
Setelah puas berpelukan. Lalu Nicha melepaskan pelukannya terhadap Renata.
"Mulai sekarang, kamu tidak perlu menangis dan jangan terlalu banyak berterima kasih padaku. Karena, Nicha yang aku kenal adalah wanita cerdas yang kuat dan mandiri. Jadi, jangan biarkan air matamu terbuang sia-sia... Mengerti?" ucap Renata sambil mengusap pipi Nicha yang telah basah.
Nicha mengangguk pelan.
"Oh ya. Aku akan menaruh barang belanjaan ini didapur," ujar Nicha seraya meraih beberapa kantong belanja.
"Biar aku bantu..." Renata langsung menyambar kantong lainnya. Lalu mereka bersama-sama menuju dapur.
Setelah selesai membereskan barang belanjaan. Kemudian Renata hendak menuju ke kamar. Sementara Nicha, sedang berada di toilet.
Ketika memasuki kamarnya, mata Renata tertuju pada sebuah kotak besar yang terdapat diatas nakas. Lalu, ia menghampiri kotak tersebut dan hendak membukanya.
Apa ini? Gumam Renata.
Seketika wajah Renata berubah curiga, kala ia melihat isi didalam kotak tersebut.
"Oh, kamu di sana Ren..." ujar Nicha sambil berjalan menghampiri Renata.
"Nich... Apakah ini punyamu?" tanya Renata sambil menunjukkan sebuah gaun biru kepada Nicha.
"Mmm, itu..."
Nicha menjadi gugup dan bingung ubtuk menjelaskannya kepada Renata.
"Sepertinya ada hal yang harus kamu jelaskan padaku Nich..." desak Renata seraya menatap tajam kearah Nicha.
Seakan telah mengerti maksud sahabatnya. Akhirnya Nicha menceritakan apa yang terjadi kemarin. Karena ia telah berjanji, tidak akan menyembunyikan hal sekecil apapun dari sahabatnya itu.
Dengan perlahan, Nicha menjelaskan seluruh detail kejadian kemarin kepada Renata sampai isi surat yang terdapat dalam kotak tersebut. Sedangkan Renata, mendengarkan dengan seksama penjelasan dari sahabatnya itu.
"Hhh, Jadi begitu..." Renata menghela napasnya.
"Lalu apa keputusanmu?" tanyanya kepada Nicha.
"Aku sudah bertekad, tidak akan menemui Great dan juga Rei. Karena hal itu hanya akan menambah buruk keadaan. Aku akan berusaha menjauhi mereka. Sampai pada saat kuliahku selesai, maka aku akan kembali ke desa dan hidup tenang bersama ibu dan adikku," jawab Nicha.
"Apa kamu yakin?" tanya Renata seraya menatap sendu kearah Nicha.
Nicha mengangguk yakin. Lalu, Renata mengarahkan kepala Nicha ke bahunya.
"Kamu harus sabar dan kuat ya Nich. Aku percaya, kamu bisa melewati ini semua. Hanya tinggal sedikit lagi. Dan setelah itu, aku yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan bersama orang-orang yang kamu cintai," ucap Renata sambil mengelua kepala Nicha.
"Terima kasih Ren." Tak terasa air mata mengalir begitu saja di pipi Nicha.
Suasana hening sejenak. Namun, tiba-tiba terdengar suara pesan masuk diponsel Renata. Seketika, Renata meraih ponselnya dan membaca isi pesan tersebut.
Apa-apaan ini? Kenapa dia mengirimkan aku pesan seperti ini. Dasar gila!
__ADS_1
Renata berbucara sendiri sambil tersenyum.
"Ada apa Ren?" tanya Nicha penasaran.
"Oh, ini... Temanku mengirimkanku pesan bahwa ada lowongan pekerjaan di wedding organizer miliknya. Itu kan konyol, lalu posisi apa yang harus aku lamar? Atau mungkin, aku bisa melamar menjadi manajer pemasaran atau keuangan? Bukankah itu sangat lucu..." jelas Renata sambil tertawa.
"Memangnya posisi apa yang dibutuhkan?" tanya Nicha serius.
"Dia membutuhkan jasa pelayan."
Nicha terdiam sejenak.
"Aku akan mencoba melamar pekerjaan itu Ren. Bisakah, kamu mengirimkan pesan itu ke ponselku?"
"Auwh... Kamu serius akan bekerja di wedding organizer itu Nich?"
Nicha mengangguk.
"Dengar Nicha. Sekarang ini kamu tidak perlu bekerja. Yang harus kamu lakukan, hanya fokus pada skripsimu. Lagi pula, aku akan menutupi seluruh kebutuhanmu di apartemen ini. Jadi, kamu tidak perlu susah payah bekerja. Ya?"
"Tidak bisa Ren. Aku sudah banyak menyusahkanmu. Dan pekerjaan ini adalah kesempatan bagiku untuk bisa membiayai hidupku sendiri. Aku sangat malu, jika terus bergantung padamu. Jadi, aku mohon, kirimkan lowongan pekerjaan itu kepadaku ya?"
"Hhh, kamu ini benar-benar keras kepala. Baiklah jika itu maumu..."
Lalu Renata mengirim pesan tersebut ke ponsel Nicha.
"Sudah?"
...***...
Dikediaman Great.
Waktu menunjukkan jam 12 siang. Terlihat Great sedang sibuk merapikan diri, seperti hendak pergi.
Aku akan menyelesaikannya sekarang. Nicha, aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Aku berjanji, akan memperjuangkan hubungan kita sampai akhir, Nich.
Great berkata sendiri sambil menatap pantulan dirinya dicermin besar. Matanya begitu tajam, semangatnya berapi-api, karena telah lama menahan rindu kepada sang pujaan hati. Dan sekarang, saatnya telah tiba untuk membuktikan bahwa, ia benar-benar serius terhadap Nicha.
TAP. TAP. TAP.
Great bergegas menuruni anak tangga. Ia begitu semangat, karena hari itu, kedua orang tuanya sedang tidak berada dirumah. Tapi, ketika ia hendak menuju pintu keluar, terdengar suara wanita memanggilnya.
"Kakak mau kemana?" tanya wanita tersebut.
"Eh, Preem. Aku akan keluar sebentar. Tolong jaga rumah, baik-baik ya..." kata Great sambil mengacak-acak rambut adiknya.
"Huft... Kenapa hanya aku yang tinggal dirumah. Kakak, aku ikut ya? Pleeasee..." Preem memohon dengan wajah sendu.
"Heei... Aku ada urusan penting sekarang. Kamu tidak boleh ikut."
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh, aku kan adikmu. Apa aku tidak kalah penting dengan urusanmu itu?" ucap Preem merajuk.
"Haha. Tentu saja kamu juga penting. Tapi, kali ini aku tidak bisa mengajakmu. Hemm... begini saja, setelah urusanku selesai, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat yang kamu inginkan. Bagaimana?" Great memberikan penawaran kepada adiknya.
"Janji yaa..." Preem mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya, aku janji." Dan Great pun menyambut dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Preem.
...***...
Di apartemen Renata.
TING. TONG. TING. TONG. Terdengar suara bel apartemen Renata.
Siapa yang datang? Ujar Renata.
Tidak ingin terburu-buru membuka pintu, Renata hendak melihat terlebih dahulu ke layar cctv.
Siapa mereka? Renata mengernyitkan dahinya, kala melihat 2 orang laki-laki bertubuh tegap dan kekar serta mengenakan kacamata hitam.
"Ada apa Ren?" tanya Nicha seraya menghampiri Renata.
"Eh, Nich... Itu, ada 2 orang laki-laki diluar. Apa kamu mengenal mereka?"
Nicha segera melihat ke layar cctv. Dan, betapa terkejutnya ia, melihat 2 orang laki-laki tersebut.
Apa mungkin mereka orang suruhan Tuan Jac yang kemarin datang kesini?
"Jadi, kamu mengenal mereka Nich?" tanya Renata.
Agak lama mereka berpandangan, memikirkan apa yang harus mereka perbuat. Akhirnya, dengan sedikit ragu, Renata membukakan pintu apartemennya.
"Selamat siang Nona," aapa salah satu laki-laki tersebut.
"Siang. Kalian siapa? Dan ada perlu apa ke sini?"
"Maaf Nona. Bisakah, kami bertemu dengan nona Nicha?"
"Dia sedang pergi. Mungkin agak lama. Apa ada pesan yang ingin kalian titipkan padaku?"
Kedua laki-laki tersebut saling berpandangan.
"Kalau tidak ada yang ingin kalian sampaikan. Maka kalian bisa pergi," ujar Renata hendak menutup pintu apartemennya.
"Tunggu sebentar Nona," cegah salah satu laki-laki itu.
"Tolong sampaikan kepada nona Nicha, bahwa kami diminta oleh Tuan Jac untuk mengantar nona Nicha ke suatu tempat. Dan kami akan menunggu nona Nicha, di lobby apartemen sampai beliau datang."
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan menyampaikan hal tersebut kepadanya jika dia sudah pulang nanti."
__ADS_1
Kemudian, kedua laki-laki tersebut berpamitan dan berjalan pergi meninggalkan Renata.