Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 58


__ADS_3

Setelah pertempuran yang cukup keras, Great tampak lemas dan tak berdaya diatas tubuh istrinya. Sepintas, ia seperti merasakan sesuatu yang basah mengenai pipinya. Sontak, Great berpaling menatap wajah istrinya.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu menangis?" tanya Great sambil menatap wajah sendu istrinya.


"Aku tidak apa-apa, Great," jawab Nicha seraya menghapus airmatanya.


"Tolong jangan berbohong padaku, Nich. Apa kamu merasa sakit? Atau aku melakukannya terlalu kasar?"


"Tidak, Great. Aku tidak apa-apa. Ini adalah airmata seorang istri yang telah berhasil menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Ini airmata kebahagiaan, sayang."


Great menatap lekat wajah Nicha tang semakin basah karena butiran kristal yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Lalu, dengan lembut Great mengusap wajah istrinya.


"Terima kasih, Nich. Aku berjanji, tidak akan pernah mengecewakanmu. Dan aku akan selalu berusaha menjadi suami yang baik untukmu yang akan selalu menjaga dan melindungimu. Aku berjanji padamu."


Dengan sepenuh hati, Great mengatakan kalimat tersebut kepada istrinya. Sementara Nicha, semakin tersedu mendengar ucapan suaminya. Lalu, Great meraih kepala Nicha dan langsung membelai serta mengecupnya dengan penuh cinta. Seketika, sepasang suami istri itupun, saling berpelukan hingga terbuai di alam mimpi.


...***...


Dikediaman keluarga Warinton.


Tampak Preem sedang turun dari mobilnya dan langsung memasuki rumah bersama Roni.


"Preem! Akhirnya, kau pulang juga. Dasar anak nakal," sungut Mama Chotika yang langsung menghampiri Preem.


"Darimana saja kau bersama Roni? Hah!" cecar Mama Chotika.


"Aduh, Ma. Kemarin kan aku sudah katakan, kalau aku dan Kak Roni pergi ke Nakhon Sawan untuk bertemu temanku."


"Iya, kalau itu Mama sudah tahu. Tapi yang Mama tanyakan adalah kenapa sekarang ini kalian baru pulang. Bukankah, kau berjanji akan pulang kemarin sore? Jangan-jangan kalian menginap di hotel semalam. Ayo, katakan yang jujur!" tuduh Mama Chotika sambil menatap tajam kearah Preem dan Roni.


"E-eh, sebentar Tante. Sepertinya, Tante sudah salah paham. Semalam kami menginap dirumah temannya Preem. Tadinya, kami memang berniat untuk pulang sore hari, tapi karena hujan yang terlalu deras dan mengakibatkan jalan menuju Bangkok menjadi tersendat karena banjir. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali kerumah temannya Preem dan meminta izin untuk menginap semalam. Beruntung, keluarga mereka sangat baik dan mengizinkan kami menginap," jelas Roni.


Mama Chotika hanya terdiam dengan perasaan malu, karena telah menuduh yang tidak-tidak terhadap anaknya dan Roni.

__ADS_1


"Tuh, Ma. Makanya, Mama dengarkan dulu penjelasan kami. Jangan main asal nuduh aja. Lagi pula, mana mungkin anak Mama yang cantik dan manis ini, berani berbuat macam-macam dibelakang Mama," seloroh Preem sambil tersenyum lebar dan memasang wajah manis.


"Dasar kau ini! Pintar sekali mengambil hati orang tua. Baiklah, kali ini Mama percaya pada kalian. Tapi, kalian masih harus menjelaskan semuanya pada Papa. Karena sejak semalam, beliau begitu kahawatir dengan keadaan kalian."


"Siap! Laksanakan komandan!" seru Preem seraya memberi hormat.


"Kau sudah pulang, Preem!?" seru Papa Thagoon dari dalam ruang tengah.


"I-iya, Pa. Aku baru saja pulang," jawab Preem dengan wajah gugup.


"Sekarang, kau sudah berani untuk bermalam diluar ya? Apa kau ingin mengikuti jejak kakakmu yang pergi seenaknya dari rumah tanpa memberi kabar?" sindir Paa Thagoon dengan tatapan sinis.


"Bu-bukan begitu, Pa," sangkal Preem.


"Biar aku saja, Preem. Jadi begini Om..." Roni menyela.


Baru saja, Roni akan menjelaskan perihal keterlambatannya pulang kerumah. Namun, dengan cepat, Papa Thagoon memotong ucapan Roni.


"Diam kamu! Aku sedang bicara dengan anakku!" bentak Papa Thagoon.


Papa Thagoon berusaha mengontrol emosinya, setelah mendengar ucapan istrinya. Lalu, Roni kembali menceritakan kejadian kemarin di Nakhon Sawan. Sementara Preem, hanya bisa terdiam sambil menunduk dan tidak berani menatap Papanya. Setelah Roni selesai menjelaskan semuanya, Papa Thagoon tampak sedikit lebih tenang dan berusaha menerima alasan mereka.


"Baiklah. Kali ini, Papa percaya pada kalian. Tapi, jika ternyata kalian berbohong. Maka kalian akan tahu sendiri akibatnya," ancam Papa Thagoon.


Lalu, tampak Ranida melangkah menghampiri mertua dan adik iparnya.


"Pagi semua! Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul disini?" tanya Ranida bingung.


"Oh, sayang. Kau sudah bangun?" ujar Mama Chotika.


"Ya, Ma. Maaf aku bangun agak terlambat, karena semalam aku pulang sampai larut dari menghadiri pesta ulang tahun temanku,"


Cih! Dia mulai berbohong lagi. Batin Preem.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sayang. Kalau kau masih mengantuk, kembalilah tidur ke kamarmu. Mama tidak mau, kau sakit nanti."


"Tidak apa-apa, Ma. Aku sudah segar sekarang. Oya, apa ada kabar tentang keberadaan Great?"


"Belum, sayang. Kau sabar ya. Cepat atau lambat, kita pasti akan menemukan keberadaan suamimu."


Ranida memasang wajah muram, mendengar ucapan Mama Chotika.


...***...


Dikediaman orang tua Nicha, Nakhon Sawan.


Nicha beserta keluarganya dan juga Great sedang menyantap makan siang bersama. Nicha tampak sedikit tidak nyaman pada bagian kewanitaannya yang terasa agak perih, akibat ulah suaminya. Sehingga membuat Nicha tidak bisa duduk dengan nyaman. Melihat sesuatu yang aneh pada diri putrinya, ibu Nat merasa khawatir.


"Kau kenapa, Nich? Ibu perhatikan wajahmu tampak pucat. Apa kau sakit?"


"Eh, tidak. Aku baik-baik saja, Bu," sangkal Nicha.


"Iya. Kak Nicha kenapa sih? Sejak tadi, aku perhatikan tidak bisa duduk diam. Jangan-jangan, ada sesuatu dibawah bokong Kak Nicha," celetuk Han.


"Hush! Kau ini, Han. Kenapa bicara seperti itu dimeja makan. Sangat tidak sopan," ucap ibu Nat marah.


"Maafkan aku, Bu. Aku hanya asal bicara saja kok. Hehe."


Nicha dan Great merasa tidak enak dan takut, kalau-kalau Han dan ibu Nat menyadari penyebab dari tingkah aneh Nicha.


"Jadi, apa kau sakit, Nich? Bagaimana kalau kita segera ke dokter?" tawar ibu Nat.


"Ti-tidak perlu, Bu. Aku baik-baik saja. Mmm... Aku sudah selesai makan. Aku akan mencuci piringku dulu."


Nicha segera bangkit dari kursinya dengan membawa piring kotor yang hendak ia cuci di wastafel.


Huft... Ibu dan Han sangat memerhatikan aku. Semoga saja, mereka tidak berpikir yang macam-macam. Kalau tidak, bisa malu aku. Batin Nicha.

__ADS_1


Kini, hari telah berganti malam. Bulan bersinar sangat terang dengan ditemani oleh beberapa bintang. Semilir angin bertiup sepoi, membelai lembut dedaunan yang tampak bergoyang. Ya, suasana malam yang indah dipinggir sungai. Belum lagi, suara jangkrik yang saling bersahutan, menambah syahdu suasana malam itu.


Nicha sedang berdiri menghadap ke jendela kamarnya, sambil menikmati suasana malam dengan ditemani kelap-kelip bintang, yang seakan berkedip nakal kearah Nicha. Tiba-tiba, ada sepasang tangan dengan lembut melingkar diperutnya. Sontak, Nicha terkaget dan langsung menoleh ke belakang.


__ADS_2