
Buat para pembaca setia novel ini, author ingin meminta maaf sebelumnya, karena satu dan lain hal. Maka author akan mengganti judul novel ini menjadi Perjuangan Cinta Tuan Muda. Dan author ucapkan terima kasih, atas dukungannya selama ini. Happy reading. 🤗
...***...
1 bulan kemudian.
Pernikahan Ranida dan Great sedang berlangsung. Dengan konsep outdoor, pernikahan mereka digelar ditepi pantai. Dihiasi lampu-lampu dan bunga-bunga yang indah. Menambah kesan mewah pada acara pernikahan Ranida dan Great.
Banyak tamu undangan. yang datang ke pesta pernikahan mereka. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan elit, partner bisnis keluarga Warinton dan Panhakarn, serta tak lupa beberapa teman-teman Great dan Ranida, juga seluruh kerabat dan handai taulan. Tak hentinya, mereka berdecak kagum dengan dekorasi pernikahan Ranida dan Great, terlebih lagi penampilan dari kedua mempelai yang begitu cantik dan tampan bagaikan raja dan ratu dalam negeri dongeng.
"Nona, boleh aku meminta minuman?" ujar salah seorang tamu undangan.
"Oh, tentu Tuan."
Lalu seorang pelayan wanita berseragam hitam putih, dengan sigap menyodorkan nampan berisi berbagai jenis minuman kepada tamu tersebut.
Sejenak, pelayan wanita tersebut tampak takjub dengan acara pernikahan tempat ia berdiri sekarang.
Ini pernikahan termewah yang pernah aku lihat. Bagaikan di negeri dongeng. Bunga-bunga terhampar indah memenuhi sudut ruangan. Dekorasinya begitu apik. Belum lagi makanannya yang menyamai sajian hotel bintang 5. Pasti, keluarga mereka sangat kaya raya. Sungguh beruntung kedua mempelai itu. Seandainya, aku bisa merasakan pesta pernikahan seperti ini.
Pelayan tersebut berkata dalam hatinya, seraya mengedarkan pandangannya menikmati dekorasi yang begitu mewah.
Sementara disisi lain, Great dan Ranida nampak sedang berfoto bersama para kerabatnya.
Lalu, datanglah Preem bersama seorang pria disampingnya.
"Selamat untuk kalian..." ucap Preem seraya menyalami Ranida dan kakaknya, tak lupa laki-laki tersebut pun mengikuti langkah Preem.
Ketika teman laki-laki Preem hendak menyalami Great. Great nampak terkejut mendapati wajah yang ia kenal.
"Roni!?" Pekik Great.
"Hehe. Hai Bro. Selamat ya," ucap Roni seraya tersenyum kuda.
"Kenapa lo bisa kesini bareng Preem? Atau kalian...?" Great tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Iya Bro. Gue sama adik lo, kita pacaran," ucap Roni sambil tertunduk malu, begitu juga dengan Preem.
__ADS_1
"Wah, kurang ajar lo. Beraninya lo main belakang sama adik gue."
Wajah Great tampak geram, hampir saja ia beradu gulat dengan temannya, Roni. Tapi, Ranida dan Preem segera melerai aksi Great.
"Ampun... Ampun Bro. Bukan maksud gue main belakang. Tapi, kita cuma backstreet. Hehe." Roni menyeringai malu.
"Itu sama aja, dodol!" ketus Great.
"Sudahlah Great. Biarkan mereka berhubungan. Asalkan mereka bahagia. Hum?" rayu Ranida sambil mengusap lengan Great.
"Iya Kak. Doakanlah adikmu ini, supaya bisa seperti kalian juga. Menikah dengan dekorasi yang mewah ini. Aku kan juga mau, jadi ratu semalam seperti Kak Ranida," ucap Preem.
"Kau ini... Tunggu saja, kalau sampai mama mengetahui hal ini..." ancam Great.
"Memangnya kenapa kalau mama tahu?" lawan Preem.
"Heh? Apa maksudmu? Jangan katakan kalau mama sudah mengetahui hal ini sebelum aku?"
"Memang sudah. Weeek!" ledek Preem sambil menjulurkan lidahnya kearah Great. Kemudian berlari dengan menggandeng Roni pergi meninggalkan pelaminan.
"Hish! Kau ini... Hei kemari kau. Preem!" seru Great.
"Sayang... Sudahlah, jangan marah-marah begitu, dihari bahagia kita. Hum?" ucap Ranida manja.
Seketika, Great berusaha mengatur mimik wajahnya yang masih sedikit emosi karena ulah adiknya.
Setelah kepergian Preem. Tampak, Bella sedang berjalan menuju pelaminan.
"Khob khun kha, Bell (Terima kasih Bell). Kamu juga terlihat sangat cantik hari ini. Oya, dimana Rei?"
"Oh... Dia tidak bisa datang, karena ada urusan penting diluar kota."
"Oh, begitu," jawab Ranida singkat.
Setelah bersalaman dengan Ranida dan Great, Bella berlalu dari pelaminan dan menuju ke meja hidangan yang terletak agak jauh dari pelaminan. Nampaknya, ia sedang melihat-lihat, makanan dan minuman yang tersaji dimeja tersebut. Dan tiba-tiba...
DUG!
Bahunya tertabrak seorang pelayan wanita dari arah belakang, sehingga gaun Bella menjadi basah terkena tumpahan minuman yang sedang dibawa oleh pelayan tersebut.
"Kho thod kha. Kho thod (Maafkan saya. Maaf)..." Pelayan tersebut meminta maaf sambil berulang kali membungkukkan badannya. Ia sangat ketakutan, kalau tamu yang ia tabrak itu akan marah.
Sejurus kemudian, Bella langsung membalikkan wajahnya dengan penuh kemarahan. Namun, ekspresi marahnya, seketika menghilang, kala ia melihat wajah pelayan wanita tersebut.
"Kamu!" Pekik Bella.
"No-na Bella?" Pelayan tersebut tampak terkejut, juga panik melihat keberadaan Bella di acara tersebut.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Bella seraya memerhatikan pelayan tersebut dari ujung kaki hingga kepala.
Alih-alih menjawab pertanyaan Bella. Pelayan tersebut hanya terdiam seribu bahasa.
"Oh... Apa kamu sedang menyamar menjadi seorang pelayan untuk memata-matai pernikahan laki-laki yang pernah berjanji akan menikahimu?" sindir Bella.
Pelayan tersebut tampak terkejut dengan pernyataan Bella. Wajahnya kini menengadah menatap Belladengan mata terbelalak, saking kagetnya.
"Apa maksud anda, Nona? Saya tidak mengerti?"
"Dasar wanita jalang. Otakmu sama halnya dengan kelakuanmu sangat bodoh dan hina. Biar aku jelaskan padamu. Ini adalah acara pernikahan putra mahkota keluarga Warinton dengan putri mahkota keluarga Panhakarn. Apa kau mengerti sekarang?" ucap Bella dengan berapi-api sambil melemparkan senyum dan tatapan sinis kearah Nicha.
DUAAR!
Jantung Nicha seakan ingin meledak. Hatinya terasa remuk. Kedua matanya terbelalak dengan buliran air yang mulai mengembun.
"Kenapa!? Kamu terkejut? Heuh, dasar wanita bodoh. Kamu sudah merasa diatas angin, karena waktu itu, Great berjanji untuk menikahimu. Tapi nyatanya? Sekarang dia malah menikah dengan wanita lain. Ooh, malang sekali nasibmu..." sindir Bella seraya membelai rambut pelayan itu.
Pelayan tersebut tetap terpaku tanpa menghiraukan perkataan Bella. Ia seperti disengat listrik bertegangan tinggi yang membuat tubuhnya lemas tak berdaya.
"Ckckck... Kau terlihat sangat menyedihkan. Baiklah, aku akan menunjukkan padamu, sesuatu yang akan membuatmu semakin percaya pada ucapanku. Sekarang, bawalah minuman ini kepada kedua mempelai yang berada disudut sana. Dan pastikan, bahwa kau memperhatikan pengantin prianya. Mengerti!?" Bisik Bella pada pelayan itu.
Namun, pelayan tersebut masih nampak bingung. Dengan wajah sendu, ia pun hendak menolak permintaan Bella.
"Ti-tidak nona Bella. Aku tidak bisa melakukannya..."
"Kamu harus melakukannya... Oh, atau kamu ingin mengganti gaunku yang basah ini karena ulahmu? Hah!?" cecar Bella sambil menunjukkan gaunnya yang terlihat mewah dan telah basah karena terkena tumpahan minuman.
Pelayan tersebut semakin ketakutan. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"A-aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, Nona. Mohon maafkan aku..."
"Maka dari itu, ikuti perintahku! Setelah kau bawa minuman ini kepada kedua mempelai, maka aku tidak akan membuat perhitungan lagi denganmu." ancam Bella.
Akhirnya... dengan berat hati, pelayan tersebut membawa nampan berisi berbagai minuman menuju pelaminan. Jantungnya berdegup tak menentu, langkahnya sangat lemas. Dan tangannya pun menjadi gemetar, terlihat pada minuman dalam gelas yang berayun pelan.
Ya Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku? Aku hanya ingin, hidup normal seperti kebanyakan orang. Seandainya saja, aku mendengarkan perkataan Renata dan tetap tinggal di apartemennya saja. Mungkin, aku tidak harus bertemu dengan mereka lagi.
Pelayan tersebut terus-menerus merutuki nasibnya. Dan akhhirnya, sampailah ia dihadapan kedua mempelai. Ia kembali mematung, mendapati pengantin pria yang sedang berdiri gagah di atas pelaminan, adalah laki-laki yang dahulu berjanji akan menikahinya. Hampir saja ia terjatuh lemas, jika ia tidak segera menguatkan dirinya.
Benarkah dia Great? Ternyata dia memang seorang penipu ulung. Heuh... tentu saja ia bisa melakukannya, lagi pula, aku hanya wanita bodoh dan miskin, yang dengan mudah ia permainkan. Kau sangat bodoh Nicha. Kenapa kau, begitu mudah percaya pada perkataan manisnya. Dan sekarang, kau harus merasakan penderitaan karena ulahmu sendiri... Tidak! Aku tidak akan menjadi lemah hanya karena ini. Aku akan menunjukkan, bahwa Nicha yang sesungguhnya adalah wanita yang tangguh dan kuat. Mereka tidak bisa mempermainkan hidupku seperti ini terus. Semangat Nicha!
Setelah menyemangati dirinya. Dengan langkah mantap, Nicha berjalan menuju pelaminan.
"Silahkan minumannya Tuan dan Nona..." Nicha menyodorkan nampan berisi minuman kepada kedua mempelai.
Great menoleh kearah asal suara tersebut. Seketika, matanya terbelalak dan jantungnya hampir copot, melihat pelayan wanita yang sedang menyodorkan minuman kepadanya.
__ADS_1
"Nic-Nicha!" Pekik Great sambil berbisik.
...***...