
Malam itu, Nicha langsung bekerja sebagai pelayan di Sara Restoran. Ia bekerja dengan sangat bersemangat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Lalu ia bergegas untuk berganti pakaian dan pulang.
Jalan yang dilalui Nicha terasa agak sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang hilir mudik. Dan tiba-tiba, mata Nicha membulat ketika ia melihat ada beberapa laki-laki seperti preman sedang menodongkan pisau kearah seorang laki-laki muda.
"Heh! Lu mau mati, hah! Cepat serahin kunci mobil lu. Dan lu akan kita bebasin!" ancam salah satu preman.
"Kunci mobil apa? Saya nggak pegang kunci mobil. Kalau kalian mau ambil mobil saya. Silahkan bawa saja..." jawab laki-laki muda itu dengan tubuh yang sempoyongan.
"Wah, konyol nih orang. Cari mati dia. Ayo kita habisin aja!"
Baru saja, salah satu preman itu akan menusukkan pisaunya ke perut laki-laki itu. Tapi langsung dicegah oleh Nicha. Nicha berteriak dan menghampiri para preman itu.
"Woy! Ngapain kalian!?"
"Heh! Cewek usil. Ini bukan urusan lu. Lebih baik, lu cepat-cepat pergi, atau kita akan habisi juga lu!"
"Saya nggak takut! Kalian preman-preman tengil yang bisanya mengancam orang yang lemah. Kalian yang harusnya pergi. Atau saya akan menelepon polisi!
"Sialan nih cewek! Minta dikasih pelajaran dia. Hajar-hajar!"
Lalu perkelahian pun terjadi. Namun dengan cekatan, Nicha menghindari serangan dari preman-preman tersebut. Sampai mereka jatuh tersungkur dijalan. Lalu dari kejauhan, terdengar suara mobil polisi yang sedang berpatroli. Para preman tersebut tampak ketakutan dan berusaha melarikan diri. Tapi Nicha berhasil menahan mereka. Sampai akhirnya polisi datang dan membawa mereka semua.
Setelah para preman tersebut dibawa oleh polisi. Nicha bergegas menghampiri laki-laki muda tadi yang masih bersandar disamping mobilnya.
"Tuan! Tuan, tidak apa-apa?" Nicha berusaha menyadarkan laki-laki itu. Tapi laki-laki itu tampak sangat mabuk dan lemas.
Akhirnya, Nicha membawa laki-laki tersebut kerumahnya, karena jarak kerumahnya memang tidak terlalu jauh. Dengan susah payah Nicha membopong tubuh laki-laki tersebut yang memang 2 kali lebih besar dari tubuhnya.
Sesampainya dirumah. Nicha membaringkan tubuh laki-laki tersebut diatas sofa.
Aduh, gila! Ini orang berat banget. Untung gue termasuk wanita kuat karena rajin berlatih angkat beban. Tapi kalau dilihat-lihat, ini cowok tampan juga. Dan wajahnya agak familiar...
Nicha berbicara sendiri. Lalu ia berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah laki-laki itu. Ia mengamati wajah laki-laki itu cukup lama. Dan tiba-tiba, mata laki-laki itu pun terbuka. Sontak Nicha terkejut dan menjadi kikuk.
__ADS_1
"Bella! Akhirnya kamu kembali. Aku tahu, kamu akan kembali kepadaku Bel..."
Lalu laki-laki itu langsung memeluk Nicha dengan erat. Nicha yang sangat kaget dan bingung dengan perilaku laki-laki itu, berusaha memberontak.
"Eh, Tuan! Lepaskan aku. Aku bukan wanita yang Tuan maksud..."
"Apa maksud kamu Bel? Aku sangat merindukanmu Bel. Apa kamu tidak mencintaiku lagi..." Laki-laki itu menatap Nicha lekat.
Nicha menjadi bingung dan hanya bisa mematung mendapat perlakuan dari laki-laki tersebut. Melihat Nicha yang hanya terdiam, lalu laki-laki tersebut berusaha memajukan wajahnya mendekati wajah Nicha. Sontak Nicha merasa risih dan kembali menyadarkan laki-laki itu dari mabuknya.
"Tuan! Apa yang akan Tuan lakukan? Sadarlah Tuan saya bukan wanita yang Tuan maksud..." Nicha terus saja memberontak. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan tubuh laki-laki tersebut yang lebih tinggi dan lebih besar dari tubuh Nicha.
Laki-laki tersebut semakin mendekatkan wajahnya kearah wajah Nicha. Dan akhirnya...
CUP!
Bibir laki-laki itu mendarat tepat dibibir Nicha. Seketika, mata Nicha membulat sempurna. Ia benar-benar tidak menyangka, ciuman pertamanya telah direbut oleh laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal. Beberapa detik Nicha mematung, tapi akhirnya ia bisa kembali mendapatkan kesadarannya. Langsung saja ia menampar pipi laki-laki itu.
PLAK!
Setelah mendapat tamparan dari Nicha. Laki-laki tersebut hanya tersenyum, lalu kembali tertidur disofa. Nicha menjadi bertambah bingung. Ia menjambak rambutnya sendiri sambil berteriak.
Aargh! Kenapa bisa gue nolongin orang gila yang mabuk begini. Nichaaa! Lo membuat diri lo sendiri susah! Shit! Nicha menggerutu sambil mengutuk dirinya sendiri.
Pagi hari pun tiba. Nicha sedang memasak didapur. Selain jago bela diri, ia juga pintar memasak. Sejak kecil, Ibunya sudah mengajarinya memasak, karena dalam keluarganya seorang wanita memang harus bisa memasak untuk masa depannya nanti menjadi seorang istri.
Sementara diruang tengah. Terlihat laki-laki yang mabuk semalam, sudah terbangun dan melihat bingung kesekeliling rumah Nicha.
Aduh, kepalaku pusing... Laki-laki itu memijit-mijit kepalanya.
Loh, ini aku dimana? Gumam laki-laki itu lagi.
"Anda sudah bangun?" tanya Nicha sambil menaruh 2 buah piring berisi omelet.
__ADS_1
"Kamu siapa!?" Laki-laki itu terkejut.
"Aku yang punya rumah ini. Ayo sarapan dulu. Aku sudah memasak omelet."
"Kenapa kamu membawaku kesini?"
"Anda lupa, semalam anda mabuk dan hampir mati dikeroyok oleh tiga preman?"
Lalu laki-laki itu berusaha mengingat kejadian semalam.
"Terima kasih, kamu telah menyelamatkanku. Aku akan segera pergi. Maaf sudah merepotkanmu..."
Laki-laki itu berusaha bangkit tapi kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya pun sempoyongan.
"Hhh, kan sudah ku katakan. Anda harus sarapan dulu. Tubuh anda masih lemas. Jangan sampai anda merepotkanku lagi dengan jatuh pingsan nanti ketika keluar dari rumahku."
Mendengar ucapan Nicha, akhirnya, laki-laki itu duduk dikursi meja makan bersama Nicha. Lantas, mereka berdua sarapan bersama. Setelah beberapa menit, Nicha telah menyelesaikan sarapannya. Lalu ia beranjak ke dapur untuk mencuci piringnya. Kemudian bergegas kedalam kamarnya untuk mengambil tasnya.
"Aku akan berangkat kuliah. Jika kondisi tubuhmu masih lemas, istirahatlah lebih lama disini. Oya, tolong kunci rumahku setelah anda merasa baikan. Dan taruh kuncinya didalam pot tanaman didepan pintu ya. Aku pergi..."
Nicha bergegas keluar rumah tanpa menunggu jawaban dari laki-laki itu.Sementara laki-laki tersebut hanya bisa terpaku melihat perilaku Nicha.
Apa!? Bisa-bisanya dia mempercayakan rumahnya kepada seorang laki-laki yang bahkan dia belum mengenalnya. Huh! Wanita macam apa dia. Dasar aneh.
Tak lama, ponsel laki-laki itu berdering.
"Halo! Ya Jac. Aku baik-baik saja. Oya, bisakah kau ke tempat aku berada sekarang? Baiklah, akan aku kirimkan lokasinya..."
...***...
Nicha sedang berdiri dipinggir jalan, hendak menyeberang dan menunggu lampu lalu lintas berwarna merah. Dari kejauhan, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari dalam sebuah mobil.
Tak berapa lama, lampu lalu lintas telah berubah menjadi merah, langsung saja Nicha dan beberapa orang berjalan untuk menyeberang. Namun tiba-tiba, ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kearah Nicha. Nicha begitu kaget dan tidak bisa menyelamatkan diri. Dan tiba-tiba...
__ADS_1
BRUK!
Seorang laki-laki menyelamatkan Nicha. Mereka berdua terjatuh dan terguling ke pinggir jalan. Sedangkan mobil yang hendak menabrak Nicha langsung melarikan diri.