
"Great!" pekik Nicha.
"Kamu sedang apa?" tanya Great dengan lembut seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Aku hanya sedang menatap bulan yang sangat indah," jawab Nicha sambil menatap ke langit.
"Tapi untukku, hanya kamulah makhluk terindah dibumi ini," balas Great sambil terus menatap wajah istrinya.
"Hoooy... Aku hampir pingsan mendengar ucapanmu."
"Benarkah? Lalu, kenapa kamu tidak pingsan saja. Agar aku dapat langsung membawamu ke ranjang," ucap Great dengan tatapan nakal.
"Ish! Dasar otak mesum. Apa hanya ada hal seperti itu saja dalam pikiranmu?"
"Auwh... Memangnya, apa lagi yang dilakukan sepasang suami istri dimalam hari, selain menikmati malam bersama dalam cinta." Great kembali menggombal.
"Yaaa... Kita bisa memasak dan membuat makanan yang enak," jawab Nicha dengan lugunya.
"Hemm... Sepertinya menarik juga. Tapi saat ini, aku sedang tidak ingin membuat makanan. Bagaimana kalau kita membuat bayi saja. Hum?"
"Ish! Kau ini." Nicha tersipu malu, lalu mencubit tangan suaminya.
"Hahaha... Kemarilah!" Great nampak geli melihat tingkah istrinya, lalu berusaha memutar tubuh istrinya agar berdiri menghadapnya.
"Apa masih sakit?" tanya Great dengan lembut.
"A-apanya yang masih sakit?" tanya balik Nicha gugup dan tidak berani menatap wajah suaminya.
"Kamu tidak perlu malu, sayang. Katakan saja, apa masih sakit? Agar aku bisa mengobatinya," tanya Great seraya mengangkat wajah istrinya dengan memegangi dagu Nicha.
"Hah! Kamu mau mengobatinya?" tanya Nicha kaget.
Great balas mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Ti-tidak perlu. Lagi pula, aku sudah merasa baikan," jawab Nicha panik.
"Kalau begitu, aku boleh memintanya lagi malam ini?" tanya Great yang langsung menggendong Nicha.
"A-apa? Kamu mau apa, Great?"
"Aku ingin membuat bayi bersamamu, sayang," ucap Great yang langsung membawa Nicha ke atas ranjang.
"Tapi Great, bukankah tadi pagi kita sudah melakukannya? Apa kamu masih belum puas?"
"Tentu saja belum. Bahkan aku bisa melakukannya hingga beberapa kali atau bahkan puluhan kali atau ratusan kali."
"Apa!?"
__ADS_1
"Tubuhmu sudah seperti candu bagiku, sayang. Jadi, bagaimana mungkin, aku melewati sehari atau semalam saja, tanpa bercinta denganmu."
Great menatap lekat wajah istrinya. Perlahan, ia mulai membuka kancing piyama Nicha. Kali ini, Nicha tidak menolak.Ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan lembut dari suaminya. Kecupan dan ******* yang bertubi-tubi, diberikan Great pada bibir istrinya. Tak lupa, ia juga mendaratkan ciuman dan jilatan pada leher Nicha. Kedua hal itu, ia lakukan secara bergantian. Membuat Nicha mendesah dengan syahdu. Tak ayal, hal itu juga merangsang hasrat Nicha yang menuntutnya untuk membuka kancing piyama suaminya. Lalu, dalam sekejap, sepasang suami istri itu, sudah nampak polos dan terlena dalam pergumulan sengit.
...***...
Keesokan paginya.
Dalam balutan selimut putih tebal, Great tampak masih terlelap sambil memeluk istrinya yang juga masih terpejam. Sayup-sayup, Nicha mengerjapkan matanya karena merasakan hangatnya pantulan sinar matahari yang menyelusup masuk melalui ventilasi udara. Nicha membuka matanya seraya tersenyum, mendapati wajah suaminya yang sangat damai dalam buaian mimpi. Lalu, dengan jari telunjuknya, Nicha mengusap lembut wajah Great.
"Kamu sangat tampan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena telah mengirim seorang malaikat sepertimu untuk menjagaku. Kamu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Terima kasih, karena telah memilihku untuk menjadi istrimu."
Sepintas, Nicha mengecup pipi Great seraya tersenyum. Namun ternyata, hal tersebut dirasakan juga oleh Great yang langsung terbangun.
"Apa kamu baru menyadarinya?" ucap Great sambil membuka matanya.
"Hah!? Ternyata kamu mendengar semua ucapanku?" tanya Nicha panik.
"Hemm... Tidak semua sih. Tapi aku mendengar, ketika kamu menyebutku sebagai malaikat penjagamu dan kamu merasa beruntung, karena telah menjadi istriku. Benarkan?" jelas Great dengan tersenyum lebar.
"Haish! Kau benar-benar telah mengerjaiku," umpat Nicha.
"Hei... Memangnya, siapa yang mengerjai siapa? Apa aku tidak salah dengar?" balas Great.
"Tentu saja kamu yang telah mengerjaiku, dengan berpura-pura tidur agar bisa mendengar semua ucapanku."
Nicha melotot karena terkejut. Ia tidak menyangka, ternyata Great bisa mengeluarkan sebuah kalimat sakti yang membuatnya tak berdaya dan hanya bisa terdiam pasrah.
"Dan sekarang, aku ingin meminta bayaranku," bisik Great.
"Ba-bayaran?"
"Ya. Bayaran untuk sentuhan dan kecupan yang kamu berikan dipipiku."
"Ke-kenapa aku harus membayarnya. Lagi pula, aku sudah sah menjadi istrimu. Jadi, aku berhak atas apapun yang ada pada diri suamiku."
"Jadi sekarang, kamu mengakui bahwa aku adalah suamimu?" tanya Great sambil menyeringai.
"Yaa... Memang benar, kan?" Nicha semakin ketakutan.
"Kalau begitu, apa tugas seorang istri terhadap suaminya ketika mereka berada diatas ranjang?" goda Great seraya mendekatkan wajahnya kearah Nicha.
"Ish, kau ini! Kenapa selalu hal itu saja yang kamu pikirkan?" seloroh Nicha yang langsung memukul kening Great.
"Auwh! Beraninya kamu memukul malaikat penjagamu. Huh!" umpat Great sambil mengusap keningnya.
"Maafkan aku, karena sekarang aku baru menyadari. Ternyata malaikat penjagaku juga bisa berubah menjadi..."
__ADS_1
Nicha tidak melanjutkan ucapannya. Dan hal itu membuat Great penasaran.
"Menjadi apa? Ayo cepat katakan!"
"Menjadi seekor kucing garong! Hahaha," seru Nicha yang langsung bangkit dari ranjang dan langsung memakai piyamanya.
"Hei, Nich! Beraninya kau!"
Great sangat geram dan ingin sekali menerkam Nicha.
"Eeeh, tidak kena. Ibuuu! Tolong, dikamarku ada kucing garong!"
"Ssstt... Nicha! Apa yang kamu lakukan? Bagaimana, kalau ibu sampai mendengarnya?"
"Biar saja. Makanya, jangan mengejarku atau aku akan berteriak lagi. Hem?" ancam Nicha.
Akhirnya, Great menyerah dan membiarkan Nicha memakai kembali piyamanya.
Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Nicha dan Great keluar dari kamarnya untuk menuju meja makan. Di meja makan, tampak ibu Nat sedang menata beberapa piring berisi lauk pauk.
"Pagi, Bu," sapa Nicha dan Great bersamaan.
"Oh, kalian sudah bangun. Ayo, kita sarapan bersama."
"Oya, Han dimana, Bu?" tanya Nicha.
"Dia sudah berangkat sekolah, jam 7 tadi."
"Oh, begitu."
Kemudian mereka menyantap sarapan mereka masing-masing. Dan disela-sela makan, tiba-tiba Great membuka perbincangan.
"Mmm... Bu. Kemungkinan hari ini, kami akan pindah ke Suan Phueng dan menetap disana," ujar Great.
UHUK! UHUK! Ibu Nat tersedak.
"Ibu... Ibu tidak apa-apa?" tanya Nicha panik seraya mengambilkan air minum.
"Ibu tidak apa-apa. Tapi, kenapa kalian harus pindah sekarang? Bukankah, ini sangat mendadak? Apa tidak sebaiknya, kalian tinggal disini untuk beberapa hari lagi?" bujuk ibu Nat.
Mendengar ucapan ibu Nat. Nicha dan Great saling berpandangan bingung.
"Hemm... Begini, Bu. Saat ini, Great sedang menangani proyek departemen store, yang baru saja menjalani tahap awal. Jadi, dia harus fokus pada pekerjaannya dulu. Apalagi, beberapa hari ini, ia tidak bisa masuk kantor karena persiapan pernikahan. Makanya sekarang, kami harus pindah ke Suan Phueng agar Great dapat dengan mudah mengontrol proyek departemen storenya. Mengingat, jarak dari Suan Phueng ke Bangkok tidak begitu jauh," jelas Nicha.
Ibu Nat hanya terdiam. Hatinya masih terasa berat untuk melepas kepergian putrinya. Tapi disatu sisi, ia juga harus realistis bahwa sekarang putri kesayangannya telah menjadi seorang istri yang harus selalu menaati dan menemani kemanapun suaminya pergi.
"Hhh... Baiklah. Kalian boleh pindah hari ini. Walaupun, hati ibu masih sangat berat untuk melepaskan kalian. Tapi ibu sadar, kalian juga mempunyai kehidupan sendiri. Ibu ikhlas, kalian pergi," ucap ibu Nat sambil tersenyum
__ADS_1
"Terima kasih, Bu." Nicha dan Great tampak sumringah setelah mendapatkan restu dari ibu Nat.