
Didalam sebuah klub malam, Hotel JW Marriot, Bangkok.
Tampak Ranida sedang duduk bersama seorang pria.
"Ada apa kamu ingin menemuiku?" tanya Ranida kepada pria itu sambil meminum birnya.
"Aku sangat merindukanmu Ran. Apa kamu tidak merindukanku?" ucap pria itu sambil memeluk bahu Ranida.
"Sudahlah Rio. Hubungan kita sudah berakhir. Sekarang aku sudah bertunangan. Kamu harus mencari wanita lain untuk menggantikanku."
"Tidak semudah itu Rani. Aku masih mencintaimu. Dan aku pikir, kamu juga sama."
Rani meneguk birnya lagi dan kemudian tertawa mendengar ucapan Rio.
"Apa? Cinta? Kamu terlalu yakin Rio. Aku sudah membuang semua rasa cintaku untukmu. Dan yang ada dalam hatiku sekarang adalah perasaan untuk pria yang telah bertunangan denganku."
"Haha. Ayolah Ranida. Kamu berbicara seperti itu, layaknya orang yang sedang tertekan. Mulutmu tidak sejalan dengan hatimu. Aku telah mengenalmu sejak lama... Apa kamu tidak mendapatkan apa yang kamu mau dari tunanganmu?" Rio melirik licik kearah Ranida.
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura Rani. Apa aku harus mengungkit kegiatan kita setiap malam selama kita masih bersama?"
"Jaga bicaramu Rio! Aku adalah wanita terhormat dari keluarga terpandang. Jika kamu berbicara seperti itu, berarti kamu juga telah merendahkan dirimu sendiri."
"Siapa yang peduli dengan hal itu Rani. Rendah atau tidak, hanya kita berdua saja yang tahu," ucap Rio sambil tersenyum licik.
"Dasar brengsek!" Ranida menghentakkan gelas minumannya dengan keras diatas meja dan menatap tajam kearah gelas tersebut. Dirinya seperti orang yang tengah mabuk karena sudah hampir 1 botol bir yang telah ia minum.
"Siapa yang kamu panggil brengsek, sayang."
"Great Warinton."
"Apa? Bukankah dia tunanganmu?"
"Dia memang tunanganku. Tapi dia melakukan semua itu hanya karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua kami. Dia tidak pernah sedikitpun mencintaiku bahkan dia tidak mampu memuaskanku."
"Apa perlu aku memuaskanmu sekarang?"
Ranida tidak menjawab pertanyaan Rio. Namun, tatapan matanya kearah Rio, sangat penuh dengan makna. Ya, makna yang hanya diketahui oleh Rio dan Ranida.
Sejurus kemudian, mereka berdua berjalan menuju keluar bar. Dan sampailah mereka pada sebuah pintu kamar hotel. Rio membukakan pintu kamar itu, dan mempersilahkan Ranida untuk masuk terlebih dulu. Dan dalam sekejap, mereka berdua telah masuk kedalam kamar hotel.
Tak perlu berlama-lama. Rio yang sudah mengerti apa yang diinginkan Ranida, langsung saja mendaratkan ciuman tepat dibibir Ranida. Sontak, Ranida memberontak.
"Apa yang kamu lakukan!?" ucap Ranida sambil mendorong tubuh Rio.
__ADS_1
"Aku akan memberikan, apa yang tidak diberikan oleh tunanganmu, sayang. Kamu pasti akan menyukainya. Humm," ucap Rio sambil membelai rambut Ranida pelan.
Lalu kembali Rio, menciumi bibir Ranida. Tapi kali ini, Ranida tak bergeming. Merasa bahwa Ranida telah menikmati permainan, kemudian Rio mulai membuka kancing-kancing baju Ranida dan membuka baju Ranida. Begitupun dengan Ranida, dia melakukan hal yang sama terhadap Rio. Dan dalam sekejap tubuh mereka berdua tampak polos, tanpa sehelai benangpun.
Setelah pemanasan selesai. Rio langsung membawa Ranida untuk bermain lebih agresif lagi diatas ranjang. Jadilah malam itu, pertandingan gulat berlangsung antara Rio dan Ranida.
Namun, disela-sela pertandingan yang hampir memanas. Tiba-tiba, Rio mengatakan sesuatu.
"Ayo kita nikmati malam ini sayang. Aku akan memberikan kenangan yang tidak akan pernah kamu lupakan. Sebelum kepergianku."
Ranida yang sedang menikmati serangan dari Rio, seketika tersentak, mendengar ucapan Rio. Kemudian terjadilah sedikit perbincangan antara Ranida dan Rio. Dengan terpaksa, pertandingan dihentikan sejenak. Mohon maaf bagi para pemirsa, agar menonton iklan yang akan lewat berikut ini. 😁
"Apa? Kamu mau pergi kemana?"
"Aku akan pergi ke Singapura untuk menjalankan bisnis baru orang tuaku. Kemungkinan besar, aku akan menetap disana."
"Jadi, ini adalah malam terakhirku bersamamu?"
"Ya Ran. Dan aku akan memuaskanmu malam ini. Bersiaplah untuk menikmati serangan-serangan rudalku. Karena aku pasti akan menghancurkan pertahananmu."
"Aku akan sangat menikmati seranganmu sayang. Karena rudalmu sangat besar dan panjang. Membuat aku ketagihan."
Akhirnya, pertandingan gulatpun kembali berlanjut. Lalu siapakah yang akan memenangkan pertandingan ini, pemirsa? Kirim jawabannya dikolom komentar ya. 😋
...***...
Tampak Reinhard tengah berdiri disamping mobilnya. Ia seperti sedang menunggu seseorang keluar dari restoran. Dan benar saja, tak berapa lama Nicha terlihat keluar dari restoran setelah selesai bekerja. Namun diwaktu yang bersamaan, datanglah sebuah mobil sedan hitam dan berhenti didepan mobil Reinhard. Kemudian, keluarlah Great dari dalam mobil tersebut.
Nicha menjadi gugup, melihat kedua pria tersebut berdiri dan menatapnya. Hampir saja ia ingin berpura-pura pingsan, agar terhindar dari tatapan kedua pria itu. Namun, hal itu urung dia lakukan.
Ayo Nicha, kamu bisa. Kamu adalah wanita kuat. Terus berjalan Nicha. Tetap maju, pantang mundur. Ciayo! Batin Nicha menggebu.
Melihat Nicha yang berjalan menghampirinya, terlihat wajah Reinhard mengembangkan senyuman. Tapi, karena ia merasa ada seseorang yang juga memerhatikannya dari arah samping. Lalu, Reinhard pun menoleh dan tidak memperdulikan Nicha yang sudah berdiri tepat didepannya dengan senyuman yang sangat manis.
"Oh, Tuan Great! Kebetulan sekali, kita bertemu lagi." Lalu Reinhard menghampiri Great.
Jadilah Nicha hanya mematung melihat keakraban kedua pria itu.
Ih, kok aku dicuekin sih. Huh! menyebalkan! Batin Nicha.
Nicha memajukan bibirnya dan merasa kesal dengan perlakuan kedua pria tersebut yang telah mengabaikannya.
Tapi, mereka tampak sangat akrab. Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya? Iih, lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku pergi saja meninggalkan mereka berdua? Sepertinya, mereka tidak menginginkan kehadiranku disini. Batin Nicha.
Akhirnya, Nicha benar-benar melangkah pergi meninggalkan kedua pria itu. Namun, baru beberapa langkah Nicha menjauh dari kedua pria itu. Tiba-tiba, Great memanggil Nicha.
__ADS_1
"Nicha!"
Sontak, Nicha menghentikan langkahnya sambil memejamkan matanya seperti pencuri yang ketahuan oleh polisi.
Melihat Nicha berhenti tanpa menoleh. Great pun langsung menghampiri Nicha.
"Kamu mau kemana? Kenapa tidak menungguku selesai berbicara dengan Rei?" ucap Great tanpa berdosa.
Mendengar hal itu. Nicha langsung melotot kearah Great. Melihat Nicha dan Great saling bertatapan, kemudian Reinhard berjalan menghampiri mereka berdua.
"Apakah kalian berdua sudah saling mengenal?"
"Tentu saja, kami saling mengenal. Karena kami berdua adalah... Aoww!" Great terpaksa menghentikan ucapannya, karena Nicha mencubit pinggang Great.
"Anda kenapa Tuan Great?" tanya Reinhard.
Belum sempat Great menjawab pertanyaan Reinhard. Dengan segera Nicha mendahului bicara.
"Rei sedang apa kamu disini?"
"Oh. Aku kesini untuk menjemputmu."
"Oh, begitu. Baiklah, ayo kita pulang sekarang."
Nicha segera memeluk lengan Rei dan mengajaknya pergi. Tapi Great tidak tinggal diam. Ia langsung menarik tangan Nicha. Dan dalam sekejap, Nicha telah berada dalam pelukan Great.
"Kamu mau kemana sayang. Kenapa kamu mengabaikan kekasihmu. Dan malah pergi dengan pria lain."
Nicha kembali melotot kearah Great. Sedangkan Great hanya tersenyum kuda membalas tatapan Nicha.
...***...
Figuran Cast.
Mario Maurer / Rio.
...***...
EH UDAH HARI SENIN LAGI. JANGAN LUPA VOTE YA KAKAK. MAKASIH 🤗😁
__ADS_1