Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 36


__ADS_3

Dikediaman Great.


Waktu menunjukkan jam 7 pagi. Great telah bersiap untuk pergi.


"Kau akan kemana Great? Kenapa pagi-pagi begini, sudah terlihat rapi?" tanya Papa Thagoon yang sedang duduk dikursi meja makan.


"Aku akan menjemput Ranida Pa," jawab Great seraya menghampiri kedua orang tuanya dan juga adiknya yang telah bersiap dimeja makan.


"Cieee... Kakak akan berkencan ya?" celetuk Preem.


TUK! Great langsung menjitak kepala adiknya.


"Aduh!" pekik Preem seraya mengusap kepalanya.


"Preem, jangan meledek kakakmu begitu," sahut Mama Chotika.


"Jadi, hari ini kau akan pergi bersama Ranida?" tanya Papa Thagoon.


Great mengangguk.


"Kemana?" sahut Preem.


"Kay poh. (ingin tahu aja)," jawab Great datar.


"Hish!" Preem mendengus kesal.


"Apa tidak sebaiknya, kau sarapan dulu Great?" ujar Mama Chotika.


"Tidak perlu Ma. Aku belum lapar. Baiklah, aku harus pergi sekarang... Daaah Preem. Jangan makan terlalu banyak, atau kau akan cepat gendut."


Great mencubit pipi Preem, seraya berjalan pergi.


"Hish. Dasar menyebalkan!" umpat Preem.


"Akhirnya, Great bisa membuka hatinya untuk Ranida ya Ma," ucap Papa Thagoon.


"Ya Pa. Semoga saja, semuanya berjalan lancar sampai pernikahan mereka nanti," sahut Mama Chotika sambil menatap Great dari belakang.


Maafkan Mama Great... Batin Mama Chotika.


...***...


Dikediaman Ranida.


Tepat jam 8 pagi. Great telah tiba di rumah Ranida.


"Sawadhi kab, khun naai (Halo Paman)."


Great menangkupkan kedua tangannya seraya menundukkan kepalanya kearah Pak Direk.


"Sawadhi kab, Great (Halo juga, Great). Sepertinya ada hal penting, sehingga kau datang kesini pagi-pagi sekali, Great," ucap Pak Direk seraya mempersilahkan Great untuk duduk.


"Iya Om. Saya ingin menjemput Ranida."


"Memangnya kalian akan pergi kemana?"


Belum sempat Great menjawab pertanyaan Pak Direk. Tiba-tiba, Ranida datang menghampiri Great dan Papanya.


"Auwh, Great. Kamu sudah datang," sahut Ranida seraya duduk disebelah Great.


"Kau sepertinya sangat senang dengan kedatangan Great, Ran?" sindir Pak Direk.


"Ah, Papa. Tentu saja aku senang, melihat calon suamiku kesini," ucap Ranida dengan tersipu malu.


"Jadi kalian akan pergi kemana hari ini?"


"Kami akan pergi melihat gaun pengantin, Pa," jawab Ranida.


"Oh, begitu. Desainer mana yang ingin kau kunjungi Ran?"


"Aku sudah memilih baju pengantin rancangan dari Saisuda, Pa."


"Oh. Bukankah dia teman kuliahmu dulu?" tanya Pak Direk antusias.


"Ya Pa. Dan sekarang dia sudah menjadi desainer terrkenal di Thailand," jelas Ranida dengan semangat.


"Baiklah. Kamu pilihlah gaun pengantin sesuai keinginanmu dan Great. Dan wujudkan pesta pernikahan, seperti impian kalian. Papa akan mendukung segala keputusan kalian."


Ranida tampak sumringah sambil terus memeluk lengan Great.


"Oh, ada Great disini?" sahut Mama Samiya seraya ikut berkumpul.

__ADS_1


Melihat kedatangan Mama Samiya, Great langsung berdiri dan menangkupkan kedua tangannya serta menundukkan kepalanya.


"Ya Ma. Mereka akan pergi untuk melihat baju pengantin," ucap Pak Direk.


"Kenapa pagi-pagi sekali. Bagaimana kalau kita sarapan bersama? Hum?" ajak Mama Samiya.


Ranida tampak menyetujui ajakan Mamanya.


"Iya. Ayo Great, kita sarapan dulu. Kebetulan, perutku sudah lapar," rengek Ranida.


"Oh, baiklah kalau begitu."


Dengan terpaksa Great mengiyakan ajakan Ranida, untuk menghormati Pak Direk dan Mama Samiya. Walaupun, sebenarnya iya sangat ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Ranida, lalu bergegas pulang.


Akhirnya mereka berempat duduk mengelilingi meja makan dan menikmati sarapan bersama. Wajah Ranida begitu sumringah, bisa sarapan pagi bersama kekasihnya.


"Kamu mau makan apa, sayang?" tanya Ranida manja.


"Aku bisa ambil sendiri Ran..."


Great hendak mengambil sepotong omelet untuk ditaruh dipiringnya. Namun, segera dicegah oleh Ranida.


"Biar aku ambilkan..." Ranida menaruh sepotong omelet kepiring Great.


"Apa kamu ingin saladnya juga, sayang?" tanya Ranida lagi.


"Boleh."


"Ehem, ehem. Kalian berdua sudah seperti sepasang suami istri saja. Sampai melupakan kami," sindir Pak Direk.


"Biarkan saja Pa. Ini adalah pertanda bagus untuk awal pernikahan mereka. Mama yakin, kalian akan menjadi keluarga yang harmonis setelah menikah nanti," ucap Mama Samiya.


"Khob khun kha, Meh (Terima kasih, Ma)." Ranida tersipu malu mendengar ucapan Mamanya.


Lalu mereka kembali melanjutkan sarapannya. Semua yang berada dimeja tersebut begitu menikmati santapan mereka, kecuali Great. Ia menyantap sarapannya perlahan dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan. Entah apa yang sedang ia pikirkan.


Setelah sarapan selesai. Great dan Ranida berpamitan kepada Pak Direk dan Mama Samiya.


Didalam mobil Great.


"Jadi, toko mana yang akan kita kunjungi?" tanya Great sambil memasang safety beltnya.


"Nanti akan aku tunjukkan jalannya kepadamu."


"Aku tidak menyangka sebentar lagi kita akan menjadi pasangan suami istri, sayang."


Great hanya tersenyum mendengar ucapan Ranida.


"Kenapa kamu tidak membalas ucapanku? Apa kamu tidak senang dengan pernikahan kita, Great?"


"Aku juga senang dengan pernikahan kita Ran. Lalu, apa kita bisa berangkat sekarang?"


"Ya, baiklah." Ranida terpaksa melepaskan pelukannya dilengan Great.


Bagaimana aku akan melanjutkan hidupku setelah ini. Tuhan, kuatkanlah aku. Batin Great.


...***...


Mobil Great berhenti didepan sebuah bangunan seperti rumah dengan desain klasik berwarna putih. Lalu, seorang security menghampiri mobil Great.



"Pagi Tuan. Apa keperluan anda?" tanya security tersebut.


"Kami ingin bertemu dengan Nona Saisuda," sahut Ranida dari dalam mobil.


"Apa sudah membuat janji?"


Ranida mengangguk. Sejurus kemudian, security tersebut mengisyaratkan kepada Ranida dan Great untuk menunggu sebentar. Kemudian, security tersebut kembali ke posnya. Tak berapa lama, security itupun kembali dan mempersilahkan mobil Great untuk masuk.


Setelah memarkirkan mobilnya. Great dan Ranida segera turun dari mobil. Dan lagi-lagi Ranida memeluk lengan Great, lalu berjalan masuk kedalam bangunan tersebut.


"Hai Ran!" sapa seorang wanita muda kepada Ranida.


"Saii." pekik Ranida seraya memeluk wanita tersebut.


"Akhirnya, kamu datang menemuiku, Ran," ujar Saisuda sambil tersenyum.


"Ah, kamu ini... Bukankah, kamu sendiri yang terlalu sibuk dengan bisnismu sehingga lama kita tidak bertemu."


Saisuda hanya tertawa mendengar celotehan Ranida.

__ADS_1


"Oya, kenalkan... Ini calon suamiku, Great..."


Belum sempat Ranida menyelesaikan kalimatnya. Saisuda langsung menyela.


"Wow, ternyata anda sangat tampan jika dilihat secara langsung, Tuan Great!" seru Saisuda.


Great tersenyum tipis mendengar ucapan Saisuda. Dan tiba-tiba...


PUK! Ranida menepuk bahu Saisuda.


"Auwh, kamu kenapa Ran?" sungut Saisuda.


"Jangan berusaha merayu calon suamiku ya, Sai," ancam Ranida.


"Hahaha... Oke, oke. Aku hanya sedikit terpesona dengan ketampanan calon suamimu ini. Baiklah, kita langsung saja ke showroomku, agar kamu dapat melihat koleksi gaunku."


Saisuda mengisyaratkan kepada Ranida dan Great untuk mengikuti langkahnya. Setibanya mereka di showroom milik Saisuda. Ranida tampak terperanga, melihat koleksi gaun diruangan tersebut.













"Oh my God... Ini semua koleksimu Sai?" tanya Ranida.


Saisuda pun mengangguk.


"It's amazing, so beautiful..." pekik Ranida


Kemudian Ranida mulai berkeliaran melihat-lihat seluruh gaun diruangan tersebut. Dengan tangan dan mata yang liar serta bibirnya yang tak hentinya mengeluarkan kata-kata. Hampir 2 jam Ranida berkeliaran melihat-lihat gaun milik Saisuda, tapi sepertinya dia masih kebingungan memilih gaun untuk pernikahannya nanti.


"Rani, apa kamu tidak lelah, terus-menerus mondar mandir aeperti itu?" sindir Saisuda.


"Sai, aku benar-benar bingung. Akan memakai gaun yang mana untuk pernikahanku nanti."


"Ya ampun. Kamu masih belum bisa menentukan pilihanmu?"


"Ya, karena semua gaun rancanganmu, sangat bagus."


"Baiklah. Aku akan memilihkannya untukmu."


Berbeda dengan Ranida yang sedang krasak-krusuk memilih gaun pengantin. Great tampak asyik bermain game diponselnya tanpa menghiraukan Ranida.


Setelah Saisuda memilihkan beberapa gaun terbaiknya. Lalu, Ranida segera mencobanya di fitting room.







"Great bagaimana penampilanku?" tanya Ranida dengan tersenyum lebar.


Namun, alih-alih Great menatap Ranida. Ia malah tetap asyik menatap layar ponselnya. Merasa diacuhkan, Ranida berteriak memanggil Great.


"Greeeaat!" seru Ranida yang hampir meruntuhkan atap bangunan tersebut saking kencangnya.


"Hah! Ada apa Rani? Kenapa kamu berteriak begitu?" tanya Great lugu.


"Karena kamu mengacuhkanku Great. Huft!" Ranida memajukan bibirnya.

__ADS_1


"Ma-maaf Ran. Tadi aku terlalu fokus bermain game. Maaf ya," ucap Great sambil mendekati Ranida.


Sementara Saisuda hanya tersenyum kuda melihat tingkah pasangan calon pengantin tersebut.


__ADS_2