Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 6


__ADS_3

Dikediaman Great.


Keluarga Pak Direk dan Papa Thagoon sedang makan siang bersama.


"Jadi bagaimana rencana tentang pernikahan anak kita Dir?"


Seketika semua yang berada dimeja makan itu berhenti dan beralih menatap Papa Thagoon.


"Semuanya sudah aku serahkan kepada Rani. Biar dia dan Great yang mempersiapkan semuanya Goon. Benarkan Ran?" Pak Direk melirik Rani.


Rani hanya tersipu malu mendengar ucapan Papanya.


"Aku terserah pada Great saja Pa. Apapun keputusan Great, aku ikut." Lalu Rani dengan malu menatap kearah Great.


"Loh, bagaimana ini? Great! Apa kau sudah menentukan tanggal pernikahanmu?" tanya Papa Thagoon.


UHUK! UHUK!


Great yang sedang minum, seketika tersedak mendengar pertanyaan Papanya.


"Aku masih banyak pekerjaan Pa. Lagi pula, sebentar lagi, proyek pembangunan department store yang baru akan segera berjalan. Jadi aku akan sangat sibuk sekali."


"Apa kau tidak bisa menyerahkan pekerjaan itu kepada asistenmu. Sekarang kau fokuslah dulu dengan pernikahanmu."


"Biarlah Goon. Urusan pekerjaan Great memang sangat penting. Kita tidak perlu terburu-buru untuk mengurus pernikahan anak-anak kita," ucap Pak Direk.


"Iya Om. Menurut Rani, lebih baik Great menyelesaikan dulu pekerjaannya. Aku takut Great akan stres, jika harus mengurus tentang pernikahan juga. Rani akan setia menunggu, sampai Great sudah menyelesaikan pekerjaannya."


"Wah, kamu sangat pengertian Rani," puji Mama Chotika.


"Baiklah. Kalau begitu, Papa kasih waktu 3 bulan. Dalam jangka waktu itu, kau harus menyelesaikan pekerjaanmu Great. Karena tidak baik, menunda pernikahan terlalu lama."


"Baik Pa."


"Atau bagaimana, kalau kalian bertunangan terlebih dahulu?" ujar Mama Samiya.


"Hemm, sepertinya itu ide bagus. Bagaimana Goon?" tanya Pak Direk.


"Aku setuju. Memang lebih baik, mereka bertunangan dulu. Bagaimana Great?" Papa Thagoon melirik kearah Great.


"Baiklah Pa. Great setuju," ucap Great datar.


"Lalu bagaimana denganmu Rani?" tanya Mama Samiya kepada anaknya.


"Rani ikut dengan Great saja Ma," jawab Rani sambil tersipu.


"Mereka berdua saling malu-malu..." Mama Chotika menggoda Great dan Rani.


"Baiklah, kalau begitu. Setelah makan siang, kau ajaklah Rani untuk membeli cincin pertunangan kalian ya. Papa ingin, pertunangan kalian diselenggarakan 3 hari lagi. Sebelum, kau memulai proyek pembangunan department store."


"Apa itu tidak terlalu cepat Pa? Bagaimana dengan persiapannya?" tanya Mama Chotika.


"Tidak Ma. Pertunangan ini, hanya dihadiri beberapa kerabat dan klien penting. Jadi tidak perlu terlalu besar. Bagaimana denganmu Dir?"


"Ya. Aku sependapat denganmu. Pertunangan ini tidak perlu diselenggarakan besar-besaran. Lagi pula, masih ada pesta pernikahan yang membutuhkan persiapan lebih matang."


Akhirnya semua setuju untuk menyelenggarakan pertunangan dahulu, antara Great dan Rani.


Selesai makan siang. Great mengajak Rani melihat cincin pertunangan ke toko perhiasan langganan keluarganya.


Didalam mobil Great.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju toko perhiasan. Great hanya terdiam sambil fokus menyetir.


"Bagaimana perasaanmu Great?" tanya Rani pelan.


"Mengenai apa?" balas Great datar.


"Tentang pertunangan kita?"


"Biasa saja," jawab Great tanpa ekspresi.


"Apa kamu tidak senang dengan pertunangan ini Great?"


CIIIT!


Tiba-tiba Great menginjak pedal rem mobilnya. Seketika mobil berhenti mendadak, membuat Rani terkejut sambil memegang safety beltnya.


"Rani! Bisakah kita terbuka satu sama lain. Kamu tahu kan, pertunangan ini adalah rencana dari kedua orang tua kita. Lalu kenapa kamu masih bisa menanyakan tentang perasaanku mengenai pertunangan ini?"


Rani terdiam. Ia menjadi sedikit takut mendengar perkataan Great.


"Maaf jika aku harus berkata seperti tadi kepadamu. Sudahlah, lupakan saja perkataanku."


Great kembali melajukan mobilnya. Tapi tangannya segera ditahan oleh Rani.


"Apa ada wanita yang kamu cintai Great?"


Great hanya terdiam.


"Jika kamu mempunyai seorang wanita yang kamu cintai. Maka perjuangkanlah ia. Aku akan meminta kepada orang tuaku untuk membatalkan pertunangan kita."


"Tidak perlu. Kita jalani saja apa yang sudah direncanakan oleh kedua orang tua kita. Lagi pula, wanita yang aku cintai telah bertunangan dengan pria lain."


Great melajukan mobilnya dengan tatapan kosong. Sementara Ranida masih terlihat bingung mendengar jawaban Great.


...***...


Terlihat, Papa Mark sedang bersantai sore ditaman belakang rumahnya. Lalu dari dalam rumah, datanglah Rei menghampiri Papanya.


"Hai Pa!" sapa Rei.


"Hei Rei! Kau sudah pulang?"


"Iya Pa."


"Bagaimana pekerjaanmu?"


"Lancar Pa. Area tambang, sudah kembali normal. Beruntung, cuaca akhir-akhir ini, sangat bagus. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi cuaca ekstrem."


"Syukurlah, kalau begitu. Oya Rei, besok kita akan bertemu dengan keluarga Bella. Jadi luangkan waktumu ya."


"Baik Pa. Akan Rei usahakan. Oya, Rei ada perlu dengan Renata. Aku masuk kedalam dulu ya Pa."


Papa Mark mengangguk dan tersenyum. Lalu Rei bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam rumah.


Didalam kamar Renata.


TOK, TOK, TOK!


"Masuk!" jawab suara dari dalam kamar.


"Hei Ren."

__ADS_1


"Eh, kakak. Ada apa?"


Rei kemudian masuk kedalam kamar Renata.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol dengan adikku." Lalu Rei duduk disebelah Renata.


"Hemm, kebetulan. Aku juga ingin menanyakan sesuatu kepada kakak."


"Menanyakan apa?"


"Kenapa kakak menjemput Nicha semalam?"


"Oh, itu. Jadi Nicha sudah memberitahumu."


"Kakak. Dia itu temanku. Dan dia seorang wanita baik-baik. Jadi kakak jangan berusaha macam-macam kepadanya ya."


"Apa yang kau bicarakan? Dasar adik yang tidak sopan." Rei menjitak kepala adiknya.


"Aduh!" Renata mengaduh sambil mengusap kepalanya.


"Apa kakakmu ini terlihat seperti bad boy, yang suka mempermainkan wanita?"


"Ya tidak tahu. Kakak pikir saja sendiri..." jawab Renata dengan tatapan tidak peduli.


"Dasar anak nakal." Rei hendak memukul Renata kembali, namun Renata berhasil menghindar.


"Tidak kena! Weeek!" Renata menjulurkan lidahnya.


"Oya, memangnya Nicha tidak mempunyai keluarga Ren?"


"Kenapa kakak bertanya seperti itu?"


"Karena waktu kakak mengantarkan dia pulang. Rumahnya tampak sepi seperti tidak ada orang."


"Nicha memang hidup sendiri di Bangkok. Sedangkan Ibu dan adiknya memilih tinggal di desa karena biaya hidup yang lebih murah."


"Lalu bagaimana dengan ayahnya?" tanya Rei penasaran.


"Ayah Nicha telah lama meninggal. Ketika dia duduk dibangku SMP. Dulu keluarga Nicha adalah keluarga yang berkecukupan. Tapi ketika ayahnya meninggal dan mempunyai banyak hutang, keluarganya menjadi bangkrut dan banyak aset keluarga Nicha yang dijual untuk membayar hutang."


Rei terdiam sejenak.


"Makanya, sekarang dia, harus bekerja paruh waktu untuk biaya kehidupannya sehari-hari," lanjut Renata.


"Lalu bagaimana dengan biaya kuliahnya? Bukankah biaya kuliah di Rangsit sangat mahal?"


"Nicha berkuliah di Rangsit, dengan mendapatkan beasiswa. Ia termasuk mahasiswi yang cerdas. Makanya, ia harus tetap berjuang demi kuliahnya sampai selesai. Karena, ia bertekad untuk menjadi seorang yang sukses ketika lulus kuliah. Sehingga, ia dapat membahagiakan ibu dan adiknya."


Setelah mendengar semua penjelasan Renata. Rei semakin tersentuh dan iba kepada Nicha.


...***...


Nicha sedang berjalan menuju rumahnya. Ia terlihat sangat lelah setelah seharian kuliah, kemudian masih harus bekerja sampai malam.


Sesampainya didepan rumah, Nicha segera mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tasnya.


CEKLEK!


Setelah pintu terbuka. Nicha segera berjalan masuk kedalam rumah. Namun, betapa terkejutnya ia. Setelah melihat ada seorang laki-laki yang tengah duduk disofanya sambil menikmati semangkuk mi instan.


"Kamu!"

__ADS_1


Laki-laki itu menoleh kearah Nicha dengan wajah tanpa ekspresi. Sedangkan Nicha terpaku dengan mata terbelalak seperti melihat hantu.


__ADS_2