Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 60


__ADS_3

Mentari sudah beranjak lebih tinggi. Hari terasa sangat cerah. Terlihat Great dan Nicha sudah selesai membereskan barang-barang mereka. Dan sekarang, saatnya bagi mereka untuk berpamitan kepada ibu Nat.


"Kami pergi dulu, Bu. Jaga kesehatan ibu dan makan yang teratur. Oya, ibu juga tidak boleh banyak pikiran, ya," ucap Nicha.


"Tentu saja, ibu akan baik-baik saja disini. Kau juga harus terus bahagia bersama suamimu. Dan sering-seringlah main kesini, jika ada waktu luang."


Nicha mengangguk. Kemudain, ibu dan anak itu saling berpelukan. Setelah itu, bergantian Great yang memberikan salam perpisahan kepada ibu Nat. Sejurus kemudian, Nicha dan Great berjalan meninggalkan ibu Nat, menuju sebuah mobil yang terparkir dipinggir jalan utama.


Mobil Great melaju, menyusuri jalan kota Nakhon Sawan yang begitu asri. Selama perjalanan, Nicha tidak membuka suaranya, melainkan hanya menatap kearah jendela mobil. Seakan mengerti kesedihan hati istrinya, lalu Great menggenggam tangan Nicha dengan sebelah tangannya.


"Kamu pasti sedih meninggalkan kota ini. Hum?" tanya Great lembut.


"Hhh... Ya, kamu benar. Tapi, kesedihanku tidak berarti apa-apa kalau kamu selalu ada disisiku," jawab Nicha seraya tersenyum manis.


"Oooh... Sepertinya, kamu sudah pandai merayu sekarang."


"Ya tentu saja, karena kamu kan yang mengajariku. Hehe."


"Ish! Kau ini!"


Great mengacak-acak rambut istrinya. Lalu tiba-tiba, terdengar bunyi.


KRUUK! KRUUK!


"Bunyi apa itu?" tanya Great.


"Hehehe... Itu bunyi perutku," jawab Nicha malu.


"Apa!? Kamu sudah lapar lagi?" tanya Great tak percaya.


Nicha mengangguk pelan.


"Ya ampun... Memangnya, berapa kali kamu makan dalam sehari?" tanya Great heran.


"Hei... Kamu mengejekku? Coba sekarang kamu lihat jam tanganmu?"


Dengan spontan, Great menuruti perintah istrinya untuk melihat jam tangannya. Dan benar saja, waktu sudah menunjukkan jam 12 siang.


Hahaha... Ya, baiklah. Ayo kita mampir ke restoran terlebih dahulu. Sebelum ada yang pingsan karena kelaparan," sindir Great sambil melirik kearah Nicha.


Sementara Nicha tampak cemberut, mendengar ucapan suaminya. Setibanya mereka disebuah restoran, Great langsung memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Setelah menunggu selama hampir 30 menit, akhirnya pesanan mereka datang. Dengan cekatan, pelayan tersebut menata setiap piring dan gelas di atas meja. Wajah Nicha nampak sumringah, menyapu seluruh penjuru meja. Semua makanan terlihat sangat menggiurkan, membuat saliva Nicha, seketika bergumul di dalam mulutnya. Tanpa aba-aba, Nicha langsung menyantap makanan tersebut dan tak menghiraukan suaminya yang sedari tadi memerhatikannya.


"Aaah... Aku kenyang sekali. Makanan di restoran ini sangat enak," ujar Nicha sambil bersandar pada kursi dengan memegang perutnya.


"Kamu makan, seperti orang yang sebulan tidak makan. Awas saja, kalau setelah menikah kamu berubah menjadi gendut," ancam Great.

__ADS_1


" Lalu, jika aku berubah menjadi gendut. Apa kamu tidak akan mencintaiku lagi? Atau bahkan akan menceraikanku?"


"Hemm... Aku belum tahu. Mungkin saja..."


Belum sempat Great melanjutkan ucapannya. Nicha segera menyela.


"Lihat saja, kalau kamu berani menceraikanku. Aku akan..."


"Akan apa?" potong Great.


"Aku akan selalu menghantuimu dan mencekik lehermu sampai mati. Lalu, jasadmu akan aku buang ke sungai yang penuh dengan buaya. Sehingga tidak ada lagi sisa-siaa bagian dari tubuhmu, karena telah habis dimakan oleh buaya-buaya yang kelaparan," sungut Nicha panjang lebar saking kesalnya.


"Auwh! Itu sangat mengerikan. Tapi jika hantunya secantik dirimu, aku tidak keberatan," goda Great.


"Ish! Kau ini!" Nicha bertambah kesal dan langsung mencubit tangan suaminya.


"Aduh! Sakit Nich!"


"Biar saja. Itu hukuman untukmu, karena sudah mengerjaiku."


Kemudian mereka berdua saling melempar senyuman.


"Hemm... Great!" panggil Nicha.


"Bagaimana, kalau kita berkunjung ke rumah orang tuamu dulu. Karena aku ingin menyapa mereka," ucap Nicha ragu.


"Kamu ingin ke rumah orang tuaku? Apa kamu yakin?"


"Ya. Aku masih merasa bersalah, karena kita sudah melakukan pernikahan diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuamu. Dan sekarang, sudah saatnya kita meminta restu dari mereka."


"Nicha.. Aku mengerti perasaanmu. Tapi aku rasa, sekarang bukanlah saat yang tepat. Bagaimana kalau kita tunggu beberapa hari lagi. Lalu, aku akan segera membawamu untuk menemui orang tuaku?"


"Tidak, Great. Aku masih merasa belum tenang, jika belum bertemu dengan kedua orang tuamu."


Great hanya terdiam. Ia masih merasa bimbang dengan permintaan istrinya.


"Ayolah, Great. Mau ya?" rengek Nicha.


"Hhh... Baiklah, jika itu maumu."


Dengan berat hati, Great mengabulkan permintaan Nicha.


"Terima kasih, sayang," ucap Nicha sambil tersenyum lebar.


Lalu, Great kembali meneguk jus melonnya.

__ADS_1


"Auwh, Great...!"


Nicha melihat ada sisa minuman dibibir suaminya.


"Ada apa?" tanya Great bingung.


Dengan sigap, Nicha mengelap bagian atas bibir suaminya dengan jari jempolnya.


"Nah, sudah!" ujar Nicha setelah selesai membersihkan mulut suaminya.


"Apa kamu sedang berusaha merayuku?" ucap Great seraya menyeringai.


"Hah!? Bukankah itu hal yang wajar, jika aku merayu suamiku sendiri? Daripada aku merayu suami orang lain?"


"Benarkah? Bukankah kamu melakukannya, karena takut kehilangan diriku?"


"A-apa maksudmu?" tanya Nicha panik.


"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja, bahwa di rumah orang tuaku juga ada Ranida. Apa kamu tidak takut, kalau aku akan menyukainya?"


DEG!


Jantung Nicha hampir copot. Ia tidak menyangka, suaminya bisa mengatakan hal tersebut dihadapanya.


"Terserah kau saja!" ketus Nicha.


Lalu Nicha langsung menunduk. Ia berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya dan juga matanya yang mulai berembun. Sementara Great, tampak tersenyum geli melihat istrinya yang mulai cemburu dan mempercayai ucapannya. Tapi, agak lama Nicha menunduk, membuat Great merasa khawatir.


"Sayang. Kamu tidak apa-apa?"


"Hah? Aku... aku tidak apa-apa," sangkal Nicha seraya mengelap air matanya.


"Apa kamu menangis? Jangan-jangan, kamu mempercayai ucapanku tadi, ya?" tanya Great lembut seraya menatap wajah sendu istrinya.


"Hah!? Ten-tentu saja aku tidak percaya. Kamu kan sangat pandai berakting. Dan aku tahu, kamu sedang mengerjaiku kan?" ucap Nicha dengan senyum yang dipaksa.


"Jangan bohong. Lalu, kenapa kamu menangis?"


Nicha tidak menjawab. Lalu dengan lembut, Great meraih tangan Nicha.


"Dengar, Nich. Bagaimanapun keadaanmu nanti. Tapi bagiku, kamu adalah wanita yang paling istimewa di dunia ini dan tidak ada nama seorang wanitapun didalam hatiku selain hanya namamu. Tidak ada seorang wanitapun yang bisa membuatku berpaling darimu. Percayalah padaku. Hum?"


Sejurus kemudian, Great mengecup tangan Nicha, dengan terus menatap wajah Nicha. Tak ayal, hal tersebut membuat Nicha tersipu malu dan membuat wajah Nicha merona dihiasi dengan senyuman yang terus mengembang. Great sangat senang melihat wajah istrinya yang telah berbinar bahagia. Dan akhirnya, mereka berdua saling berpandangan dan melempar senyuman satu sama lain.


...***...

__ADS_1


__ADS_2