
"Great!" pekik Nicha pelan.
"Selamat pagi, sayang," ujar Great sambil melemparkan senyuman termanis untuk Nicha.
"Sejak kapan kamu disini? Dan kenapa kamu bisa masuk ke kamarku?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Nicha. Great malah menyentil dahi Nicha.
TUK!
"Auwh!" ringis Nicha.
"Bagaimana bisa, ada seorang wanita yang membiarkan pintu kamarnya tidak dikunci saat dia tidur?" sindir Great.
"Apa? Seingatku, pintunya sudah dikunci," tukas Nicha dengan wajah bingung.
"Dasar pelupa. Atau kamu memang sengaja tidak menguncinya, karena tahu aku akan kesini. Hum?"
"Ish... Untuk apa aku membiarkanmu masuk ke kamarku. Jika aku tahu kamu akan kesini. Maka aku akan mengunci pintu kamar ini dan memasang jebakan tikus dibalik pintu."
"Benarkah? Tapi sayangnya, kamu tidak bisa melakukan itu kepadaku, gadis bodoh."
"Mungkin untuk kali ini, tidak. Tapi lain kali, kamu pasti akan mendapatkan balasannya. Huh!"
"Mmm, baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau sekarang saja..." ucap Great seraya mengedipkan sebelah matanya.
"A-apanya yang sekarang?"
Melihat gelagat aneh pada wajah Great. Sontak, Nicha menjadi gugup.
"Bukankah kamu akan memberikan sebuah balasan padaku? Nah, sekarang aku sudah siap. Ayo lakukan!"
Sepintas Great langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Nicha.
"Hiii... Kamu ini mau apa. Dasar mesum!"
Nicha segera menghindar dan mendorong wajah Great dengan sebelah tangannya.
"Sudahlah, kamu tidak usah malu begitu, sayang. Disini hanya ada kita berdua saja, kan?" goda Great sambil terus menyelusup ke leher Nicha.
"Iissh... Geli Great. Hentikan! Apa kamu mau aku mengompol disini?" ujar Nicha sambil terus memberontak, namun dengan wajah tersenyum.
"Apa? Mengompol? Jika kamu ingin, lakukan saja. Yang penting, aku harus mendapatkannya sekarang. Karena kamu telah berhasil membuat samuraiku menegang. Jadi, kamu harus bertanggung jawab."
"Apa!?"
Mata Nicha terbelalak dengan kedua alis yang bertaut. Berbeda dengan Great yang sumringah dengan senyum kudanya.
"Jadi, ayo lakukan..." pinta Great.
"Lakukan apa? Aku tidak mengerti."
"Samuraiku ini ingin masuk ke sarangnya. Jadi ayo buka celanamu," paksa Great.
"Hah...! Ish, dasar tidak sopan. Aku tidak mau!" seru Nicha sambil terus memegangi bagian bawah perutnya.
"Ayolah, Nich. Aku sudah tidak tahan lagi. Biarkan aku merasakannya sebentar saja."
Sebenarnya Great tidak benar-benar ingin melakukan hal tersebut kepada Nicha. Namun, melihat ekspresi Nicha yang begitu ketakutan. Ia merasa ingin mengerjai Nicha lebih lama lagi.
"Aaaa, tidak! Aku tidak akan memberikannya. Kamu laki-laki gila! Pergi sana. Keluar dari kamarku!"
"Kenapa kamu begitu tega memanggil kekasihmu dengan sebutan itu, sayang. Ayolah, ini tidak akan sakit. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut."
Great terus menggoda Nicha yang semakin ketakutan. Dan tiba-tiba, pintu kamar Nicha terbuka.
__ADS_1
"Nich, kamu kenapa?"
Tampak Kak May membuka pintu kamar Nicha dengan ekspresi panik dan napas yang memburu.
"Kak May!" pekik Nicha.
Sontak Nicha bergegas berlari kearah Kak May yang masih terpaku didepan pintu.
"Great. Sejak kapan kau datang?" tanya Kak May.
"Aku datang jam 4 pagi tadi, Kak. Maaf aku tidak memberi tahumu terlebih dahulu. Karena ini memang mendadak."
"Oh, begitu. Lalu, apa yang kamu lakukan di kamar Nicha?"
"Apa!? Mmm... Itu tadi, aku hanya sedang menggodanya saja. Hehehe," jawab Great seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bohong, Kak May. Tadi dia hampir saja merenggut keperawananku," sahut Nicha.
"Heh! Jaga bicaramu, gadis bodoh. Aku ini laki-laki terhormat, mana mungkin aku melakukan hal serendah itu," sangkal Great.
"Hahaha. Baiklah, kalian jangan bertengkar begitu. Kamu tenang saja, Nicha. Aku sangat mengenal Great. Dia tidak akan melakukan hal rendah semacam itu. Apalagi dengan wanita yang ia cintai. Dengar Nich, ada sesuatu yang perlu kamu tahu. Great adalah tipe laki-laki setia dan dia sangat menjaga kehormatan wanita. Jadi, tidak mungkin dia berbuat macam-macam terhadapmu. Mengerti?"
"Oh. I-iya, Kak. Aku mengerti," ucap Nicha pasrah.
Sementara Great merasa menang, karena Kak May membelanya.
"Ya sudah. Kalau begitu, bisakah kamu membantuku memasak didapur? Setelah itu, kita sarapan bersama."
Nicha menyanggupi permintaan Kak May, lalu mereka berdua pergi menuju dapur.
...***...
Dimeja makan. Tmpak Great, Nicha dan Kak May sudah selesai menyantap sarapan mereka.
"Apa itu?" tanya Kak May.
"Aku akan segera menikahi Nicha," ucap Great mantap seraya menatap kearah Nicha.
Nicha yang sedang meminum airnya, tampak kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut Great.
UHUK! UHUK!
"A-apa katamu!?" seru Nicha tak percaya.
"Hari ini, aku akan segera menikahimu, Nich," jawab Great yakin dengan tatapan dalam kearah Nicha.
"Great! Kamu jangan bercanda. Ini sangat konyol."
"Aku serius, Nich. Aku ingin segera menikah denganmu. Dan bukankah, ini yang kamu inginkan juga?"
"Ya. Aku memang ingin menikah denganmu. Tapi, tidak dengan cara seperti ini. Aku ingin mendapatkan restu terlebih dahulu dari kedua orang tuamu. Baru kita akan menikah."
"Nicha, tolonglah mengerti. Kedua orang tuaku tidak akan semudah itu merestui kita. Tapi aku yakin, jika kita sudah menikah nanti dan kita mempunyai anak, orang tuaku pasti akan memberikan restunya kepada kita."
"Apa? Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Lalu bagaimna dengan Ranida? Dia pasti akan sangat kecewa dan sedih. Aku tidak akan melakukannya!"
"Lalu, bagaimana dengan aku? Apa kamu tidak pernah memiirkan perasaanku, Nich?"
Nicha tidak dapat menjawab ucapan Great dan hanya bisa terdiam.
"Untuk masalah Ranida, aku sudah memikirkannya. Lagi pula, tempo hari aku sudah memberitahukannya padamu, kan."
"Memangnya, apa yang membuatmu ingin segera menikahi Nicha, Great?" sahut Kak May.
"Aku sudah tidak tahan harus berpura-pura mencintai Ranida, Kak. Aku lelah."
__ADS_1
"Kalau kau memang tidak mencintainya, kenapa kau masih tetap menikahinya?"
"Kak May, tentunya kakak tahu kan, bagaimana sifat Papaku. Beliau telah menjodohkanku dengan Ranida, sebelum aku bertemu dengan Nicha. Sebelum pernikahan terjadi, aku sudah mengatakan kepada beliau, bahwa aku tidak akan melanjutkan hubunganku dengan Ranida. Tapi, hasilnya nihil."
"Dalam masalah ini, kita juga tidak bisa menyalahkan Papamu, Great. Karena pertunangan kalian sudah terlanjur dilaksanakan. Pasti beliau akan merasa bersalah pada keluarga Panhakarn, jika membatalkan pernikahan kalian."
"Maka dari itu, Kak. Aku menuruti kemauan Papa, untuk menikahi Ranida. Dan sekarang, sudah saatnya aku memperjuangkan wanita yang aku cintai. Sebelum..."
"Sebelum apa, Great?" tanya Kak May bingung.
"Sebelum, Ranida merenggut keperjakaanku."
"Apa!?" teriak Kak May dan Nicha secara bersamaan.
"Hahaha. Kau ini ada-ada saja, Great," seloroh Kak May.
"Kenapa Kak May tertawa begittu? Ini hal yang sangat serius, Kak."
"Asal kau tahu ya, Great. Tidak pernah ada teori yang mengatakan bahwa keperjakaan laki-laki bisa direnggut. Nah, berbeda dengan wanita."
"Apa bedanya, Kak?" sahut Nicha.
"Apa kalian benar-benar tidak tahu?" tanya Kak May pada Great dan Nicha.
Dengan serempak, Great dan Nicha menggelengkan kepala mereka.
"Setiap laki-laki yang sudah pernah berhubungan intim dan yang belum, tidak bisa terlihat bedanya. Tapi, bagi wanita yang sudah pernah berhubungan intim, akan terasa bedanya, yaitu selaput daranya akan robek. Dan bisa dipastikan wanita tersebut sudah tidak perawan."
"Jadi intinya, tidak ada perbedaan bagi laki-laki yang sudah berhubungan badan atau belum?" tanya Great.
"Yup. Betul sekali. Tapi, jangan sampai kau berpikir untuk tidur dengan banyak wanita ya, Great."
"Hehehe. Kak May, tahu saja jalan pikiranku."
"Nicha, kenapa kamu melamun?" tanya Kak May menyadarkan Nicha.
"Eh, ti-tidak apa-apa, Kak."
"Benar tidak apa-apa? Atau jangan-jangan kalian sudah..." ujar Kak May curiga.
"Eh... Tidak, tidak! Kami berdua belum pernah melakukannya, Kak," sangkal Nicha gugup.
"Hahaha. Kenapa kamu gugup begitu, Nich?" ucap Kak May.
"Dia memang seperti itu, Kak. Aku yakin, belum pernah ada laki-laki yang berani menyentuhnya. Karena dia selalu ketakutan dan gugup seperti itu. Bahkan pada malam itu, ketika aku menyentuh kancing bajunya saja, dia sudah ketakutan setengah mati dan hampir menonjokku sampai terpental."
Mendengar ucapan Great, mata Nicha membulat dan langsung menutup mulut Great dengan sebelah tangannya.
"Hehehe. Jangan dengarkan ucapannya, Kak. Dia hanya asal bicara saja."
Melihat perilaku kedua insan tersebut. Kak May, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Selesai sarapan, Nicha membantu Kak May membawakan piring-piring kotor ke wastafel dan mencucinya.
"Hemm, Nich. Apa aku boleh bertanya padamu?"
"Tentang apa, Kak?"
"Sebenarnya, apa yang terjadi antara kau dan Great pada malam itu?"
DEG!
Jantung Nicha hampir berhenti berdetak, mendengar pertanyaan Kak May.
"Oh, tentang itu. Jadi, pada malam itu..."
__ADS_1