Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 20


__ADS_3

Setelah mengunci pintu kamarnya, Nicha langsung membukakan pintu untuk Renata.


"Eh, Ren... Ada apa kamu kembali lagi?"


"Hehe. Aku lupa mau mengembalikan bukumu. Ini..."


Renata menyerahkan sebuah buku kepada Nicha.


"Ya ampun. Kenapa tidak besok saja di kampus?" ucap Nicha sambil menerima buku pemberian Renata.


"Aku takut kelupaan lagi besok. Mmm, Nich... Boleh aku meminta minum?"


"Apa? Jadi kamu haus?"


Renata mengangguk malu.


"Tentu saja boleh. Ayo masuk."


Kemudian Renata masuk kedalam rumah Nicha dan mengikuti Nicha berjalan ke dapur.


"Wuaaah... Lemari es mu besar sekali. Oh, ini juga ada oven, kompor listrik, mesin cuci. Kamu yang membeli semua ini, Nich?"


Renata terperanga melihat dapur Nicha yang dihiasi barang-barang mewah.


"I-iya. Tentu saja aku yang membelinya," ucap Nicha gugup.


"Berarti gajimu besar juga ya bekerja di Sara restoran."


"Ya, bisa dibilang begitu."


"Pantas saja kamu bertahan bekerja disana."


"Hehehe. Eh, ayo kita ke ruang tengah. Ini aku sudah membawa jus untuk kita berdua."


Maafkan aku Ren, karena harus berbohong kepadamu. Batin Nicha.


Lalu Nicha dan Renata berjalan menuju ruang tengah dan duduk disofa.


"Humm... Segaar!" ucap Renata setelah meminum jusnya.


Nicha tersenyum melihat perilaku temannya.


"Oya Nich... Tapi aku masih penasaran, kenapa malam itu Great mengatakan bahwa kamu itu kekasihnya? Apalagi dia sampai mengancam kamu jika tidak mengikuti perintahnya."


UHUK! UHUK!


Nicha tersedak mendengar pertanyaan Renata.


"Eh... Kamu tidak apa-apa Nich?" tanya Renata sambil mengusap-usap punggung Nicha.


"Aku tidak apa-apa. Untuk hal itu, aku juga kurang mengerti Ren. Mungkin, karena malam itu dia sedang mabuk, jadi ucapannya sedikit aneh."


"Apa!? Jadi saat itu, dia sedang mabuk?"


Nicha mengangguk pelan.

__ADS_1


Aduh! Habislah aku. Jika, Great mendengar obrolanku dengan Renata. Batin Nicha.


"Hish! Dasar pria kurang ajar! Oya, tapi malam itu, dia tidak berbuat macam-macam kepadamu kan?"


"Oh, tentu tidak. Lagi pula, kalau dia berbuat yang aneh-aneh kepadaku, pasti sudah aku hajar dia sampai pingsan. Apa kamu lupa, temanmu ini jago bela diri?"


"Oh iya, ya. Kenapa aku bisa lupa."


Kemudian mereka berdua menghabiskan jusnya. Setelah merasa puas berada dirumah Nicha. Akhirnya, Renata berpamitan kepada Nicha. Lalu Nicha mengantar Renata kedepan rumah. Setelah, mobil Renata melaju pergi. Nicha segera masuk kedalam rumahnya.


Bagaimana ini, kalau Great mendengar obrolanku dengan Renata. Apa yang harus aku lakukan?


Nicha menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


Tenangkan dirimu Nicha. Semua akan baik-baik saja. Oke?


Nicha menyemangati dirinya sendiri. Sejurus kemudian, ia membuka pintu kamarnya.


Begitu masuk kedalam kamar, Nicha terkejut mendapati Great yang sedang duduk bersandar dibagian kepala ranjang.


"Aku tidak menyangka... Ternyata, bukan aku saja yang bisa berakting. Tapi, kamu malah lebih ahli dariku. Aku pikir, kamu sangat berbakat menjadi aktris terkenal," ucap Great sambil menatap sinis kearah Nicha.


Nicha yang mendengar hal itu. Langsung berjalan menghampiri Great.


"Ma-maafkan aku. Aku terpaksa berbohong. Karena aku tidak mau, kalau temanku salah paham dengan kejadian malam itu."


"Kamu pikir, semua kesalahan bisa dibiarkan begitu saja dengan permohonan maaf? Mudah sekali kamu berkata maaf."


Nicha merasa kesal karena selalu dipojokkan oleh Great.


Nicha melampiaskan kekesalannya.


"Kamu selalu memojokkanku dan selalu membuat aku menjadi tersalah. Padahal kamu sendiri, dengan mudahnya melupakan janji yang kamu buat," lanjut Nicha.


"Apa? Jadi, semalam kamu menungguku?"


"Mmm, itu... Ah, sudahlah."


Kemudian Nicha hendak pergi. Namun, Great segera memanggilnya.


"Hei. Siapa yang mengizinkanmu pergi. Duduk disini!" perintah Great.


Nicha menghentikan langkahnya dan duduk didepan Great.


"Kenapa kamu menungguku semalam?"


"Hemm, itu karena... Aku hanya takut kamu memecatku jika aku tidak jadi memenuhi syarat darimu."


"Benarkah? Bukan karena kamu merindukanku?"


"Ten-tentu saja bukan. Aku hanya takut, kamu berubah pikiran dan langsung memecatku."


"Baiklah. Sekarang hadapkan wajahmu kearahku."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Kamu tidak perlu bertanya. Ayo cepat hadapkan wajahmu kearahku. Sebelum aku benar-benar memecatmu."


"Ja-jangan. Baiklah aku akan menuruti perintahmu."


Seketika Nicha merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Great. Dan tanpa aba-aba, Great langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Nicha. Sementara Nicha menjadi gugup dengan perlakuan Great. Segera ia menahan aksi Great ketika wajah mereka hanya berjarak 5 cm.


"Tu-tu-tunggu, tunggu, tunggu sebentar."


Lalu Great menahan aksinya sejenak. Setelah itu, Nicha segera menutup kedua matanya dengan salah satu telapak tangannya.


"Nah... Sekarang, kamu boleh melakukannya."


Great merasa bingung dengan perilaku Nicha. Tapi, ia juga tidak bisa menahan nafsunya untuk ******* bibir Nicha. Lalu ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nicha. Namun, seketika rasa kasihan terlintas dalam hati Great. Dan akhirnya, ia mengurungkan niatnya untuk mencium Nicha.


"Sudahlah, lupakan saja! Aku sudah memaafkanmu. Sebaiknya aku pergi sekarang."


Great langsung beranjak dari tempat tidur dan melangkah pergi. Tapi, baru 2 langkah Great berjalan. Tiba-tiba, Nicha langsung memeluk Great dari belakang.


"Maafkan aku. Aku masih belum siap. Aku merasa, ini terlalu cepat," ucap Nicha.


Great tersentak dengan perilaku Nicha. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Nicha akan memeluknya. Seketika, senyum pun mengembang diwajah tampan Great. Ia meraba kedua tangan Nicha yang sudah melingkar erat diperutnya.



Setelah puas merasakan pelukan hangat dari Nicha. Lalu Great, membalikkan badannya menghadap Nicha. Sejenak, Great memandangi Nicha sambil menggenggam kedua tangan Nicha.



"Maafkan aku juga. Karena, aku tidak berpikir kalau ini terlalu cepat untukmu."


Mendengar hal tersebut, Nicha menengadahkan kepalanya menatap Great. Dan tanpa aba-aba, Great langsung memeluk Nicha. Sedangkan Nicha terkejut mendapatkan pelukan balik dari Great.



"Kita lakukan secara perlahan ya, Nich. Aku akan setia menunggu, sampai kamu siap untuk menjalani hubungan ini."


Great semakin mempererat pelukannya. Sampai tidak ada lagi celah, antara tubuh Great dan Nicha.



Apa ini? Kenapa aku merasa sangat nyaman dalam pelukan Great. Tapi, jantungku terasa berdebar-debar. Jangan sampai Great mendengar detak jantungku. Bisa sangat malu aku. Batin Nicha.


Seketika, Nicha berusaha melepas pelukan Great.


"Mmm, aku pikir kamu harus kembali beristirahat. Karena, suhu tubuhmu masih tinggi."


Nicha mengarahkan tubuh Great untuk duduk ditepi ranjang.


"Oya, apa ada yang ingin kamu makan?"


"Apapun makanan yang kamu masak. Aku akan menyukainya," ucap Great sambil tersenyum manis kearah Nicha.


"Oh... Baiklah kalau begitu. Tunggu disini ya. Aku akan memasak sebentar."


Great menganggukkan kepalanya. Lalu, Nicha bergegas menuju dapur. Selama memasak, tak henti-hentinya, Nicha mengembangkan senyuman. Ia seperti merasakan kebahagiaan yang besar, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2