Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 35


__ADS_3

Setelah kepergian 2 laki-laki tersebut. Renata langsung mengunci pintu apartemennya.


"Apa mereka sudah pergi?" tanya Nicha dari dalam kamar.


Renata mengangguk.


"Tapi mereka mengatakan, kalau akan menunggu di lobby sampai kamu kembali," ucap Renata.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Renata sambil duduk disebelah Nicha.


"Tidak ada," jawab Nicha datar.


"Tapi mereka menunggumu di lobby. Entah sampai kapan," kata Renata dengan nada khawatir.


"Kalau begitu, biarkan saja."


Nicha tidak menghiraukan raut wajah Renata yang tampak khawatir. Dengan santainya, ia meraih remote televisi, hendak menyalakan televisi.


"Apa kamu benar-benar tidak ada perasaan terhadap Great?" tanya Renata.


Sontak Nicha langsung berbalik menatap Renata.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Karena aku merasa Great begitu mencintaimu, begitu pula denganmu..."


"Hahaha. Bagaimana mungkin aku mencintai seorang tuan muda seperti Great. Ayolah Ren, kita harus berpikir realistis."


"Tapi cinta tidak memandang status sosial Nich. Setiap orang bisa mencintai siapapun yang dapat membuat hatinya bergetar."


"Bergetar?" Nicha menyatukan kedua alisnya.


"Ya. Getaran hati. Apa kamu tidak tahu itu?"


Nicha terdiam sejenak. Wajahnya berubah cemas seperti orang yang sedang menunggu kelulusan ujian.


Waktu telah menunjukkan jam 3 sore. Tampak Nicha sedang termenung sambil memandangi sebuah kotak besar berwarna pink. Disaat yang bersamaan, Renata telah bangun dari tidur siangnya. Perlahan ia mengerjapkan matanya dan menatap Nicha dari belakang.


"Kamu sudah bangun Nich?" tanya Renata seraya mendekati Nicha.


"Eh, i-iya Ren. Baru saja, aku bangun..." ucap Nicha sambil menaruh kembali kotak tersebut diatas nakas.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Tidak, aku hanya sedang duduk," ujar Nicha dengan tersenyum seraya membalikkan badannya menghadap Renata.


"Nicha... Aku ini sahabatmu. Kita sudah lama bersama, aku sangat mengenal dirimu. Jadi, aku mohon, jangan mencoba berbohong kepadaku," ucap Renata sambil menggenggam tangan Nicha.


"Apa kamu sedang memikirkan Great?" tanya Renata lagi.


Kali ini, tidak ada kalimat penolakkan dari Nicha. Ia hanya terdiam mendengar pertanyaan Renata.


"Jika kamu memang mencintainya. Kenapa kamu bersikap acuh. Kejarlah cintamu. Perjuangkanlah dia. Sebuah hubungan tidak akan terjalin, jika hanya 1 pihak saja yang berjuang. Jangan sampai egomu, menguasai hatimu, Nich. Pergi dan temuilah Great."


Sesaat, kedua mata Renata dan Nicha saling bertemu. Seakan mencari jawaban dari kegalauan hatinya. Akhirnya, Nicha menguatkan hatinya, untuk bertemu dengan Great. Segera ia berganti pakaian dengan gaun berwarna biru yang telah diberikan Great untuknya.



Dan ketika merasa sudah siap. Akhirnya, Nicha diantar oleh Renata untuk turun ke lobby apartemen.


Tak butuh waktu lama bagi Nicha menemui kedua laki-laki utusan Great. Dan sejurus kemudian, Nicha telah memasuki sebuah mobil sedan putih bersama dengan para ajudan tersebut.

__ADS_1


...***...


Di sebuah restoran..


Great telah tiba di restoran, tempat ia dan Nicha akan bertemu. Sejenak, Great melirik jam tangannya. lalu ia menuju sebuah kursi dengan meja kosong. Tak lama setelah Great duduk, seorang pelayan wanita menghampirinya.


"Anda mau pesan Tuan?"


"Oh, ya. Aku ingin segelas cappucino dingin."


"Baik Tuan."


Lalu, pelayan tersebut pergi menyiapkan pesanan. Beberapa menit berlalu, akhirnya sang pelayan datang dengan membawa nampan kecil berisi 1 gelas cappucino dingin.


"Ini pesanan anda, Tuan."


"Khob khun kab (Terima kasih)."


"Kha (Ya)," jawab pelayan tersebut.


Tak terasa sudah hampir 2 jam, Great berada di restoran tersebut. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Nicha.



Dan ketika Great hampir putus asa menunggu kedatangan gadis pujaannya, tiba-tiba ponselnya bergetar.


Drrt. Drrt. Drrt.


Great segera melihat kelayar ponselnya. Lalu terjadilah sebuah perbincangan. Wajah Great tampak panik setelah berbicara melalui telepon. Seketika, ia bangkit dan berjalan menuju kasir untuk membayar minumannya. Kemudian, dengan tergesa-gesa, ia menuju mobilnya hendak meninggalkan restoran tersebut.


...***...


Sesampainya Nicha di restoran. Ia langsung turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam restoran. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan saat itu. Jantungnya berdetak tak menentu, napasnya menderu. Namun, keanehan tampak diwajahnya yang terlihat menyunggingkan senyuman bahagia. Ya kebahagiaan yang telah lama ia pendam.


"Permisi, apa tadi ada seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih yang datang kesini?"


"Maaf Nona. Pelanggan kami sangat banyak. Apa anda sedang mencari seseorang?"


Nicha langsung mengeluarkan ponselnya. Lalu ia menunjukkan foto Great kepada pelayan tersebut.



"Apa orang ini tadi kesini?"


Pelayan tersebut tampak memerhatikan layar ponsel Nicha.


"Oh, ya. Tadi Tuan ini sempat menunggu disini. Tapi, baru saja ia pergi."


"Apa!? Pergi?"


Pelayan tersebut mengangguk.


Nicha terpaku, kakinya terasa lemas. Hampir saja, ia terjatuh jika pelayan tersebut tidak segera menopangnya.


"Nona. Anda baik-baik saja?"


Nicha segera tersadar. Lalu ia berusaha berdiri kembali dan mengisyaratkan pada pelayan tersebut bahwa dirinya baik-baik saja.


...***...


Dikediaman Great.

__ADS_1


Great berjalan memasuki rumahnya dengan lemas. Ia tidak menyangka rencananya untuk bertemu dengan Nicha harus gagal. Padahal, itu adalah kesempatan terakhirnya untuk memperjuangkan cintanya terhadap Nicha.


"Dari mana kau Great?" tanya Papa Thagoon yang sudah berdiri dan menatap tajam kearah Great.


"Aku baru saja selesai meeting dengan klien Pa."


"Benarkah? Bukankah, semua pekerjaan telah kau serahkan kepada David?"


"Iya Pa. Tapi, klien ini sangat penting dan ingin bertemu.langsung denganku untuk membicarakan investasinya dalam pembangunan departemen store kita yang baru."


"Baiklah Great. Papa percaya padamu. Papa yakin, kau tidak akan membohongi Papa, apalagi mengkhianati Papa. Karena seperti kau ketahui, Papa sangat membenci seorang pengkhianat," ancam Papa Thagoon sambil menatap lekat Great seraya menepuk bahu Great.


Mendengar hal tersebut, kedua bola mata Great membulat menatap Papanya.


"Oya... Kapan kau akan mempersiapkan pernikahanmu. Segeralah pergi bersama Ranida untuk menentukan pakaian dan konsep pernikahan kalian nanti."


"Ya Pa. Aku akan segera menghubungi Ranida."


Lalu Papa Thagoon mengangguk dan pergi meninggalkan Great dengan tersenyum.


...***...


Di apartemen Renata.


TING, TONG. TING, TONG.


Renata segera membuka pintu apartemennya. Lalu, tampaklah wajah Nicha dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya Tuhan... Kamu kenapa Nich? Apa yang sudah terjadi?" Renata langsung memeluk tubuh Nicha.


Nicha yang sudah tidak bisa membendung kesedihannya, langsung menumpahkan air matanya dalam pekukan Renata.


Setelah beberapa menit meluapkan kesedihannya. Nicha berusaha untuk berdiri tegak. Ia mengusap kedua pipinya yang sudah sangat basah.


Merasa khawatir kepada sahabatnya. Renata, segera menuntun Nicha untuk duduk disofa.


"Akan aku ambilkan minum sebentar." Renata bergegas menuju dapur.


"Ini... Minumlah dulu Nich," ucap Renata seraya menyodorkan segelas air putih pada Nicha.


Perlahan Nicha meraih gelas tersebut dan meminum isinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Nich?" tanya Renata sambil mengusap lengan Nicha.


Nicha menoleh menatap Renata dengan sayu. Dengan suara yang masih terisak, ia menceritakan semuanya kepada Renata.


"Oh deaar... Sabar ya Nich." Renata meraih kepala Nicha dan menaruh dibahunya.


"Kenapa harus seperti ini Ren? Bahkan aku harus merasakan sakit lagi setelah harapan itu datang. Seharusnya sejak awal, aku tahu bahwa harapan itu hanyalah palsu. Aku tidak pantas untuk mencintai siapapun Ren. Semua orang yang aku sayangi, selalu pergi meninggalkanku. Aku hanyalah wanita bodoh dan miskin. Aku tidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun. Hiks, hiks..."


"Jangan berkata seperti itu Nich. Kamu wanita berhati baik. Karena itu, banyak orang yang sayang padamu. Percayalah." Renata begitu iba melihat kondisi sahabatnya. Sampai ia pun ikut menangis sambil terus mengelus kepala Nicha.


Tak terasa waktu menunjukkan jam 10 malam. Renata telah tertidur pulas. Sementara Nicha masih merasakan kesedihan yang mendalam akibat kepergian Great. Lalu ia beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Nicha kembali tersedu. Ia menumpahkan semua kesedihannya hingga terduduk dipintu kamar mandi. Dan disaat yang bersamaan, ditempat lain, Great pun melakukan hal yang sama seperti yang Nicha lakukan.


Malam itu menjadi malam kesedihan untuk Nicha dan Great.



...***...

__ADS_1


Sabaaar ya Nicha. Perjuangan cinta itu memang berat tapi aku akan membuat cinta kamu bersama Great jadi nyata nanti. Tunggu diepisode selanjutnya ya 🙂


__ADS_2