
"Apa kita bisa tidur seperti ini?"
"Kenapa? Kamu takut aku akan berbuat macam-macam terhadapmu?"
Nicha hanya terdiam.
"Hahaha. Tenang saja. Aku tidak bernafsu denganmu. Lagi pula, kamu bukan tipeku."
Nicha langsung melotot mendengar ucapan Prama.
Akhirnya mereka tidur bersama dalam 1 kasur dengan meletakkan guling ditengah-tengah kasur sebagai pembatas.
Keesokan paginya.
Terlihat Prama masih tertidur pulas dengan posisi memeluk Nicha. Sementara, Nicha pun tampak nyaman tertidur diatas bahu Prama.
Tak berapa lama, Nicha membuka matanya perlahan. Dan betapa terkejutnya ia, mendapati Prama tertidur disebelahnya.
A-apa yang terjadi semalam? Kenapa aku bisa tertidur dengan memeluk Prama. Untung saja, dia belum bangun. Kalau tidak, aku bisa sangat malu. Gumam Nicha.
"Kamu sedang bicara dengan siapa?"
Sontak Nicha menoleh kearah Prama dengan terkejut.
"Ka-kamu sudah bangun?" tanya Nicha gugup.
"Ya. Aku sudah bangun sejak tadi," jawab Prama sambil menggeliat.
"Apa!? Sejak tadi?"
Prama mengangguk.
"Berarti, kamu mendengar semua ucapanku tadi?"
"Tentu saja aku mendengarnya. Pasti kamu sangat menikmati tidurmu semalam kan?" goda Prama sambil tersenyum genit.
"A-apa yang kamu bicarakan. Aku tidak mengerti..." Nicha segera pergi keluar kamarnya.
"Hei. Kamu mau kemana?"
__ADS_1
...***...