
2 hari kemudian.
Disebuah ballroom hotel Mandarin Oriental, Bangkok.
Acara pertunangan Great dan Ranida sedang berlangsung. Acara berlangsung secara private tanpa kehadiran wartawan.
Great nampak gagah dengan jas putihnya. Sedangkan Ranida terlihat anggun dengan gaun putih tanpa lengan dengan hiasan mutiara dan berlian, yang menambah kecantikan tubuhnya sehingga tampak berkilau.
Semua orang, terlihat bahagia dalam acara tersebut. Begitu pun dengan Ranida, yang selalu melemparkan senyuman menawannya kepada setiap orang. Ranida tidak sedetikpun melepaskan pelukan tangannya dari lengan Great. Namun, berbeda dengan Great, wajahnya terlihat sangat datar, hampir tanpa ekspresi. Ia hanya sesekali tersenyum kepada para undangan yang hadir.
...***...
Di taman Universitas Rangsit.
Nicha dan Renata sedang asyik menikmati minuman mereka sambil duduk dibangku taman kampus. Dan tak lama kemudian, terdengar suara seorang wanita memanggil Renata.
"Renata!"
Lalu Renata menoleh kearah sumber suara itu. Dan terlihatlah, Bella sedang berjalan menghampiri Renata.
"Eh, Kak Bella!" ucap Renata sambil tersenyum.
"Hai. Kalian sedang bersantai ya?"
"Iya. Kita sedang menunggu kelas berikutnya Kak. Kakak sedang apa disini?"
"Aku baru selesai meeting dengan beberapa pengurus komite kampus."
"Oh, begitu."
Dan tiba-tiba, ponsel Bella berdering.
("Halo. Ya Rei. Aku sedang bersama Renata ditaman belakang kampus. Kamu bisa kesini tidak? Oh ya, baik. Aku tunggu ya."
Lalu Bella mengakhiri teleponnya.
"Kak Rei mau kesini Kak?" tanya Renata kepada Bella.
"Iya. Aku meminta Rei menjemputku ke kampus. Karena kami akan makan bersama diluar."
"Ooh. Kalian ingin berkencan ya?" goda Renata.
Bella hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan Renata. Tak berapa lama, tampak Rei berjalan menghampiri mereka.
"Nah, itu Kak Rei," ujar Renata.
Lalu Bella melambaikan tangan kearah Rei. Rei tersenyum, lalu menghampiri Bella dan berdiri disampingnya. Seketika mata Rei membulat melihat Nicha bersama dengan Renata.
"Hai Ren, Nich!" sapa Rei.
Nicha hanya tersenyum kearah Rei.
"Kakak! Kakak, ingin pergi kemana dengan Kak Bella?"
"Kami hanya akan makan diluar," jawab Rei.
__ADS_1
"Jangan lupa untuk membelikanku sesuatu sebelum pulang kerumah ya," ucap Renata.
"Kamu ini. Memangnya aku mau pergi jauh. Sampai minta dibelikan sesuatu."
"Pokoknya, aku minta dibelikan makanan yang enak. Awas saja, kalau kakak hanya makan diluar bersama Kak Bella. Tapi tidak membawakan makanan untukku."
"Baiklah, baiklah," ucap Rei pasrah.
Bella hanya tersenyum melihat perilaku kakak adik itu.
"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Bella.
Rei mengangguk. Lalu mereka berpamitan kepada Renata dan Nicha.
Selepas kepergian Bella dan Rei, raut wajah Nicha berubah muram. Dan ketika Renata mengetahui hal itu. Ia pun merasa penasaran.
"Nich! Kamu kenapa?"
"A-apanya?" jawab Nicha gugup.
"Kenapa wajahmu muram begitu. Kamu tidak seperti Nicha yang aku kenal. Biasanya, kamu selalu ceria. Apa ada masalah?"
Nicha merasa tidak enak, untuk menceritakan masalahnya kepada Renata. Tapi, ia juga sangat tertekan jika menanggung semuanya sendirian. Akhirnya, ia memutuskan menceritakan semuanya kepada Renata.
"Apa!? Jadi dia memecatmu?"
Nicha hanya mengangguk.
"Dasar laki-laki yang tidak berperasaan. Setelah memanfaatkanmu. Lalu, seenaknya dia memecatmu. Orang kaya memang selalu seperti itu. Menggunakan kekuasannya untuk bertindak kejam terhadap orang yang lemah!"
"Ren, Ren. Kecilkan suaramu. Semua orang sampai melihat kearah kita, karena mendengar kamu berteriak-teriak."
Seketika Renata melihat sekelilingnya. Benar saja, semua orang sedang menoleh kearahnya dengan tatapan aneh.
"Hehehe. Suaraku terlalu keras ya Nich..." Renata menjadi malu.
Nicha mengangguk cepat.
"Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Renata.
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku harus mendapatkan pekerjaan baru secepatnya."
Lalu Renata mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya.
"Ini! Aku ada beberapa uang tunai. Pakailah dulu untuk kebutuhanmu, selagi kamu mencari pekerjaan baru."
"Tidak usah Ren. Aku tidak bisa menerimanya..."
"Ayolah Nich. Jangan menolak bantuan dari sahabatmu ini."
"Aku tidak ingin, kamu ikut menjadi susah karena kesalahanku."
"Nicha. Dalam persahabatan, tidak ada kata menyusahkan. Yang ada hanyalah saling membantu."
Nicha terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Baiklah. Jika kamu tidak bisa menerima pemberianku, maka anggap saja, ini sebuah pinjaman. Jadi, ketika kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru, kamu bisa mengembalikan uang ini kepadaku. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku akan menerimanya. Dan aku berjanji, akan segera membayarnya setelah aku mendapatkan pekerjaan nanti."
Kemudian mereka saling melempar senyuman dan saling berpelukan.
...***...
Dikediaman Nicha.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Terlihat, Nicha sedang melamun diatas tempat tidurnya.
Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Sudah 2 hari aku mencari pekerjaan, namun belum ada satu pun perusahaan yang meneleponku untuk wawancara. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk mengirimi ibu uang dan untuk kebutuhanku sehari-hari? Apa aku meminta maaf saja kepada Prama dan memohon kepadanya untuk menerimaku kembali bekerja. Sepertinya, dia orang yang baik. Mungkin saja, dia berubah pikiran dan mau memaafkanku... Ya, aku harus mencobanya!
Lalu Nicha bergegas meraih tasnya dan keluar dari rumahnya.
...***...
Di Sara Restoran.
Dengan sedikit ragu, Nicha melangkah masuk kedalam restoran. Lalu, ia berjalan menuju ruangan manajer restoran.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk!" jawab suara dari dalam ruangan.
Nicha langsung membuka pintu ruangan itu dan perlahan melangkah masuk kedalam ruangan.
"Loh, Nicha! Untuk apa kamu kesini? Bukankah kamu sudah dipecat?"
"Mmm, maaf Tuan. Aku kesini untuk meminta keringanan hukumanku. Bisakah, aku tidak dipecat? Anda, boleh memberikan hukuman skors atau memotong gajiku beberapa persen. Asal jangan memecatku Tuan. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Aku mohon Tuan..."
"Nicha! Berani sekali kamu berkata seperti itu? Memangnya kamu pikir, kamu siapa? Kenapa jadi kamu yang mengatur direstoran ini?"
Nicha tersentak mendengar ucapan Manajer Jac.
"Bu-bukan begitu Tuan. Aku hanya ingin bernegosiasi saja. Karena aku sangat membutuhkan pekerjaan ini..."
"Apa hakmu untuk bernegosiasi disini? Sudahlah, aku sedang banyak pekerjaan. Keluarlah dari ruanganku sekarang!"
"Tapi Tuan. Aku sangat memohon sekali kepadamu. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini..."
Nicha memohon kepada Manajer Jac sambil berlutut dihadapannya.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?"
Manajer Jac merasa tidak nyaman dengan perilaku Nicha. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari arah belakang Nicha.
"Seharusnya, kau datang kepadaku jika ingin mendapatkan pekerjaanmu kembali."
Seketika Nicha dan Manajer Jac menoleh kearah sumber suara itu. Terlihat Prama, sedang berdiri didepan pintu sambil menatap datar kearah Nicha.
"Tu-Tuan!" Manajer Jac langsung membungkukkan badannya kearah Prama.
Sedangkan Nicha masih terpaku sambil berdiri dengan mata terbelalak. Melihat kehadiran Prama.
__ADS_1