
"Hei Nich! Kenapa kamu melamun?" tanya Renata membuyarkan pikiran Nicha.
"Eh. Tidak, aku tidak apa-apa."
Tak lama kemudian, ponsel Nicha kembali berdering. Tapi kali ini, Nicha langsung mengangkat teleponnya.
"Halo. Ya benar saya Tanicha. Oh, baiklah. Saya akan kesana sekarang. Terima kasih."
"Telepon dari siapa Nich?" tanya Renata penasaran.
"Ini dari ruang administrasi. Katanya, aku diminta datang kesana. Aku pergi sekarang ya Ren," ucap Nicha seraya memakai tasnya.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini."
Sejurus kemudian Nicha berjalan menuju ruang administrasi.
Diruang administrasi Universitas Rangsit.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk!" jawab seseorang dari dalam.
Lalu Nicha membuka pintu ruangan tersebut dan berjalan masuk.
"Oh, kau sudah datang Nona Nicha. Duduklah!" pinta seorang wanita paruh baya tersebut.
Nicha mengangguk dan langsung duduk berhadapan dengan wanita tersebut.
"Sebelumnya, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada anda, atas nama kampus. Karena keputusan yang sangat berat ini..."
"Sebenarnya, ada masalah apa Bu Yada? Kenapa saya dipanggil keruangan ini?"
Ibu Yada terdiam sejenak.
"Baiklah, saya akan langsung pada intinya. Baru saja saya mendapatkan perintah dari dewan komite, yang memutuskan bahwa..."
Ibu Yada nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Bahwa apa Bu? Keputusan apa itu?" tanya Nicha memburu.
"Keputusan itu adalah... Mulai sekarang, anda tidak lagi terdaftar sebagai mahasiswa penerima beasiswa."
"Apa? Bagaimana bisa seperti itu Bu? Apa saya melakukan kesalahan, sehingga beasiswa saya dicabut?"
"Tidak Nicha. Anda tidak melakukan kesalahan apapun."
"Tapi kenapa beasiswa saya dicabut? Dan bagaimana saya akan melanjutkan kuliah saya yang hanya tinggal sebentar lagi? Lalu bagaimana dengan biaya skripsi dan wisuda saya nanti?"
"Maaf Nicha. Ini sudah keputusan final dari dewan komite, kami tidak bisa mengubahnya. Sekali lagi maafkan saya tidak bisa membantu anda."
"Tapi Bu. Saya harus tahu alasannya. Kenapa saya dikeluarkan dari daftar penerima beasiswa."
Mata Nicha mulai berkaca-kaca. Suaranya terdengar bergetar mengucapkan setiap kata.
"Sekali lagi saya katakan, bahwa saya pun tidak tahu alasan dewan komite menghapus nama anda dari daftar penerima beasiswa. Untuk masalah ini, saya hanya menjalankan perintah. Saya harap anda mengerti Nona Nicha."
Nicha masih terpaku. Ia menjadi bingung dan bertanya-tanya...
Sebenarnya ada apa ini? Batin Nicha.
__ADS_1
Ditaman Universitas Rangsit.
Renata memandangi Nicha yang berjalan lemas kearahnya.
"Nich! Ada apa?" tanya Renata seraya menghampiri Nicha.
Nicha tidak menjawab pertanyaan Renata. Tatapan matanya kosong memandang kedepan.
"Hemm, ayo kita duduk dulu."
Renata mengajak Nicha duduk dikursi taman. Lalu ia mencoba bertanya lagi kepada Nicha, perihal apa yang terjadi diruang administrasi. Dengan lemas, Nicha menceritakan semuanya kepada Renata.
"Apa!? Kamu dikeluarkan dari daftar penerima beasiswa? Kenapa bisa begitu Nich? Apa alasannya?"
"Aku tidak tahu Ren. Bahkan Ibu Yada pun tidak mengetahui alasan penghentian beasiswaku. Beliau mengatakan hanya menjalankan perintah dari dewan komite kampus."
"Hah! Jadi dewan komite yang memutuskan penghentian beasiswamu?"
Nicha mengangguk lemas. Sementara Renata seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tunggu sebentar. Bukankah Kak Bella adalah ketua komite kampus? Apakah dia yang memutuskan hal ini? Tapi bagaimana mungkin dia melakukan ini?"
"Apa katamu? Nona Bella adalah ketua dewan komite kampus?" tanya Nicha dengan matanya yang sudah membulat.
"Iya," jawab Renata seraya mengangguk yakin.
Nicha kembali termangu. Ia benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Batin Nicha.
"Nich, Nicha!" Renata membuyarkan lamunan Nicha.
"Itu ponselmu berdering lagi..." ucap Renata sambil menunjuk ponsel Nicha yang berada didalam tas.
"Oh, iya..." Nicha segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Seketika, ia kembali terkejut kala mendapati nomor Bella dilayar ponselnya.
"Telepon dari siapa?" tanya Renata.
"Nona Bella..." Nicha menatap Renata dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Biar aku yang jawab..." Renata segera meraih ponsel Nicha.
Dengan agak ragu, Nicha memberikan ponselnya kepada Renata. Karena, ia juga sangat ketakutan dan canggung untuk menjawab telepon dari Bella.
"Halo," ucap Renata.
"Halo, apa ini benar Nona Nicha?"
"Kak Bella. Aku Renata."
"Oh, ternyata kamu Ren. Apa aku salah menekan nomor ya?"
"Tidak Kak. Ini memang ponselnya Nicha. Kebetulan, aku sedang bersamanya sekarang. Mmm, memangnya ada apa Kak Bella menelepon Nicha?"
"Oh, begitu rupanya... Aku tidak bisa mengatakan kepadamu Ren. Jadi bisakah, aku berbicara dengan Nicha?"
"Oh, baiklah."
__ADS_1
Kemudian, Renata memberikan ponsel tersebut kepada Nicha.
"Ha-halo," salam Nicha gugup.
"Apa kamu sudah melihat video yang aku kirim?"
Apa!? Jadi video itu dari Nona Bella? Batin Nicha.
"Be-belum Nona. Aku belum sempat melihatnya."
"Kenapa tidak kamu lihat? Baiklah, aku akan memberimu waktu 10 menit. Setelah itu aku akan meneleponmu kembali."
Seketika sambungan telepon terputus. Sementara Nicha masih bingung dengan perkataan Bella ditelepon.
Kenapa dia ingin sekali aku melihat video itu? Apa sebenarnya isi video itu? Batin Nicha lagi.
"Nich! Bagaimana?" tanya Renata.
"Tadi Nona Bella mengatakan kepadaku untuk melihat video yang sudah ia kirimkan ke ponselku."
"Video? Video apa?"
"Aku juga tidak tahu Ren..."
Sejurus kemudian, Nicha tampak terkejut sambil menutup mulutnya melihat video yang dikirimkan oleh Bella. Begitu pun dengan Renata, ia tak kalah terkejutnya kala matanya melihat adegan panas dalam video tersebut, dan menangkap sosok yang melakukan adegan panas itu adalah Bella dan kakaknya.
"Ke-kenapa Kak Bella mengirimkan video ini ke ponselmu Nich?" tanya Renata sambil memandang heran kearah Nicha.
Sementara Nicha hanya terdiam dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tak lama kemudian, ponsel Nicha kembali berbunyi. Langsung Nicha mengangkat teleponnya.
"Halo."
"Apa kamu sudah melihatnya?"
"Maaf Nona Bella. Aku tidak mengerti maksud anda. Kenapa anda mengirimkan video tersebut kepada saya?"
"Hei! Wanita munafik! Ternyata kamu terlalu naif dari yang aku bayangkan. Apa kamu tidak melihat dalam video itu? Rei begitu mencintaiku. Dan dia menganggap kamu hanya sebagai boneka yang bisa ia permainkan sesuka hatinya."
"Tunggu Nona Bella. Sepertinya ada kesalah pahaman disini. Aku dan Rei tidak memiliki hubungan apapun. Bukan seperti yang Nona bayangkan..."
"Sudahlah, aku tidak mau lagi mendengar penjelasanmu. Oh ya 1 lagi. Aku harap kamu segera memikirkan universitas yang murah untuk melanjutkan kuliahmu. Karena aku dengar beasiswamu di Rangsit, sudah dicabut bukan?"
Apa!? Jangan-jangan Nona Bella ikut andil dalam penghapusan beasiswaku? Batin Nicha.
"Bagaimana Nona tahu tentang penghapusan beasiswaku?"
"Haha. Kau ini benar-benar wanita naif dan bodoh! Dengar wanita murahan! Aku adalah Bella Cassavana Supangkarn. Apapun bisa aku lakukan, karena aku mempunyai kekuasaan untuk itu. Maka dari itu, aku sarankan padamu. Segera jauhi Reiku. Atau aku akan membuat hidupmu lebih sengsara lagi."
TUT!
Seketika sambungan telepon terputus. Nicha benar-benar syok mendengar ucapan Bella. Menurutnya, itu kata-kata yang sangat kasar yang pernah ia dengar. Dan yang lebih membuat ia tidak percaya, bahwa wanita yang berkata sangat kasar itu adalah putri mahkota keluarga Supangkarn.
...***...
TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINKUM. TAQOBBALALLOHU YA KARIM.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI UNTUK UMAT MUSLIM SE INDONESIA. MOHON MAAF LAHIR BATHIN. MUDAH-MUDAHAN SEGALA AMAL IBADAH KITA SELAMA INI DITERIMA OLEH ALLOH SWT. DAN DIHARI KEMENANGAN INI. KITA MENJADI FITRI SEPUTIH KAPAS.
OYA, AUTHOR MAU MENYAMPAIKAN. KEMUNGKINAN, AUTHOR AKAN VAKUM DULU YA GUYS. EEEH, TAPI JANGAN NANGIS DULU. AUTHOR VAKUM CUMA 3 HARI AJA KOK. BIASA MAU JALAN-JALAN SILAHTURAHIM. INSYAALLOH, SETELAH SEMUA BERES, AUTHOR AKAN BALIK LAGI, NEMENIN KALIAN DENGAN CERITA YANG LEBIH SERU PASTINYA.
__ADS_1
AKHIR KATA, WASSALAMU'ALAYKUM 🤗🤗